
Olivia mengambil cincin yang dibawa oleh Riley, lalu menyematkan cincin tersebut di jari manis Yonas yang sedari tadi tak berhenti mengulas senyum. Baru beberapa menit yang lalu, Olivia dan Yonas dinyatakan sah sebagai suami istri.
Sekarang gantian Yonas yang mengambil cincin dari tangan Riley. Pria itu juga berjongkok dan mendengarkan sejenak pesan yang dibisikkan oleh Riley kepadanya.
"Riley bilang apa?" Tanya Olivia saat Yonas melingkarkan cincin oernikahan ke jari manis Olivia.
"Rahasia pria," jawab Yonas yang tentu saja malah membuat Olivia penasaran.
"Katakan kepadaku!" Ujar Olivia memaksa.
"Tidak akan! Ini rahasia!" Jawab Yonas tegas. Yonas mendekatkan wajahnya ke wajah Olivia, lalu menangkup lembut wajah wanita yang baru beberapa saat yang lalu resmi berstatus sebagai istrinya tersebut. Yonas lanjut memagut lembut bibir Olivia untuk bebersaat dan tepuk tangan serta sorak kebahagiaan langsung terdengar dari para tamu undangan yang hadir. Semuanya bertepuk tangan dan tertawa bahagia, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang kini dirasakan oleh Yonas dan Olivia.
"I love you!" Bisik Yonas lembut setelah mengakhiri pagutannya bersama Olivia.
"I love you too,"balas Olivia sebelum kemudian wanita itu menghambur ke dalam dekapan Yonas dan tertawa bahagia.
Sangat bahagia!
"Acara selanjutnya adalah lempar bunga!"
"Ayo para tamu lajang! Sulahkan berkumpul di belakang pengantin kita sore ini!" Pembawa acara memberikan aba-aba dan para tamu yang merasa dirinya masih lajang segera berkerumun dan mengambil posisi di belakang Olivia.
"Kau tidak ikut, Pak Detektif?" Tanya Ruby pada Haezel yang sejak tadi wajahnya terlihat kusut dan tak seperti tamu lain yang tertawa bahagia. Haezel seperti tengah memendam beban berat atau mungkin pria ini sedang patah hati?
Gadis yang tempo hari datang bersamanya di pernikahan Ethan dan Ruby tidak terlihat sore ini.
"Maaf, aku tidak tertarik!" Jawab Haezel sedikit ketus.
"Terlihat seperti orang yang sedang patah hati," timpal Ethan turut berpendapat dan Haezel hanya mendengus malas.
"Pergilah, Pasangan bucin! Aku sedang ingin sendiri," Usir Haezel pada Ruby dan Ethan, sebelum kemudian pria itu meneguk kasar minuman di gelasnya.
"Baiklah! Ssbaiknya kitavtam mengganggu pak detektif pemarah ini, Sayang!" Ethan segera merangkul erat pinggang Ruby dan pasangan suami istri itu sudah berlalu meninggalkan Haezel yang masib mendengus kesal.
Haezel menatap pada kerumunan manusia yang sedang bersiap untuk menperebutkan bunga yang sebentar lagi akan dilempar oleh Olivia.
"Dasar norak!" Dengkus Haezel kesal bersamaan dengan bunga berwarna putih yang kini melayang di udara. Entah Olivia memakai keluatan apa saat melempar bunga itu, hingga buket bunga melayang jaub melewati para lajang yang tadi berkerumun. Dan.....
Bugh!
Buket bunga mendarat sempurna di pangkuan Haezel yang jelas-jelas posisinya lumayan jauh dari tempat rebutan bunga.
Apa maksudnya ini?
"Selamat untuk Pak Detektif kita yang akan segera menyusul Olivia dan Yonas!" Pembawa acara sedikit berkelakar dan Haezel langsung mendengus berulang-ulang.
"Maaf! Saya jomblo!" Seru Haezel kesal seolah sedang menjelaskan pada semua orang.
"Haezel jomblo? Bukannya kemarin dia punya pacar bernama Cheryl?" Gumam Olivia yang rupanya turut didengar oleh Yonas.
"Mungkin sudah putus. Sejak tadi Haezel terlihat tak bersemangat dan hanya duduk di pojokan," terang Yonas menerka-nerka tentang masalah yang mungkin ssdang dihadapi oleh Haezel.
"Haezel yang malang," gumam Olivia prihatin.
"Semoga lemparan bunga tadi adalah tanda kalau Haezel akan bertemu jodohnya sebentar lagi," ujar Yonas berpikir positif.
"Aamiin!" Sahut Olivia cepat seraya kembali menatap lekat wajah Yonas.
__ADS_1
"Ada apa?" Yonas membalas tatapan Olivia dan seketika wajah istri Yonas tersebut langsung bersemu merah.
