Cinta Olivia

Cinta Olivia
CEMAS


__ADS_3

Olivia masih berdiri di dekat gerbang sekolah untuk melakukan inspeksi pada para siswa yang baru datang. Sesekali gadis itu melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul tujuh kurang tiga menit. Belum ada tanda-tanda kedatangan Youbel di sekolah, padahal perjalanan dari rumah Olivia ke sekolah hanya butuh waktu sepuluh sampai lima belas menit.


Mampir kemana si Youbel menyebalkan itu?


Nguuuuuiiiiing!


Suara ambulans yang lewat di depan Olivia mendadak membuat Olivia menjadi cemas. Ditambah bisik-bisik dari beberapa siswa yang baru datang soal kecelakaan motor yang tak sengaja mereka lihat, semakin membuat Olivia cemas.


Yang kecelakaan bukan motor Youbel, kan?


Tapi pemuda itu selalu cengengesan, bisa saja dia juga petakilan saat naik motor lalu terserempet mobil.


Ya ampun!


Ya ampun!


Kenapa hati Olivia mendadak merasa cemas begini?


Triiing!


Suara bel masuk sekolah membuat Olivia tersentak kaget.


Olivia melihat sekali lagi ke arah gerbang sembari berharap Youbel akan segera datang. Namun tetap saja tak ada tanda-tanda dari pemuda menyebalkan tersebut. Olivia hanya bisa menghela nafas kecewa dan akhirnya berlalu menuju ke kelasnya.


Semoga tidak terjadi sesuatu pada Youbel.


****


Olivia mengedarkan pandangannya ke lapangan basket, di mana beberapa siswa sedang bermain basket. Bel tanda istirahat memang baru berbunyi beberapa saat yang lalu dan pikiran Olivia masih saja cemas memikirkan Youbel yang hingga bel masuk sekolah tadi belum juga terlihat batang hidungnya.


Dan sekarang pemuda itu tidak berada di lapangan basket, padahal Rumi, Arkan, dan beberapa anggota tim basket putra ada di sana.

__ADS_1


"Dor!"


Sebuah tepukan di bahu Olivia langsung membuat gadis itu terlonjak kaget.


"Hahahaha! Sedang nyariin sesuatu, Pacarnya Popeye?" Ledek Youbel pada Olivia yang langsung memasang raut wajah merengut.


"Via! Sudah kubilang kalau namaku itu Via!" Sungut Olivia pada Youbel yang hanya cengengesan.


"Olive Olive Olive! Nama kamu itu Olive!" Youbel mengoreksi.


"Ck!" Olivia akhirnya hanya berdecak dan bersedekap kesal. Meskipun sebenarnya dalam hati Olivia sedikit bernafas lega karena ternyaa Youbel baik-baik saja dan tidak kenapa-kenapa.


Tapi tadi Youbel kemana dulu setelah dari rumah Olivia, ya?


Nongkrong?


Mencurigakan sekali pemuda ini.


"Dor lagi!" Youbel kembali menyebtak lamunan Olivia yang masih bertanya-tanya Youbel kemana setelah dari rumahnya tadi.


Kenapa juga Olivia harus se-kepo ini?


"Guru Olahraga udah ngadih tahu, kan? Kalau penilaian ulang praktek penjaskes kamu nanti pulang sekolah?" Tanya Youbel memastikan. Pemuda itu masih memutar-mutar bola di tangannya entah bermaksud apa.


"Udah!" Jawab Olivia singkat seraya mengayunkan langkahnya ke arah kantin sekolah.


"Nanti butuh ditemani, biar nggak grogi?" Tanya Youbel sedikit merayu.


"Nggak usah! Yang ada nanti malah gagal lagi gara-gara kamu ketawain!" Jawab Olivia bersungut.


"Hahahaha! Kalau aku tungguin, trus gagal,berarti kamu grogi sama aku!" Celetuk Youbel penuh percaya diri.

__ADS_1


"Geer!" Dengkus Olivia yang kembali bersedekap. Sementara Youbel hanya terkekeh tanpa dosa.


"Ini kamu mau kemana? Lapangan basket udah kelewatan!" Olivia mengingatkan Youbel yang sejak tadi masih terus mengekori dirinya.


"Kamu sendiri mau kemana? Aku kan cuma mau ngikutin kamu," jawab Youbel kembali cengengesan. Sepertinya pemuda ini memang gemar cengengesan dalam segala hal.


"Mau ke kantin! Orang lapar," jawab Olivia galak.


"Oh, aku mau ke kantin juga. Aku juga lapar dan mau makan siomay." Jawan Youbel ikut-ikutan.


"Mau aku traktir?" Tawar Youbel selanjutnya pada Olivia.


"Nggak! Aku masih bisa bayar sendiri," jawab Olivia ketus.


"Baiklah! Aku kan nawarin saja." Youbel tiba-tiba sudah merangkul pundak Olivia.


"Trus ini maksudnya apa rangkul-rangkul?" Tanya Olivia galak menunjuk ke lengan Youbel yang tetap melingkar di bahunya.


"Iya, kan sama-sama mau ke kantin, Olive! Biar kita semakin akrab, gitu," jawab Youbel seraya tertawa kecil.


"Jalan sendiri-sendiri kan bisa!" Olivia menyentak lengan Youbel dari pundaknya.


"Yaudah! Bawain bola aku kalau begitu!" Youbel memberikan bola di tangannya pada Olivia secara tiba-tiba, sebelum kemudian pemuda itu ngacir meninggalkan Olivia yang langsung menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.


"Youbel!!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2