Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 72. Misteri dibalik Pelangi


__ADS_3

Bu Laila dan Pak Barata terkejut melihat wajah dari anak itu. Sedangkan Sam yang menyadari jika anak kecil itu yang berteriak Bunda ternyata berlari ke arah Prita yang langsung memeluk kakinya Prita yang sesuai dengan ukuran tingginya yang belum lima tahun itu.


"Prita!!" Lirihnya Sam.


"Salma!!" Ucap Bu Laila Sari yang menyadari jika wanita paruh baya itu adalah sahabat lamanya saat mereka sekolah di SMA.


"Kenapa wajahnya mirip dengan seseorang, tapi apa hubungannya dengan Samuel? Karena aku masih mengingat dengan jelas foto masa kecilnya Sam karena akulah yang selalu menjaga dan menimangnya semasa kecilnya," Bu Dewi membatin dan tidak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya itu.


Bu Laila Sari segera berdiri dari tempat duduknya saat melihat dengan jelas dan menyadari perempuan paruh baya bersama dengan seorang anak kecil.


"Mbak Salma!" Sapanya Bu Laila dengan wajahnya yang tersenyum sumringah.


Bu Salma Hayek yang dipanggil namanya segera mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Ia pun terkejut dan tidak menduga jika sahabat sekaligus kawan lamanya itu. Mereka berpisah sejak masing-masing tamat dan lulus sma, sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu yang mereka terpisah hampir 30 tahun itu kembali dipertemukan.


"Laila," sahutnya lalu berjalan tergesa-gesa ke arah Laila begitupun sebaliknya dengan Bu Laila yang mendekati Bu Salma.


Bu Salma pun lupa dengan niat dan tujuan awalnya ke rumah mewah dan megah itu. Bu Laila adalah teman sekolahnya sejak sekolah dasar hingga SMA dan juga adalah tetangganya.


Mereka berpelukan dan berbagi rasa rindu. Suasana haru tercipta dari pelukan mereka. Sedangkan beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu saling beradu pandang satu sama lainnya.


Prita yang memeluk tubuh putri tunggalnya masih was-was dan harap-harap cemas karena jika bibinya buka mulut maka rahasia kelamnya selama ini yang berhasil dia tutupi akan terbongkar.


"Ya Allah… aku tidak mau jika Samuel mengetahui semuanya jika pelangi adalah anak darah dagingnya sendiri dan memungkiri bahkan tidak mengakui dan parahnya nanti jika dia menuduh saya yang tidak-tidak karena tidak ingin bertanggung jawab, dan saya juga sama sekali tidak berharap mereka bertanggung jawab atas kehadiran putriku di dunia ini," Prita membatin.


Bu Dewi menatap nyalang dan penuh selidik ke arahnya Prita bergantian dengan Pelangi dan Samuel.


"Kenapa anak kecil itu memanggil Prita dengan sebutan Bunda, saya kira beberapa tahun yang lalu saat melamar pekerjaan katanya statusnya masih single, tapi hari ini ada anak kecil yang kira-kira berusia lima tahun memanggilnya Bunda, jadi aku perkirakan dia sudah punya anak sebelum kerja sama saya, tapi hal yang mengganjal di pikiranku kenapa wajah putrinya itu mirip dengan Sam?" Bu Dewi membatin dengan melihat dan memperhatikan mereka satu persatu.


"Bunda! Pelangi kangen sama Bunda, Pelangi tungguin bunda di rumah tapi, belum pulang juga jadi aku suruh Nenek Salma untuk anterin Pelangi ke sini!" Tuturnya Pelangi dengan tingkah laku polosnya itu.


"Bagaimana kabarnya Mbak Salma, lama sekali kita baru bisa bertemu lagi, aku sangat merindukan Mbak dan sempat pulang kampung baru-baru ini terus datang ke rumahnya Mbak katanya orang-orang Mbak sama keponakannya sudah pindah ke ibu kota," jelasnya Bu Laila Sari yang sesekali mengusap air mata kerinduan bercampur bahagia.

__ADS_1


"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok, iya sekitar mungkin lima tahun yang lalu aku memilih pindah dari kampung ke sini karena Prita memilih bekerja di ibu kota Laila," balasnya Bu Salma sambil menunjuk ke arah Prita dan Pelangi berada.


