
"Kita mau kemana?" Tanya Olivia pada Youbel yang sedang memakaikan helm ke kepala Olivia.
"Naik motor keliling kota. Kau belum pernah, kan?" Jawab Youbel yang sudah ganti memakai helmnya sendiri.
"Naik motormu yang berisik itu?"
"Sudah aku benerin knalpotnya dan udah nggak berisik."
"Lihat!" Youbel naik ke atas motornya, llau menyalakan mesin dan memamerkan pada Olivia motornya yang kini sudah lebih tenang dan tak berisik lagi. Olivia manggut-manggut dan mengulas senyum tipis.
"Ayo, Olive!" Ajak Youbel selanjutnya memberikan kode agar Olivia naik ke atas motornya.
"Begini?"
"Pegangan!" Youbel meraih kedua tangan Olivia dan melingkarkannya di pinggang, sebelum kemudian pemuda itu melajukan motornya meninggalkan halaman sekolah yang sudah sepi.
Olivia memejamkan mata dan menikmati angin yang menerpa wajahnya. Sensasi yang ditimbulkan benar-benar membuat Olivia ketagihan.
"Pegangan yang erat!" Serua Youbel seraya mengusap tangan Olivia yang masih melingkar di pinggangnya.
"Kita mau kemana sebenarnya?" Tanya Olivia sedikit berteriak agar Youbel mendengar suaranya.
"Berkeliling!" Youbel masih menatap lurus ke depan dan berusaha fokus pada jalan di depannya.
"Ini kali kedua kau pingsan tanpa sebab, Youbel!" Raut wajah Mom Karin terlihat khawatir.
"Youbel baik-baik saja, Mom! Ini kenapa harus diinfus segala?" Protes Youbel yang hendak melepaskan jarum infus di punggung tangannya, namun Mom Karin mencegah dengan cepat.
"Tunggu dokter datang dan katakan dengan jujur apa yang sebenarnya kau rasakan, Youbel! Jangan menutupu apapun!" Pesan Mom Karin pada Youbel yang hanya berdecak.
Youbel memang sering sakit kepala belakangan ini dan pandangan mata Youbel juga kadang-kadang kabur.
"Youbel pasti hanya kurang darah, Mom! Youbel sering begadang belakangan ini," gumam Youbel berusaha menenangkan sang Mom.
"Katakan nanti pada dokter!"
"Sudah dibilang juga untuk jangan begadang, makan yang teratur!" Mom Karin menggerutu pada sang putra.
Tak berselang lama, dokter masuk ke dalam ruangan dan Youbel segera menjelaskan apa-apa saja yang ia rasakan belakangan ini hingga dirinya bisa pingsan dua kali tanpa sebab.
"Masih bermain basket?" Tanya Dokter yang langsung membuat Youbel mengangguk.
"Ya!"
"Apa belakangan ini ada perbedaan saat kau bermain basket?"
"Ya, tembakan saya lebih banyak yang meleset ketimbang yang masuk, Dok! Padahal saya pikir saya sudah menembaknya masuk ke dalam ring, tapi ternyata meleset," Youbel terkekeh seolah itu adalah hal yang lucu.
"Dan saya sedikit cepat lelah belakangan ini." Imbuh Youbel lagi.
"Coba duduk tegak!" Titah dokter selanjutnya dan Mom Karin segera membantu Youbel untuk duduk tegak.
Dokter melakukan tes sederhana pada Youbel untuk melihat pergerakan pupil mata Youbel.
"Sekali lagi!" Ucap Dokter setelah Youbel tak bisa mengikuti pergerakan jari dokter di percobaan pertama.
__ADS_1
Youbel berusaha untuk fokus dan konsentrasi, namun kemudian krpalanya malah terasa sakit dan Youbel kembali gagal.
"Apa yang terjadi, Dok?" Tanya Mom Karin khawatir.
"Kita akan melakukan cek laboratorium lengkap pada Youbel. Hasilnya mungkin baru akan keluar dua sampai tiga hari ke depan," putus Dokter akhirnya.
