
"Sore!" Sapa Olivia pada Alicia dan Mama Audrey yang sedang berbincang di ruang tengah. Sepertinya tengah membahas sesuatu. Olivia sendiri baru pulang dari kantor setelah selama beberapa hari ini dirinya dilanda kebimbangan luar biasa. Olivia juga selalu menghindari bertemu dengan Yonas sekalipun pria itu berulang kali berusaha menemuinya ke kantor.
Olivia sedang tak ingin bertemu dengan pria maho bis*ksual itu!
"Duduk sini, Via! Kami sedang membahas desain undangan untuk pernikahanmu bersama Yonas," titah Mama Audrey yang langsung membuat Olivia terdiam.
Olivia memang belum memberitahu siapapun perihal hubungannya dengan Yonas yang sudah kacau tak tahu arah. Olivia masih mencari waktu serta alasan yang tepat untuk menyampaikan pada Mama Audrey dan Papa Kyle karena Olivia tentu saja harus memberikan alasan yang tak membuat kedua orang tuanya tersebut shock. Olivia juga masih harus menjaga perasaan Mom Karin yang sedang dalam masa pemulihan.
Olivia akhirnya duduk bersama Alicia dan Mama Audrey yang sedang membolak-balik buku yang berisi contoh desain undangan.
"Kak Via mungkin punya desain sendiri? Atau mau mengambil desain yang sudah ada saja?" Tanya Alicia yang terlihat begitu antusias.
"Terserah Mama saja," jawab Olivia tanpa semangat.
Olivia merasa harus menemui Yonas untuk membuat kesepakatan tentang alasan mereka mengakhiri hubungan. Meskipun sebenarnya Olivia enggan, tapi Olivia tetap harus menemui pria yang oernah Olivia cintai tersebut.
"Kenapa jadi terserah mama? Yang mau menikah kan kamu, Sayang!" Mama Audrey merangkul Olivia, lalu menangkup wajah putrinya tersebut.
"Kau terlihat lesu belakangan ini. Apa sedang ada masalah dengan Yonas?" Tanya Mama Audrey yang selalu saja peka dan bisa menebak suasana hati Olivia.
"Tidak, Ma! Kami baik-baik saja!" Jawab Olivia berdusta.
"Abang Yonas tidak kelihatan beberapa hari ini. Apa sedang ke luar kota, makanya kakak lesu karena rindu?" Goda Alicia yang hanya membuat Olivia mengulas senyum tipis. Padahal yang sebenarnya terjadi hati Olivia sedang tak karuan sekarang.
"Via ke kamar dulu, Ma!"pamit Olivia selanjutnya seraya beranjak dari duduknya.
"Kak Via belum memilih desain undangannya," Alicia mengingatkan.
"Nanti saja," jawab Olivia seraya berlari menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Olivia hanya ingin sendiri sekarang!
****
Olivia tiba di kantor Yonas setelah jam makan siang. Gadis itu sengaja tak menghubungi Yonas, karena Olivia juga sudah menghapus kontak Yonas dari ponselnya. Olivia hanya ingin menjauh sejauh-sejauhnya dari Yonas!
Lalu kenapa sekarang Olivia malah menemuinya?
"Selamat siang, Nona Via!" Sapa sekretaris Yonas yang sudah sangat hafal pada Olivia.
"Yonas ada di dalam?" Tanya Olivia to the point.
"Pak Yonas belum kembali dari makan siang bersama Klien, Nona!" Jelas sekretaris Yonas.
Olivia mengangguk.
"Aku akan menunggu di dalam saja," putus Olivia akhirnya. Kepala Olivia tiba-tiba sedikit pusing. Mungkin karena Olivia yang banyak pikiran dan tak berselera makan belakangan ini.
"Mau saya buatkan kopi atau minuman lain, Nona?" Tawar sekretaris Yonas.
"Tidak usah, terima kasih!" tolak Olivia seraya membuka pintu ruangan Yonas, lalu masuk ke dalamnya. Dulu Olivia memang sudah terbiasa keluar masuk ruangan Yonas karena mereka adalah pasangan kekasih. Namun hari ini rasanya sedikit canggung. Dan andai Olivia tak sakit kepala, Olivia tak akan masuk ke ruangan Yonas sekarang.
__ADS_1
Ck!
Olivia memilih untuk langsung masuk ke ruangan di balik rak buku yang biasa dipakai untuk sekedar istirahat atau berbaring. Gadis itu langsung merebahkan tubuhnya, lalu berbaring miring, sembari menatap pada jendela yang berbatasan langsung dengan tempat tidur dan menampakkan pemandangan kota metropolitan. Olivia berusaha memejamkan matanya agar rasa sakit dan berdentum di kepalanya sedikit hilang.
Namun baru beberapa saat Olivia terlelap, samar-samar Olivia mendengar percakapan dua pria dari balik rak buku.
"Lakukan lagi atau aku akan membuat mobil yang sedang ditumpangi Tuan dan Nyonya Arthur kecelakaan parah, lalu tebakar hebat!"
