
"Riley sudah tidur," lapor Olivia pada Yonas yang masih fokus mengemudi.
"Kau bisa tidur juga kalau masih mengantuk," ujar Yonas memberikan saran. Olivia langsung menggeleng dan gadis itu kembali menatap lurus ke kaca depan mobil. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih sedikit.
"Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah menemani Riley malam ini," ucap Olivia kembali membuka obrolan. Mobil Yonas sudah berbelok ke jalan kompleks dan sebentar lagi akan sampai di kediaman Arthur. Tadi Mama Audrey dan Papa Kyle memang sudah pulang duluan dari kafe. Seperti dugaan Olivia, kalau kedua orang tua Olivia tersebut sepertinya sengaja membiarkan Olivia menghabiskan waktu bersama Yonas.
"Sama-sama." Jawab Yonas seraya mengulas senyum dan menoleh sekilas pada Olivia, lalu kembali fokus ke depan.
"Tapi apa benar tak akan ada yang marah melihat kau pergi bersama Aku dan Riley begini?" Tanya Olivia lagi bersamaan dengan mobil yang sudah masuk ke halaman kediaman Arthur. Yonas tak langsung menjawab dan memilih untuk memarkirkan mobilnya terlebih dahulu di depan teras rumah. Suasana rumah sudah sepi. Mungkin Mama Audrey dan Papa Kyle sudah beristirahat.
"Aku tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun," jawab Yonas bersungguh-sungguh. Olivia langsung mengangguk lega.
"Kau sendiri bagaimana? Apa ada yang marah jika setelah ini aku mengajakmu jalan-jalan atau makan di luar?" Yonas balik bertanya dan Olivia langsung menggeleng.
"Bukankah sudah aku bilang kalau aku juga tak sedang menjalin hubungan dengan pria manapun," jawab Olivia tanpa menatap pada Yonas.
"Berarti tak akan ada yang marah jika nanti ke depannya aku mengajakmu pergi." Yonas bertanya sekali lagi.
"Ada," jawab Olivia yang langsung membuat Yonas kaget.
"Papa." Lanjut Olivia seraya tertawa kecil dan Yonas refleks ikut tertawa.
"Papa akan marah jika kau mengajakku pergi tanpa minta izin," ujar Olivia lagi tetap sambil tertawa.
"Aku akan minta izin dulu pada Uncle Kyle kalau begitu." Sahut Yonas seraya mengangguk-angguk.
"Asal jangan mengajak dia lagi jika nanti kita pergi, karena aku tidak mau naik kora-kora lagi," tutur Olivia seraya menunjuk ke arah Riley dan Yonas kembali mengangguk.
"Aku pikir kau momma-nya Riley."
"Itu dulu saat dia belum menyebalkan," sergah Olivia cepat. Suasana sejenak hening.
"Jadi, soal permintaanku waktu itu?" Tanya Yonas yang langsung membuat Olivia mengernyit bingung.
"Permintaan yang mana? Maaf, aku tidak ingat."
"Baiklah, lupakan saja!" Tukas Yonas seraya mengulas senyum.
"Tentang kau yang ingin selalu menjagaku?" Tebak Olivia yang langsung membuat Yonas menoleh ke arah Olivia dan menatap tak percaya pada Olivia yang ternyata masih ingat.
"Itu permintaan Youbel. Aku hanya ingin melakukannya." Ujar Yonas lirih.
"Lalu permintaan Youbel yang satu lagi? Kau sudah membacanya, kan?" Tanya Olivia selanjutnya yang hanya membuat Yonas mengangguk.
"Apa kau bersedia?" Tanya Yonas dengan wajah yang serius.
"Menikah denganmu?" Olivia bertanya lirih.
"Sepertinya ini terlalu mendadak," pendapat Yonas yang langsung dibenarkan oleh Olivia.
"Tapi misalnya kita berpacaran, kita juga bukan lagi anak remaja," ujar Olivia berpendapat.
"Memangnya hanya anak remaja yang boleh berstatus pacaran?" Pertanyaan Yonas sejenak membuat Olivia diam.
"Rasanya terlalu kekanak-kanakan jika kita memakai status pacaran dalam hubungan kita," Olivia akhirnya buka suara dan menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
"Lalu kau maunya bagaimana?" Tanya Yonas yang sudah meraih tangan Olivia dan menggenggamnya dengan erat. Olivia menatap lekat wajah Yonas yang kini sudah ganti mengecup tangannya.
"Bagaimana kalau kita saling mengenal dulu sambil membiarkan semuanya mengalir secara alami," usul Olivia.
"Hmmmm, begitu, ya?"
"Lalu statusku sekarang apa? Kekasihmu atau calon suamimu, atau hanya temanmu?" Tanya Yonas meminta kepastian.
"Teman spesial."
"Bukan kekasih?" Yonas menuntut.
"Terlalu mendadak sepertinya," Olivia masih merasa keberatan.
"Lalu kapan aku bisa menjadi kekasihmu? Kapan kau selesai menata hati?" Cecar Yonas yang masih menatap intens pada Olivia.
"Kita jalani saja dulu semuanya," Olivia balik menggenggam tangan Yonas.
"Baiklah!" Ucap Yonas akhirnya merasa setuju dengan ide dan permintaan Olivia.
"Teman spesial!" Yonas mengulurkan tangannya dan mengusap wajah Olivia. Ini kali pertama Yonas menyentuh wajah seorang gadis.
