
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Adriana sangat mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh semua temannya, tapi dia saja tidak mengerti dengan alasan dan pilihan yang diminta oleh calon suaminya yang langsung disampaikan oleh Bu Rima saat proses lamaran kemarin.
"Ya Allah… lancarkan semuanya hingga hari h nya dan semoga Pernikahanku menjadi yang pertama dan yang terakhir kalinya," lirihnya Adriana.
Terlepas dari alasan dari Adriana, mereka semua bahagia atas kabar baik tersebut. Mereka berharap agar salah satu temannya itu bahagia untuk selamanya dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Waktu terus berlalu, kurir sepesial setiap jam makannya Adriana selalu hadir dan datang dengan kotak yang berisi dengan berbagai macam jenis makanan yang sangat enak, lezat dan bergizi tentunya.
Hari minggu pun tiba, segala pelaksanaan acara akad nikah yang privat dan hanya dihadiri oleh orang penting dalam kehidupan dari belah pihak keluarga calon mempelai saja.
"Akmal!! Apa kamu sudah siap? Sudah jam 7 pagi nih, Nak!" Dengan tangannya yang masih setia di balik pintu sambil mengetuk pintu kayu sebagai kualitas terbaik.
Hanya berselang beberapa detik saja, pintu itu sudah terbuka dari dalam, Sang empu kamar yang telah membuka pintu itu. Bu Rima terkesima melihat penampilan putra tunggalnya itu dengan tatapan matanya yang memuji ketampanan anaknya. Bu Rima bahkan pangling melihat anaknya sendiri hingga sama sekali tidak berkedip sedikit pun.
"Ayo Mi kita jalan nanti terlambat," ujarnya Akmal tanpa perduli dengan kelakuan maminya seperti anak remaja saja yang melihat pria idolanya.
"Wajahmu, ketampanan kamu sangat mirip dengan papi kamu, Mas aku sangat merindukan kehadiranmu, dan hari ini adalah hari pernikahan keduanya putra kita Mas, aku yakin Adriana adalah jodoh yang terbaik yang diberikan oleh Allah SWT untuk putra kita," Bu Rima membatin.
Bu Rima segera berjalan mengekor putranya, mereka segera bersiap ke arah rumahnya Adriana dengan Bu Laila Sari tempat pelaksanaan acara akad nikahnya.
Perjalanan mereka tempuh cukup lancar karena keadaan jalan yang dilalui mereka cukup stabil tidak terjadi kemacetan yang berarti.
"Ya Allah.. lancarkanlah semuanya sesuai dengan yang kami harapkan semua," batinnya Bu Rima.
Suasana cukup ramai di dalam rumah Adriana walaupun hanya sekitar 30an orang saja yang diundang tapi cukup heboh karena perbincangan mereka yang cukup ramai dan variatif mulai dari pembahasan BBM yang naik, harga sembako yang melambung tinggi dan bantuan langsung tunai BLT dari pemerintah menjadi sumber utama percakapan mereka.
Suara mesin mobil yang mereka dengar mampu membubarkan kumpulan beberapa ibu-ibu yang sedang bersantai menikmati hidangan prasmanan sambil menunggu kedatangan iringan rombongan pengantin.
Akmal segera memakai pelindung wajahnya agar tidak terlalu kelihatan wajahnya. Ia tidak ingin dikenali oleh semua orang yang kebetulan hadir di sana. Bu Rima hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya yang menurutnya ajaib banget tapi, dia tidak bisa melakukan protes ataupun penolakan dengan keputusan anaknya daripada pernikahannya batal dengan terpaksa Nyonya Rima menyetujui permintaan dari anak tunggalnya itu.
Mereka langsung berdiri berjejer di depan pintu masuk. Sedangkan sang mempelai perempuan ada di dalam kamar pribadinya. Mereka menjadi tamu undangan sekaligus pagar ayu menunggu kedatangan rombongan keluarga pengantin pria.
__ADS_1
Mereka saling berbisik-bisik melihat pakaian yang dipakai oleh Akmal, mereka saling pandang dan raut wajah mereka menyiratkan tanda tanya besar.
Tanpa menunggu lama lagi, Pak penghulu sudah saling berhadapan dengan Akmal. Mereka saling berjabat tangan, tapi hpnya sedari tadi berdering dan bergetar. Akmal lalu mematikan nada deringnya menjadi silent.
"Bagaimana Tuan Muda, apa bisa dimulai ijab qobulnya?" Tanya Pak Wawan selaku pihak yang diutus oleh KUA setempat untuk menikahkannya.
"Tuan Muda!" Alina membeo salah satu pegawai tempat catering Bu Laila Sari.
Beberapa orang yang memadati ruangan yang sederhana itu ukurannya tapi, sudah dihiasi dengan berbagai dekorasi nuansa pernikahan dengan warna gold dipadukan dengan warna putih. Menolehkan kepalanya ke arah Alina. Sedangkan orang yang ditatap dengan tatapan mata yang berbeda-beda langsung menutup mulutnya dan tertawa cengengesan.
Akmal menatap kembali Pak Wawan," lanjutkan saja Pak," ujarnya dengan singkat dan terkesan dingin dan arogan.
"Baiklah kalau gitu kita mulai saja, saya nikahkan dan kawinkan engkau Akmal Pradipta Saiden dengan Adriana Keysha Paramitha dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 24 karat sebesar 21 gram dibayar tunai," ucapnya Pak Wawan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rianti…" ucapannya Akmal terhenti karena nama yang dia ucapkan adalah namanya mendiang istrinya yang sudah lama meninggal dunia.
Bu Rima merasa sedikit malu dengan kelakuan puteranya. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Akmal langsung membuat semua orang saling berbisik kembali. Bu Rima spontan memegang pundak anaknya itu.
"Boleh minum a qu a dulu Tuan Muda biar santai dan tidak grogi," tutur Pak Wawan yang sedikit bercanda.
"Bagaimana Tuan Muda apa dilanjutkan atau butuh istirahat sebentar atau lanjut saja?" Tanyanya Pak Wawan yang berusaha menahan tawanya itu.
Akmal hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan persyaratan dari Pak Wawan. Pengucapan ijab qobulnya dilanjutkan sekali lagi dan Akmal dengan suara yang cukup lantang mampu melafazkan dengan baik.
"Saya terima nikah dan kawinnya Adriana Keysa Paramitha Ardiansyah dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai," dengan sekali tarikan nafas ia mampu untuk mengucap ikrar sumpah janji pernikahannya.
"Bagaimana para saksi, apakah Sah?" Tanyanya Pak Wawan dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Sah!!!" Teriak mereka secara bersamaan.
"Alhamdulillah," ucap mereka lagi.
Pak Wawan lalu membaca beberapa do'a dan wejangan pernikahan.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah,, Makasih banyak ya Allah anakku sudah menikah, Mas Seno putri kita sudah menikah," Bu Laila membatin.
"Ardiansyah seperti nama itu saya kenal, tapi dimana yah?" Gumamnya Akmal.
"Akhirnya anakku bisa melepas masa dudanya, aku dapat menantu bonus cucu calon penerus Keluarga Saiden," Cicitnya Bu Rima.
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetiaan Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…
Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift seikhlasnya..
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya atau typo yang meresahkan..