
"Wah wah! Udah jadian?" Tanya Ruby yang sudah duluan berada di kantin bersama Ethan yang sedang menyesap es jeruknya.
"Siapa? Kami berdua?" Tanya Youbel seraya kembali merangkul pundak Olivia Sedetik kemudian rangkulan Youbel sudah disentak oleh Olivia disertai bonus sebuah delikan tajam.
"Nggak ada yang jadian!" Jawab Olivia ketus seraya mengembalikan bola Youbel dengan kasar, lalu gadis itu langsung duduk di sebelah Ruby.
Setelah memaksa Ethan untuk pindah tentu saja!
Sesekali pasangan bucin ini memang harus dipisahkan agar tak seperti remaja kembar siam.
Youbel ikut duduk di samping Ethan yang masih menikmati siomay-nya seraya membaca buku. Entah buku apa, Youbel juga tidak peduli.
"Minta siomay kamu, Eth!" Youbel tiba-tiba sudah menggeser mangkuk siomay Ethan dengan tak sopan dan melahap isinya sebelum Ethan mengiyakan.
Ethan hanya geleng-geleng kepala dan lanjut menyesap ed jeruknya.
"Es jeruknya buat aku juga," Youbel ganti mengambil gelas es jeruk Ethan, lalu meneguk isinya hingga hanya tinggal es batunya saja.
"Nggak sopan!" Cibir Olivia pada Youbel yang makan seperti orang kelaparan.
"Kamu nggak pesenin buat aku, Olive!" Celetuk Youbel yang mulutnya masih penuh dengan siomay.
"Pesan aja sendiri!" Sahut Olivia bersungut.
"Olive?" Ethan akhirnya mengangkat wajah dan menatap penuh selidik pada Olivia seraya menahan tawa.
"Sejak kapan kamu mau dipanggil Olive?" Tanya Ethan akhirnya seraya tergelak.
"Nggak ada yang lucu, Ethan! Nggak usah ketawa begitu!" Gertak Olivia galak seraya mendelik pada sang sepupu.
"Olive!" Ethan masih meledek Olivia.
"Diam!" Gertak Olivia sekali lagi.
"Lusa pertandingan final lawan SMA Permata, ya, Bel?" Ruby mengalihkan bahan pembicaraan, setelah gadis itu mengutak-atik ponselnya. Sepertinya habis membaca sebuah chat.
"Yup! Nonton semua, kan? Iya, lah! Masa enggak!" Jawab Youbel balik bertanya, lalu menjawab sendiri pertanyaannya.
Dasar aneh!
"Kemarin udah lawan SMA Permata. Masa iya lawan mereka lagi? Nggam ada lawan lain apa?" Tanya Olivia heran.
"Waktu itu babak penyisihan, Via! Masa nggak ngerti?" Ruby berdecak heran.
"Emang nggak ngerti dan nggak ngurusin!" Jawab Olivia ketus.
__ADS_1
"Penting lusa nonton, kan? Aku main jadi kaptennya," pamer Youbel sombong.
"Udah tahu! Tapi maaf, aku nggak tertarik!" Sahut Olivia seraya memutaf bola mata.
"Trus yang gebetan kamu anak SMA Permata apa kabar? Nggak mau nonton juga?" Tanya Ruby lagi.
"Enggak!" Sahut Olivia cepat dan tegas.
"Udah aku bilang aku nggak punya gebetan anak SMA Permata!" Sergah Olivia sekali lagi yang sudah bangkit berdiri seraya menggebrak meja. Gadis itu lalu berlalu dari kantin tanpa pamit pada ketiga temannya.
"Gitu aja ngambek! Dasar!" Cibir Ruby setelah Olivia pergi.
"Udah kenyang!" Youbel menggeser mangkuk siomay-nya yang sudah kosong ke hadapan Ethan.
"Makasih, Eth! Aku duluan!" Pamit Youbel selanjutnya ikut-ikutan meninggalkan kantin dan menyusul Olivia.
