Cinta Olivia

Cinta Olivia
BAHAGIA


__ADS_3

Olivia baru tiba di rumah saat samar-samar gadis itu mendengar percakapan Papa Kyle dan Opa Satria di ruang depan. Dua pria beda generasi tersebut sepertinya sedang menonton sebuah video di ponsel Opa Satria.


"Maaf! Kalian salah orang!"


Olivia diam sebentar saat mendengar suara dari ponsel Opa Satria tersebut. Bukankah itu suara Yonas?


Olivia yang mendadak merasa kepo diam-diam mendekat ke arah Opa Satria dan Papa Kyle, lalu turug mengintip videoa apa yang sebenarnya tengah disaksikan Papa dan Opa Olivia tersebut. Suasana di dalam video hanya remang-remang serta banyak lampu berkelap-kelip. Seperdi sebuah kelab malam.


"Aku bukan pria seperti itu! Maaf!" Tegas seseorang di dalam video itu lagi. Itu adalah Yonas!


Sedang apa Yonas di dalam sebuah kelab malam?


"Itu memang kelab khusus gay?" Papa Kyle bertanya pada Opa Satria tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.


"Ya! Dulu Nick yang suka pergi kesana dan beralasan menemani sekretarisnya." Opa Satria terkekeh seraya geleng-geleng kepala.


"Aku hanya menemani rekanku disini! Pergilah dan jangan membuatku marah!" Tegas Yonas lagi yang sepertinya mylai berdebat dengan seorang gay yang keras kepala menggodanya.


"Dia sudah berani melawan," pendapat Papa Kyle saat melihat sikap tegas Yonas di dalam video.


"Dan dia memang pria yang normal! Dia tak mungkin marah kalau memang dia seorang gay seperti dugaanmu," timpal Opa Satria berpendapat. Dan Papa Kyle hanya terkekeh.


"Pergi aku bilang!"


Opa Satria mematikan video di ponselnya lalu merangkul Papa Kyle dan Olivia dengan cepat bersembunyi di belakang sofa sebelum ketahuan. Olivia lanjut menguping obrolan Opa Satria dan Papa Kyle.


"Kau sudah percaya sekarang, kan?" Tanya Opa Satria pada Papa Kyle.


"Ya! Yonas pria yang normal!" Jawab Papa Kyle yakin.


"Dan Ayah masih sangat cocok menjadi mata-mata," lanjut Papa Kyle sedikit berkelakar.


"Ayah sudah tua! Sudah ada Haezel juga sekarang."


"Kemarin Ayah memang sengaja meluangkan waktu untuk datang ke kelab dan mencari bukti kebenaran ini demi Olivia."


"Gadis itu terlihat galau berhari-hari karena sepertinya dia takut kau tak akan memberikan restu jika dia tetap memilih Yonas sebagai suami." Ujar Opa Satria panjang lebar yang langsung membuat Papa Kyle berdecak.


"Kyle tidak pernah mengatur-atur soal pilihan hati Olivia padahal." Kilah Papa Kyle menyangkal.

__ADS_1


"Tapi kau memaksa menjodohkan Olivia dan anak mantan pacarmu!" Cibir Opa Satria.


"Itu bukan ide Kyle, Yah! Itu ide Audrey!" Sergah Papa Kyle kembali menyangkal.


"Ck! Ayah akan tanya ke Audrey-"


"Ayah, tidak usah!" Cegah Papa Kyle cepat.


"Itu memang ide Kyle!" Lanjut Papa Kyle membuat pengakuan.


"Dasar!" Opa Satria langsung menjewer telinga putranya tersebut.


"Tapi ngomong-ngomong, Bunda tahu ayah ke kelab malam tidak? Kyle perlu lapor?"


"Kyle!"


Olivia tersenyum kecil setelah mengetahui sebuah kebenaran tentang Yonas yang ternyata memanglah deorang pria normal. Gadis itu masih bersandar di belajang sofa dan berulang kali menghela nafas lega serta tak berhenti mengulas senyum di bibirnya.


