
"Joanna siapa dan kenapa kau pergi bersamanya pagi-pagi, Ezra?" Tanya Olivia seraya menatap serius pada Ezra yang wajahnya sedikit ketakutan.
Apa Olivia terlihat galak sekarang?
"Jo..."
"Dia...." Ezra terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya. Sementara Olivia masih menunggu pengakuan jujur dari Ezra.
"Dia...."
"Seorang gadis," Ezra menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kau punya something dengannya?" Kedua telunjuk Olivia membentuk tanda kutip dan gadis itu masih menatap serius pada Ezra.
"Dulu iya!" Ezra akhirnya berkata jujur dan masih sedikit salah tingkah.
"Dulu?" Kedua alis Olivia saling bertaut.
"Itu sudah lama sekali saat kami masih sama-sama kuliah!"
"Kami dulu bersahabat." Ezra kembali salah tingkah.
"Sahabat lalu pacaran?" Tebak Olivia sok tahu.
Sejak kapan juga Olivia tertular sifat menyebalkan Youbel itu?
"Tidak!" Bantah Ezra cepat.
"Kami tidak pernah berpacaran, karena Joanna jadian dengan temanku." Ezra terlihat menerawang.
"Dasar laki-laki baj*ngan!" Umpat seorang gadis seraya menyiramkan segelas jus jeruk ke kepala seorang pria yang sedang duduk bersama gadis lain.
Hal tersebut langsung bisa menarik perhatian Ezra yang baru beberapa hari ini menggantikan Om Ben di Rainer's Resto.
"Jo Sayang! Ini tak seperti yang kau lihat-"
"Plak!" Tamparan keras ganti mendarat di pipi pria yang sudah basah kuyup oleh jus tadi.
"Kau pikir aku gadis bodoh, hah?" Marah gadis itu pada sang pria. Gadis itu bahkan melemparkan cincin yang tadinya melingkar di jari manisnya ke arah sang pria.
"Dasar buaya!" Maki gadis itu lagi sebelum kemudian ia berbalik dan hendak pergi. Namun gadis itu malah hampir menabrak Ezra yang hendak melerai pertengkarannya tadi.
"Joanna?" Tanya Ezra memastikan setelah memperhatikan gadis yang kini sedang diliputi rasa emosi tersebut.
"Kamu Joanna, kan?" Tanya Ezra sekali lagi memastikan. Dan gadis yang Ezra panggil Joanna itu tampak membeku saat melihat Ezra.
"Ezra?" Gumamnya ragu.
"Ya!" Ezra langsung memeluk Joanna tanpa ragu meskipun gadis itu masih terlihat bingung.
"Lama tidak bertemu. Kenapa kau marah-marah?" Tanya Ezra menatap heran pada Joanna yang masih diam.
"Tunanganku-"
"Maksudku pria brengsek-"
"Joanna sayang! Kita tidak putus, kan?" Pria tadi sudah kembali menghampiri Joanna dan memasang wajah melas.
"Kita putus! Pergi kau dan aku akan melaporkanmu pada Dad!" Ancam Joanna galak pada pria itu.
"Tapi, Jo! Aku mencintaimu! Tadi otu hanya rekan kerjaku. Kau sudah salah paham-"
"Plak!" Joanna kembali menampar pria tadi yang sontak membuatnya meringis.
"Pergi kau sebelum aku menendangmu ke ujung benua!" Usir Joanna seraya mendelik galak.
"Jo!" Ezra mencoba meredam amarah Joanna.
"Nggak usah ikut campur!" Joanna memperingatkan Ezra.
"Baiklah!"
"Sebaiknya kau pergi sebelum dia menamparmu lagi!" Saran Ezra pada mantan tunangan Joanna.
"Kau siapa berani mengusirku?" Marah pria itu pada Ezra.
__ADS_1
"Aku-"
"Dia pacarku! Apa kau?" sahut Joanna memotong kalimat Ezra dan tiba-tiba gadis itu malah sudah mencium bibir Ezra di depan mantan tunangannya. Tentu saja hal itu membuat Ezra kaget. Sekaligus menikmati sebenarnya, karena Ezra sudah lama memendam perasaan pada Joanna sejak dulu.
Sayangnya dulu Joanna malah jadian dengan teman Ezra dan hingga mereka selesai kuliah, Ezra tak pernah mengungkapkan perasaannya. Ezra kembali ke rumah kedua orang tuanya dan berusaha melupakan Joanna yang Ezra kira sudah bahagia bersama pria lain.
