Cinta Olivia

Cinta Olivia
PENGECUT


__ADS_3

Braaak!


Yonas membanting pintu toilet di dalam ruangannya hingga membuat Olivia yang masih berada di tempatnya semula menjadi kaget. Zack sudah pergi sejak tadi setelah pria itu selesai dengan hal menjijikkan yang ia lakukan bersama Yonas. Dan sepertinya Zack juga tetap tak menyadari kehadiran Olivia di dalam ruangan Yonas, hingga pria itu pergi.


"Aaarrrrgh!" Yonas berteriak frustasi di dalam toilet seraya tak berhenti membenturkan kepalanya pada kaca di atas wastafel toilet. Begitu keras hingga Olivia bisa merasakan debumannya dari luar toilet.


Olivia sudah beranjak dari tempatnya dan berdiri ragu di depan toilet. Masih bisa Olivia dengar suara air yang mengalir serta Yonas yang tak henti membenturkan kepalanya.


Sepertinya pria itu benar-benar frustasi sekarang karena ancaman serta intimidasi dari Zack.


Zack monster yang diam-diam mengawasi serta mengulik semua hal tentang keluarga Olivia, lalu menjadikannya sebagai ancaman untuk membuat Yonas tak berkutik.


Olivia akhirnya membuka pintu toilet karena tak tahan lagi dengan suara benturan kepala Yonas dan dinding toilet.


"Yonas, hentikan!" Olivia merengkuh kedua pundak Yonas dan pria itu langsunh terlonjak kaget dengan kehadiran Olivia yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruangannya.


"Via?" Yonas menatap tak percaya pada Olivia yang kini sudah berdiri di hadapannya. Tapi sejak kapan Olivia ada di ruangan Yonas?


"Hentikan!" Pinta Olivia sekali lagi seraya menatap pada kening Yonas yang sudah mulai berdarah. Olivia sudah melepaskan rengkuhannya pada kedua pundak Yonas, lalu sedikit melangkah mundur dan menjaga jarak dari Yonas. Kelebat bayangan tentang apa yang dilakukan Yonas dan Zack kembali menarik-nari di benak Olivia.


Yonas yang seolah sadar diri, ikut melangkah mundur dan menjaga jarak dari Olivia. Yonas sangat bisa menebak apa yang kini sedang dirasakan oleh Olivia. Mungkin gadis ini juga sudah mendengar atau bahkan melihat apa yang tadi terjadi di ruangannya.


"Kenapa kau hanya diam dan tidak melawan?" Tanya Olivia lirih pada Yonas yang tatapan matanya kosong.


"Aku tidak mau Zack melakukan hal buruk padamu atau pada keluargamu."


"Itu hanya ancaman konyol-"


"Itu bukan ancaman konyol!" Sergah Yonas memotong kalimat Olivia. Pria itu juga mengikuti Olivia yang sudah keluar dari toilet dan ganti duduk di sofa yang berada di ruang kerja Yonas tersebut.


"Zack yang sudah membuat Mom celaka kemarin. Dan bukan tak mungkin Zack akan melakukan hal yang sama padamu atau pada Riley atau pada Uncle dan Aunty!" Yonas berucap dengan raut wajah frustasi.


"Jadi yang kemarin menabrak Tante Karin?"


"Itu rencana Zack!" Jawab Yonas cepat.


"Lalu kenapa kau tidak lapor pada polisi? Kau bisa melaporkan pengancaman yang dilakukan oleh Zack pada polisi!" Sergah Olivia lagi yang langsung membuat Yonas tersenyum kecut.


"Tak akan ada gunanya! Zack punya koneksi orang dalam kepolisian dan kasus ini kemungkinan hanya akan dilupakan lalu Zack akan melenggang bebas," tutur Yonas pesimis.


Pria itu menyambar tisu di atas meja untuk menyeka darah yang berasal dari luka di keningnya.


"Lukanya akan infeksi jika kau membersihkannya seperti itu," komentar Olivia seraya mengendikkan dagu ke arah luka Yonas. Tak ada jawaban dari pria itu dan Yonas tetap menyeka darah di lukanya dengan tisu.


