Cinta Olivia

Cinta Olivia
CALON TUNANGAN?


__ADS_3

"Huuuuu! Keren, Riley!" Seruan dari Yonas yang masih duduk di sebelah Olivia langsung bisa menyentak lamunan gadis tersebut.


Pikiran Olivia yang tadi sempat melayang jauh, seolah sudah kembali ke tempatnya. Olivia melihat ke papan skor yang ternyata pertandingan sudah masuk ke pertengahan quarter ketiga. Ya ampun! Olivia kemana saja tadi?


"Riley mencetak skor?" Tanya Olivia sedikit berbisik pada Yonas karrna dirinya tak menyimak apa yang baru saja dilakukan oleh Riley, hingga Yonas serta penonton lain berseru penuh semangat.


"Riley mencetak three point! Kau tidak lihat tadi?" Tanya Yonas menatap heran pada Olivia yang langsung menggeleng.


Yonas sontak menatap lekat wajah Olivia yang sepertinya habis melamun.


"Kau melamun?" Tebak Yonas.


"Tidak!" Jawab Olivia salah tingkah yang langka melemparkan tatapannya ke arah court basket.


Yonas tak bertanya lagi dan pria itu juga fokus ke pertandingan hingga akhir quarter keempat, dan tim basket Riley keluar sebagai pemenang.


"Abang Yonas!" Teriak Riley seraya melambaikan tangan ke arah Yonas dan Olivia, sebelum bicah delapan tahun itu meninggalkan court dan masuk ke ruang ganti.


"Oh, ya. Kau datang ke acara pernikahan Ethan tempo hari?" Tanya Olivia yang mendadak ingat pada bunga pemberian Yonas yang dititipkan pada Riley. Olivia masih menyimpannya hingga detik ini meskipun bunganya sudah layu.


"Waktu itu," Yonas garuk-garuk kepala.


"Aku sedang ada meeting di resto seberang tempat resepsi, lalu aku tak sengaja melihat Riley, jadi aku menyapanya." Terang Yonas akhirnya sedikit mengarang cerita.


"Menyapa dan diam-diam menitipkan bunga untukku? Sejak kapan orang meeting membawa bunga?" Olivia menatap heran pada Yonas.


Yonas kembali garuk-garuk kepala dan pria itu terlihat salah tingkah.


"Kenapa tidak masuk saja waktu itu dan malah langsung kabur?" Tanya Olivia akhirnya to the point.


"Aku tak punya undangan," jawab Yonas jujur.


"Undanganmu menyatu dengan undanganku dan Ethan serta Ruby juga menanyakanmu waktu itu," jelas Ruby.


"Benarkah? Kau tidak bilang. Aku jadi tidak datang dan mengecewakan mereka berdua." Yonas menghela nafas.


"Nanti saja aku kirim hadiah untuk mereka. Aku boleh minta alamat lengkap Ethan dan Ruby," cetus Yonas akhirnya seraya menyodorkan ponselnya, agar Olivia menuliskan alamat Ethan di sana.


Olivia mengambil ponsel Yonas dengan cepat, lalu membuka sandi ponsel pria itu dengan mudah karena kata sandinya adalah tanggal ulang tahun Olivia.


Apa?


"Kau belum mengganti kata sandi ponselmu," gumam Olivia seraya mengetikkan alamat Ethan di notes ponsel Yonas.


"Agar aku tidak lupa kapan harus mengirimkan hadiah ulang tahun untukmu." Jawab Yonas to the point.


"Tidak usah repot-repot! Aku bukan bocah yang butuh diberi kado saat ulang tahun!" Sergah Olivia seraya memejamkan matanya beberapa saat, sebelum lanjut mengetik alamat Ethan. Otak Olivia mendadak blank, hingga gadis itu salah menulis nomor rumah Ethan sampai tiga kali.

__ADS_1


"Aku hanya menjalankan amanat dari Youbel." Lagi-lagi Yonas memakai alasan klasik itu.


"Sampai kapan kau akan terus memakai alasan menjalankan amanat itu?" Sergah Olivia seraya mengembalikan ponsel Yonas dengan sedikit kasar.


"Kau sudah tahu jawabannya. Sampai aku berhenti bernafas." Yonas menatap kekat wajah Olivia meskipin gadis itu tak sedikitpun menatapnya.


"Aku akan bertunangan! Jadi berhentilah menjaga atau mengawasiku!" Sergah Olivia memperingatkan Yonas yang langsung mendongakkan wajah.