Ternyata Joanna malah diselingkuhi tunangannya!
"Ternyata kau yang selingkuh!" Gumam mantan tunangan Joanna dengan nada kesal. Pria itu akhirnya pergi meninggalkan Joanna yang masih belum melepaskan pagutannya bersama Ezra.
"Tunanganmu sudah pergi! Hentikan aktingmu!" Gumam Ezra pada Joanna yang masih menciumnya.
"Kau pikir itu akting?" Joanna merengut lalu bersedekap kesal.
"Itu bukan akting?" Ezra bertanya bingung.
"Ck! Kau saja menikmati begitu!" Cibir Joanna yang langsung membuat Ezra salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku pikir kau sudah menikah dan bahagia." Raut wajah Ezra sudah berubah serius sekarang.
"Menikah?" Joanna tertawa sumbang
"Baru bertunangan saja sudah diselingkuhi! Siapa juga yang sudah menikah?" Joanna sedikit ketus.
"Calsen?"
"Mana aku tahu! Kami putus beberapa bulan setelah wisuda dan kau tiba-tiba hilang tanpa kabar!" Jawab Joanna masih ketus.
"Aku pulang ke rumah kedua orang tuaku!" Sergah Ezra cepat.
"Dan tidak menghubungiku lagi? Tidak mengatakan kalau kau sebenarnya menyukaiku? Memutuskan semua komunikasi?" Cecar Joanna berapi-api.
"Aku pikir kau sudah bahagia bersama Calsen!" Ezra mencari alasan dan Joanna kembali merengut.
"Aku ingin mencarimu tapi tidak tahu kau ada dimana. Lalu Dad berulang kali menyuruhku untuk menikah dan menjodohkan aku dengan beberapa anak dari rekannya. Dan pilihan Dad ternyata adalah pria brengsek!" Joanna bercerita kesal.
"Pria tadi? Berapa lama kalian pacaran?" Tanya Ezra kepo
"Jalan dua tahun dan kami sudah bertunangan bahkan mempersiapkan pernikahan! Tapi ternyata selama ini dia punya banyak simpanan di belakangku! Bodoh sekali aku!" Joanna merutuki dirinya sendiri.
"Acara pernikahanku tak mungkin dibatalkan karena Dad sudah mengumumkan pada para rekannya." Joanna bergumam pelan.
"Kapan memang acaranya?" Tanya Ezra kepo.
"Minggu depan!"
"Kau mau menggantikan mantan brengsekku tadi sebagai mempelai pria, Ezra?" Tanya Joanna tiba-tiba yang langsung membuat Ezra kaget bukan kepalang.
"Hah? Aku? Tapi aku akan bertunangan, Jo!" Jawab Ezra jujur.
"Dengan siapa?" Tatapan mata Joanna terlihat tidak senang atau mungkin gadis ini sedang marah.
"Dengan anak dari teman Bunda." Ezra menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Batalkan kalau begitu!" Joanna sudah menerjang Ezra dan wajahnya kian terlihat marah.
"Kau masih mencintaiku, kan?" Tanya Joanna penuh percaya diri. Meskipun tak bisa dipungkiri kalau itu benar adanya. Ezra memang masih menyimpan perasaan cintanya pada Joanna dan perasaan Ezra pada Olivia masih meragukan sejauh ini karena Ezra merasa kalau Olivia saat ini masih mencintai pria lain entah siapa.
"Batalkan atau kau ingin aku yang membatalkannya!"
"Maksudnya?" Tanya Ezra bingung.
Joanna bangkit dari atas Ezra lalu menarik kasar tangan pria itu.
"Jo, kita mau kemana?" Tanya Ezra bingung saat Joanna menariknya ke tempat parkir Rainer's Resto.
"Mobilmu yang mana?" Bukannya menjawab Joanna malah balik bertanya.
"Aku naik motor tadi." Ezra mengendikkan dagunya ke arah parkiran motor dan Joanna langsung menarik lengan Ezra ke arah motor.
"Kunci!" Joanna menengadahkan tangannya dengan galak.
"Kau bisa naik motor?" Tanya Ezra ragu.
"Bukannya kau sudah tahu?" Jawab Joanna yang langsung membuat Ezra ingat kalau Joanna memang bisa naik motor sport. Gadis tomboy!