"Tidak ada! Aku hanya sedang bahagia," ucap Olivia yang sudah menyandarkan kepalanya di pundak Yonas, serta mengeratkan gamitannya pada lengan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya tersebut.
****
"Kau grogi?" Tanya Yonas yang sudah berdiri di belakang Olivia, serta meletakkan kedua tangannya di pundak istrinya tersebut. Olivia masih duduk di depan meja rias seraya menatap pantulan dirinya dan Yonas di dalam cermin.
"Sedikit," jawab Olivia sembari menarik nafas panjang, lalu mengusap tangan Yonas yang masih berada di bahunya.
"Kau sendiri bagaimana?" Olivia balik bertanya pada Yonas.
"Antara grogi dan tidak percaya." Jawab Yonas yang tentu saja langsung membuat Olivia mengernyit.
"Aku masih tidak percaya kalau kau akhirnya sudah menjadi istri sahku sekarang." Yonas sudah ganti melingkarkan kedua lengannya ke leher Olivia, lalu pria itu juga menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Olivia. Dulu Yonas sudah sering melakukannya agar ia bisa mengendus aroma khas dari tubuh Olivia.
"Dasar gombal!" Gumam Olivia seraya tertawa kecil. Tangan Yonas sudah bergerak turun ke bawah, lalu menarik tali jubah tidur satin yang kini dikenakan oleh Olivia. Perlahan,Yonas membuka jubah tidur tersebut dan melepaskannya dari tubuh Olivia yang kini hanya tinggal terbalut lingerie berwarna hijau olive.
"Kau sudah mengunci pintu?" Tanya Olivia saat Yonas membimbingnya untuk berdiri dan meninggalkan meja rias.
"Memangnya, siapa yang akan mengganggu pengantin baru?" Yonas balik bertanya dan Olivia malah tertawa kecil.
"Kau benar! Tidak akan ada yang mengganggu pengantin baru malam ini!" Olivia menggigit bibir bawahnya, lalu tangannya terulur untuk mengusap dada bidang Yonas.
"Kau cantik sekali," puji Yonas seraya merapikan rambut Olivia yang malam ini tergerai dengan indah.
"Apa kau sedang merayuku?" Tanya Olivia yang kini sudah ganti merangkulkan kedua lengannya ke leher Yonas.
"Sedikit," Yonas tertawa kecil lalu menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Olivia.
Olivia langsung menyambut dan membalas kecupan Yonas. Pasangan pengantin baru tersebut lanjut berpagutan dan saling bertukar saliva. Olivia menekan kepala Yonas dan terus memperdalam pagutan mereka hingga akhirnya tautan bibir keduanya saling terlepas setelah mereka kehabisan nafas. Wajah Olivia sudah semerah tomat dan wanita itu langsung membenamkan kepala serta wajahnya ke dada Yonas.
"Apa aku terlalu agresif?"
"Tidak apa! Aku menyukainya," jawab Yonas jujur yang langsung membuat Olivia mengangkat kepalanya dari dekapan Yonas. Wanita itu kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Yonas, lalu keduanya berpagutan cukup lama.
"Emmh!" Olivia menggelinjang saat tangan kanan Yonas mer*mas bokong wanita tersebut, sementara tangan kiri suami Olivia tersebut sudah bermain-main di dada Olivia. Pagutan keduanya kembali terlepas.
"Boleh aku..." Yonas menunjuk ke tali lingerie Olivia, lalu menurunkannya perlahan dari pundak istrinya tersebut. Tak ada jawaban dari Olivia hingga Yonas mengecup dan menciumi pundak seputih pualam milik Olivia.
Yonas beralih ke tali satunya dan melakukan hal yang sama. Perlahan, Yonas menarik turun lingerie Olivia dan dua bongkahan ranum milik Olivia langsung terpampang nyata di depan Yonas.
Yonas mendudukkan Olivia dengan lembut ke tepi ranjang, lalu pria itu bersimpuh dan menatap kagum pada kedua gundukan milik Olivia yang kini tak tertutupi sehelai kainpun. Yonas menelan saliva berulang kali.
"Kau akan melihat dan memandanginya sampai kapan?" Tanya Olivia sedikit risih. Istri Yonas itu bahkan sudah menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan wajahnya bersemu merah.
"Kenapa ditutup?" Yonas menyingkirkan kedua lengan Olivia, lalu menangkup kedua gunung kembar Olivia yang ternyata begitu pas di genggaman tangan Yonas.
Olivia menggigit bibir bawahnya, saat Yonas mulai merem*s perlahan dua benda kenyal tersebut. Tubuh Olivia juga sedikit menggeliat sebelum kemudian sebuah lenguhan lolos dari bibir Olivia.
