
Bu Dewi dan Adriana sudah duduk manis di dalam mobil sedangkan Sam masih sibuk dengan lamunan dan khayalannya sendiri. Nyonya Dewi segera menepuk pundaknya Sam agar dia segera tersadar dari lamunannya itu.
"Hey!! Apa yang kamu lamunkan Sam?" Tanyanya Bu Dewi dengan tepukan yang cukup keras di pundaknya Samuel keponakannya sendiri.
"Ahhhh copot ehh apa itu!" Ucap Sam yang terkejut karena sedang melamun tiba-tiba dikejutkan oleh pukulan halus dari Auntynya sendiri.
"Kamu yah, katanya tadi ngantuk mau tidur jadi gak mau ikut ke dalam eehh tahu-tahunya cuma menghayal yang enggak tahu apa yang kamu Khayalkan," sarkas Auntynya Sam.
Samuel hanya cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Adriana hanya tersenyum melihat perdebatan keduanya.
"Makasih banyak ya Allah, Engkau hadirkan dalam hidupku orang-orang baik seperti mereka yang bersedia menerima segala kekuranganku," batinnya Adriana.
Adriana yang terharu melihat betapa baiknya mereka memperlakukan dirinya yang hanya orang miskin dan dalam keadaan hamil pria lain pula.
"Tetaplah seperti ini sikap kalian padaku, aku mohon jangan lah kalian berubah apapun yang terjadi kelak dikemudian hari," Adriana membatin sembari menatap ke arah keduanya bergantian.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah Engkau hadirkan tiga jabang bayi dalam kandungan anak menantuku, aku minta padaMu jaga dan lindungilah mereka hingga lahir ke dunia ini," Bu Dewi membatin.
Empat bulan kemudian…
Sore itu, Adriana dan Samuel sedang duduk bersantai di belakang rumahnya. Mereka berselonjorkan kakinya mereka sambil menikmati suguhan minuman green tea buatan Samuel pastinya dengan beberapa macam kue dan buah-buahan segar.
Usia kandungan Adriana sudah masuk bulan ke sembilan. Gerakannya semakin berkurang dan terbatas dikarenakan perutnya bobotnya semakin bertambah besar pula.
"Mbak, apa sudah dapat nama bayi yang akan Mbak berikan kepada calon anak Mbak?" Tanyanya Sam setelah menyesap jus buah naga yang khusus dibuatnya untuk Adriana dan untuk dirinya sendiri.
Samuel menatap ke arah Adriana yang tiba-tiba terdiam. Adriana kebingungan karena dulu sebelum dia menikah impiannya jika, dia hamil dia akan menyerahkan sepenuhnya masalah pemberian nama kepada ayahnya dari bayinya tapi, sekarang dia tidak tahu harus meminta saran nama pada siapa.
Sam yang melihat kakak iparnya terdiam tapi raut wajahnya menyiratkan kesedihan dan kebimbangan membuatnya mengetahui apa yang sedang terjadi padanya.
__ADS_1
"Mbak! Apa kamu baik-baik saja?" Sam menggoyang tubuhnya Adriana agar segera tersadar dari lamunannya.
Tapi, bukannya tersadar dan menjawab sapaannya malahan dia memegang perutnya dengan meringis kesakitan.
"Aahhhh!! Sakit!!" Pekiknya sembari mengelus perutnya yang mulai sakit.
Sam yang melihat hal tersebut segera bukannya menolong atau membantunya. Malahan Sam tidak tahu harus berbuat apa. Ia berdiri dari tempat duduknya lalu mondar-mandir di depan Adriana yang sudah sedari tadi menahan air matanya saking sakitnya yang dirasakannya dibagian perutnya itu.
Sam mengambil hpnya untuk menelpon Auntynya Nyonya Dewi tapi bukannya nomor hpnya Bu Dewi malahan kesasar ke nomor orang lain. Sam kelimpungan tidak tahu harus berbuat apa karena ini yang pertama kalinya dia mengalami dan berada di posisi tersebut.
"Sam!!! Tolong!!" Teriaknya Adriana yang kondisinya semakin parah dan mengkhawatirkan.
Sam yang memegang hpnya yang masih on itu melupakan untuk mematikan sambungan teleponnya yang diketahuinya tidak tersambung padahal tersambung ke nomor seseorang lalu memasukkan ke dalam saku celananya.
"Mbak Ani!!" Teriaknya Sam yang memanggil salah satu maid yang kebetulan berjalan di sekitar area tempat mereka.
Mbak Ani yang dipanggil segera berjalan tergesa-gesa ke arah Adriana.
"Apa kamu tidak lihat apa yang terjadi dengan Nyonya Muda?" Tanyanya dengan kesal.
"Sam! Bawa aku secepatnya ke rumah sakit, aku sepertinya akan segera melahirkan," pinta Riana yang berusaha bertahan menahan rasa sakitnya itu dengan terus mengelus bergantian memegang perutnya.
"Apa kamu tidak dengar dan tidak lihat!! Cepat panggil Nyonya Besar Dewi katakan padanya jika kami akan ke RS karena Nyonya Muda akan melahirkan," ujarnya Sam.
Samuel berusaha sekuat tenaga menggendong tubuhnya Adriana yang sangat berat itu.
"Mbak harus bersabar yah, jangan berpikiran yang macam-macam, Mbak pasti akan segera melahirkan dengan selamat," ucapnya Sam yang bernafas ngos-ngosan.
Sam terus berjalan ke arah garasi rumahnya, ia kembali berteriak ke arah supir pribadi rumahnya.
__ADS_1
"Mang Koko!! Tolong bawa kesini cepat kunci mobilnya," suara Sam cukup menggelegar memenuhi seluruh garasi rumahnya.
Bu Dewi yang sedang berada di luar segera meminta kepada supirnya untuk menyusul Adriana ke Rumah Sakit Kasih Bunda. Ia juga menelpon maid untuk menyiapkan perlengkapan bayi Adriana yang ada di dalam lemarinya dan secepatnya harus mengikuti dan menyusul Sam.
Hidup hanya sekali jadi jangan sia-siakan hidup Kamu untuk hal yang bisa Kamu akan sesali nantinya..
Setiap Manusia memiliki kesempatan ke dua untuk memperbaiki semuanya bahkan kesempatan itu datang berulang kali selama individu itu ingin memperbaiki Hidupnya.
...****************...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya judulnya ada di bawah ini:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pelakor Pilihan
Pesona Perawan
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…
__ADS_1
Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift poin dan koin seikhlasnya..
Mohon maaf jika banyak terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya atau typo yang meresahkan Readers..