Ck!


Olivia berdecak dan akhirnya bangkit berdiri, lalu mengambil kotak P3K yang Olive sudah sangat hafal letaknya. Olivia yang dulu menata ulang ruang kerja Yonas ini!


"Maaf karena sudah jadi pria pengecut dan menjijikkan," ucap Yonas lirih saat Olivia mulai mengobati lukanya. Olivia melakukannya dalam diam dan tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir gadis tersebut.


"Kau pasti kecewa padaku, Via?" Nada bicara Yonas terdengar sendu. Dan meskipun Olivia tak menjawab pertanyaan Yonas, pria itu tentu sudah tahu jawabannya dari raut wajah Olivia.


"Sudah selesai!" Lapor Olivia seraya membereskan kotak P3K.


"Via aku benar-benar minta maaf," ucap Yonas kembali dengan nada sendu penuh penyesalan serta keputusasaan.

__ADS_1


"Sejak kapan kau dijadikan budak **** oleh Zack? Dan kenapa kau hanya diam? Kenapa kau hanya menurut tanpa melawan?" Cecar Olivia serata bersedekap dan mendadak merasa geregetan pada Yonas yang lemah dan terkesan pasrah saja.


Meskipun Olivia tahu kalau Yonas tadi menurut karena Zack mengancam akan mencelakai Olivia dan keluarganya. Yonas hanya ingin melindungi Olivia! Tapi bukan berarti Yonas harus terima begitu saja dilecehkan oleh Zack seperti itu!


Seharusnya Yonas melawan dan tidak langsung pasrah!


"Zack terus mengancam dan mengintimidasi!" Sergah Yonas memberikan alasan.


"Dulu aku melakukannya karena Zack mengancam kalau dia akan mengambil Youbel lalu melakukannya pada Youbel jika aku tak menurut."


"Lalu setelah Youbel tiada-" suara Yonas tercekat di tenggorokan.


"Zack ganti mengancam akan mencelakakan aku karena dia tahu kalau kau tergila-gila kepadaku?" Tebak Olivia melanjutkan kalimat Yonas yang tak mampu pria itu lanjutkan sendiri.


"Maaf karena sudah menyeretmu ke permasalahan pelik ini," ucap Yonas lirih penuh rasa penyesalan.


"Kau terlalu lemah sebagai seorang pria, Yonas!" Ucap Olivia masih sambil bersedekap pada Yonas.


"Ya, aku memang pengecut dan aku tahu kalau aku tak pernah pantas untukmu," ucapan Yonas semakin terdengar putus asa.


"Ini bukan tentang pantas atau tidak pantas, Yonas! Tapi ini tentang kau yang bahkan melindungi dirimu sendiri saja tidak bisa!" Olivia mengungkapkan semua rasa kecewanya pada Yonas. Olivia tak percaya jika Youbel menyerahkan Olivia pada pria pengecut seperti Yonas. Apa memang yang dipikirkan Youbel?


"Aku hanya tidak mau Zack menyakiti kau atau Riley atau Mom Karin dan semua keluargamu yang lain!" Sergah Yonas mencari alasan pembenaran.


"Aku sudah berjanji dan bersumpah pada Youbel kalau aku akan selalu menjagamu dan menjaga Mom!"


"Aku juga serba salah disini!" Yonas menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.


Olivia menghela nafas dan sedikit meredam amarah di dalam dirinya sendiri, sebelum kemudian wanita itu bertanya serius pada Yonas.


"Ya! Kau mau tanya apa?" Yonas membalas tatapan Olivia dan seolah pria itu sudah bisa mebebak apa yang akan ditanyakan oleh Olivia.


"Apa kau seorang gay penyuka sesama jenis seperti Zack?"


"Tidak!" Jawab Yonas tegas.


"Aku melakukannya karena terpaksa dan aku merasa jijik dengan semua itu-"


"Tapi kau tetap melakukannya!" Airmata Olivia tiba-tiba sudah berlinang.


