
Adriana terduduk di tempatnya tanpa berniat untuk mengejar atau pun menjelaskan semuanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Hamil!!!" Bu Dewi membeo.
"Betul Nyonya, Anda akan segera memiliki seorang cucu, karena Nyonya Riana positif hamil dan kemungkinannya, usia kandungannya sudah tiga bulan lebih," terang Dokter Mery.
"Alhamdulillah, makasih banyak dokter," ucap Nyonya Dewi yang sangat bahagia dengan kenyataan jika Adriana hamil walaupun dia sangat tahu jika, calon anaknya Riana bukanlah anak dari putranya Akmal.
"Saya tuliskan resep vitamin dan obat untuknya, Nyonya sisa menebusnya di apotek," ucap Dokter Mery sambil menyodorkan sebuah kertas yang sudah bertuliskan beberapa nama obat.
"Makasih banyak, dan jangan segan untuk datang kembali jika saya membutuhkan bantuannya Dokter," tutur Nyonya Dewi yang sedari tadi tersenyum penuh kebahagiaan.
Prita segera mengantar Dokter Mery hingga ke depan mobilnya. Nyonya Dewi segera mendekati Riana yang masih terbaring lemah dan tidak sadarkan diri.
"Aku harus mencari tahu siapa sosok pria yang telah menghamilinya karena entah kenapa aku ada feeling hal ini berhubungan dengan anggota keluargaku sendiri, tapi siapa orangnya?" Bu Dewi membatin sembari berfikir sejenak tentang langkah-langkah apa yang akan dia tempuh.
"Apa sebaiknya aku menyelidiki dan mencari tahu siapa sosok orang itu yang telah tega melakukan hal itu pada gadis polos dan baik itu," gumam Bu Dewi.
Dewi sangat shock setelah mengetahui apa yang terjadi padanya Adriana. Gadis yang dianggap ramah, periang, lugu, polos dan baik hati ternyata harus hamil diluar nikah Tanpa dia ketahui siapa suaminya itu.
"Aku harus menutupi kenyataan ini terlebih dahulu dari siapa pun termasuk dengan Adriana sendiri karena aku yakin dia akan histeris dan sedih bahkan hancur jika dia mengetahui dirinya harus hamil di luar nikah," cicitnya Bu Dewi.
Nyonya Dewi segera menghubungi asisten pribadi putranya yang selalu bisa diajak kerja sama dan main rahasia, jika Nyonya Dewi membutuhkan informasi tentang kegiatan dan aktivitas apapun dari putranya itu.
"Halo! Assalamualaikum Sandi, tolong kamu cari tahu apa yang terjadi pada gadis yang aku kirimkan fotonya di hpmu empat bulan belakangan hingga kemarin, apa pun itu infonya harus rinci dan detail," perintah Bu Dewi.
"Baik Nyonya Besar," jawabnya Sandi yang mengangkat telponnya sedikit mengjauh dari orang lain yang kebetulan ada di dalam ruangan kerjanya.
"Apapun yang terjadi tidak boleh ada orang lain yang tahu jika anak yang dikandung oleh Adriana adalah bukan lah milik Akmal, tapi milik Pria yang tidak diketahui asal usulnya," Ujarnya Bu Dewi lagi.
"Baik, perintah akan saya laksanakan sesuai dengan petunjuk Nyonya Dewi," tuturnya Sandi dengan wajahnya yang serius.
__ADS_1
"Saya ingin mengetahui hal ini secepatnya dan kalau bisa paling lambat hari ini jam 12 malam," terangnya Bu Dewi lagi.
Beberapa saat kemudian, sambungan teleponnya pun terputus. Nyonya Dewi segera berjalan ke arah tempat tidur yang dimana berada di atasnya Andriana yang sedang berbaring.
Karena kehausan Nyonya Dewi memesan kopi kepada pelayan yang ada di dalam rumahnya. Beliau pun sudah menikmati minumannya yang masih mengepul asapnya di depan jendela kamar putra tunggalnya itu.
"Kalau pun aku tidak mengetahui siapa orang tua dari anak yang dikandung oleh Adriana aku tetap akan paksa Akmal untuk bertanggung jawab terhadap calon bayinya Andriana itu," gumamnya Bu Dewi.
Menjelang magrib, Andriana pun telah sadarkan diri dari pingsannya. Adriana mengerjapkan matanya berulang-ulang, untuk menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya. Nyonya Dewi yang menyadari jika, Adrians sudah sadarkan diri, ia segera mendekati Riana yang wajahnya masih nampak pucat pasi itu.
"Adriana!!, tolong Ibu sayang," ucapnya dengan berusaha menangis tersedu-sedu.
Adriana yang baru terbangun dari pingsannya tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Nyonya Dewi kenapa?"tanyanya sambil berusaha untuk bangun dari tidurnya.
Nyonya Dewi segera mencegah Andriana untuk bangkit dari tidurnya," kamu baring saja Nak, kamu baru saja sadar, jadi butuh bedrest untuk pemulihanmu," cegah Bu Dewi.
"Aku tidak sakit parah kok Nyonya, kalau seperti itu seakan-akan aku adalah orang yang penyakitan saja," jawabnya yang tidak menyetujui keputusan dari Nyonya Dewi.
"Nyonya mau minta tolong apa? Kalau saya bisa penuhi dan lakukan pasti akan aku akan penuhi," balasnya sambil bersandar ke kepala ranjangnya Nyonya Dewi.
"Ibu minta tolong jika Ibu datang besok ke rumahmu, ibu harap dengan sangat kepada kamu untuk menerima lamaran kami, aku mohon jangan tolak keinginan baik kami nak!" pinta Bu Dewi sembari menggenggam kepalan tangannya Adriana.
"Tapi, Nyonya aku tidak pantas untuk mendampingi Tuan Muda, aku sudah kotor dan kemungkinannya tidak akan ada pria manapun yang mau menikahi perempuan yang tidak suci lagi," lirihnya Adriana.
Bu Dewi yang mendengar perkataan dari Adriana ikut terenyuh hatinya dan sedih melihat kehancuran Adriana.
"Bagaimana jika dia tahu dirinya hamil? Mungkin reaksinya akan lebih parah dari ini," gumam Nyonya Dewi.
Mereka terdiam dalam pikirannya mereka masing-masing tanpa ada yang membuka percakapan baru lagi diantara mereka lagi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, hpnya Nyonya Dewi berdering. Beliau segera meraih hpnya yang tergeletak di atas meja. Ia pun pun berdiri dari sampingnya Adriana menuju sofa yang berwarna abu-abu itu.
"Iya, assalamu alaikum Sandi, bagaimana dengan yang aku perintahkan padamu?" Tanyanya yang tidak sabaran ingin mengetahui siapa sosok pria bejak yang tega mengambil kesucian gadis yang sama sekali tidak berdosa yang itu.
Wajahnya langsung pucat pasi saat mendengar perkataan dari orang itu. Dia menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kabar itu. Hingga tubuhnya terduduk di atas sofa tersebut.
"Ini tidak mungkin!! Tidak mungkin pasti ada kesalahpahaman, tolong Sandi periksa dengan baik jangan sampai kamu salah mendapatkan informasi tentang itu," ungkapnya yang menyanggah perkataan dari Sandi Asisten pribadi putranya sendiri itu.
"Maafkan kami Nyonya Besar, itulah kebenarannya dan kami mendapatkan bukti yang pasti Nyonya tahu jika melihatnya," balasnya Sandi dengan menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Kau Hanya Milikku
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo yah...