
Yonas mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ballroom hotel, saat ia dan Zack baru saja tiba. Tatapan mata Yonas langsung bisa menemukan Olivia yang malam ini terlihat anggun mengenakan gaun pesta warna hijau emerald. Hati Yonas mendadak berdesir dan tanpa sadar, bibir pria itu sudah menyunggingkan sebuah senyum tipis.
Yonas melangkah lebih ke dalam lagi dengan Zack yang terus mengekorinya tentu saja.
"Kau baru datang?" Sapa Mom Karin yang sudah menghampiri Yonas. Tatapan mata wanita paruh baya itu langsung tertumbuk pada Zack dan raut wajahnya terlihat tidak senang.
"Malam, Aunty!" Sapa Zack sopan pada Mom Karin.
"Malam, Zack!" jawab Mom Karin setengah hati, bersamaan dengan ponsel Zack yang berbunyi.
"Aku angkat telepon sebentar!" Izin Zack pada Yonas sebelum kemudian pria itu berlalu dari hadapan Yonas dan Mom Karin.
"Yonas, Mom sudah memperingatkanmu!" Nada bicara Mom Karin sedikit geram.
"Ini tidak seperti yang Mom pikirkan! Zack dan Yonas hanya berteman baik!" Sergah Yonas berusaha menenangkan Mom Karin.
"Yonas pria normal, Mom!" Sambung Yonas lagi meyakinkan Mom Karin.
"Temui Pak Kyle dan Bu Audrey kalau begitu! Ada hal penting yang ingin mereka bicarakan kepadamu," ujar Mom Karin akhirnya setelah menghela nafas beberapa kali.
"Hal penting apa?" Tanya Yonas bingung.
"Temui saja mereka!" Mom Karin menepuk punggung Yonas, lalu wanita itu berbalik dan pergi, bersamaan dengan Zack yang sudah selesai menerima telepon dan kini kembali menghampiri Yonas.
"Aku harus pergi sekarang karena ada hal penting," lapor Zack yang malah terasa seperti angin segar bagi Yonas.
Kebebasan!
Namun Yonas sebisa mungkin tetap berekspresi datar agar Zack tidak curiga.
"Kita jadi check-in malam ini?" Yonas berbasa-basi agar Zack sedikit lengah dan terlena.
"Tidak! Nanti malam mungkin aku juga tidak akan pulang ke apartemen," jawab Zack cepat.
"Sayang sekali!" Yonas pura-pura kecewa padahal dalam hati pria itu sedang bersorak senang.
"Tapi kau bisa meneleponku kapan saja jika kau rindu!" Pesan Zack seraya melempar tatapan menggoda ke arah Yonas.
Yeah! Itu menjijikkan!
__ADS_1
"Baiklah! Hati-hati dan semoga urusanmu cepat selesai," ujar Yonas pada Zack yang sudah melangkah pergi. Yonas terus memperhatikan langkah Zack hingga pria itu keluar dari ballroom hotel dan tidak terlihat lagi.
Yonas tersenyum tipis dan akhirnya bisa bernafas lega. Pria itu segera berbalik dan hendak menemui Papa Kyle serta Mama Audrey, saat tiba-tiba Yonas malah menabrak seseorang yang sedang membawa minuman di belakangnya.
"Oh, astaga!" Suara itu terdengar tak asing dan Yonas langsung tahu pemilik suara indah tersebut.
"Maaf, aku tak sengaja!" Ucap Olivia seraya mengeluarkan tisu basah dari tas yang tersampir di pundaknya, lalu membsrsihkan kemeja serta jas Yonas yang kotor terkena minuman Olivia.
"Aku bisa sendiri," ujat Yinas seraya mengambil alih tisu dari tangan Olivia, hingga pria itu tak sengaja menggenggam tangan mulus Olivia. Mereka berdua saling berjenggit.
"Maaf!" Gumam Yonas sedikit salah tingkah. Pun dengan Olivia yang ikut salah tingkah.
"Nodanya meninggalkan bekas dan mungkin harus dicuci agar hilang. Aku benar-benar minta maaf." Olivia akhirnya menemukan bahan untuk memecah kecanggungan.