"Saya kemungkinan sakit apa, Dok?" Tanya Youbel mendesak.
"Kita tunggu hasilnya saja nanti."
"Youbel!" Tepukan dari Olivia langsung membuyarkan lamunan Youbel,meskipun pemuda itu terlambat menarik rem tangan motornya dan berhenti melewati garis batas berhenti di lampu merah.
"Kau melamun?" Tanya Olivia yang langsung membuat Youbel menggeleng.
"Maaf, aku hanya tidak konsentrasi tadi," sanggah Youbel mencari alasan.
"Kita makan saja dulu! Mungkin kau lapar," usul Olivia yang ganti membuat Youbel mengangguk.
"Kau keberatan jika kita makan jajanan pinggir jalan? Aku ingin mengajakmu ke tempat yang ounya view bagus di kota," tanya Youbel meminta pendapat Olivia.
"Terserah kau saja. Memangnya kau mau mengajakku kemana?" Olivia benar-benar penasaran sekarang.
"Ada deh!" Jawab Youbel yang kembali memacu motornya karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
Youbel terus melajukan motornya membelah jalanan kota yang sudah mulai padat. Mungkin karena sudah masuk jam pulang kantor.
Setelah cukup lama memacu motornya, Youbel membelokkan motornya ke kawasan tempat terbuka di sekitar bandara kota. Kawasan yang saat pagi atau sore pasti ramai karena banyak dipakai untuk berolahraga, jalan santai, maupun jogging oleh warga sekitar. Selain itu, banyak ordagang kaki lima yang menjajakan dagangan mereka di kawasan ini juga.
"Kita ngapain kesini?" Tanya Olivia bingung setelah Youbel menghentikan motornya di area tersebut.
"Aku sudah beberapa kali naik pesawat!" Sergah Olivia sedikit kesal.
"Oh, itu beda cerita! Kau naik pesawat, berarti kau di dalam pesawat. Ini kita tidak naik pesawat dan hanya melihatnya turun dan naik," terang Youbel panjang lebar yang hanya ditanggapi Olivia dengan sebuah dengkusan.
"Lihat! Pesawatnya mau lepas landas!" Youbel mengarahkan telunjuknya ke arah pesawat yang sedang bersiap untuk lepas landas. Olivia yang tadinya metasa malas, akhirnya ikut memperhatikan juga detik-detik pesawat airbus itu lepas landas hingga terbang entah kemana.
"Bagus, kan?" Youbel kembali terkekeh dan Olivia yang sejak tadi masih duduk di atas motor Youbel hanya mengacak rambut pemuda itu.
"Mau jajan bakso bakar?" Tawar Youbel selanjutnya seraya menunjuk ke penjual bakso bakar yang mangkal tak jauh dari mereka berdua.
"Sepertinya enak," gumam Olivia merasa tertarik.
"Aku pesankan!" Tukas Youbel penuh semangat yang langsung menghampiri penjual bakso bakar. Youbel juga membeli jajanan lain agar Olivia busa mencicipi dan dua remaja itu saling bersenda gurau du area bandara kota hingga matahari turun ke dalam peraduannya.
"Udah! Aku udah kenyang!" Tolak Olivia saat Youbel hendak menyuapkan siomay ke dalam mulutnya. Sydah banyak jajanan yang Olivia makan hungga perut Olivia rerasa penuh sekarang.
"Ini yang terakhir sebelum kita pulang!"
"Buka mulut dulu!" Paksa Youbel yang langsung membuat Olivia merengut sekaligus membuka mulut. Youbel terus menyuapi Olivia hingga siomay tadi habis tak bersisa dan langit juga hampir gelap.
"Ayo pulang!" Ajak Olivia selanjutnya oada Youbel yang langsung mengangguk. Tak berselang lama, motor Youbel sudah melaju meninggalkan kawasan bandara kota.
****
Olivia menghubungi nomor Youbel sekali lagi dan masih tetap tak diangkat. Padahal telepon masuk dan Olivia juga sangat yakin kalau ponsel Youbel sedang berdering saat ini. Lalu kemana perginya pemuda menyebalkan itu?
