
"Adriana sayang, dengarkan dulu penjelasan Papa dan Ibu nak, semua yang kamu pikirkan tentang Papa tidak ada yang benar sama sekali, Ibu sangat tahu apa yang terjadi dulu nak," tutur ibunya yang sedih melihat suami dan putrinya itu saling berdebat satu sama lainnya.
"Mbak Riana, bagaimana pun juga Papa adalah ayah kandungnya kamu dan Aku juga karena kita adalah saudara kembar," ujarnya Samuel yang ikut menimpali pembicaraan mereka.
Adriana menatap sekilas ke arahnya Samuel adik kembarnya Adriana itu dengan tatapan seolah-olah ingin menguliti dan membunuh seseorang saja.
Lagi-lagi fakta baru terungkap itu membuat seluruh anggota keluarga besarnya tidak menyangka dan menduga jika dibalik ketegasan dan keganasan Pak Barata pemilik Perusahaan besar salah satu yang ada di tanah air tercinta memendam luka dan kesedihan yang sangat mendalam.
Akmal memeluk tubuh istrinya yang sudah bergetar hebat dalam tangisannya. Fakta yang baru diketahuinya cukup membuatnya terkejut dan shock.
Selama ini dia menganggap jika dirinya adalah anak yatim yang papanya sudah meninggal dunia sejak dia lahir ke dunia ini. Air matanya menetes membasahi pipinya. Akmal yang baru kali ini memeluk istrinya itu terharu melihat keadaan dan kondisi dari istrinya.
Akmal tergerak hatinya untuk berusaha untuk menenangkan Adriana yang cukup terguncang hebat jiwa dan raganya.
"Riana! Lihat aku," ucapnya Akmal sembari menangkup kedua pipinya Adrian dengan penuh kelembutan.
Adriana masih enggan untuk menengadahkan wajahnya ke arah Akmal yang berusaha untuk membujuknya. Bu Laila juga tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada putrinya itu. Karena menurutnya itu hal yang wajar dilakukan oleh Adriana.
Wajar saja seseorang marah, benci tapi jangan berlebihan dan berlarut dalam kesedihan dan rasa kecewa.
"Ya Allah… entah gimana reaksinya Adriana jika esok dia mengetahui jika aku adalah pria yang telah merenggut kehormatannya dan memberi dia tiga orang anak, apa dia juga akan bereaksi dan bertindak seperti ini," batinnya Akmal.
Bu Dewi memberikan kode kepada Akmal untuk mengantar istrinya masuk kedalam kamarnya untuk segera beristirahat.
__ADS_1
"Akmal bawa dulu Istrimu ke dalam kamarnya, masalah ini bisa kita bicarakan lain kali, Mama takut jika penyakit traumanya kambuh lagi, jadi Mama minta kepada yang lain untuk memaklumi dan mengerti dengan posisinya Adriana," pintanya Bu Dewi yang memohon kepada seluruh anggota keluarganya yang hadir di sana.
"Papa!! Apa yang dikatakan oleh Aunty Dewi ada benar dan baiknya, saya sudah melihat langsung Mbak Adriana histeris saat penyakit traumatis nya kambuh, yakinlah insya Allah Mbak Adriana pasti akan memaafkan dan menerima Papa sebagai papa kandungnya," bujuknya Samuel sambil memegang pundak papanya itu pak Barata.
Adriana dan Akmal meninggalkan mereka dengan berbagai macam pertanyaan dan perasaan yang muncul dalam benaknya mereka. Adriana menyempatkan diri untuk melirik sekilas ke arah Pak Barata.
"Papa!" Gumamnya Adriana yang sebenarnya sangat merindukan, mendambakan dan menginginkan kehadiran Papanya di dunia ini setelah beberapa tahun lalu dia mengetahui jika Papanya itu masih hidup hal itu lah yang paling diinginkannya.
"Mas harus berusaha untuk terus membujuk agar Adriana bersedia menerima Mas sebagai papanya, karena aku yakin dia pasti sangat merindukan kehadiran Papanya disisinya selama ini, teruslah berusaha dan jangan berputus asa dan tetaplah semangat Mas karena kami selalu bersama dan mendukung Mas apa pun yang terjadi," tuturnya Bu Dewi lalu berjalan meninggalkan Bu Laila Sari dan kakaknya Barata Ardiansyah Jaya.
Seluruh anggota keluarganya yang lain pun satu persatu meninggalkan mereka bertiga di dalam ruang tamu. Mereka berjalan menuju ruang keluarga yang dipilih jadi tempat untuk melaksanakan acara syukuran penyambutan baby triple penerus tampuk kepemimpinan dan kekuasaan Perusahaan raksasa Posaiden Global Grup.
Tanpa ragu dan bimbang Samuel berjalan ke arah Bu Laila Sari yang masih tak bergeming dan mematung di tempatnya semula. Ia langsung memeluk tubuh ibunya yang sejak beberapa tahun terakhir ini dia rindukan kehadirannya di sisinya dan hari ini adalah hari terwujudnya dan tercapainya segala doa, harapan dan cita-citanya.
"Ibu!" Cicitnya Sam.
"Samuel putranya Ibu, kamu sudah besar Nak, apa kamu tahu Ibu sudah lama menanti hari ini Nak, bahkan hampir setiap hari Ibu selalu memimpikan jika kamu datang di hadapannya Ibu dan berlari ke dalam pelukannya Ibu sayang, putranya Ibu, kebanggaannya Ibu… belahan hati dan jiwaku," tuturnya Bu Laila sambil menciumi seluruh wajah putranya itu yang bagaikan anak kecil saja.
Samuel yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam dan tersenyum kegirangan karena bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ibunya sendiri. Sam lalu menghapus dan melap air matanya ibunya yang sedari tadi membasahi pipinya Bu Laila.
...****************...
Jangan bosan untuk baca novelnya Fania Yah..
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya judulnya ada di bawah ini, ceritanya pasti berbeda dan tetap recehan tapi beda dengan novel author lainnya dan insya Allah menghibur..
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pelakor Pilihan
Pesona Perawan
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…
Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift poin dan koin seikhlasnya..
Mohon maaf jika banyak terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya atau typo yang meresahkan Readers...
__ADS_1