Cinta Olivia

Cinta Olivia
KEBEBASAN?


__ADS_3

Yonas masih memejamkan matanya seraya menikmati dinginnya air yang mengalir dari shower dan langsung menerpa wajahnya. Sesekali, pria itu akan mengusap kasar seluruh tubuhnya seolah merasa jijik dengan tubuhnya sendiri yang hanya pasrah saat tadi dijadikan sasaran oleh Zack sialan.


Yonas meraih botol sabun dengan kasar, lalu menuang isinya yang bahkan sidah Yonas habiskan untuk menyabuni seluruh tubuhnya yang begitu kotor dan menjijikkan.


Astaga!


"Brengsek! Sialan!" Yonas terus mengumpat sembari meninju tembok di hadapannya demi meluapkan rasa frustasinya.


"Yonas!" Panggil Zack dari luar kamar mandi seraya mengetuk pintu.


"Ya!" Jawab Yonas sebelum membasuh tubuhnya sekali lagi.


"Kau belum selesai membersihkan diri? Aku harus pergi lagi." Ucapan Zack yang hanya terdengar lamat-lamat, membuat Yonas bergegas mematikan kran air. Apa Yonas salah dengar barusan?


"Apa katamu barusan, Zack?" Yonas setengah berteriak masih tanpa membuka pintu kamar mandi.


"Aku harus pergi sekarang! Kau bisa keluar dulu!" Pinta Zack pada Yonas yang bergegas mengambil handuk, lalu membuka pintu kamar mandi. Zack sudah mengenakan jaket kulit warna hitamnya, serta topi dan kacamata hitam. Ada ransel juga yang berada di punggung pria tersebut.


"Aku mendadak harus pergi. Tapi aku sudah menyiapkan makanan untukmu," ujar Zack yang sepertinya sedang terburu-buru.


Aneh!


"Kau akan pulang besok kan?" Tanya Yonas pura-pura cemas, padahal sebenarnya Yonas sedang berharap agar Zack pergi lama atau tak usah kembali kalau perlu.


"Aku belum tahu kapan aku akan kembali."


"Nanti aku hubungi!" Janji Zack yang hanya membuat Yonas mengangguk.


"Baiklah, hati-hati!" Pesan Yonas.


"Cepat sudahi mandimu, sebelum makananmu dingin!" Pungkas Zack seraya berbalik, lalu pergi dari hadapan Yonas. Tak berselang lama, terdengar suara pintu depan yang dibuka, lalu kembali ditutup.


Yeah!


Sebuah kebebasan!


Yonas tak berhenti bersirak salam.hati dan pria itu kembali melanjutkan ritual mandinya. Yonas mungkin akan menemui Olivia malam ini.


****


Olivia menatap satu persatu anggota keluarga besarnya yang malam ini tengah berkumpul di kafe Analogi. Ada Grandma Bi dan Grandpa Nick, lalu ada Uncle Sean dan Aunty Rachel.

__ADS_1


Jasmine yang sibuk dengan ponselnya, serta Allegra yang menjadi tamu kehormatan, karena acara malam ini memanglah untuk menyambut kepulangan putra sulung Uncle Sean dan Aunty Rachel tersebut. Dan tentu saja Allegra tak sendirian malam ini karena pria itu turut membawa pulang pacarnya yang merupakan seorang model, Janeeta.


Pantas saja kuliah tak selesai-selesai. Sibuk memacari model ternyata!


Olivia tertawa kecil, saat kemudian gadis itu menyadari Riley yang tengah menatap aneh ke arahnya.


"Apa?" Tanya Olivia sidah berhenti tertawa sendiri.


"Kakak tidak sinting, kan?" Tanya Riley memastikan seraya telunjuknya membentuk garis miring di dahi.


Dasar adik menyebalkan!


"Tentu saja tidak!" Jawab Olivia bersungut.


"Via, ada apa?" Tanya Mama Audrey menegur sang putri yang tiba-tiba bersungut pada Riley.


"Ini, nyebelin, Ma!" Lapor Olivia seraya menunjuk ke arah Riley.


