Cinta Olivia

Cinta Olivia
PERMINTAAN YOUBEL


__ADS_3

"Tumornya berkembang lagi dan yang ini lebih ganas."


Lamat-lamat Youbel mendengar pembicaraan dokter dengan Mom Karin tentang tumor di kepalanya.


"Tapi yang sebelumnya sudah diangkat. Youbel juga sudah menjalani serangkaian terapi!"


"Di beberapa kasus memang tumor akan kembali tumbuh dan berkembang sekalipun sudah dilakukan operasi pengangkatan. Termasuk yang terjadi pada Youbel."


"Kami akan secepatnya melakukan operasi lagi, lalu setelahnya Youbel akan menjalani serangkaian terapi lagi," tutur dokter panjang lebar yang langsung membuat Mom Karin menitikkan airmata.


Youbel sendiri memilih untuk tetap memejamkan kedua matanya seraya menelan ganjalan pahit di tenggorokannya. Meskipun sebenarnya Youbel bisa mendengar dengan sanhat jelas semua penjelasan dokter.


Operasi lagi!


Terapi lagi!


Setahun yang lalu Youbel sudah melalui semua itu dan Youbel rasanya ingin mati saja. Andai ia tak ingat pada Olivia dan Mom Karin.


Dokter sudah undur diri dan keluar dari kamar perawatan. Samar-samar mulai terdengar isak tangis dari Mom Karin. Youbel juga bisa merasakan tangan Mom kandungnya tersebut yang kini mengusap lembut kepalanya.


"Kau pasti kuat, Youbel! Kau pasti bisa melalui ini semua," isak Mom Karin sebelum kemudian wanita paruh baya tersebut menangis tergugu.


"Mom!" Youbel akhirnya membuka mata karena tak tahan mendengar isak tangis sang Mom yang begitu bersedih.


"Kau sudah bangun?" Mom Karin berysaha mengulas senyum dan buru-buru menghapus airmatanya.


"Mom akan membawa Youbel berobat ke luar negeri lagi?" Tanya Youbel yang sepertinya merasa keberatan jika harus berjauhan lagi dari Olivia selama berbulan-bulan.


"Mom tidak akan memaksa."


"Youbel ingin disini saja dan Youbel ingin pulang," pinta Youbel lirih.


"Kau akan menjalani operasi, Youbel! Jadi sementara ini kau harus tetap di rumah sakit," ujar Mom Karin berusah membujuk Youbel yang langsung merengut.


Youbel memalingkan wajahnya dan ganti menatap pada jendela kamar perawatan yang basah dan berembun karena hujan yang mengguyur sedari malam.


"Mom akan menghubungi Olivia agar dia menjengukmu kesini," tawar Mom Karin yang langsung membuat Youbel menggeleng.


"Olive akan sedih jika dia tahu sakitnya Youbel, Mom! Tolong jangan memberitahunya," pinta Youbel pada Mom Karin.


"Mom tidak akan memberitahu, tapi barangkali kau kangen pada Olivia."


"Kita bisa mengatakan kalau kau sedang sakit yang lain," Mom Karin memberikan ide karena wanita paruh baya itu bisa debgan jelas melihat kegundahan hati Youbel.


"Nanti saja," jawab Youbel akhirnya. Youbel berbaring miring dan memunggungi Mom Karin. Pemuda itu hanya menatap kosong pada jendela kamar perawatan yang tetap basah dan berembun.

__ADS_1


****


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."


Olivia mengerutkan kedua alisnya dan menatap sekali lagi pada layar ponsel di tangannya. Pesan Olivia pada Youbel belum ada satupun yang dibuka, dan kini nomor Youbel malah tak bisa dihubungi.


Kemana lagi pemuda itu?


"Nananananana!"


Olivia mendengar suara Alicia yang sepertinya baru pulang. Wajah adik Olivia itu terlihat bahagia dan bibirnya tak berhenti bersenandung. Ada apa gerangan?


"Sore, Kak!" Sapa Alicia seraya tersenyum bahagia.


"Habis dapat lotre? Sepertinya bahagia sekali?" Tanya Olivia merasa kepo.


