Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 61. Kepulangan Baby Triple


__ADS_3

"Pak Nawang!! Bu Tati!!!" Teriaknya Pak Barata Ardiansyah Jaya yang memanggil dua orang Asisten rumah tangganya untuk segera menghadapnya.


"Iya Tuan Besar," jawab ke duanya dengan serentak sambil menundukkan kepalanya karena pasti tahu jika ada yang tidak beres dengan maksud dari pemanggilan mereka berdua.


"Tolong perhatikan mereka jika mereka pergi dari sini jangan biarkan mereka mengambil satu barang-barang yang ada du dalam rumahku ini selain yang berada terpasang di tubuhnya itu,! Camkan itu baik-baik jika tidak kalian yang aku akan pecat tanpa gaji dan pesangon," ancam Pak Barata dengan api amarah dan dendam yang menyelimuti hati dan pikirannya itu.


Hari ini jadwal kepulangannya Adriana dengan ketiga anak kembarnya. Bu Dewi sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut kepulangan Adriana dan bayinya.


Beberapa hari kemudian, Andriana sudah diijinkan oleh dokter untuk pulang beserta anak-anaknya. Bu Dewi melakukan berbagai macam acara untuk penyambutan pun sudah dipersiapkan oleh Bu Dewi dan keluarga besarnya.


"Prita! Bagaimana persiapan penyambutannya ketiga cucuku apa sudah beres atau ada yang kurang?" Bu Dewi memeriksa satu persatu persiapan tersebut dengan teliti dan detail.


"Alhamdulillah, semuanya sudah beres kita tinggal menunggu kedatangan mereka Nyonya Besar," jawabnya Prita ikut mengecek langsung beberapa hal mengenai persiapan mereka.


"Baiklah kalau begitu, makasih banyak atas kerjasamanya," tuturnya Bu Dewi.


"Sama-sama Nyonya," balasnya Prita.


Sedangkan di dalam rumah sakit, Adriana bersama Bu Laila membereskan semua barang-barangnya yang akan mereka bawa pulang.


"Ibu, jangan lupa dibawa Pampers nya juga, kayaknya di dalam bungkusannya itu masih banyak," ujarnya Riana sambil memberikan asi untuk anak bungsunya Bumi.


Bu Laila Sari yang baru ingin bergerak mengambil bungkusan popok tersebut, tangannya langsung dicegah oleh Akmal.


"Ibu tidak perlu repot-repot, biarkan aku saja yang mengerjakan semuanya ibu cukup beristirahat saja," tuturnya Akmal yang melarang Ibu mertuanya untuk mengerjakan apa yang dipertahankan oleh Adriana anaknya.


Adriana yang mendengar suara suaminya segera mendongakkan kepalanya ke arah Akmal berada yang sedang mengemasi barang-barangnya. Riana segera menutupi bagian dadanya dengan kain agar daerah sensitifnya tidak nampak kelihatan di mata suaminya yang baru pertama kali dilihatnya.


"Ya Allah… sedari tadi aku perhatiin wajahnya suamiku ternyata ganteng, apa ini anugerah atau mala menjadi ujian dalam kehidupanku memiliki suami yang tampannya paripurna dan anak sultan yah?" Batinnya Adriana yang sedikit memiringkan tubuhnya agar tidak nampak jelas dimata orang lain saat dia menyusui.


Adriana yang hingga detik itu juga masih mencintai mantan tunangannya yaitu Andre yang rela memutuskan Pernikahannya yang sudah ada di depan mata yang tersisa menghitung minggu saja.

__ADS_1


Cintanya mereka yang terjalin cukup lama yang hampir enam tahun itu harus berakhir karena kejujuran dari Adriana yang mengatakan jika dirinya sudah tidak suci lagi.


"Aku seharusnya tidak memikirkan hal itu lagi karena semuanya sudah menjadi kenangan masa lalu yang tidak perlu dikenang atau pun diungkit lagi," lirihnya Adriana yang menidurkan putranya ke dalam box bayinya.