__ADS_1
Jelas-jelas kemarin Youbel sudah janji untuk datang ke acara perpisahan malam ini. Youbel juga katanya mau mengumumkan pada semua siswa kelas dua belas tentang hubungannya bersama Olivia yang sudah berstatus sebagai pacar. Namun hingga detik ini, Youbel malah tak terlihat batang hidungnya.
Dasar menyebalkan!
"Lagi nungguin siapa, Via?" Tanya Ruby yang sudah menghampiri Olivia yang seja tadi masih berdiri di dekat pintu masuk kafe.
"Nggak ada!" Jawab Olivia cepat dan sedikit kesal. Olivia sedang kesal pada Youbel sekarang karena pemuda itu sudah ingkar janji.
"Yaudah, ayo gabung sama teman-teman! Ngapain juga dari tadi disini sendiri." Ajak Ruby seraya menarik lengan Olivia dan membawa gadis itu bergabung bersama para gadis. Namun Olivia tetap berulang kali melihat ke pintu utama kafe dan masih berharap Youbel akan secepatnya datang.
"Aku akan mengambil minum dulu!" Pamit Olivia pada Ruby akhirnya seraya beranjak.
"Kenapa harus repot-repot? Ini ada yang bawain minum!" Celetuk Ruby yang sama sekali tak digubris oleh Olivia. Ruby sudah menerima minuman yang diberikan oleh seorang waitres kafe dan langsung meneguknya hingga tandas.
Sementara Olivia kembali celingukan dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kafe demi mencari Youbel yang mungkin saja sudah datang tapi Olivia tak melihatnya tadi. Tapi tetap saja hasilnya nihil dan Olivia benar-benar kesal sekarang.
"Hai, Via!" Sapa Ethan yang terlihat sedang duduk sendiri. Tumben tidak bersama teman satu jiwanya.
Tapi kalau dipikir-pikir, bukan hanya Youbel yang belum datang. Tapi Rumi serta Arkan juga tak terlihat batang hidungnya. Apa mungkin anak-anak basket sedang membuat acara sendiri?
"Rumi belum datang?" Tanya Olivia akhirnya pada Ethan yang sejak tadi tak lepas memlerhatikan Ruby yang masih sibuk bercengketama bersama teman-temannya.
"Sedang mencari kekasihnya yang hilang aku rasa," jawab Ethan asal.
"Rumi punya kekasih?" Kedua bola mata Olivia langsung membulat dengan lucu. Olivia pikir pacar Rumi itu ya Ethan.
Hahahaha! Konyol!
"Kau pikir pria itu gay?" Ethan menatap tak senang ke arah Olivia yang langsung tergelak. Bisa-bisanya Olivia masih tergelak sekarang disaat hatinya sedang kesal pada Youbel yang tak kunjung nampak batang hidungnya.
"Hubungan kalian berdua mencurigakan!" Olivia menuding pada Ethan masih sambil tergelak.
"Aku pria normal, Via!" Seru Ethan kesal.
"Baiklah, aku percaya! Kau hanya mencintai Ruby," Olivia mengangguk-angguk dan sok percaya. Terang saja hal itu langsung membuat Ethan berdecak malas.
"Kau sendiri bagaimana? Kenapa tidak datang bersama Youbel?" Pertanyaan yangbdilontarkan Ethan langsung membuat wajah Olivia berubah merengut.
"Tidak usah membahasnya! Kami tidak ada hubungan apa-apa!" Jawab Olivia bersungut. Olivia benar-benar srdang kesal pada Youbel sekarang karena pemuda itu tak datang dan tak mengangkat telepon dari Olivia. Dasar menyebalkan!
"Poor Olivia!" Ejek Ethan yang masih sempat didengar Olivia, namun gadis itu memilih untuk tak menggubrisnya. Olivia berlalu pergi dari hadapan Ethan, lalu pergi ke sudut kafe demi meluapkan kekesalannya.
Dasar Youbel menyebalkan!
.
.
.
Sambungan dari "Penantian Ruby" bab 2
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1