
"Baru pulang, Kak?" Tanya Alicia pada Olivia yang sedang melepas sepatunya di teras rumah.
"Ya! Tadi latihan bentar di sekolah," jawab Olivia seraya meletakkan sepatu di rak.
"Latihan apa?" Tanya Alicia lagi merasa kepo.
"Basket."
"Kakak sekarang masuk tim basket putri SMA 5?" Tebak Alicia antusias. Olivia sontak tertawa kecil.
"Latihan buat penilaian," tukas Olivia menjelaskan. Alicia langsung membulatkan bibirnya.
"Kirain." Alicia menggaruk kepalanya yang tak gatal, sementara Olivia sudah masuk ke rumah dan langsung memanggil adik bungsu kesayangannya.
"Riley! Mom Via pulang!" Panggil Olivia seraya menuju ke playground tempat Riley biasa bermain. Namun playground kosong dan rapi.
"Riley sedang dibawa keluar sama Mama, Kak," lapor Alicia yang sudah menyusul masuk.
"Diajak kemana?"
"Tadi kata Mama mau ke kantor Papa dulu, trus lanjut ke acara makan malam salah satu klien papa," jelas Alicia.
"Ck! Kenapa nggak ditinggal di rumah saja, sih? Jadi nggak bisa main sama Riley," Decak Olivia sedikit menggerutu. Gadis itu akhirnya menuju ke tangga dan hendak naik ke atas menuju ke kamarnya. Namun panggilan Alicia menghentikan langkah gadis delapan belas tahun tersebut.
"Kak!"
"Ada apa?" Tanya Olivia yang sudah menoleh ke arah Alicia.
"Alice boleh ngomong sebentar?" Tanya Alicia yang langsung menyamakan langkahnya dengan Olivia yang kembali menaiki tangga.
"Ngomong aja!" Jawab Olivia santai.
"Kakak suka sama Dikta, ya?" Tanya Alicia yang langsung membuat Olivia kembali menghentikan langkahnya.
"Maksud kamu?" Olivia menatap bingung ke arah sang adik.
"Iya, Alice tanya aja."
"Karena kan kak Via beliin sepeda buat Dikta waktu itu, trus Kak Via juga tanya-tanya soal Dikta waktu nonton pertandingan kemarin." Alicia mengendikkan kedua bahunya.
"Bukankah aku sudah bilang, kalau aku beliin sepeda buat Dikta itu sebagai bentuk rasa pertanggungjawabanku karena aku sudah menabrak sepeda Dikta sampai hancur."
"Misalnya waktu itu yang aku tabrak bukan Dikta, aku juga bakal beliin sepeda juga."
"Jadi ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan apa aku menyukai Dikta atau tidak!"
"Dikta itu pacar kamu dan aku sama sekali tak ada perasaan apapun padanya," jelas Olivia panjang lebar pada Alicia yang terlihat bernafas lega.
"Trus waktu kak Via ke sekolah Alice itu? Kak Via mencari siapa sebenarnya?" Tanya Alicia lagi penuh selidik.
"Bukan siapa-siapa!" Jawab Olivia sedikit tergagap.
__ADS_1
"Kak Via naksir seseorang? Anak tim basket SMA Permata?" Cecar Alicia lagi masih penasaran.
"Enggak, kok!" Sanggah Olivia cepat.
"Aku lagi nggak naksir siapa-siapa!" Lanjut Olivia lagi berusaha meyakinkan Alicia.
"Mau Alice carikan pacar?" Tawar Alicia selanjutnya yang langsung membuat Olivia menggeleng.
"Aku mau fokus ke ujian akhir saja!" Jawab Olivia lirih dan Alicia langsung mengangguk setuju.
"Aku mandi dulu, bye!" Pamit Olivia selanjutnya yang sudah kembali menaiki tangga dan menuju ke kamarnya di lantai dua.
Olivia butuh berendam air dingin sekarang!
****
Olivia yang masih memakai sepatunya di teras, mengangkat kepala saat melihat Alicia yang tadi sepertinya sudah pamit berangkat duluan, tapi malah kembali lagi ke teras dan menghampirinya.
Apa ada yang ketinggalan?
"Kak, ada yang nyariin Kak Via tadi di depan. Kayaknya mau jemput kakak. Tapi Alice suruh masuk nggak mau," lapor Alicia panjang lebar pada Olivia.
"Siapa?" Tanya Olivia yang sudah menautkan kedua alisnya.
"Seorang cowok," jawab Alicia yang malah membuat Olivia semakin penasaran.
"Rumi? Atau Ethan?" Tanya Olivia menerka-nerka. Yang mungkin mebjemput Olivia ya cuma dua cowok itu. Secara sahabat cowok yang dekat dengan Olivia ya cuma mereka.
"Cowok lain siapa?" Olivia yang sudah selesai memakai sepatu, akhirnya bangkit berdiri karena penasaran dengan cowok lain yang menjemputnya di depan. Alicia mengekori sang kakak dan ikut kembali ke arah gerbang.
"Youbel?" Pekik Olivia seraya mengucek-ngucek matanya karena merasa tak percaya, Youbel si murid utakan itu sudah ada di depan rumahnya pagi-pagi begini.