Kenapa Yonas sudah seberani ini?
Tapi rasanya benar-benar membuat jantung berdebar-debar. Dan hati Yonas terasa berbunga-bunga hanya karena menatap wajah Olivia.
Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?
Yonas jatuh cinta pada seorang gadis! Itu artinya Yonas adalah pria normal.
Yonas pria normal dan bukan seperti Zack!
"Maaf!" Ucap Yonas cepat, sambil menarik tangannya dari wajah Olivia.
"Aku akan membangunkan Riley," ujar Olivia yang sudah mengguncang tubuh Riley yang duduk di jok belakang.
"Jangan dibangunkan!" Yonas memegang lengan Olivia yang baru saja akan mengguncang tubuh Riley sekali lagi.
"Biar aku yang menggendongnya ke kamar," ujar Yonas lagi bersungguh-sungguh.
"Baiklah, jika kau tak keberatan," Olivia mengendikkan bahu lalu keluar dari mobil. Yonas menyusul turun, lalu segera menggendong Riley yang masih pulas.
"Dia berat," Olivia memberitahu. Karena meskipun Riley masih tujuh tahun, tubuh bocah itu sudah seperti anak berumur sepuluh tahun. Besar dan tinggi!
"Tidak masalah," jawab Yonas santai. Pria itu sudah menggendong Riley krluar dari mobil, lalu mengekori Olivia yang terlebih dahulu masuk ke rumah keluarga Arthur.
"Sudah pulang, Via?" Sapa Mama Audrey dari tuang tengah. Rupanya mama kandung Olivia tersebut belum tidur.
"Iya, Ma!"
"Riley sudah tidur karena mabuk kora-kora sepertinya," sambung Olivia lagi sedikit berkelakar. Mama Audrey dan Yonas sontak tertawa.
"Kamar Riley di mana?" Tanya Yonas pada Olidan Mama Audrey.
"Di lantai atas. Kau yakin tetap mau menggendongnya?" Tanya Olivia ragu.
__ADS_1
"Tidurkan saja di sofa sini, Yonas," ujar Mama Audrey memberikan saran.
"Tidak apa, Aunty, Yonas akan membawanya ke kanar," jawab Yonas bersikeras.
"Dia keras kepala," gumam Olivia pada Mama Audrey, sebelum kemudian gadis itu mengikuti Yonas yang dudah menaiki tangga masih sambil menggendong Riley.
Olivia membuka pintu kamar Riley, yang berada tepat di samping kamarnya. Olivia juga tidak tahu kenapa Riley dulu memilih kamar disamping kamar Olivia.
Yonas langsung masuk dan merebahkan tubuh Riley dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Bocah itu memegang lengan Yonas, saat Yonas hendak pergi.
"Bang Yonas!" Panggil Riley yang matanya tetap terpejam.
"Ya?"
"Besok naik kora-kora lagi, ya!" Gumam Riley dengan mata tetap terpejam. Dasar tukang tidur.
"Siap!" Jawab Yonas seraya mencium kening Riley. Yonas juga membenarkan selimut adik bungsu Olivia tersebut.
"Bang!" Panggil Riley lagi saat Yonas hendak kembali beranjak.
"Iya!"
"Tolong jaga Kak Via dan jangan membuatnya menangis! Kak Via menangis terus setiap malam dan baru tadi Kak Via bisa tertawa saat Abang mengajaknya naik bianglala." Gumam Riley panjang lebar yang entah bocah itu sadar atau tidak kalau Olivia turut mendengarnya.
Membicarakan orang di depan orangnya langsung. Dasar tidak sopan!
"Abang akan menjaga Kak Via. Riley bobok, ya!" Tukas Yonas seraya mencium kening Riley sekali lagi.
Olivia memilih keluar duluan dari kamar Riley lalu menunggu di depan kamar seraya bersedekap. Rak berselang lama, Yonas sudah menyusul keluar dan menutup pintu dengan hati-hati.
"Terima kasih," Ucap Olivia lirih pada Yonas yang hanya mengulas senyum.
"Oh, ya! Aku mau sekalian mengembalikan buku Youbel," Olivia sudah meningalkan Yonas dan berlali menuju ke kamarnya. Yonas mengikuti Olivia dan memilih untuk berdiri saja di ambang pintu kamar Olivia.
"Aku sudah membaca semuanya," ujar Olivia seraya menyodorkan buku Youbel pada Yonas.
"Kau tidak ingin menyimpannya?" Tanya Yonas. Dan Olivia langsung menggeleng.
"Youbel memberikan buku itu padamu dan semua isinya ditujukan untukmu. Terima kasih karena sudah mengijinkan aku meminjamnya," tutur Olivia lirih.
"Tolong kau simpan baik-baik dan jangan dihilangkan," pinta Olivia lagi pada Yonas.
"Baiklah! Akan aku jaga sepenuh hati," janji Yonas pada Olivia.
"Aku pulang sekarang," pamit Yonas selanjutnya, dan Olivia hanya mengangguk. Olivia kembali turun dan mengantar Yonas hingga ke teras depan.
"Aku pulang dulu! Dan jangan mrnangis malam ini atau Riley akan menertawakanmu," pesan Yonas seraya mengusap wajah Olivia sekilas.
Olivia tak menjawab,dan gadis itu hanya mengangguk. Olivia melambaikan tangan ke arah mobil Yonas,dan menunggu hingga mobil warna putih itu meninggalkan kediaman Arthur.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.