
"Via, apa kau tahu tentang Ethan yang sudah pulang ke rumah?" Tanya Mama Audrey pada Olivia yang baru turun dari tangga.
"Ya, semalam Via melihatnya di reuni sekolah," jawab Olivia dengan wajah yang teelihat sumringah.
Bagaimana tidak?
Baru semalam Yonas melamar Olivia di acara reuni sekolah dan pria itu romantis sekali.
Bahkan mungkin lebih romantis dari Papa Kyle!
"Wajah Kak Via terlihat sumringah! Apa ada kabar yang kami lewatkan?" Tanya Alicia penasaran yang kebetulan memang sedang menginap di rumah. Dikta sedang ke luar kota beberapa hari untuk ikut pemusatan latihan. Suami Alicia itu memang masih aktif sebagai pemain basket profesional.
Ah, Olivia jadi ingat pada Youbel yang dulu sangat jago bermain basket tapi memilih memendam bakatnya karena sakit.
"Tidak ada!" Jawab Olivia sedikit salah tingkah namun tetap dengan senyumnya yang merekah.
"Sepertinya ada sesuatu. Tadi malam pulang diantar Yonas, kan?" Tebak Mama Audrey yang sepertinya lebih peka.
"Cincinnya baru, Ma!" Lapor Riley yang langsung membuat Olivia bergegas membungkam bibir adiknya tersebut.
Dasar Riley!
Tahu saja tentang semua rahasia Olivia!
Punya ilmu telepati apa, ya?
"Mana?" Alicia buru-buru menghampiri Olivia dan memeriksa kesepuluh jari kakaknya tersebut.
"Nggak ada!" Olivia masih berusaha menyembunyikan cincin pemberian Yonas.
"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah riuh?" Tanya Papa Kyle yang baru keluar dari kamar.
"Kak Via sepertinya baru saja dilamar, Pa!" Celetuk Alicia cepat.
"Benarkah, dilamar saat sedang hujan deras di depan kantor?" Tebak Papa Kyle yang langsung berhadiah cubitan dari Mama Audrey.
"Itu kau!"
"Oh, iya! Aku lupa!" Papa Kyle sudah merangkul mama Audrey dengan genit.
"Dapat!"
"Lihat, Ma!" Alicia memaksa untuk menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis Olivia pada Mama Audrey dan Papa Kyle.
"Apa, sih!" Olivia sontak tersipu malu.
"Wah wah! Sepertinya ini pelanggaran, Ma! Yonas bahkan belum minta izin pada kita," ujar Papa Kyle pura-pura marah.
"Masa, sih, Pa? Via pikir Mama dan Papa yang merencanakan semuanya," tanya Olivia bingung.
"Papa dan Mama tidak merencanakan apa-apa, Via!"
"Jika Yonas melamarmu, itu berarti adalah inisiatifnya sendiri. Mama dan Papa hanya sebagai pendukung usaha Yonas untuk mendekatimu selama ini," terang Mama Audrey.
"Kau bahagia?" Tanya Papa Kyle yang sudah ganti menghampiri Olivia dan merangkul pundak putri sulungnya tersebut.
__ADS_1
"Iya, Pa!" Jawab Olivia penuh keyakinan.
Papa Kyle mengangguk.
"Semoga hubunganmu bersama Yonas diberi kelancaran sampai naik pelaminan."
"Aamiin!" Sahut Alicia dan Mama Audrey serempak.
"Aamiin!" Riley menyahut terlambat dan suaranya keras sekali hingga membuat semuanya tergelak.
"Nanti jangan lupa jatah Riley naik kora-kora lagi, Kak!" Ujar Riley seraya menaik turunkan alisnya ke arah Olivia.
"Naik saja sendiri!" Cibir Olivia sedikit kesal.
"Kak Via payah!"
****
Olivia menekan bel apartemen Ruby sekali lagi. Gadis itu hendak mengajak Ruby makan siang sekaligus membahas yang semalam terjadi setelah Ruby pulang lebih awal dari acara reuni. Jangan-jangan Ruby menyusul Ethan ke rumahnya dan mereka sudah melakukan sesuatu lagi seperti tujuh tahun lalu.
"Ruby kemana, sih?" Gumam Olivia yang kembali mengambil ponselnya, lalu menghubungi Ruby.
Tidak diangkat!
Ruby kemana?
Olivia ganti mengirim pesan pada Ruby dan menunggu sejenak balasan dari Ruby.
[Kau dimana, By? Aku ke apartemenmu tapi kosong] -Olivia-
Pesan tak kunjung dijawab oleh Ruby. Olivia menghela nafas, lalu menekan bel sekali lagi. Tetap tak ada yang membuka pintu. Apartemen Ruby sepertinya kosong.