Apa pemuda ini sedang mabuk?
"Pagi, Olive!" Sapa Youbel seraya cengengesan seperti biasa.
"Olive," Alicia bergumam dan menahan tawa karena cowok yang menjemput Olivia itu berani sekali memanggil Olivia dengan nama panggilan Olive. Oadahal kalau di rumah ada yang memanggil Olive, Olivia akan langsung mencak-mencak tak karuan dan mengomel dari sabang sampai merauke, lalu membawa-bawa nama popeye yang pacarnya bernama Olive juga.
"Berangkat sana!" Usir Olivia pada sang adik yang masih kepo dan menguping.
"Baru jam setengah tujuh kurang. Bentar lagi," jawab Alicia santai setelah melirik jam di arlojinya. Olivia hanya berdecak pada sang adik.
"Ayo berangkat bareng!" Ajak Youbel selanjutnya pada Olivia.
"Naik motormu yang berisik itu? Males!" Olivia bersedekap malas setelah mengendikkan dagunya ke arah motor Youbel yang knalpotnya sedikit di modifikasi hingga suaranya jadi nyaring sekali dan cenderung membuat jantungan para bayi dan lansia yang kebetulan mendengarnya. Benar-benar penyebab polusi suara!
"Trus maunya naik apa? Naik mobil kamu, trus aku setirin bagaimana? Motor aku biar di rumah kamu," Youbel mengajukan ide.
"Emang bisa nyetir?" Tanya Olivia sedikit sinis sekaligus ragu.
"Bisalah! Udah punya SIM malahan," pamer Youbel seraya mengeluarkan dompet dari saku, lalu menunjukkan SIM-nya pada Olivia.
__ADS_1
"Ciyee, Kak Via!" Goda Alicia pada sang kakak yang masih memasang raut wajah ketus pada Youbel.
"Apa, sih? Buruan berangkat sana! Sopir udah nungguin itu!" Olivia mengusir Alicia seraya mendorong dan memaksanua agar masuk ke dalam mobil yang biasa mengantar jemput Alicia karena adik Olivia itu memang belum bisa menyetir dan belum punya SIM juga.
"Tawaran bagus jangan ditolak, Kak!" Celetuk Alicia sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil. Masih bisa Olivia dengar kekehan usil dari sang adik sebelum mobil melaju pergi.
Olivia kembali bersedekap dan menghampiri Youbel yang masih di posisinya semula.
"Kamu pergi juga sana! Aku bisa berangkat sendiri!" Usir Olivia selanjutnya pada Youbel.
"Yang itu tadi adik kamu, ya?" Bukannya pergi, Youbel malah melontarkan sebuah pertanyaan kepo.
"Ya! Kenapa? Naksir? Udah ada yang punya!" Cerocos Olivia panjang lebar.
"Udah tahu! Itu kan pacarnya Dikta. Kapten tim basket SMA Permata," celetuk Youbel yang ternyata malah sudah tahu. Sepertinya selain anaknya urakan dan gemar melanggar peraturan sekolah, Youbel juga adalah tukang gosip yang tahu segalanya.
"Kok kalian nggak satu sekolah, sih? Kan kakak adek," tanya Youbel lagi kepo.
"Suka-sukalah! Toh nggak ada yang mewajibkan kakak adik kudu satu sekolah!" Jawab Olivia bersungut.
"Iya, sih!" Youbel terkekeh dan memakai helmnya.
"Ayo berangkat, Bu Ketua! Nanti terlambat sidak, lho!" Ajak Youbel selanjutnya seraya menggoda Olivia.
"Ck! Aku bukan ibumu, dan aku bisa berangkat sendiri!"
"Aku nggak mau berangkat sekolah naik motormu yang berisik itu! Bikin polusi suara!" Cerocos Olivia seraya mendelik-delik pada Youbel.
"Hmmmm, begitu, ya! Besok aku jemput pakai mobil dua pintu, mau?" Tawar Youbel yang langsung membuat Olivia berdecak.
"Pick up?" Tanya Olivia meremehkan.
"Emmmm, kalau mau aku jemput pakai pick up juga nggak apa-apa. Kan itu pintunya juga dua," Youbel terkekeh dan Olivia hanya berekspresi datar seolah tak terpengaruh dengan kelakaran Youbel.
"Udah nggak usah! Aku bisa berangkat sendiri dan nggak usah sok-sokan jemput aku!"
"Tahu rumah aku juga dari siapa, sih?" Gerutu Olivia sebal seraya berbalik dan kembali masuk ke dalam gerbang. Olivia sudah kesiangan sekarang gara-gara berdebat dengan Youbel menyebalkan.
Olivia mengambik mobilnya di garasi kediaman Arthur dan langsung mengendarainya ke arah gerbang utama. Youbel masih di tempatnya semula dan belum pergi juga.
"Hati-hati menyetir, Olive! Nanti ketemu lagi di sekolah!" Pesan Youbel seraya melambaikan tangan ke arah Olivia yang hanya memutar bola matanya dengan malas. Olivia langsung tancap gas ke arah sekolahnya tanpa menghiraukan Youbel menyebalkan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1