"Eheeem!" Deheman dari Yonas menyentak lamunan Olivia yang sejak tadi tak berhenti memainkan jemarinya di wajah suaminya tersebut.


"Kau sudah bangun?" Tanya Olivia seraya mengusap wajah Yonas yang matanya tetap terpejam.


"Dasar!" Olivia ganti memainkan jarinya di bibir Yonas. Sudah sejak tadi Olivia terjaga, namun wanita itu masih betah bergelung di bawah selimut bersama Yonas masih tanpa sehelai bajupun yang menutupi tubuh mereka berdua.


"Ayo bangun!" Ajak Olivia selanjutnya seraya merebahkan kepalanya di dada Yonas.


"Menyuruhku bangun tapi kau sendiri tidak mau beranjak sejak tadi. Mau menggodaku, Nyonya Van Willer?" Tanya Yonas usil yang tangannya tak berhenti mengusap kepala serta rambut Olivia.


"Sedikit! Apa kau merasa tergoda?" Nada dbicara Olivia terdengar nakal.


"Kau rasakan sendiri!" Yonas membimbing tangan Olivia ke bawah selimut, atau lebih tepatnya ke atas miliknya yang perlahan mulai bangun.


Olivia tertawa kecil dan tangannya sudah menggenggam milik Yonas di dalam selimut.


"Ouh! Kau memang berniat melakukannya!" Yonas akhirnya membuka kedua matanya, lalu menangkup wajah Olivia dan memberikan kiss morning. Cukup lama pasangan suami istri itu saling berpagutan serta bertukar saliva.


"Apa yang semalam masih kurang? Kita bahkan baru tidur jam tiga pagi," tanya Olivia saat kecupan Yonas mulai berpindah ke leher serta dadanya. Pria itu sesekali juga menggigit kecil cuping telinga Olivia hingga menimbulkan sensasi geli.


"Rasanya akan kurang terus."

__ADS_1


"Itu yang dikatakan orang-orang," jawab Yonas yang tentu saja langsung membuat Olivia tergelak.


"Jadi?"


"Jadi apa? Aku juga merasa kurang terus dan masih ingin menyentuhmu. Lagi, dan lagi." Yonas hampir mencium bibir Olivia lagi, namun tangan istrinya itu menghalangi dengan cepat.


"Ayo mandi dan bersiap karena helikopter yang menuju ke pulau akan datang satu jam lagi!" Ajak Olivia seraya menatap serius pada Yonas.


"Pulau?" Yonas mengernyit bingung.


"Pulau milik Oma Bee dan Opa Nick! Ada sebuah villa di sana dan kita bisa bercinta di setiap sudut pulau nantinya karena tidak akan ada siapapun disana selain kita berdua," jelas Olivia panjang lebar.


"Itu pulau pribadi?"


"Ya! Sekaligus tempat honeymoon untuk semua anggota keluarga Arthur yang baru menikah!" Jelas Olivia sedikit pamer.


"Dan sedikit informasi kalau aku juga di buat di pulau itu saat mama dan papa honeymoon kedua kalinya di sana," imbuh Olivia lagi yang langsung membuat Yonas tergelak.


"Kita akan membuat cucu untuk Mama dan Papa di pulau itu juga berarti!" Ujar Yonas seraya berguling dan kini ganti menindih Olivia.


"Ya!"


"Tapi kita harus mandi sekarang, agar kita bisa membuat cucu untuk Mama dan Papa di pulau."


"Satu ronde dulu sepertinya tidak masalah. Adikku sudah keburu bangun," Yonas menggesekkan miliknya pada milik Olivia dan istrinya itu sontak menggelinjang.


"Yonas!"


"Diamlah, agar aku bisa konsentrasi dan kita bisa cepat selesai!" UcapnYonas sebelum kemudian pria itu mel*mat bibir Olivia serta menyentak masuk.


Erangan dan lenguhan kembali terdengar dari dalam kamar Olivia di pagi nan cerah tersebut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2