Cinta Olivia

Cinta Olivia
HARUS SEMBUH!


__ADS_3

"Sayang, aku pulang! Apa sedang ada tamu?" Sapa seorang pria yang mengenakan baju ala koki restoran.


Youbel dan Yonas sesaat diam dan menatap pada pria yang baru datang tersebut. Sebelum akhirnya Yonas buka suara dan menjawab sapaan pria tadi.


"Hai, Zack! Kau sudah pulang?


"Dia siapa, Yonas? Pacar barumu?" Tanya pria yang dipanggil Zack oleh Yonas tadi. Raut wajahnya terlihat tidak senang atau cenderung seperti orang marah.


"Dia adikku," jawab Yonas cepat berusaha meredam kemarahan Zack.


"Adik? Kau tak pernah cerita kalau kau punya adik," Zack masih menatap penuh curiga.


"Iya, dia adik beda ibu." Jelas Yonas sekali lagi.


"Baiklah, aku percaya!"


"Aku akan memasak untuk makan malam. Apa adikmu akan ikut makan malam du sini?" Tanya Zack seraya berlalu ke dapur, lalu menghamburkan isi dari kantong belanja yang tadi ia bawa ke atas meja dapur. Youbel masih melongo dengan apa yang baru saja ia lihat.


Sayang?


Zack memanggil Yonas dengan sebutan sayang, lalu pria itu mengira Youbel adalah pacar Yonas.


Apa maksudnya semua ini?


Yonas dan Zack punya 'hubungan'?


"Adikku akan pulang, Zack! Jadi masak untuk kita berdua saja!" Seru Yonas seraya menarik Youbel ke arah ruang tamu atau lebih tepatnya ke dekat pintu masuk. Sepertinya Yonas akan mengusir Youbel sekarang.


"Maaf, aku tidak busa menuruti kemauanmu, Youbel! Kau harus bisa sembuh dan menjaga sendiri gadis bernama Olivia Olivia itu!" Ucap Yonas seraya menatap tegas pada Youbel.


"Abang tidak berpacaran dengan Zack, kan? Abang masih normal, kan?" Cecar Youbel berbisik-bisik pada Yonas yang sebenarnya malah tidak nyambung dengan ucapan Yonas tadi.


"Bukan urusanmu!" Sahut Yonas ketus.


"Bang, jangan konyol! Jangan membuat Bunda sedih di surga sana karena kelakuan abang ini!" Youbel memperingatkan Yonas yang langsung berdecak.


"Sudah aku bilang bukan urusanmu!"


"Pulang sana!" Usir Yonas selanjutnya pada Youbel.


"Abang pria normal dan jangan menjalin hubungan terlarang dengan Zack!" Youbel memaksa memberikan foto Olivia pada Yonas.


"Apa ini?"


"Abang harus menjaga Olive! Abang juga harus pulang dan menjaga Mom!"

__ADS_1


"Tolong jangan mengecewakan Youbel!" Pungkas Youbel sebelum kemudian pemuda itu berbalik dan pergi meninggalkan apartemen Yonas.


Yonas menatap pada foto Olivia yang kini berada di tangannya, lalu menatap foto itu dengan lekat.


"Yonas, adikmu sudah pulang?" Tanya Zack dari balik punggung Yonas.


"Iya, dia sudah pulang!" Jawab Yonas seraya merem*s foto Olivia, lalu menjejalkannya dengan cepat ke dalam saku celana, sebelum Zack melihat.


"Dia sungguh adikmu atau kau hanya menipuku? Aku tidak suka kau berkhianat di belakangku!" Zack memperingatkan Yonas.


"Dia benar-benar adikku!" Jawab Yonas tegas seraya berlalu dari hadapan Zack.


"Makanan siap sebentar lagi! Jangan mandi terlalu lama!" Pesan Zack pada Yonas yang sudah menghilang ke dalam kamarnya.


"Yonas, sudah mau pulang?" Tanya Mom Karin saat wanita paruh baya itu tak sengaja berpapasan dengan Yonas yang yadi masih sibuk melamun seraya menatap pada punggung Olivia. Namun gadis itu sudah tak terlihat lagi dan sudah menghilang ke dalam kamar perawatan Youbel.