__ADS_1
"Kita mau kemana?" Tanya Ezra yang sudah naik ke jok belakang. Ini sedikit terbalik sepertinya.
"Ke hotel!"
"Kalian ke hotel dan melakukannya?" Pertanyaan Olivia memotong cerita Ezra tentang pertemuannya dengan Joanna yang benar-benar di luar dugaan.
"Kami tidak melakukannya, Via!" Kilah Ezra cepat.
"Kami hanya mengobrol sampai dinihari, lalu kami ketiduran."
"Lalu aku berniat mengantarkan Joanna pulang sebelum pagi, dan mungkin karena aku masih ngantuk, jadi aku jatuh dari motor bersama Joanna," terang Ezra panjang lebar.
"Ayah dan Bunda belum tahu perihal kecelakaan ini dan aku hanya memberitahumu! Jadi tolong jangan beritahu Ayah dan Bunda!" Mohon Ezra sedikit berbisik pada Olivia.
"Lalu Joanna? Kau sudah menghubungi Dad-nya?" Tanya Olivia selanjutyang langsung membuat Ezra menggeleng.
"Kau harus menghubunginya, Ezra!" Sergah Olivia cepat.
"Dadnya pasti marah jika tahu aku bersama putrinya semalaman di hotel. Padahal kami juga tak melakukan apa-apa dan aku sama sekali tak menyentuh Joanna. Tapi Dad Joanna mana percaya?" Ezra sedikit pesimis.
"Jadilah lelaki bertanggujawab kalau begitu dan katakan yang jujur pada Dad Joanna," Saran Olivia bijak.
"Maksudnya bertanggung jawab?" Ezra mengernyit bingung.
"Joanna kan sudah memintamu menjadi mempelai pria di acara pernikahannya minggu depan."
"Aku lihat kau juga masih menyimpan perasaan pada Joanna. Jadi kenapa kau tidak mengiyakan saja permintaan Joanna?"
"Anggap saja sebagai penebus kesalahanmu juga karena sudah membuat kaki Joanna patah," saran Olivia lagi yang tentu saja langsung membuat Ezra terbengong-bengong.
"Lalu pertunangan kita?"
"Kita batalkan! Kan baru rencana juga!" Jawab Olivia enteng.
"Papa kamu nanti marah," gumam Ezra khawatir.
"Papa dan mama menyerahkan keputusan ini di tanganku sepenuhnya dan mereka tak mau ikut campur," ujar Olivia bersungguh-sungguh.
"Aku malah khawatir Tante Vale yanga kan tersinggung." Sambung Olivia lagi.
"Bunda sebenarnya hanya takut aku akan jadi jomblo selamanya. Makanya dia memaksa aku untuk menjalin hubungan denganmu. Tapi perihal siapa yang akan menjadi pendamping hidupku, Bunda sebenarnya juga tidak memaksa harus kau dan aku bebas memilih," tutur Ezra yang langsung membuat Olivia mengulas senyum.
"Yaudah! Kamu kenalin Joanna pada Bunda kamu, gih! Ceritain semuanya biar Bunda kamu lega dan nggak kepikiran lagi," nasehat Olivia bijak.
"Jadi kita batal bertunangan?" Ezra memastikan sekali lagi.
"Iya!" Jawab Olivia yakin.
"Lagipula, aku juga tidak mau bertunangan dengan pria yang masih belum move on dari masa lalunya," sambung Olivia lagi.
"Kau sendiri sebenarnya juga belum move on, kan?" Tebak Ezra yang langsung membuat Olivia terdiam.
"Apa pria yang di GOR waktu itu?" Tanya Ezra lagi dan Olivia masih diam.
"Yo...." Ezra terlihat mengingat-ingat.
"Yonas!" Sahut Olivia cepat.
"Mau menggelar acara pernikahan bersama?" Tawar Ezra selanjutnya sedikit menggoda Olivia.
"Kau duluan saja!" Jawab Olivia seraya tergelak dan Ezra akhirnya ikut tergelak.
Olivia bahkan tidak tahu kenapa hatinya terasa begitu lega mengetahui Ezra yang akhirnya akan bersama gadis lin yang merupakan cinta lama sekaligus cinta pertama Ezra. Ganjalan yang beberapa hari ini menghimpit dada Olivia karrna rencana perjodohannua dengan Ezra, seolah telah terangkat pergi. Olivia akhirnya bisa menentukan pria yang menjadi pilihan hatinya tanpa menyakiti siapapun.
Flashback off
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1