Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 19. Pipi Yang Chubby


__ADS_3

"Apa???" Itu tidak mungkin Ma!!" Pekik Akmal.


"Mama kayak cenayang saja kalau gini," gurau Akmal yang malu meong karena ketahuan dengan apa yang telah dia lakukan.


Hahahaha," Kamu lahir dari rahimnya Mama jadi aku pasti tahu semua itu, jadi Mama hanya perlu tahu jawaban kamu setuju menikahi perempuan itu atau tidak?" Tanyanya Bu Dewi yang mulai menunjukkan wajah seriusnya.


"Aku harus jawab apa ya Allah… Rianti bantu Mas untuk mengambil keputusan apa Yes atau No," Akmal membatin yang mulai kebingungan dan bimbang harus memilih dan memutuskan apa untuk hidupnya.


"Jangan terlalu banyak fikir nanti kamu nyesal loh kalau lambat bilang iya," tutur Bu Dewi yang mulai mempengaruhi otak putranya.


"Maksudnya Ma?" Tanyanya Akmal yang sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Ibunya itu.


Bu Dewi langsung berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah luar tapi, sebelum memegang kenop pintu, beliau mengayungkan tangannya yang sedang memegang sebuah liontin perak yang sangat cantik dengan inisial A d R.


Bu Dewi kemudian secepatnya berjalan meninggalkan ruangan kamar pribadi putranya itu dengan menutup pintu dengan cukup kuat sehingga menimbulkan suara yang cukup besar.


"Mama kalungnya Akmal!!" Pekiknya saat pintu itu sudah tertutup.


Akmal mengelus wajahnya dengan gusar saat dia tidak berhasil mendapatkan kalungnya kembali.


"Aku akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapan Adriana karena menurut aku dia lebih baik dari mendiang Rianti dari segala-galanya, aku sudah tahu siapa Papanya Adriana," cicitnya saat membuka layar hpnya karena mendapatkan pesan chat dari asisten pribadi putranya itu.


Keesokan harinya, Adriana bangun pagi sekali dan seperti biasanya ia melaksanakan shalat lima waktu sebelum mulai beraktivitas.


"Sayang kamu sudah siap berangkat?" Tanya Ibunya yang melihat putrinya sudah duduk di kursi untuk bersiap sarapan.


Adriana hanya menganggukkan kepalanya karena mulutnya sudah berisi makanan sehingga dia tidak kuasa untuk berbicara lagi.

__ADS_1


Bu Laila hanya tersenyum melihat tingkah laku anak semata wayangnya itu. Beliau hanya menggeleng kepalanya melihat anaknya yang makan seperti orang yang sudah dua hari belum makan apa pun juga, porsi makanan yang ada di atas piringnya sungguh banyak.


"Pelan-pelan makannya Nak, gak ada kok yang akan merebut makanan kamu," ujarnya Bu Laila yang ikut menyusul duduk di hadapan putrinya.


"Ma! Aku minta tolong isi kotak bekal ini, sepertinya aku mau makan masakan Ibu saja dari pada harus beli di kantin," terangnya Riana.


Bu Dewi yang mendengar perkataan dari anaknya segera bangkit dari duduknya lalu mengambil kotak makanan milik Adriana yang sering ia pakai sewaktu dia kuliah dulu.


"Entah kenapa akhir-akhir ini aku kalau cium aroma wangi masakan, aku pasti selalu lapar dan Ingin makan Bu," tuturnya Adriana yang heran dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


"Ibu lihat body kamu sepertinya bertambah naik, itu coba perhatikan pipi kamu yang chubby itu," pungkasnya Bu Laila sembari menunjuk ke arah wajah Riana.


Tangannya Riana spontan memeriksa pipinya itu. Dia secepatnya menyelesaikan kunyahan makanannya lalu berjalan ke arah cermin untuk mengetahui dengan jelas apa yang dikatakan oleh Ibu Laila


Iya memegang pipinya yang memang sedikit tembem itu,lalu segera berlari ke arah cermin besar yang kebetulan ada di dalam rumahnya yang terpasang di dinding dengan rapinya


"Betul sekali yang dikatakan oleh Ibu, Kalau wajahnya cukup mirip denganmu," lirihnya Adriana.


Akmal menatap ke arah Mamanya sambil berkata," permintaannya Mama apa?"


Bu Dewi tersenyum sebelum menjawab dan menjelaskan permintaannya itu.


"Kamu harus menikahi gadis yang kamu perawanin anaknya orang," Jawabnya Bu Dewi dengan enteng dan mudahnya perkataan itu meluncur dari bibirnya.


"Apa???" Itu tidak mungkin Ma!!" Pekik Akmal.


Akmal menatap ke arah Mamanya sambil berkata," permintaannya Mama apa?"

__ADS_1


Bu Dewi tersenyum sebelum menjawab dan menjelaskan permintaannya itu.


"Kamu harus menikahi gadis yang kamu perawanin anaknya orang," Jawabnya Bu Dewi dengan enteng dan mudahnya perkataan itu meluncur dari bibirnya.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…

__ADS_1


__ADS_2