Bu Laila mengarahkan penglihatannya ke arah yang dituju oleh Bu Salma, "Apa Prita adalah keponakan kamu Mbak?".


Bu Salma menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengiyakan perkataan dari Bu Laila," betul sekali apa yang kamu katakan, dan itu anak kecil bersamanya adalah putri kandungnya Prita cucuku," jelasnya Bu Salma dengan seulas senyumannya.


"Suruh duduk temannya Mbak Laila kasihan kalau kalian berdiri terus ingat umur lah," kelakar Nyonya Dewi tapi arah pandangannya masih tertuju pada Pelangi bocah kecil cantik dan imut itu dengan rambutnya yang dikepang dua.


"Oh iya sampai lupa Mbak, aku terlalu bahagia soalnya," pungkas Bu Laila Sari sambil tertawa cengengesan.


Mereka berbincang-bincang santai di meja makan sambil kembali menikmati makanan mereka masing-masing.


"Kamu sendiri ada di sini sedang apa, apa ini rumah kamu Laila?" Tanyanya Bu Salma.


"Bukan rumahku Mbak, ini adalah rumahnya besan aku sekaligus rumahnya adik dari suamiku Mbak, ini suami aku Mbak namanya Pak Barata Ardiansyah Jaya," jawab Bu Laila lagi sembari memperkenalkan suaminya yang masih tampan di usianya yang sudah paruh baya dan tua itu.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, Mbak turut bahagia mendengarnya, kalau gitu yang mana anak kamu?" Tanyanya Bu Salma lalu menatap satu persatu Akmal, Adriana yang terakhir Samuel yang membuatnya terkejut karena melihat Sam yang duduk di samping Bu Laila.


"Sam putra kamu!" Bu Salma membeo.


"Iya Mbak benar sekali dia adalah putraku, emangnya kenapa Mbak?" Tanyanya balik Bu Laila yang bahagia memperkenalkan anaknya.


Bu Dewi memperhatikan raut wajah Prita yang sedari tadi nampak tegang dan seperti seseorang yang tersangka yang ketahuan oleh pihak kepolisian.


"Maaf saya harus pamit pulang dulu Nyonya Besar mau antar Pelangi ke sekolahnya," pamit Prita dengan nada suara yang cukup kecil hingga hampir mereka semua tidak mendengarnya.


"Kenapa harus buru-buru Prita, kamu belum makan loh?" Tangkasnya Riana yang mencegah Prita untuk pulang yang menawarkan ia bergabung makan bersama dengan mereka yang sudah duduk di meja makan.


"Makasih banyak Nyonya Muda, Alhamdulillah aku sudah makan, aku mau antar putriku dulu sebelum terlambat, jadi aku pamit duluan," ungkapnya yang berpamitan dan sangat ingin pergi dari tempat tersebut.


Sorot matanya yang tajam menusuk Bu Dewi dan Sam terus sedari tadi mengarah ke arah Prita bergantian dengan Pelangi. Membuat Prita semakin ketakutan dan salah tingkah.

__ADS_1


Baru beberapa langkah kakinya melangkah Prita dan Pelangi meninggalkan ruangan itu membuat langkahnya terhenti karena suara instruksi dari seseorang.


"Prita!! Jelaskan kepadaku siapa ayahnya Pelangi?" Tanyanya seseorang sambil berdiri dari duduknya dan berjalan ke Prita yang terhenti langkahnya.


Bu Salma menatap ke arah keponakan satu-satunya yang dia miliki. Sedangkan raut wajahnya Prita semakin nampak tegang dan penuh dengan rasa emosi dan ketakutan yang bercampur menjadi satu bagian di dalam hatinya.


...****************...


Jangan pernah bosan untuk baca novelnya Fania Yah..


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya judulnya ada di bawah ini, ceritanya pasti berbeda dan tetap recehan tapi beda dengan novel author lainnya dan insya Allah menghibur..



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pelakor Pilihan


Pesona Perawan


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…


Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift poin dan koin seikhlasnya.

__ADS_1


__ADS_2