"Kenapa dia sangat melindungi dan menutupi daerah sensitifnya itu padahal aku sudah pernah melihatnya bahkan merasakan dan mengecapnya hingga berulang-ulang kali, ia seperti anak abg yang masih pertama kali melakukan hal itu?" Akmal membatin dan diam-diam sesekali melirik ke arah Adriana yang selalu tersenyum manis ke arah anaknya Seana yang baru bangun dari tidurnya.


"Bagaimana apa Tuan Muda sudah bersiap untuk berangkat pulang ke rumah?" Tanyanya Pak Udin selaku supir pribadi yang khusus ditugaskan oleh Bu Dewi untuk menjemput mereka.


"Iya mang Udin, tolong dibereskan semua ini lalu simpan di bagasi mobil dengan rapi," perintahnya Akmal.


"Baik Tuan Muda," balasnya Mang Udin.


"Sini aku gendong Seana, kamu gendong Bumi, jadi Ibu gendong Starla saja," tuturnya Akmal yang sangat cepat mengenali putra putrinya itu.


Ibu Laila dan Adriana hanya mengikuti anjuran dan perintah dari Akmal tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka berdua.


"Kenapa wajahnya semakin cantik Aku lihat padahal dia hanya memakai make up biasa saja bahkan terkesan sangat tipis dan natural, apa karena aura keibuannya yang terpancar keluar hingga wajahnya semakin bersinar," Akmal membatin yang sesekali mencuri pandang sepintas lalu ke arah istrinya berada.


Adriana yang menggendong bayinya baby Bumi penuh kehati-hatian lagian dia juga belum bisa berjalan normal seperti biasanya karena baru beberapa hari setelah melahirkan anak-anak kembarnya itu.


"Sini saya bantuin pak!" Pinta perawat itu yang menawarkan bantuannya kepada Akmal yang rempong banget.


"Makasih banyak atas bantuannya Mbak," jawab Akmal sembari tersenyum simpul ke arah suster tersebut sambil menyerahkan anaknya itu.


Berselang beberapa saat kemudian mereka sudah berada di tengah-tengah jalan kepadatan jalan Ibu Kota Jakarta. Mereka terjebak kemacetan lalu lintas yang cukup padat merayap seperti seekor ular betina saja yang meliuk-liuk di atas aspal siang hari itu.


Untung saja baby kembarnya tidak rewel bahkan terkesan anten saja sehingga membuat Adriana cukup bisa beristirahat. Akmal yang menatap ke arah Adriana yang terlelap dalam tidurnya. Akmal tersenyum manis melihat tingkah lucu Adriana yang tertidur dengan dengkuran halusnya itu.


"Cantik-cantik kok ngorok," batin Akmal.


Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan pas pintu masuk rumah mewah dan megah itu yang layaknya bagaikan istana saja.

__ADS_1


Setelah penghuni rumah mendengar ada deru mesin mobil yang berhenti, mereka berbondong-bondong berjalan ke arah pintu depan. Mereka sangat bahagia dan bersyukur karena Ibu dan anak kembarnya sehat dan selamat tanpa kekurangan apapun itu.


Bu Laila paling belakang turun dari mobil,ia menggendong bayi Starla yang tertidur pulas dan tenang dalam tidurnya. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat orang yang berada dan berdiri tegak di depan pintu.


"Apa aku mimpi! Tidak mungkin itu Mas Ardiansyah?" Lirihnya yang mengeratkan pelukannya ke tubuh Baby Starla.


Begitupun juga dengan yang dialami oleh Pak Ardiansyah yang terdiam dan tidak bergeming sedikitpun. Hanya pandangan matanya saja yang mengisyaratkan bahwa jika apa yang dialaminya dalam hatinya tidak kurang dan tidak lebih dengan apa yang dirasakan oleh Bu Laila Sari.


......................


Jangan bosan untuk baca novelnya Fania Yah..


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya judulnya ada di bawah ini, ceritanya pasti berbeda dan tetap recehan tapi beda dengan novel author lainnya dan insya Allah menghibur..



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pelakor Pilihan


Pesona Perawan


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…

__ADS_1


Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift poin dan koin seikhlasnya..


Mohon maaf jika banyak terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya atau typo yang meresahkan Readers..


__ADS_2