[Aku sedang di rumah Papi. Datanglah kemari jika ada hal penting] -Ruby-
[Hoho. Kau benar-benar tak melewatkan kesempatan, ya!] -Olivia-
[Apa maksudmu?] -Ruby-
[Kau belum tahu? Ethan sudah pulang ke rumah Mom dan Dad-nya] -Olivia-
Olivia tertawa kecil karena berhasil menggoda Ruby. Gadis itu mungkin ssdang berlari ke rumah Ethan sekarang untuk memeluk dan menciumi Ethan.
Nanti saja Olivia menemui Ruby, setelah gadis itu selesai melepaskan rindunya pada Ethan. Olivia lanjut berbalik dan hendak pulang, saat tiba-tiba ada seorang pria yang melintas di dekatnya dan entah sengaja atu tidak, pria itu menyenggol pundak Olivia lumayan keras hingga gadis itu sedikit terhuyung.
"Auw!"
"Hei!" Olivia berseru pada pria bertopi yang mengenakan jaket kulit hitam tersebut. Tak ada permintaan maaf dari pria yang malah menatap Olivia dengan seringai aneh.
Pria itu sudah masuk ke dalam lift dan Olivia benar-benar tidak tahu apa maksud dari tatapan aneh pria tadi. Apa dia orang jahat?
Dering ponsel yang masih berada di genggamannya, membuat Olivia sedikit terlonjak. Olivia segera mengangkat telepon, setelah melihat nama orang yang meneleponnya di layar ponsel.
"Halo, Yonas!"
"Kau dimana? Aku ke kantor, dan kata sekretarismu kau belum datang sejak tadi."
__ADS_1
"Iya, aku mampir ke apartemen Ruby karena ingin membahas sesuatu. Tapi Ruby malah sedang di rumah orang tuanya."
"Jadi aku akan ke kantor sekarang," jelas Olivia.
"Aku jemput."
"Tidak usah! Kau sendiri ke kantorku mau apa? Bukankah ini belum jam makan siang?" Tanya Olivia heran. Gadis itu sudah masuk ke dalam lift dan segera turun ke lantai paling bawah.
"Menemuimu. Memang tidak boleh?"
"Memangnya tidak ada pekerjaan? Nanti aku laporkan ke Tante Karin kalau kau sering bolos!" Olivia sedikit terkekeh dan pura-pura mengancam Yonas.
"Aku direkturnya! Dan aku membawa pekerjaanku. Kebetulan tidak ada jadwal meeting juga."
"Tidak sekalian kau bawa semua yang ada di ruanganmu ke kantorku!" Olivia masih berkelakar dan sedikit menyindir Yonas.
"Iya, rencananya aku akan memindahkan kantorku ke gedung kantormu sebentar lagi. Atau gedungnya saja yang aku dorong ke sebelah kantormu, lalu kita buat jembatan ahar aku tak perlu jauh-jauh saat ingin menemuimu?"
"Ck! Dasar bucin!" Ledek Olivia bersamaan dengan pintu lift yang terbuka karena ada penumpang yang akan masuk.
Olivia sedikit kaget, saat yang masuk ternyata pria bertopi dan berjaket hitam tadi. Olivia langsung menjaga jarak dari pria itu dan mendadak kehilangan fokus pada obrolannya bersama Yonas di telepon.
"Sudah dimana?"
"Masih di lift! Aku ke kantor sebentar lagi," Olivia menjawab pertanyaan Yonas dan sedikit tergagap.
"Baiklah, hati-hati!"
"Iya, aku tutup dulu teleponnya, Sayang! Bye!" Pungkas Olivia mengakhiri telepon. Garis itu cepat-cepat menyimpan ponselnya ke dalam tas dan kepalanya mendongak menatap layar yang menampilkan informasi lantai di atas pintu lift. Kenapa ini rasanya lambat sekali?
Dan di dalam lift Olivia hanya berdua bersama pria bertopi tadi.
Sial!
"Kalung yang bagus!" Celetuk pria itu tiba-tiba yang langsung membuat Olivia refleks meraba kalung pemberian Youbel yang masil melingkar di leher Olivia hingga detik ini.
Apa dia orang jahat yang hendak merampok Olivia?
"Cincinnya juga bagus!" Ujar pria itu lagi yang semakin membuat Olivia merasa cemas.
Sial!
Lift seakan tak bergerak, padahal tinggal satu lantai lagi.
"Cincin pertunangan?" Tanya pria itu lagi bersamaan dengan bunyi lift yang menandakan kalau lift sudah sampai di lantai tujuan Olivia.
Pintu terbuka, dan Olivia langsung melesat keluar dengan cepat tanpa menjawab pertanyaan pria asing misterius tadi.
Entah siapa pria itu, Olivia tidak tahu dan semoga Olivia tidak bertemu dengannya lagi!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.