"Tidak apa-apa!" Jawab Yonas santai.
"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah datang ke acara malam ini," ucap Yonas berbasa-basi pada Olivia yang langsung mengulas senyum.
"Terima kasih juga untuk undangan khususnya."
"Padahal seharusnya kau cukup mengundang Mama dan Papa saja dan tak perlu mengundangku," lanjut Olivia dengan nada sedikit sinis.
"Kau nona direktur juga di Arthur Company, jadi aku pikir, aku wajib mengundangmu," pendapat Yonas seraya mengendikkan kedua bahunya. Pria itu masih menatap intens ke arah Olivia yang malah membuang tatapannya ke segala arah. Ke arah mana saja asal bukan ke arah Yonas.
"Siapa yang memata-mataimu?" Yonas pura-pura tak tahu.
"Kau! Memangnya siapa lagi? Jelas-jelas kau kemarin membuntutiku sampai rumah!" Olivia akhirnya menatap Yonas dengan penuh emosi.
"Aku hanya memastikan kau tidak diganggu lagi oleh para berandalan itu dan sampai di rumah dengan selamat," ujar Yonas mengungkapkan alasannya.
"Apa Youbel yang memintamu melakukan semua ini?" Tebak Olivia dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Yonas segera mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, lalu mengusap dengan lembut butir bening yang ada di sudut mata Olivia.
"Kau akan merusak riasanmu," gumam Yonas yang langsung membuat Olivia mengambil alih sapu tangan dari tangan Yonas, lalu mengusap airmatanya sendiri.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Olivia menatap tajam pada Yonas.
"Youbel begitu mencintaimu, menyayangimu, memujamu." Yonas memasukkan tangannya ke saku celana.
"Dia ingin aku menjagamu setelah dia tiada, dan aku hanya melakukan apa yang menjadi pesan terakhirnya," Yonas mengendikkan kedua bahunya.
__ADS_1
"Menjaga?" Olivia mengerutkan kedua alisnya, lalu menatap Yonas dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pembawaan Yonas memang berbeda dari Youbel yang urakan. Yonas cenderung lebih kalem dan sepertinya pria ini juga sedikit pendiam. Atau mungkin dia memang seorang yang tertutup?
"Aku tahu kau masih sangat mencintai Youbel, Via! Tapi tolong biarkan aku melakukan apa yang perlu aku lakukan, karena jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu, aku akan dihantui rasa bersalah pada Youbel," tutur Tinas memohon pada Olivia.
"Tapi caramu menjagaku dan memata-mataiku, membuntutiku."
"Itu semua membuatku tidak nyaman!" Sergah Olivia mengungkapkan ketidaknyamanannya.
"Baiklah, aku minta maaf soal itu!"
"Bisakah kita berteman saja mulai sekarang, jadi kau tak akan merasa aku buntuti atau aku mata-matai," Yonas tertawa kecil seraya mengulurkan tangannya pada Olivia.
"Kita sudah berteman." Olivia mengingatkan.
"Kita bersahabat," Yonas mengoreksi.
"Apa bedanya, memangnya?" Tanya Olivia yang langsung membuat Yonas mengernyit bingung.
"Aku juga tidak tahu." Yonas mengendikkan kedua bahunya.
"Lalu kau akan menjagaku sampai kapan?" Tanya Olivia lagi.
"Mungkin selamanya," jawab Yonas lirih yang langsung membuat Olivia tercengang.
"Tidak bisa begitu! Kau pasti punya kehidupan dan kau tidak bisa menjagaku selamanya! Kau pasti akan menikah suatu hari nanti dan-"
"Bagaimana kalau aku menikahimu saja agar aku bisa menjagamu selamanya?" Cetus Yonas tiba-tiba memotong kalimat Olivia.
Olivia benar-benar tak menduga jika Yonas se-blak-blakan itu!
"Maaf! Apa kau sedang bercanda? Jika iya, candaanmu benar-benar tidak lucu," Olivia tertawa kaku dan mulai salah tingkah. Namun gelengan kepala Yonas justru membuat kedua mata Olivia membelalak dengan lebar.
"Aku serius dan tidak sedang bercanda!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.