"Tidak usah digubris!" Nasehat Mama Audyang hanya membuat Olivia bersedekap dan merengut.


"Masih seperti Tom and Jerry!" Celetuk Dikta yang sejak tadi tangannya tak lepas dari pundak Alicia.


"Padahal dulu ngaku-ngaku Momma-nya. Sekarang malah jadi musuh bebuyutan," timpal Alicia seraya tertawa kecil. Semuanya ikut tertawa, saat suara dari panggung yang ada di dalam kafe mengalihkan perhatian semua orang.


"Selamat malam semua!" Sapa penyanyi yang biasa menyanyi di kafe milik Aunty Mia dan Uncle Bian ini.


"Saya akan menyanyikan sebuah lagu, request dari seorang pengunjung," ujar penyanyi tersebut seraya membenarkan leyak gitarnya.


Olivia sendiri sudah menyimak dengan antusias karena suara dari penyanyi tersebut yang memang enak didengar.


"Untuk mereka yang kita sayangi dan sudah pergi mendahului kita!" Kalimat pembuka yang dilontarkan sang penyanyi sesaat membuag senyuman di bibir Olivia menjadi pudar. Pun dengan semua anggota keluarga Arthur dan Kyler yang langsung membisu dan sedikit harap-harap cemas, saat sang penyanyi di depan mulai memetik gitarnya.


^^^Akankah kau melihatku saat ku jauh^^^


^^^Akankah kau merasakan kehilanganku^^^


^^^Jiwaku yang telah mati bukan cintaku^^^


^^^Janjiku slalu abadi hanya milikmu^^^


"Brengsek!" Gumam Alicia seraya menatap ke arah Olivia yang hanya diam di kursinya dan menatap lurus ke depan dengan tatapan mata kosong. Anggota keluarga Arthur juga melakukan sama seperti yang Alicia lakukan. Menatap penuh khawatir ke arah Olivia

__ADS_1


^^^Aku pergi dan takkan kembali^^^


^^^Akhir dari cinta yang abadi^^^


Mama Audrey menatap cemas pada Olivia yang masih bergeming di tempatnya. Wanita paruh baya itu lantas menatap ke arah Papa Kyle yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah memberikan kode agar tak ada yang menegur Olivia yang sepertinya sedang menikmati lagu yang dibawakan penyanyi di depan.


^^^Akankah kau melihatku di akhir nanti^^^


^^^Jiwaku yang telah mati bukan cintaku^^^


^^^Janjiku slalu abadi hanya untukmu^^^


Semua tatapan mata keluarga Arthur dan keluarga Kyler masih tertuju pada Olivia yang kini mengulas senyum tipis, lalu bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah pintu keluar kafe madih dengan tatapan kosong.


Tak ada yang bergerak maupun berusaha menghentikan Olivia, karena semua tahu bagaimana rasanya hati Olivia saat ini. Gadis itu sedang ingin sendiri, jadi semuanya akan membiarkan Olivia sendiri dan memulihkan hatinya yang masih dirundung kesedihan akibat kepergian Youbel.


Olivia terus melangkah keluar dari kafe, lalu duduk di bangku kayu yang ada di depan kafe. Kepala gadis dua puluh lima tahun tersebut mendongak dan menatap hitamnya langit malam yang bertabur bintang. Bibir Olivia bergumam seraya bersenandung,


^^^"Aku pergi dan takkan kembali.^^^


^^^Air mata untuk yang abadi.^^^


^^^Aku pergi ke alam yang suci^^^


^^^Akhir dari abadi cintaku"^^^


Olivia memejamkan kedua matanya sejenak, saat butir bening itu jatuh menuruni kedua pipinya.


Olivia lalu kembali membuka mata, saat sebuah tangan yang sedang menyodorkan sapu tangan ke arahnya mendadak membuat Olivia terkejut setengah mati. Olivia kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap pada pria berkemeja abu-abu yang masih menyodorkan sapu tangan ke arah gadis itu.


"Yonas?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2