
Kebingungan dan kebimbangan dengan situasi yang barusan terjadi membuatnya tidak mengerti. Apakah ini permainan kehidupan atau skenario yang sengaja diciptakan oleh seseorang untuk kehidupannya.
"Ya Allah.. aku tidak pantas mendampingi pria manapun di dunia t, mas Yudi saja yang katanya sangat mencintaiku tapi setelah aku jujur padanya jika aku tidak suci lagi, dia langsung memutuskan pernikahan kami yang tinggal beberapa bulan lagi," Adriana mematung dan memikirkan kembali kejadian waktu itu.
Kejadian itu hanya dia yang mengetahuinya, dia tidak berani jujur di hadapan ibunya. Sedangkan pihak keluarga besarnya yang mengetahui bahwa pernikahannya gagal sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Lagian mereka tidak ada yang menyukai sikap kedua orang tuanya Yudi.
Adriana masih terdiam di tempatnya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Jawaban tidak, pasti Nyonya Dewi sedih dan kecewa. Jawab ya, itu juga tidak mungkin dia lakukan dimana dia masih sangat mencintai Yudi mantan kekasih sekaligus tunangannya itu.
"Ya Allah… bantu dan tolonglah aku, agar gadis yang ada di depanku setuju menikah dengan putraku, sudah terlalu lama dan kerap kali aku melihat anakku hidup dalam kesepian dan kesendiriannya," Bu Dewi membatin.
Riana bungkam seribu bahasa, Nyonya Dewi memperhatikannya sedari tadi yang terdiam mematung tanpa kata. Tetapi, Ibu Dewi sangat mengetahui dengan jelas jika Adriana sedang berperang besar dengan hati nuraninya sendiri.
"Bagaimana Adriana, apa jawabanmu?" Tanya Nyonya Dewi yang sudah tidak sabar menunggu Jawaban yes dari Adriana.
"Apa aku bisa berfikir beberapa hari untuk memutuskannya Bu?" Tanyanya Riana yang berharap agar diberikan waktu untuk berfikir beberapa hari.
Dia tidak mungkin bisa langsung memutuskan untuk masa depannya tanpa masukan dan pertimbangan dari Ibu kandungnya sendiri.
"Maaf Riana, Ibu sangat berharap kamu menyetujui permintaan dariku, dan anggap saja kamu menolong seorang Ibu yang ingin melihat cucunya bahagia disisa hidupnya," jawab Nyonya Dewi yang meneteskan air matanya sembari memegangi kedua tangannya Riana.
"Jika aku menolak aku pasti Bu Dewi sangat sedih dan bisa-bisa beliau akan sedih dan kecewa bahkan kemungkinan besar penyakitnya akan kambuh, tapi apabila aku menerima permintaan Bu Dewi untuk menikah dengan putranya bagaimana mungkin kami bisa menjalani pernikahan tanpa dasar cinta," Adriana membatin.
Riana menjadi bimbang, hingga kepalanya tiba-tiba pusing, pandangannya mulai kabur, apa yang dilihatnya sudah berputar seperti dengan wajahnya Nyonya Dewi yang dilihatnya sudah seperti orang yang kembar siam saja.
"Tapi bagaimana jika Tuan Muda Akmal mengetahui jika aku tidak perawan lagi," Adriana membatin dan kembali teringat dengan masa lalunya yang kelam akibat dari kebodohannya saat pulang kuliah sekitar tiga bulan lalu.
__ADS_1
Gara-gara semalam kurang tidur karena membantu ibunya memasak makanan persiapan catering pesanan dari langganan ibunya tersebut.
Adriana sudah tidak mendengar baik perkataan dari Nyonya Dewi apa pun itu. Dia tidak bisa menangkap perkataan dan suara Nyonya Dewi dengan baik, hingga pandangannya kabur dia pun terjatuh ke atas lantai.
"Adriana!!!" Teriak Nyonya Dewi.
Teriakan Nyonya Dewi yang memenuhi seluruh penjuru sudut ruangan itu masih mampu dia dengar sepintas saja, lalu matanya sudah terpejam. Prita yang mendengar teriakannya Nyonya Dewi segera membuka pintu itu. Dia melihat Nyonya Dewi sudah memangku kepalanya Adriana.
"Apa yang terjadi Nyonya?" Tanyanya yang kebingungan melihat kondisi dari Nafeesa yang tidak sadarkan diri.
"Jangan banyak tanya, panggil orang cepat untuk mengangkat tubuhnya, aku yang akan menelpon dokter Mery," jelasnya yang sudah sangat khawatir.
Prita segera berlari ke arah luar," kenapa meski berlari, padahal ada nomor hp Security," dia menertawai keputusan dan kebodohannya sendiri.
Prita kembali ke dalam ruangan tersebut setelah beberapa pria yang bekerja dengan dibagian Security sudah datang.
"Ayo masuk, Nyonya Dewi memerlukan tenaga kalian," ujarnya sembari membuka pintu itu.
Adriana sudah dibaringkan di dalam kamarnya Sakti. Nyonya Dewi memilih kamar itu karena ingin agar Adriana dan Akmal bisa lebih dekat lagi, sehingga untuk menyatukan mereka dalam tali pernikahan akan lebih muda.
Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan.
Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.
Fun starts from being together with the closest people, especially family.
__ADS_1
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....