"Iya, Mom!" Jawab Yonas masih sedikit kaku saat memanggil Mom Karin. Meskipun beberapa tahun silam Yonas sudah terbiasa dengan panggilan tersebut.


"Pacar Youbel juga sudah datang tadi," imbuh Yonas melapor pada Mom Karin.


"Olivia? Dia sudah datang?"


"Iya, Mom!" Yonas mengangguk sekali lagi.


"Yonas pulang dulu. Mungkin besok Yonas akan mampir lagi," pamit Yonas selanjutnya pada Mom Karin.


"Mom jangan lupa makan dan tetap jaga kesehatan! Yonas pulang dulu," pamit Yonas sekali lagi sebelum kemudian pria itu berlalu pergi dan meninggalkan rumah sakit.


****


Olivia masih terlelap serata menyandarkan kepalanya di bed perawatan Youbel. Tangan gadis itu juga tetap menggenggam erat tangan Youbel yang sudah beberapa hari belum sadarkan diri.


"Olive."


Samar-samar Olivia mendengar seseorang memanggil namanya, sekaligus mengusap lemah kepalanya.


"Olive," panggil suara itu sekali lagi dan Olivia langsung membuka matanya. Gadis itu mengerjap beberapa kali, sebelum kemudian mengangkat kepala dan akhirnya menyadari kalau yang manggil sekaligus mengusap kepalanya adalah Youbel.


Youbel akhirnya bangun!


"Kau sudah bangun?" Kedua netra Olivia berbinar senang. Lalu gadis itu hendak menekan tombol untuk memanggil dokter atau perawat, sebelum kemudian Youbel mencegahnya.


"Tidak usah!" Cegah Youbel seraya menggenggam tangan Olivia. Genggaman tangan Youbel terasa lemahh, jadi Olivia ganti menggenggam tangan pemuda itu dan menciumnya berulang kali.


"Kau benar-benar membuatku khawatir," cicit Olivia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Maaf!' Hanya satu kata itu yang diucapkan Youbel dengan lirih.


"Tidak! Tidak perlu minta maaf! Aku senang karena akhirnya kau sudah bangun!"


"Kau akan sembuh tak lama lagi, kan? Lalu kita akan pergi ke tempat favorit kita, membeli semua makanan yang ada di sana-" suara Olivia tercekat saat gelengan lemah dari Youbel kembali meruntuhkan harapan di hati Olivia.


"Kita tidak akan melakukannya lagi," ucap Youbel nyaris tanpa suara.


"Jangan mengatakan seperti itu!" Olivia sudah bersimbah airmata sekarang.


"Kau akan sembuh! Kau pasti sembuh! Kau harus sembuh!" Isak Olivia seraya menyandarkan kepalanya di dada Youbel. Tangan Youbel mengusap kepala Olivia yang kini menangis tergugu.


"Kuingin selamanya..."


"Mencintai dirimu.... sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku," Youbel bersenandung lirih dan Olivia langsung mengangkat kepalanya dari dada Youbel.


"Kuingin selamanya..." tangan Youbel ganti terulur untuk mengusap dan menghapus air mata Olivia yang kini sudah bercucuran.


"Ada di sampingmu...menyayangi dirimu, sampai waktu kan memanggilku," suara pemuda itu semakin tak terdengar dan Olivia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Youbel!"


"Kau cantik!" Puji Youbel seraya mengusap wajah Olivia sekali lagi. Sebuah usapan yang terasa lemah, namun Olivia segera menggenggam tangan Youbel dengan erat.


"Pejamkan matamu!" Pinta Youbel selanjutnya masih tetap menatap lekat wajah Olivia,meskipun tatapan mata pemuda itu sudah sayu.


"Aku tidak mau!" Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pejamkan, Olive!" Hanya terlihat gerakan bibir Youbel tanoa ada suara lagi dari pria itu.


"Aku tidak mau!" Olivia semakin tergugu dan gadis itu memejamkan matanya sesaat, lalu tangan Youbel yang berada di genggamannya seketika melemah. Garis di layar monitor yang menampilkan detak jantung Youbel juga sudah berubah menjadi garis lurus panjang.


"Youbel!"


"Youbel, jangan pergi!"


.


.


.


😭😭😭😭😭😭


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2