"Aku terpaksa, Via! Aku bersumpah!" Ujar Yonas nyaris tanpa suara.


"Aku pria normal, aku bersumpah!" Yonas mengangkat satu tangannya seolah sedang bersumpah.


"Dan aku hanya menyukai lawan jenis! Seorang gadis!"


"Aku hanya mencintaimu, Olivia! Aku hanya mencintaimu!" Ucap Yonas bersungguh-sungguh dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku hanya mencintaimu," ulang Yonas sekali lagi yang malah justru membuat airmata Olivia menganak sungai. Yonas ingin memeluk Olivia dan menghapus airmata gadis itu. Tapi Yonas tak melakukannya karena Yonas merasa kotor. Yonas merasa tak lagi pantas untuk Olivia setelah semua yang terjadi. Yonas hanya mematung di tempatnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Pria itu hanya menatap pada Olivia yang sudah mulai menghapus airmatanya sendiri. Gadis itu menarik mafas panjang beberapa kali dan berusaha untuk mengendalikan emosinya.


"Kita harus melakukan sesuatu untuk melepaskanmu dari jeratan Zack!" Cetus Olivia yang masih sesenggukan.


"Melakukan apa?" Yonas masih saja terlihat putus asa seolah tak punya harapan.


"Aku tahu satu orang yang mungkin bisa membantu. Tapi kau juga harus jujur dan mengatakan semuanya secara terbuka tanpa menutupi apapun!" Olivia menatap tegas pada Yonas.

__ADS_1


"Aku akan jujur dan membuka semua kejahatan Zack, jika memang itu bisa membuatku lepas dari jerat pria maho sialan itu!" Jawab Yonas bersungguh-sungguh.


Olivia merogoh ponselnya di dalam tas, dan segera menghubungi seseorang. Telepon langsung di angkat tepat di dering pertama.


"Halo, Via! Lama tak menelepon."


"Ya, aku sibuk!" Jawab Olivia sedikit berbasa-basi pada seseorang di seberang telepon yang entah itu siapa.


"Sibuk mempersiapkan pernikahan, hah?"


Olivia memilih untuk tak menanggapi godaan dari sepupunya tersebut.


"Haezel, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dan mungkin aku juga butuh sedikit bantuan darimu," ucap Olivia akhirnya langsung pada inti.


"Hal penting apa?"


"Tidak bisa bicara lewat telepon. Bisa kita bertemu saja? Aku akan ke rumahmu. Kau masih tinggal di kafe Analogy, kan?"


"Aku sedang di rumah Opa Satria. Kau ingat rumahnya?"


"Iya, aku ingat! Aku ke sana sekarang dan jangan kemana-mana!"


"Baiklah aku tunggu! Bye!"


Panggilan terputus. Olivia menatap sejenak pada Yonas yang terlihat berantakan.


"Bisa kau menyisir rambutmu sedikit dan mengganti bajumu sebelum kita pergi?" Pinta Olivia seraya berjalan ke arah lemari tempat menyimpan baju cadangan Yonas di kantor. Olivia mengambil satu kemeja dan celana lalu memberikannya pada Yonas.


"Terima kasih. Aku siap-siap sebentar!" Pamit Yonas sebelum kemudian pria itu menghilang masuk ke dalam toilet. Olivia kembali menghela nafas lalu memijit kepalanya yang kembali terasa pening.


Semoga lekas ada jalan keluar dari semua masalah ini!


.


.


.


Haezel Miga Biantara adalah anak bungsu dari Uncle Galen dan Aunty Emily. Cerita lengkapnya ada di "Jodoh Emily"


Kok bisa sepupuan sama Olivia?


Bisa, dong! Kan Aunty Emily sama Papa Kyle saudara satu ayah. Ayahnya mereka yaitu Opa Satria.


Bingung?


Cek bagan ini biar lebih jelas



Kalau masih bingung, udah gosah dipikirin silsilah mereka. Lanjut baca aja!


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2