Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 78. Insiden Bunga Rose


__ADS_3

Akmal dan istrinya Adriana terpaksa pergi berbulan madu seperti yang dikehendaki oleh Bu Dewi Lidya Kheiz. Dengan meninggalkan tiga orang bayi yang masih kecil-kecil baru berusia lima bulan kurang lebih itu.


Adriana duduk di dekat jendela awalnya Akmal enggan untuk pergi,tapi dia tidak mau dicap sebagai anak durhaka dan tidak mungkin melihat mamanya sedih dan sakit hati gara-gara penolakan terhadap rencana mamanya yang haruskan dia untuk honeymoon.


Sepanjang perjalanan mereka hanya duduk berdiam diri sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Akmal sibuk membaca beberapa majalah tentang bisnis sedangkan Adriana hanya melihat ke arah luar jendela pesawat terbang yang ditumpanginya itu.


Hingga saking capeknya sampai-sampai dia tertidur pulas dan tanpa disadarinya ia langsung menyandarkan kepalanya ke pundak lebarnya Akmal Pradipta Saiden suaminya sendiri.


Akmal yang merasa terganggu segera menyingkirkan kepalanya Adriana dari pundaknya itu


"Ini orang kenapa juga tidurnya harus seperti ini," ketusnya Akmal.


Tapi berulang kali, ia berusaha untuk memindahkan kepalanya Adriana bertulang kali juga kembali seperti semula sehingga sampai capek sendiri.


"Kalau bangun nanti aku akan meminta pertanggungjawaban kepadanya nanti suruh mijit pundakku kalau sampai di Seoul Korea Selatan," gumamnya Akmal yang akhirnya menyerah juga.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di bandara internasional Incheon airport Korea Selatan.


Akmal pun ketiduran saking lelahnya tubuhnya dijadikan bantal kepala oleh Riana istrinya sendiri. Adriana yang sudah terbangun dari tidurnya langsung tersentak terkejut melihat bagaimana posisi tidurnya yang harus bersandar di tubuh suaminya itu.


Riana menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang sudah dilakukannya itu tanpa disadarinya, "Waduh pasti aku sudah lama tidur seperti ini posisinya, kalau tubuhnya kram dan kaku pasti aku bisa kena masalah nih," batinnya Adriana Keysa Paramita yang merasa bersalah, takut dimarahi, panik dan juga malu.


Akmal sebenarnya sudah bangun sejak tadi ketika Andriana memindahkan kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Kamu harus tanggung jawab dan ganti rugi karena sudah buat aku capek dengan menyanggah kepalamu yang berat itu," sarkasnya Akmal.


"Tapi aku kan tidak sengaja," sanggahan dari Adriana.


"Intinya setelah sampai di hotel kamu harus mijit aku sampai tertidur, Ingat itu tidak boleh kamu melanggar janji apalagi berniat untuk melarikan diri!" Tegasnya Akmal dengan berbagai ancaman.


Adriana bukannya takut malah santai saja menghadapi ancaman suaminya itu,"kalau hanya mijit sih aku masih sanggup sekujur tubuhnya Mas Akmal aku bisa, why not!"


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di hotel bintang lima yang terbaik di Seoul sesuai pilihan mamanya Bu Dewi.


Akmal memutar knop pintu rumahnya itu sambil melirik ke arah Riana," ingat dengan hutang janji yang belum kamu bayar itu aku tidak menerima penolakan ataupun semacamnya, Ingat kamu itu sudah berjanji padaku untuk memijat punggung, tangan,pinggang,kaki dan terutama pundak ku," Akmal menyebut satu persatu dan menunjuknya seluruh anggota tubuhnya itu.


Adriana hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulut suaminya itu. Apa yang dilakukan oleh Adriana membuat Akmal sedikit jengkel dan kesal karena Adriana sama sekali tidak berucap sepatah katapun lagi hanya manggut-manggut saja.


"Apa kamu bisu sampai-sampai hanya diam dan menganggukkan kepalamu saja!" Cibirnya Akmal.


Akmal semakin dibuat geram karena Adriana bukannya menjawab pertanyaan-pertanyaan malah memainkan bunga-bunga mawar merah yang begitu cantiknya berada di atas lantai dan bertaburan di atas ranjang king size-nya itu.


Adriana melempar ke atas kelopak bunganya seperti seseorang yang sedang bermain bunga di taman saja. Bunga itu terlempar ke atas hingga berjatuhan dan berhamburan mengenai wajahnya yang cantik terkena hujan bunga.


Akmal yang melihat Adriana seperti hanya mencibir Adriana saja," seperti orang yang baru liat bunga saja, apa kamu hidup di tengah lautan yah!?"


Adriana sama sekali cuekin perkataannya Akmal malah semakin menjadi saja hingga ia berputar-putar mengelilingi ranjangnya yang cantik itu hingga kakinya tersandung salah satu ujung kakinya ranjang dan arah jatuhnya tepat di atas tubuhnya Akmal.

__ADS_1


"Aaahhh!!" Teriaknya Adriana yang suaranya menggema memenuhi seluruh sudut ruangan penjuru hotel itu.


Akmal yang tidak menyangka jika Adriana terjatuh ke atasnya tidak sigap dan bergerak cepat hingga tubuhnya tertindih oleh tubuhnya Adriana. Adriana menutup matanya saking terkejutnya. Mereka kemudian saling berpelukan satu sama lainnya tanpa ada yang berbicara sepatah katapun juga.


Sedang di Jakarta Indonesia tercinta…


Samuel yang baru pulang menjemput putrinya Pelangi dari sekolahnya segera kembali ke rumah kedua orang tuanya itu dengan serta merta membawa Prita Laura Mulya Sari bersamanya.


Siang itu Bu Laila Sari dan Pak Barata sedang menyantap makanannya itu. Kedua pasangan suami istri terkejut melihat kedatangan tiga orang itu.


"Assalamualaikum mama, papa," sapanya Sam sambil langsung duduk di hadapan kedua orang tuanya itu.


"Waalaikum salam Nak, sini gabung makan bersama kami," pintanya Bu Laila.


"Pelangi salim sama Nenek dan Kakek Nak," perintahnya Prita.


Pelangi segera berjalan ke arah kedua orang tua lanjut usia itu satu persatu punggung tangannya mereka dicium penuh takjim oleh Pelangi.


"Cucunya Kakek sungguh cantik dan sangat pintar,"


"Makasih banyak Kakek," ucapnya Pelangi yang ikut duduk bersama kedua orang tuanya itu.


Sam memegangi genggaman tangannya Prita agar lebih santai dan rileks, "Mama, Papa kami kesini karena ingin mengatakan sesuatu kepada kalian berdua jika kami berencana akan menikah dua minggu lagi kasihan Pelangi jika kedua orang tuanya harus terpisah, jadi kami memutuskan untuk menikah setelah Abang Akmal dan Mbak Adriana balik dari Korea Selatan," ucapnya Sam anak keduanya Pak Baratayudha.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau kalian berdua telah memutuskan untuk menikah, itu ide yang sangat bagus, jadi mulai sekarang kalian harus sudah mempersiapkan segalanya mulai dari sekarang," ujarnya Pak Barata.


Mereka kembali makan siang hari itu, keempat orang dewasa dan satu anak kecil itu makan bersama penuh rasa kekeluargaan.


__ADS_2