
Dia cekikikan ketika teringat kejadian itu, Nyonya Dewi melirik ke arah Prita saat mendengar suara tertawa dari mulutnya Prita walaupun dia sudah menutup mulutnya, tetapi masih kedengaran hingga ke telinganya.
Mereka kembali berjalan ke arah ruangannya Akmal. Dengan langkah yang pasti hingga ke depan ruangan mewah itu. Bertepatan dengan seorang karyawan yang bekerja di bagian HRD membawa sebuah nampang yang berisi satu porsi makanan yang siap disantap.
Nyonya Dewi yang melihatnya dan mencium wangi lezat dari makanan tersebut tak mampu mencegah bibirnya untuk bertanya tentang hal itu.
"Stop!!, Yang kalian bawa itu apa dan kenapa ditutupi?" Tanyanya Ibu Dewi yang tidak mengerti dan mengetahui apa yang dibawa dari beberapa karyawan perusahaan putranya itu.
Beberapa orang itu langsung berhenti berjalan dan menatap ke arah Bu Dewi lalu menjawab pertanyaan dari Bu Dewi, Mami dari pemilik perusahaan.
"Ini makanan yang berhasil dimasak oleh beberapa calon karyawan yang akan bekerja di kantin," jawabnya dari salah satu pegawai tersebut.
"Ohh gitu, bawa masuk aku yang akan jadi orang yang akan memberikan nilai tes mereka," jelasnya lalu berjalan ke arah dalam ruangan cucunya.
Bu Dewi menyunggingkan senyumnya," aku yakin aku akan segera mendapatkan calon istri untuk putraku," gumamnya Bu Dewi.
Akmal yang mendengar pintu berderit segera menghentikan sesaat aktivitasnya lalu melirik ke arah orang yang masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.
"Tolong letakkan semuanya di atas meja itu," perintahnya tanpa perduli dengan pemilik ruangan yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tanda tanya.
Para pegawai itu menaruh beberapa makanan yang sudah dimasak oleh beberapa calon pelamar pekerjaan. Dengan hati-hati piring itu sudah tertata rapi.
"Makasih banyak," ucapnya singkat lalu melirik ke arah Prita agar pintu segera ditutup.
Prita yang mengerti arti dari tatapan matanya Nyonya Dewi. Segera melaksanakan titah yang tidak terucapkan itu dengan penuh hati-hati agar tidak melakukan kesalahan sedikit pun.
Nyonya Dewi melihat semua makanan itu dan pandangannya tertuju pada satu porsi nasi goreng yang masih mengepul asapnya dengan aroma wangi yang sangat lezat.
"Prita tolong ambilkan nasi goreng kecap itu," perintahnya sambil menunjuk ke arah nasi goreng tersebut.
__ADS_1
Prita segera mengambil seporsi nasi goreng lengkap dengan krupuk serta peralatan makannya. Dengan pelan makanan itu diletakkan di depannya Nyonya Dewi Larasati Aiden.
"Sakti apa kamu yang akan langsung memberikan penilaian atau Nenek saja yang menggantikanmu?" Tanyanya tanpa menoleh sedikit pun kearah Akmal yang memegang pulpennya.
Nyonya Dewi mulai mencicipi satu persatu tapi semua makanan itu tidak ada satu pun yang membuatnya tersentuh dan tersenyum. Tidak lupa menuliskan nilai untuk beberapa masakan yang sudah dicicipinya itu.
"Kenapa semuanya masak tidak karuan begini, bagaimana caranya mereka bisa mengenyangkan perut anakku kalau gini," ujarnya.
Nyonya Dewi sudah ingin berdiri, tetapi suara intrupsi dari Prita membuat berhenti, "Nyonya masih ada sepiring yang belum Nyonya coba," sembari mengulurkan piring ke depan Nyonya Dewi.
Baru sekilas melihatnya tapi, Nyonya Dewi sudah tertarik tanpa aba-aba dia langsung mencicipi makanan tersebut. Baru satu suapan pertama yang masuk ke dalam mulutnya tapi, raut wajahnya sudah nampak berubah tapi satupun dari yang hadir di dalam sana tidak ada yang mampu membacanya.
"Tolong panggil nomor 13, orang yang telah memasak makanan ini," perintahnya lalu kembali menikmati makanan tersebut.
Prita yang melihat tingkah laku Nyonya besar terkesan tidak mengerti dan keheranan karena tidak tahu dan tidak mengerti dengan jalan pikirannya Nyonya Dewi. Apa dia menyukai makanan itu atau tidak suka.
"Prita apa kamu tidak mendengar perkataanku atau ucapan aku kurang jelas?" Tanyanya sembari menghentikan kunyahan makanannya lalu menatap ke arah Prita yang tersenyum cengengesan.
"Kalau perempuan yang memasak ini aku akan jadikan sebagai calon istri dari cucuku dan kalau pria aku akan berikan bonus yang sangat besar," gumamnya.
Langkahnya semakin lebar karena takut jika dirinya kembali melakukan kesalahan lagi. Dia membuka pintu tersebut dengan hati-hati dan segera berjalan ke bagian HRD.
"Maaf menggangu, siapa diantara kalian yang bernomor tes 13? Harap ikut saya," terangnya lalu kembali meninggalkan ruangan tersebut.
Nafeesa yang melupakan nomor tesnya hanya terdiam bengong hingga dia tersadar saat bagian panitia menegurnya, "Kamu yang bernomor 13 kan, ikut dengan Nona Prita dan tolong cepatlah jalan nanti tidak keburu jalannya."
"Saya, baik pak," balasnya lalu melangkahkan kakinya mengikuti arah langkahnya menuju ruangan CEO Perusahaan Jayaraya tbk.
Pintu itu kembali berdecit dan masuklah Prita disusul oleh Nafeesa dibelakangnya. Pria tersenyum ke arah Nyonya Dewi, "maaf Nyonya ini orangnya yang memasak nasi goreng itu," tuturnya.
__ADS_1
Nyonya Dewi melihat ke arah Nafeesa yang berdiri. Nafeesa yang hanya mengepang dua rambutnya dengan pakaian yang cukup longgar dan besar dari ukuran tubuhnya. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya Nyonya Dewi yang perhatikan hingga tidak ada yang terlewatkan.
"Cantik walaupun penampilannya sedikit kampungan." Nyonya Dea membatin.
Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri yang sholehah. Cinta hanyalah sebuah kata sampai seseorang datang dan memberinya makna. Cintamu melukiskan gambaran yang indah tentang apa arti cinta yang sebenarnya.
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya judulnya ada di bawah ini:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Pesona Perawan
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…
__ADS_1
Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift poin dan koin seikhlasnya..
Mohon maaf jika banyak terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya atau typo yang meresahkan Readers..