
Tatapannya nanar ke arah jendela ruangan kantornya senantiasa menatap ke arah gedung pencakar langit yang berjejer rapi itu.
"Aku tidak akan pernah mencintainya wanita manapun selain istriku dan tidak akan Sudi menggantikan posisi Rianti di dalam hatiku dengan wanita mana pun, selamanya Rianti ada di dalam hatiku tidak tergantikan, kamu selamanya akan menjadi istriku satu-satunya di dunia ini walaupun kamu sudah meninggal dunia," lirihnya.
Mobil yang ditumpangi oleh Nafeesa mengikuti laju mobil yang ada di depannya. Milik Nyonya Dewi Mami dari orang nomor satu di perusahaan tempat dia melamar pekerjaan.
Adriana selama berada di dalam mobil,dia kebanyakan terdiam dan tidak tahu harus berbicara apa. Dia masih kebingungan dengan apa yang terjadi di sana. Masalah tes masak makanan yang tiba-tiba, padahal jika difikir apa hubungannya dengan bagian keuangan.
"Ya Allah… semoga saja apa yang kami lakukan adalah hal yang baik saja," Adriana membatin.
Dia masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Padahal biasanya dia yang paling cepat tanggap selama ini. Seakan-akan otaknya lambat menangkap sesuatu selama putus dengan mantannya. Dunianya serasa teralihkan dan tersita oleh hal itu.
Seolah-olah Prita mengerti dengan maksud dari raut wajahnya Adriana yang kebingungan dia pun membuka percakapan diantara mereka yang sedari tadi hanya terdiam membisu dalam keheningan.
"Nyonya Dewi itu sebenarnya orangnya baik, hanya saja belakangan ini dipusingkan dengan masalah dari putra tunggalnya yang selalu menolak untuk menikah dengan perempuan pilihannya," ucap Prita yang mencoba mencairkan kebisuan diantara mereka.
Riana hanya menjadi pendengar setia saja tanpa ada niat untuk menimpali perkataannya. Prita diam-diam memperhatikan gerak gerik dari Adriana.
"Perempuan ini cantik, tapi tertutupi dengan penampilannya yang sederhana dan lebih terkesan kampungan dan ketinggalan zaman saja," Prita membatin.
"Apa sebenarnya maksud dari mereka yang selalu saja mengatakan ingin menjodohkan saya dengan CEO mereka?"
Adriana pun ikut membatin dan berusaha untuk berfikir apa motif dibalik semua ini. Dia kebingungan dengan kenyataan yang terjadi padanya hari ini.
Mobil sudah berhenti, Prita segera turun dari mobilnya dan berjalan ke arah mobil satunya untuk membuka pintu mobil tersebut agar Nyonya Dewi segera turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Antar Nona Adriana ke dalam ruanganku ada yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap Nyonya Dewi sambil berjalan ke dalam istananya.
"Baik Nyonya," seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.
Prita berjalan ke arah Nafeesa yang baru saja turun dari mobil, "Katanya Nyonya kamu harus mengikuti Nyonya ke dalam ruangannya karena ada yang ingin disampaikan."
Adriana berjalan ke arah dalam rumah saat mendengar perkataan dari Prita tapi saat berada di ujung jalan, dia baru tersadar jika tidak mengetahui letak ruangannya Nyonya Dewi. Dia pun berbalik berjalan ke arah Prita yang tersenyum kearahnya.
"Maaf Mbak kalau ruangannya Ibu Dewi ada di bagian mana?" Tanyanya yang malu-malu karena belum selesai dijelaskan dia sudah ngacir lebih duluan.
"Makanya kalau orang bicara itu didengerin dulu baru bergerak," tutur Prita yang sedikit mendumel kesal ke arah Adriana.
"Maaf Mbak," balasnya dengan wajahnya yang memerah menahan rasa malunya.
"Mbak ikut saya dan tolong jangan melakukan apa pun tanpa ada perintah sebelumnya dan tolong jangan sekali-kali untuk berani membantah perkataan dari Nyonya Dewi" terangnya yang meminta kepada Nafeesa agar berhati-hati jangan sampai melakukan kesalahan lagi.
Prita berada di depan sedangkan Nafeesa berada di belakangnya. Semakin dekat langkah mereka ke ruangan Nyonya Dewi, langkahnya semakin berat saja. Ia takut jika apa yang akan disampaikan oleh beliau adalah sesuatu hal yang membuatnya ditolak bekerja di kediaman itu.
"Ini ruangannya Nyonya dan silahkan masuk," terangnya Prita yang berdiri di ambang pintu sambil memutar kenop pintu.
"Apa tidak sebaiknya kita berjalan bersama ke arah dalam saja, aku takut jika aku salah lagi," ucap Adriana yang meminta ditemani oleh Prita.
"Maaf Mbak, bagi siapa saja yang tidak berkepentingan siapa pun itu dilarang untuk masuk ke dalam dengan alasan yang tidak masuk akal," terang Prita.
"Oooh gitu, baiklah kalau," jawabnya dengan pasrah.
__ADS_1
Adriana dengan pasrah berjalan ke arah dalam, pandangan matanya mengedar ke segala arah ruangan. Ia tidak memungkiri jika mengagumi keindahan arsitektur dan desain dari ruangan pribadi yang baru beberapa jam lalu menjadi bosnya.
Siapa pun yang melihat keadaan ruangan itu pasti akan mengagumi furniture dan semua benda pendukungnya. Kemegahan dan kemewahan seolah diperlihatkan begitu kentara.
Adriana melihat Nyonya Dewi sudah duduk di kursi kebesarannya dan tersenyum ramah ke arah Adriana yang sedikit grogi.
"Silahkan duduk dan tidak perlu sungkan, santai saja, anggap saja saya ibumu juga," seulas senyum yang selalu terpancar dari wajahnya.
"Makasih banyak Nyonya," balasnya saat sudah mendudukkan dirinya di depan Nyonya Dewi.
Bu Dewi menyodorkan sebuah map ke hadapan Nafeesa, sedangkan Nafeesa menatap ke arah Nyonya Dewi yang seolah-olah meminta jawaban maksud dari map tersebut.
"Bukalah, setelah kamu baca pasti akan mengetahui apa tujuanku memberikan map tersebut," ujarnya dengan tatapan matanya yang tajam.
Ibu Dewi tanpa banyak pikir segera membuka dan membaca map itu dengan seksama hingga mulutnya menganga dan matanya membulat sempurna. Nyonya Dewi hanya tersenyum tipis menanggapi keterkejutan Adriana.
"Aku yakin dia gadis yang baik dan cocok menjadi pendamping putraku, dari raut wajahnya sudah ketahuan," batinnya Bu Dewi.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
Pesona Perawan
Dilema Diantara Dua Pilihan
__ADS_1
Pelakor Pilihan