
Waktu berjalan dengan lambat selama dua hari ini. Yonas masih mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, saat jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Dua jam dari sekarang, acara pertunangan Olivia mungkin akan dimulai. Yonas mendadak merasa ragu apa ia akan datang atau jadi pengecut yang bersembunyi dan meratap dalam diam.
Dering ponsel di atas meja seketika membuat lamunan Yonas menjadi buyar. Nama Mom Karin terteea jelas di layar ponsel, membuat Yonas dengan segera mengangkat telepon.
"Mom," sapa Yonas lesu.
"Kenapa belum pulang, Yonas? Kau masih di kantor?"
"Iya, Mom! Masih ada pekerjaan," ringis Yonas sedikit berdusta. Pekerjaan melamun lebih tepatnya karena saat ini kantor juga sudah sepi dan para karyawan sudah pulang sejak tadi.
"Pekerjaan? Pekerjaan menata hati?"
Sindiran Mom Karin seolah teoat sasaran. Mom tiri Yonas itu selalu saja bisa menebak galaunya hati Yonas.
"Yonas akan pulang sekarang, Mom!" Ucao Yonas akhirnya setekah menarik nafas panjang berulang-ulang. Sudah saatnya menjadi lelaki kuat dan berhenti bersikap seperti pengecut. Yonas akan datang di hari bahagia Olivia.
Tapi ngomong-ngomong, bukankah hari ini adalah hari ulang tahun Olivia?
Apa?
Yonas cepat-cepat membuka pengingat di ponselnya setekah menutup telepon dari Mom Karin. Pria itu bahkan baru ingat kalau hari ini Olivia berulang tahun ke dua puluh enam tahun.
Bodoh!
Kenapa alarm di ponsel Yonas tak menyala sejak pagi dan mengingatkan Yonas?
Dasar ponsel bodoh!
Yonas bergegas meninggalkan kantornya dan mencari kado untuk Olivia sebentar. Bertunangan di hari ulang tahun, sepertinya adalah impian Olivia. Tapi sayangnya bukan Yonas yang akan menjadi tunangan Olivia. Poor Yonas!
****
Yonas menghela nafas sekali lagi sebelum pria itu turun dari mobil. Acara pertunangan Olivia malam ini digelar di kediaman Arthur yang besar dan luas. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan, termasuk Yonas dan Mom Karin.
Yonas membiarkan lengannya digamit oleh Mom Karin agar dirinya merasa lebih kuat dan tegar. Tak ada foto Olivia maupun Ezra di depan pintu masuk. Hanya dekorasi bunga-bunga yang tampak memenuhi pintu masuk serta halaman depan.
Oh, Yonas lupa!
Ini acara pertunangan dan bukan pesta pernikahan. Jadi mana mungkin ada foto pre wedding Olivia dan Ezra?
"Malam Bu Audrey, Pak Kyle!" Sapa Mom Karin pada kedua orang tua Olivia yang langsung membuat lamunan Yonas menjadi buyar. Yonas memaksa untuk mengulas senyum ke arah Mama Audrey dan Papa Kyle, meskipun bibirnya mendadak terasa kaku dan Yonas kesulitab untuk tersenyum.
Bagaimana Yonas bisa tersenyum, jika hati Yonas sedang patah berkeping-keping sekarang?
"Malam, Uncle, Aunty!" Gantian Yinas yang menyapa Mama Audrey dan Papa Kyle.
"Malam, Yonas! Terima kasoh sudah datang di acara ulang tahun Olivia malam ini," ucap Mama Audrey seraya tersenyum ramah pada Yonas.
"Yonas tak akan melewatkan hari bahagia Olivia, Aunty!"
"Olivia akhirnya mendapatkan pria yang baik dan memang pantas untuknya," ujar Yonas berusaha untuk tegar dan bijak.
__ADS_1
"Kau sedang bicara apa, Yonas?" Bisik Mom Karin pada Yonas yang sontak membuat Yonas menjadi bingung.
"Bicara tentang acara ulang tahun sekaligus pertunangan Olivia malam ini,Mom!" Jawab Yonas yang langsung membuat Mama Audrey dan Papa Kyle mengernyit bingung.
"Siapa yang akan bertunangan, Yonas?kau tidak membaca undangannya?" Tanya Mama Audrey yang sekarang ganti membuat Yonas bingung.
"Undangan yang Aunty dan Uncle antar kemarin itu, kan?"
"Itu undangan pertunangan Olivia dan Ezra, kan?" Yonasbalik bertanya dan memastikan namun gelengan dari Mama Audrey dan Papa Kyle malah membuat Yonas bingung. Yonas langsung menyambar undangan yang baru saja Mom Karin keluarkan dari dalam tas, lalu membuka undangan berwarna silver tersebut dengan tergesa.
"Acara ulang tahun ke-26 Olivia Abraham Arthur," gumam Yonas saat membaca isi undangan. Yonas lanjut membolak-balik undangan tersebut untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri kalau ternyata itu hanyalah sebuah undangan ulang tahun dan bukan undangan pertunangan.
Kenapa baru sekarang Yonas menyadarinya?