Yonas tersenyum tipis, lalu ganti memainkan ujung dari gundukan kenyal tadi menggunakan lidahnya. Olivia semakin menggeliat dan tangannya mulai menjambak rambut Yonas yang masih asyik menjilat dan menghisap ujung dada Olivia. Pria itu seolah tak mau berhenti dan terus menikmati apa yang kini ia lakukan.
"Yonas! Emmmh!" Olivia mengerang tertahan, saat perasaan aneh menyusup ke setiap aliran darahnya. Olivia bagkan tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
"Yonas!" Lingerie Olivia sudah melorot ke lantai, menyisakan sebuah underwear yang kini membalut bagian bawah tubuh Olivia. Sementara Yonas masih mengenakan kaus serta celana rumahannya.
Dasar.
__ADS_1
"Sedikit gerah!" Keluh Yonas yang akhirnya menanggalkan kausnya, lalu pria itu kembali bermain-main dengan dada Olivia yang sudah terdapat banyak tanda kepemilikan dari Yonas.
"Sudah cukup!" Olivia kembali mende*ah penuh kenikmatan seraya menjambak rambut Yonas. Dua tubuh yang setengah naked tersebut sudah saling menindih di atas tempat tidur.
Perlahan tapi pasti, kecupan Yonas mulai turun ke perut Olivia, lalu ke pusar istrinya tersebut dan terus ke bawah dimana milik Olivia berada dan masih tertutup underwear berwarna hijau olive yang senada dengan lingerie Olivia tadi.
Yonas mengusap milik Olivia, lalu menatap pada wajah Olivia yang sudah dipenuhi oleh kabut gairah.
Yonas tak menunggu lagi dan pria itu langsung menurunkan celananya sendiri. Milik Yonas langsung menyembul keluar dan sudah terlihat tegak menantang. Yonas langsung mengarahkan miliknya ke dalam milik Olivia setelah pria itu menyingkirkan underwear yang tadi masih membalut bagian bawah tubuh Olivia.
Olivia menekuk kedua lututnya seolah sedang membantu memberikan akses pada Yonas. Kedua netra wanita itu tak lepas menatap pada wajah Yonas yang terlihat grogi.
"Aku akan pelan-pelan!" Janji Yonas seraya menatap lekat pada Olivia yang hanya tersenyum dan mengangguk samar.
Yonas menelan salivanya sekali lagi, lalu pria itu mendorong sedikit demi sedikit miliknya agar masuk ke dalam milik Olivia yang terasa sangat mencengkeram.
Virgin!
Olivia meringis saat Yonas memasukinya. Hingga akhirnya wanita itu merasakan ada yang sobek di dalam sana karena ditembus oleh Yonas.
Olivia dan Yonas diam sejenak dan saling berpandangan.
"Sakit?" Tanya Yonas khawatir.
"Sedikit," jawab Olivia lirih masih sambil meringis.
"Maaf!" Yonas menundukkan wajahnya, lalu mengecup kening Olivia cukup lama.
"Kapan kau akan bergerak?" Olivia mengingatkan dan Yonas langsung tertawa kecil.
"Maaf, aku terlalu grogi!"
"Aku akan bergerak sekarang." Yonas mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Mulanya pelan dan hati-hati, lalu saat Olivia tak lagi terlihat kesakitan, Yonas mulai mempercepat tempo gerakannya.
Lenguhan serta erangan tak putus keluar dari bibir Olivia serta Yonas yang begitu menikmati penyatuan mereka.
Peluh mulai memenuhi tubuh Olivia dan Yonas. Pasangan pengantin baru tersebut sesekali akan berpagutan ataupun saling mengusap.
Olivia menekan kuat kepala Yonas dan memperdalam pagutan mereka, saat wanita itu merasakan milik Yonas yang semakin keras dan mengganjal.
"Aku....hampir sampai!" Yonas berucap di sela pagutannya bersama Olivia, sebelum kemudian tubuh pria itu mengejang di atas Olivia dan cairan yang terasa hangat langsung menyembur keluar, memenuhi rahim Olivia.
Yonas baru saja mencapai pelepasannya. Pria itu menatap pada wajah Olivia yang sudah dipenuhi peluh di bawahnya. Yonas merapikan beberapa anak rambut Olivia yang berserakan di wajah, lalu mengecup kening Olivia cukup lama.
"I love you!" Bisik Yonas mesra.
"I love you too!" Balas Olivia seraya mengulas senyum dan menangkup wajah Yonas.
Hati Olivia sedang berbunga-bunga sekarang!
.
.
.
Haezel rencana akan aku kasih judul tersendiri nanti gabung saja sama cerita kakaknya, Aileen Miga Biantara.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.