"Enggak!" Alicia kembali tersenyum bahagia seraya menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggung.


"Ada apa, sih?" Olivia merasa semakin kepo sekarang.


"Itu ngumpetin apa?" Cecar Olivia lagi.


"Bukan apa-apa!" Alicia tertawa kecil bersamaan dengan Riley yang datang menghampiri Olivia dan Alicia seraya menbawa sebuah buket.


"Hayum hayum!" Celoteh Riley yang langsung menarik perhatian Olivia.


"Bunga dari siapa, Riley,"


"Hei! Itu punya Kak Alice, Sayang!"


"Kembalikan!" Alicia berusaha meminta bunga yang dibawa oleh Riley.


"No!"


"Ini punya Yiley!" Sahut Riley keras kepala.


"Bunga dari siapa? Dikta?" Tanya Olivia seraya melihat dan membaca kartu ucapan di dalam buket bunga.


"Will you marry me?" Olivia bergumam sambil membaca kartu ucapan tadi. Raut wajah Olivia sontak berubah.


"Dikta ngelamar Alice, Kak!"


"Lihat!" Alicia memamerkan cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Olivia melihat sebentar cincin tersebut, lalu memaksa untuk mengulas senyum, meskipun kini hati Olivia rasanya tak karuan. Ada rasa bahagia sekaligus sedih dan sedikit rasa iri.


Apa Youbel juga akan melamar Olivia sebentar lagi?

__ADS_1


Tapi sekarang saja, pria itu tak bisa dihubungi dan mendadak menghilang lagi.


"Congrats!" Ucap Olivia akhirnya seraya memeluk sang adik yang terlihat begitu bahagia.


"Tapi ngomong-ngomong kau kan masih kuliah. Apa Papa akan setuju jika kau menikah dengan Dikta sekarang?" Tanya Olivia merasa ragu. Karena yang Olivia tahu selama ini Mama Audrey dan Papa Kyle selalu mengutamakan pendidikan.


"Kami akan bertunangan dulu dan baru menikah setelah wisuda nanti."


"Eh, maksud Alice setelah Kak Via dan Abang Youbel menikah juga. Atau kita barengan saja nikahnya?" Usul Alicia yang langsung membuat Olivia tersenyum kecut.


"Abang Youbel sudah melamar Kak Via juga?" Tanya Alicia kepo.


Olivia hanya menggeleng samar.


"Kau tak perlu menunggu aku menikah jika memang kau dan Dikta sudah sama-sama serius."


"Aku masih ingin fokus pada kuliahku, dan belum sedikitpun terbersit keinginan untuk menikah," tukas Olivia yang langsung membuat Alicia mengernyit tak mengerti.


"Tapi kenapa, Kak? Bukankah Kak Via dan Abang Youbel sudah sama-sama saling mencintai?"


"Entahlah!" Olivia mengendikkan kedua bahunya karena merasa bingung juga dengan kelanjutan hubungannya bersama Youbel. Sekalipun mereka berdua saling mencintai dan sama-sama merasa nyaman, tapi gambaran ke depannya tentang hubungan mereka seolah belum ada dan terasa buntu


Olivia juga tak paham.


"Boneka, yeaaay!" Sorakan Riley yang berhasil merusak buket pemberian Dikta dan mengambil boneka beruang warna pink di dalamnya, membuat Alicia dan Olivia menoleh serempak pada bocah berusia dua setengah tahun tersebut.


"Ya, Riley! Kenapa dirusak?" Alicia bergumam kecewa.


"Nggak apa-apa! Nanti minta cama Abang Dikta lagi, Kak Aice!" Jawab Olivia menirukan suara Riley.


Olivia sudah membawa Riley ke dalam gendongan dan berlalu meninggalkan Alicia yang masih memunguti bunga-bunga yang kini berserakan di lantai karena ulah Riley.


"Untung kakak sayang! Kalau enggak sudah kakak gigit pipi kamu, Riley!" Seru Alicia pada sang adik yang hanya memeletkan lidahnya dan malah meledek Alicia.


Dasar Riley!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2