"Malam, Om, Tante!" Sebuah sapaan dari siara yang terdengar tak asing, langsung membuat lamunan Yonas menjadi buyar. Yonas menatap pada pria yang Yinas pikir akan bertunangan dengan Olivia malam ini. Pria itu sedang berdiri di dekat Yonas, seraya mendorong kursi roda, fimana ada seorang wanita yang duduk di atasnya dan tersenyum ramah.
"Malam, Om, Tante!" Wanita di atas kursi roda ikut menyapa Mama Audrey dan Papa Kyle. Mama Audrey bahkan bercipika-cipiki dengan wanita itu dan sepertinya sudah akrab.
"Hai, Yonas!"
"Kita bertemu lagi!" Sapa Ezra yang langsung menepuk punggung Yonas yang masih terlihat bingung.
Siapa wanita yang bersama Ezra ini?
Pacar simpanan Ezra?
Tapi kenapa ia terlihat akrab dengan Mama Audrey?
Lalu Olivia kemana?
"Hai juga!" Yonas membalas sapaan Ezra dengan canggung.
"Oh, ya! Kenalkan, ini Joanna. Calon istriku," ujar Ezra selanjutnya yang langsung membuat Yonas membelalak tak percaya.
"Calon istri?" Yonas bergumam pelan antara kaget dan tak percaya.
"Sudah terang-terangan sekarang," goda Mama Audrey yang langsung membuat Ezra sedikit tersipu. Berbeda dengan Joanna yang hanya tersenyum tipis dan terkesan cuek. Namun nyatanya, genggaman tangan Joanna dan Ezra sudah menunjukkan kuatnya perasaan di antara mereka.
"Maaf, Aunty! Tapi bukankah Ezra adalah calon tunangan Olivia?" Yonas yang tak tahan akhirnya melontarkan pertanyaan pada Mama Audrey serta menatao bingung pada mama kandung Olivia tersebut.
"Kami tidak jadi bertunangan!"
Bukan Mama Audrey atau Ezra yang menjawab. Melainkan Olivia yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Yonas.
Yonas sontak menoleh dan langsung memindai penampilan Olivia yang malam ini terlihat anggun mengenakan gaun warna lilac.
"Aku dan Ezra tak jadi bertunangan."Olivia mengulangi pernyataannya yang tentu saja malah membuat Yonas menjadi bingung.
"Kenapa tidak jadi?" Tanya Yonas yang hanya terdengar seperti sebuah gumaman.
Namun sepertinya Olivia bisa mendengar gumaman Yonas tersebut.
__ADS_1
"Karena aku baru sadar, kalau aku sidah jatuh cinta dan hanya mencintai satu pria selama ini!"
"Hanya satu pria dan aku tak pernah bisa untuk menghapus perasaan itu atau bahkan melupakan pria itu."
Flashback beberapa hari sebelumnya.....
Olivia berjalan cepat menuju ke UGD setelah gadis itu menerima video call dari Ethan tentang Ezra yang mengalami kecelakaan. Gadis itu hampir menabrak Ethan yang baru keluar dari ruang UGD.
"Hai, kau sudah datang?" Sapa Ethan yang langsung mengantar Olivia untuk masuk ke dalam dan bertemu dengan Ezra yang sudah selesai mendapatkan pertolongan.
"Kau baik-baik saja, Ezra?" Tanya Olivia cemas.
"Ya! Hanya beberapa luka lecet,"jawab Ezra seraya meringis dan menunjukkan beberapa luka di tangan serta kakinya pada Olivia.
"Aku sudah bisa pulang, kan? Aku belum memeluk Ruby sejak tadi malam," bisik Ethan sedikit cirhat pada Olivia yang hanya mendengus. Sepertinya sepupu Olivia itu memang baru saja mendapat shift malam hingga ia tak bisa lembur bersama Ruby.
Kasihan sekali!
"Pulanglah!" Jawab Olivia sok galak. Namun baru saja Ethan hendak pergi, Ezra tiba-tiba sudah memanggil sepupu Olivia tersebut.
"Dokter Ethan!"
"Iya?"
"Kondisi Jo bagaimana?" Tanya Ezra yang malah membuat Ethan mengernyit bingung.
"Jo?"
"Joanna teman saya yang perempuan tadi, Dok!" Ezra menjelaskan lebih detail dan sekarang gantian Olivia yang mengernyit.
Joanna? Seorang perempuan?
Tadi Ethan memang mengatakan kalau Ezra kecelakaan bersama seorang temannya. Tapi Ethan tak menjelaskan kalau teman Ezra itu adalah seorang perempuan.
"Oh, dia mengalami patah di kaki kanan, dan sekarang sedang menunggu jadwak operasi. Selebihnya dia baik-baik saja!" Terang Ethan yang langsung membuat Ezra menarik nafas lega. Berbeda dengan Olivia yang kini menatap penuh selidik ke arah Ezra.
Ethan sudah pamit dan keluar dari ruangan, saat Olivia melontarkan pertanyaan serius pada Ezra,
"Joanna siapa dan kenapa kau pergi bersamanya pagi-pagi, Ezra?"
.
.
.
Hayo!
Ngopo kowe, Ezra?
🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.