
Tok tok tok!
Suara ketukan di pintu membuat Olivia mengalihkan sejenak tatapannya dari layar laptop ke pintu ruangannya.
"Masuk!" Ucap Olivia, bersamaan dengan pintu yang akhirnya dibuka dari luar.
"Siang! Apa aku mengganggu?" Sapa Yonas seraya masuk ke ruangan Olivia, lalu kembali menutup pintu.
"Sedikit," jawab Olivia datar sebelum kemudian gadis itu kembali fokus ke layar di depannya dan seolah abai dengan kehadiran Yonas.
"Aku membawakan cake vanilla," ujar Yonas seraya meletakkan kotak kue di atas meja. Olivia hafal dengan nama toko kue yang tertera di boxnya, dan mendadak Olivia ingat pada pemilik toko kue tersebut. Sepertinya sudah lumayan lama Olivia tidak mengobrol atau sekedar hang out bersama Ruby
Olivia dan Ruby sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Olivia sebagai nona direktur, dan Ruby yang sekarang mengurus toko kue milik keluarganya. Tapi sepertinya Olivia harus membuat jadwal untuk bertemu Ruby serta hang out atau shopping bersama.
"Pekerjaanmu masih banyak?" Yonas kembali berbasa-basi, membuat pikiran Olivia yangvtadi melayang pada Ruby kembali ke ruangannya ini lagi.
"Ya!" Jawab Olivia singkat.
"Tidak mau makan kuenya dulu?" Tawar Yonas seraya mengulas senyum.
"Apa kau berniat membuatku jadi gendut?" Olivia kembali mengangkat wajahnya dan menatap tak senang pada Yonas yang kini malah terkekeh.
"Jaman sekarang, wanita cantik tak harus selalu kurus! Yang chubby juga banyak yang cantik," tutur Yonas berspekulasi yang langsung membuat Olivia memutar bola matanya.
Ya, kalau chubby-nya terawat dan selalu fashionble seperti Kak Zeline, sepertinya sedikit masuk akal. Buktinya, Kak Zeline sudah punya calon suami yang lumayan tampan dan mereka akan menikah sebentar lagi.
Semua orang akan menikah! Wedding Organizer milik Mama Audrey benar-benar sibuk sepertinya.
"Ngomong-ngomong, aku membawakan yang kemarin aku janjikan," Yonas meletakkan dengan hati-hati, buku Youbel yang berisi semua tentang Olivia, di atas meja kerja, tepat disamping laptop Olivia.
Olivia langsung menggeser laptopnya, lalu mengusap buku bersampul tebak tersebut.
"Maaf, karena baru membawakannya sekarang. Beberapa hari kemarin aku sibuk dan tidak sempat datang kemari." Cerocosan Yonas sama sekali tak Olivia hiraukan, karena kini gadis itu sedang fokus menatap pada buku peninggalan Youbel.
Olivia membuka halaman pertama, dan saat melihat goresan tinta yang ditorehkan oleh Youbel, mata Olivia sontak terasa memanas. Olivia mendongakkan kepalanya, dan sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak jatuh.
Olivia merindukan Youbel!
"Tidak apa jika kau ingin menangis," Yonas tiba-tiba sudah menyodorkan sebuah sapu tangan pada Olivia.
Olivia menerimanya dengan cepat lalu menyeka air mata di kedua sudut matanya.
"Aku tak bisa membacanya disini. Bolehkah aku bawa pulang bukunya?" Tanya Olivia meminta izin seraya kembali menutup buku Youbel.
"Tentu saja," jawab Yonas seraya mengulas senyum.
Olivia menyeka airmatanya sekali lagi memakai sapu tangan Yonas, sebelum kemudian gadis itu bangkit dari kursimya dan membuang tatapannya ke jendela ruangan yang langsung mengarah ke jalanan di depan Arthur Company.
"Kau tinggal bersama Tante Karin sekarang?" Tanya Olivia akhirnya memecah kebisuan di antara dirinya dan Yonas yang sejak tadi duduk di sofa.
__ADS_1
"Ya!" Jawab Yonas singkat.
Sejak Zack pamit dari acara malam itu, Yonas memang memutuskan untuk pulang ke rumah Mom Karin, karena Zack juga tak ada kabar hingga kini.
Begitulah Zack!
Kadang pria itu tiba-tiba hilang, lalu nanti tiba-tiba menghubungi Yonas dan minta dijemput di bandara kota. Tapi Zack tak pernah cerita ia darimana dan ada urusan apa. Pun dengan Yonas yang juga tak mau terlalu ingin tahu.
Olivia menghela nafas dan sudah ganti duduk di sofa di samping Yonas. Gadis itu membuka box kue yang tadi di bawa Yonas, lalu memotongnya sedikit, sebelum kemudian melahap potongan tersebut. Yonas langsung mengulas senyum.