"Selamat atas pertunanganmu kalau begitu!" Yonas mengulurkan tangannya pada Olivia seraya menelan gumpalan pahit yang memenuhi tenggorokannya. Sakit!


"Terima kasih!" Olivia membalas jabat tangan Yonas dan cukup lama keduanya berjabat tangan serta saling menatap.


"Kau akan segera menyusul, kan?" Tanya Olivia seolah memaksa. Yonas hanya bungkam.


"Semoga kau segera menyusul!" Olivia mengganti pertanyaannya dengan ucapan doa. Namun Yonas tetap bungkam.


Dua orang itu sudah sampai di tempat parkir sekarang. Seorang pria yang mengenakan topi melambaikan tangan ke arah Olivia dan Yonas.


Ezra?


"Itu tunanganmu?" Tanya Yonas yang langsung paham. Ezra sudah melangkah dan menghampiri Olivia serta Yonas yang buru-buru menjaga jarak dari Olivia.


"Hai, aku menjemputmu," sapa Ezra pada Olivia yang hanya mengulas senyum.


"Ini siapa?" Tanya Ezra selanjutnya seraya menunjuk pada Yonas.


Benar-benar pria yang ramah!


"Via! Ezra menjemputmu?" Tanya Mama Audrey yang sudah datang bersama Alicia dan Dikta.


"Sore, Tante!" Sapa Ezra sopan.


"Sore, Ezra!"


"Papa mana, Ma?" Tanya Olivia yang tak melihat papa Kyle.


"Sedang menjemput Riley ke ruang ganti," bukan Mama Audrey, melainkan Alicia yang menjawab.


"Via, aku duluan." Yonas yang merasa hanya menjadi obat nyamuk akhirnya pamit undur diri.


Ya, ya, ya!


Olivia sudah punya calon suami sekarang. Memangnya apa yang Yonas harapkan?


"Aunty, Yonas pamit pulang duluan," Yonas lanjut berpamitan pada Mama Audrey dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut dengan takzim.


"Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk menonton pertandingan Riley, Yonas!" Ucap Mama Audrey seraya tersenyum ramah.

__ADS_1


"Sama-sama, Aunty! Titip salam untuk Riley juga. Permainannya hari ini luar biasa," ujar Yonas yang tak berhenti memuji Riley.


"Nanti Aunty sampaikan," jawab Mama Audrey seraya menepuk punggung Yonas.


Yonas juga sedikit berbasa-basi pada Alicia dan Dikta sebelum kemudian pria itu berlalu pergi meninggalkan GOR basket.


"Kak Via! Abang Yonas mana?" Tanya Riley yang baru datang bersama Papa Kyle.


"Baru saja pergi! Dia titip salam untukmu," jawab Olivia cepat.


"Yah!" Riley terlihat kecewa.


"Ayo Abang traktir, Riley! Tembakan three point-mu tadi luar biasa!" Ajak Dikta sedikit menghibur Riley yang merengut.


"Traktir pizza, Bang!" Riley membuat permintaan.


"Boleh!"


"Ayo!" Ajak Dikta yang langsung menggandeng Riley dan Alicia menuju ke mobil.


"Ezra boleh mengajak Via pergi sebentar, Tante, Om?" Izin Ezra pada Mama Audrey dan Papa Kyle.


"Boleh, tapi jangan pulang malam-malam!" Pesan Papa Kyle.


"Siap, Om!"


Setelah berpamitan pada Mama Audrey dan Papa Kyle, Ezra akhirnya ikut pergi juga bersama Olivia naik motornya.


"Kita ikut makan pizza? Atau mau kencan berdua saja?" Goda Papa Kyle pada Mama Audrey.


"Genit!" Mama Audrey mencubit perut sang suami.


"Genit pada istri kan tidak dosa," papa Kyle mencari pembenaran.


"Baiklah, terserah kau saja! Kau biasanya punya kejutan mendadak." Mama Audrey sudah menggamit lengan papa Kyle sekarang.


"Hmmmm. Kau masih ahli merayu rupanya!" Papa Kyle mencolek gemas hidung mama Audrey, lalu pasangan paruh baya tersebut ikut pergi meninggalkan kawasan GOR yang sudah mulai sepi.


.


.


.


Audrey-Kyle pasangan hot pada jamannya 🤣🤣


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2