"Kau gila, Zack! Aku sedang di kantor!" Sergah Yonas penuh emosi.
"Oh, kau mau pasangan Arthur itu celaka berarti, hah?"
"Baiklah!" Zack sudah menekan tombol di ponselnya, dan Yonas segera mencegah dengan cepat.
"Zack jangan lakukan! Sudah kubilang untuk jangan menyakiti Olivia ataupun keluarganya!" Nada bicara Yonas terdengar antara frustasi dan memohon.
Olivia masih memasang baik-baik pendengarannya.
"Kau masih saja melindungi wanita menjijikkan itu-"
"Olivia bukan gadis yang menjijikkan! Kau itu yang menjijikkan!" Potong Yonas seraya menunjuk-nunjuk ke arah Zack. Tangan Yonas langsung cepat disentak oleh Zack yang balik menuding Yonas.
"Katakan itu pada dirimu juga!" Cibir Zack yang membuat Yonas semakin dipenuhi amarah.
"Lakukan sekarang!" Perintah Zack tegas seraya memaksa Yonas untuk berlutut di depannya.
"Kau sama saja! Dan Olivia sudah tahu semuanya."
"Sekarang gadis itu membencimu dan tak sudi lagi bersamamu!"
"Poor Yonas!" Ejek Zack seraya menekan kepala Yonas agar miliknya bisa masuk semakin dalam.
Olivia menutup rapat kedua telinganya, saat erangan Zack menggema ke seluruh ruangan Yonas. Pria itu ternyata monster yang sudah mengancam dan memperalat Yonas.
"Semakin cepat!" Zack terus memberikan aba-aba dan Yonas sedikit kewalahan hingga nafas pria itu tersengal-sengal. Yonas benar-benar benci pada dirinya sendiri yang selalu pasrah diperlakukan seperti ini oleh Zack.
Tapi Yonas juga tak mau hal buruk menimpa Olivia, Mom Karin, maupun keluarga Olivia.
"Arrrgh!" Zack mengerang puas dan Yonas buru-buru berlari ke dalam kamar mandi untuk muntah-muntah.
Yeah! Menjijikkan sekali.
"Yonas sayang! Ayo gantian!" Seru Zack yang wajahnya terlihat sumringah.
Brengsek!
"Tidak terima kasih! Aku pria normal!" Jawab Yonas kesal. Zack langsung tergelak mendengar kalimat Yonas barusan.
"Pria normal tak akan menikmati blowj*b bersama sesama pria! Jadi tak usah menyangkal, Yonas!" Tangan Zack sudah bergerilya untuk membuka sabuk celana Yonas.
__ADS_1
"Brengsek! Sudah kubilang aku tidak mau!" Sentak Yonas galak seraya mendorong Zack hingga pria itu terjengkang ke belakang.
Zack mengumpat berulang-ulang.
"Pergi kau dari sini!" Usir Yonas selanjutnya pada Zack terap dengan raut wajah marah.
"Baiklah tidak masalah! Masih ada adik kecil Olivia yang bisa aku ajak bersenang-senang hari ini." Tatapan mata Zack jelas sekali sedang mengejek dan menantang Yonas yang kini membelalakkan kedua matanya.
"Riley?" Gumam Yonas tak percaya. Sudah sejauh apa mrmangnya Zack menyelidiki semua anggota keluarga Olivia?
"Ah, iya! Riley!" Zack tertawa terbahak-bahak.
"Akan kujemput dia ke sekolah-" Zack baru saja berbalik saat Yoas sudah menerjangnya dengan cepat.
"Jangan mengganggu Riley dan jangan menyakitinya!" Yonas memperingatkan Zack dengan tegas, saat tangan Zack sudah menggenggam ponsel dan terlihat akan menghubungi seseorang.
"Anak buahku yang akan menjemput Riley jika kau tidak menuruti permintaanku!" Zack menatap penuh intimidasi pada Yonas.
"Kau menjijikkan!" Maki Yonas sekali lagi pada Zack yang kembali tertawa terbahak-bahak.
"Katakan terus! Karena kau juga sama saja!" Zack sudah membuka kancing celana Yonas,dan yang selanjutnya terjadi Yonas memilih untuk memejamkan kedua matanya, dan sekuat tenaga menahan bibirnya agar tak mengeluarkan erangan seperti Zack tadi.
Brengsek!
Keparat!
Baj*ngan!
Yonas tak berhenti memaki dalam hati dan terus merutuki kebodohannya karena tidak bisa melawab Zack!
"Tak perlu menahannya begitu, Sayangku! Lepaskan saja!"
"Kau juga menikmatinya, kan?"
"Tidak!" Sergah Yonas penuh amarah.
"Kau benar-benar monster, Zack! Kau menjijikkan!" Yonas tak berhenti mengumpat serta memaki Zack berulang-ulang, meskipun semua itu tak berpengaruh apapun pada Zack yang tetap menikmati apa yang sedang ia lakukan.
Menjijikkan!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1