"Ada apa? Kenapa senyum-senyum sendiri begitu?" Tegur Olivia yang kembali memotong dan melahap cake vanilla di hadapannya.
"Tidak ada! Aku hanya suka melihat caramu makan," ujar Yonas yang langsung membuat kunyahan Olivia melambat. Olivia sudah meletakkan sendoknya, saat Yonas meraih tisu, lalu mengelap sudut bibir Olivia yang sedikit terkena krim kue.
"Pacarmu akan marah jika melihatmu perhatian begini pada rekan bisnis," tukas Olivia seraya mengambil alih tisu dari tangan Yonas, lalu mengelap sendiri kedua sudut bibirnya.
"Kebetulan aku belum punya pacar," jawab Yonas jujur yang malah membuat Olivia tertawa kecil.
"Apa yang lucu?" Tanya Yonas heran.
"Kau!" Jawab Olivia cepat.
"Pria matang dan sempurna sepertimu, mustahil belum punya pacar." Lanjut Olivia.
"Kenyataannya begitu!" Yonas mengendikkan kedua bahunya.
"Bagaimana apanya? Aku belum ada rencana menjalin sebuah hubungan apalagi menikah dalam waktu dekat. Aku masih menikmati kesendirianku," tukas Olivia sok diplomatis.
"Sekalipun ada pria yang mengajakmu untuk menjalin sebuah hubungan? Kau juga akan menolaknya?" Cecar Yonas yang sesaat langsung membuat Olivia diam.
"Tergantung!" Jawab Olivia akhirnya sedikit tergagap.
"Tergantung apa?" Tanya Yonas penasaran.
"Tergantung pria mana dan siapa," jawab Olivia sok serius. Namun bukannya menjawab, Yonas malah hanya mengangguk-angguk.
Olivia mendadak sedikit kesal.
"Memangnya kenapa kau tanya-tanya begitu?" Tanya Olivia dengan nada kesalnya.
"Hanya ingin tahu!" Yonas mengendikkan bahu, lalu membuka kotak cake yang tadi dimakan Olivia. Pria itu tanpa basa-basi langsunh memotong cake memakai tangannya dan melahap potongan besar cake tersebut tanpa sendok!
Hanya memakai tangan!
Dasar sinting!
"Enak!" Komentar Yonas dengan mulut yang penuh kue.
"Telan dulu dan jangan bicara saat makan!" Nasehat Olivia tegas.
__ADS_1
Yonas segera mengunyah kuenya hingga habis, lalu meneguk air minum yang berada di gelasnya hingga tandas.
"Mau aku ambilkan minum lagi?" Tawar Olivia yang sudah bangkit berdiri dan mengisi kembali gelas Yonas. Saat itulah, ponsel Yonas tiba-tiba berdering.
"Sial!" Umpat Yonas pelan, saat tahu siapa yang meneleponnya
"Halo!" sapa Yonas seraya bangkit dari duduknya dan sedikit menjauh dari Olivia yang sudah kembali ke sofa, membawa minuman Yonas.
"Kau dimana?" Tanya suara di seberang telepon.
"Di kantor!" Jawab Yonas cepat.
"Kantor mana maksudmu? Aku di kantormu dan di dalam ruanganmu. Tapi kau tidak ada!"
"Aku di kantor temanku, Zack!" Yonas berusaha memberikan pengertian.
"Share lokasimu sekarang biar aku jemput. Aku sedang merindukanmu."
Brengsek!
Yonas mengumpat dalam hati.
"Tidak usah, karena urusanku sudah selesai. Aku akan kesana dan menemuimu sekarang!" Tolak Yonas yang tak mau Zack tahu kalau ia tengah pedekate pada Olivia.
"Baiklah, Kekasih! Aku tunggu!" Pungkas Zack sebelun kemudian telepon terputus. Yonas benar-benar harus mengumpat sekali lagi dalam hati.
"Sudah mau pulang?" Tanya Olivia yang sedari tadi masih duduk di sofa.
"Ya! Ada klien yang menungguku," jawab Yonas berdusta seraya menghampiri Olivia, lalu mengulurkan tangannya pada gadis tersebut.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan buku Youbel kemari," ujar Olivia berbasa-basi sebelum Yonas keluar dari ruangannya.
"Sama-sama!" Jawab Yonas yang tiba-tiba sudah menarik tangan Olivia, lalu mengecupnya sebelum Olivia sempat sadar dengan apa yang dilakukan oleh Yonas.
"Aku pamit dulu dan selamat siang!" Pamit Yonas selanjutnya yang langsung membuat Olivia seolah bangun dari tidurnya.
"Si-siang! Jawab Olivia tergagap, seraya menatap pada punggung Yonas yang akhirnya menghilang keluar dari ruangan Olivia.
Jantung Olivia rasanya berdegup kencang dan ingin meloncat keluar, hanya karena Yonas mencium tangannya tadi. Ada apa dengan Olivia?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1