"Dasar bucin!" Ruby ganti mencibir Youbel dan Ethan hanya terkekeh.
****
"Hah?" Olivia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya,saat melihat ban belakang mobilnya yang ternyata kempes.
"Yah, kempes," gumam Youbel yang entah sejak kapan sudah berada di samping Olivia.
"Kamu ngapain, sih? Ngekorin aku terus dari tadi?" Tanya Olivia galak pada Youbel yang hanya cengengesan.
Dasar sinting.
"Siapa yang ngekorin? Aku udah mau pulang, kok!" Kilah Youbel seraya berjalan meninggalkan Olivia, lalu menuju ke sebuah mobil sport warna biru yang ada di halaman parkir sekolah.
What?
Mobil siapa itu?
"Mobil dua pintu!" Ujar Youbel seolah sedang pamer pada Olivia yang kini menatapnya dengan sengit.
"Habis maling mobil darimana?" Tanya Olivia sedikit berseru.
"Dari garasi Mommy," Youbel terkekeh seraya membuka pintu mobilnya. Tapi perasaan tadi pagi saat menjemput Olivia, pemuda urakan itu naik motornya yang berisik. Kenapa sekarang mendadak jadi naik mobil sport mewah begitu?
Aneh!
"Mau aku antar? Atau mau nungguin orang bengkel sampai lumutan?" Tanya Youbel yang kembali terkekeh.
"Ck!" Olivia hanya berdecak seraya bersedekap.
__ADS_1
"Yaudah kalau nggak mau! Tapi dengar-dengar di pohon beringin itu ada tante kunti yang suka mengganggu, lho!" Youbel menakut-nakuti Olivia seraya mengendikkan dagu ke arah pohon beringin besar di sudut halaman parkir.
"Nggak usah ngarang, deh! Kalau mau pulang ya pulang sana!" Usir Olivia galak.
"Aku masih bisa naik taksi!" Lanjut Olivia lagi tetap menatap sengit pada Youbel.
"Baiklah!" Youbel akhirnya masuk ke dalam mobilnya yang berwarna biru.
Tak berselang lama, mobil sport Youbel sudah melaju meninggalkan halaman parkir sekolah.
"Baru naik mobil dua pintu sudah sombong tak karuan!" Gerutu Olivia sebal seraya mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon orang bengkel. Gadis itu berbicara di telepon seraya berjalan ke arah gerbang sekolah. Olivia menyapa security yang masih berada di pos satpam, seraya memberitahu perihal mobilnya. Setelah memastikan semua beres, Olivia lanjut pulang naik taksi.
****
"Via!" Panggil Papa Kyle seraya membuka pintu kamar Olivia.
"Iya, Pa?"
"Kamu siap-siap dan temani Papa makan malam ke rumah salah satu klien Papa, ya!" Pinta Papa Kyle pada putri sulungnya tersebut.
"Mama kemana memang?" Tanya Olivia karena biasanya yang akan menemani Papa Kyle adalah Mama Audrey. Meskipun Olivia juga pernah beberapa kali menggantikan Mama Audrey terutama saat dulu Mama Audrey baru saja melahirkan Riley.
Sebagai putri sulung di keluarga Arthur, Papa Kyle memang sebenarnya menaruh harapan besar pada Olivia agar kelak gadis itu bisa lanjut mengurus Arthur Company. Sambil menunggu Riley cukup umur juga.
"Riley sedang rewel dan tidak mau lepas dari Mama." Terang Papa Kyle.
"Makan malam saja, kan? Besok Via masih masuk sekolah, Pa!" Olivia mengingatkan sang papa.
"Iya, hanya makan malam karena papa sudah terlanjur berjanji untuk datang," janji Papa Kyle.
"Baiklah! Via ganti baju dulu!" Olivia mendorong sang papa agar keluar dari kamar.
"Papa tunggu di bawah!"
"Siap, Pa!" Jawab Olivia seraya menutup pintu kamar, lalu lanjut bersiap-siap.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1