Cinta Olivia

Cinta Olivia
AKU AJARI!


__ADS_3

Youbel masih berdiri di depan pintu kelas Olivia seraya memutar-mutar bola basket di tangannya.


"Ngapain, Capt?" Tanya Rumi yang baru keluar dari kelas bersama Ruby dan Ethan. Tiga remaja itu memang terbiasa pulang dan pergi sekolah bersama karena mereka bertetangga.


"Pasti mau ngapelin Via! Ciyee, ada yang mau jadian kayaknya," ledek Ruby sok tahu.


"Via! Dicariin Youbel!" Seru Ruby selanjutnya pada Olivia yang masih membereskan buku-bukunya.


Olivia memicingkan mata ke arah Youbel, sebelum kemudian gadis itu ganti mendelik pada Youbel yang sudah berjalan santai masuk ke dalam kelas masih sembari memainkan bola basket di tangannya.


"Mau apa?" Tanya Olivia galak pada Youbel yang kini sudah duduk di sebelahnya.


"Mengajari bu ketua OSIS yang galak ini cara bermain basket yang benar," jawab Youbel cengengesan.


"Ck!"


"Aku tidak mau!"


"Dan berhenti memanggilku Bu ketua! Aku bukan ibumu!" Sergah Olivia bersungut-sungut pada Youbel.


"Lalu aku harus memanggil apa? Olive?" Tanya Youbel seraya menaik turunkan alisnya ke arah Olivia yang langsung memutar bola matanya dengan malas.


"Via! Seperti yang lain!" Jawab Olivia tegas.


"Olive saja! Aku lebih suka memanggilmu Olive!" Sergah Youbel keras kepala.


"Via!"


"Aku tidak suka dipanggil Olive! Aku bukan pacarnya Popeye!" Sungut Olivia yang langsung membuat Youbel tertawa terbahak-bahak.


"Aku akan tetap memanggilmu Olive!" Youbel tetap keras kepala. Dan Olivia kembali memutar bola matanya.


"Terserah!"


"Aku mau pulang!" Olivia sudah menyampirkan tasnya ke pundak dan bangkit berdiri. Namun Youbel tak tinggal diam dan ikut berdiri juga lalu mengekori Olivia.


"Hey, Olive! Aku sudah bicara pada guru olahraga soal nilai penjaskesmu." Ucap Youbel yang langsung membuat Olivia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Youbel yang sedari tadi mengekorinya.


"Apa maksudmu?" Olivia menatap penuh selidik ke arah Youbel.


"Pak Guru aka memberikanmu satu kesempatan remidi untuk menperbaiki nilai penjaskesmu. Nanti kau akan ikut penilaian ulang dari mulai dribbling, passing, dan shooting!" Jelas Youbel panjang lebar.


"Setelah aku mengajarimu tentu saja!" Lanjut Youbel dengan nada sombong di akhir.


"Tidak, terima kasih!"


"Aku tidak tertarik!" Tolak Olivia tegas.


"Oh, ayolah!" Youbel tiba-tiba sudah berdiri di depan Olivia dan merengkuh kedua pundak Olivia, namun dengan cepat disentak oleh gadis itu.


"Jangan pegang-pegang!" Olivia memperingatkan dengan galak.


"Baiklah! Tapi kau harus setuju dengan ideku tadi!"


"Aku sudah berusaha membujuk guru olahraga agar kau diberi kesempatan!" Youbel bercerocos panjang lebar.


"Memangnya aku menyuruhmu? Sama sekali tidak!"


"Aku lebih suka dapat nilai enam di mata pelajaran penjaskes ketimbang harus berurusan dengan bola warna oranye bodoh ini!" Olivia menunjuk-nunjuk ke arah bola basket yang kini dijepit Youbel di bawah ketiaknya. Olivia terlihat kesal dan geregetan.


"Apa itu tidak akan terlihat jomplang dengan nilaimu di mata pelajaran lain?" Tanya Youbel yang langsung membuat Olivia terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Maksudku, nilaimu di mata pelajaran lain kan rata-rata sembilan. Masa iya penjaskesnya dapat enam." Youbel sedikit mencibir oada Olivia.


"Dasar sok tahu!" Gumam Olivia yang sudah bersedekap kesal.


"Tentu saja aku tahu! Olivia kan langganan juara satu di sekolah! Sebelum dikalahkan oleh si kutu buku Ethan karena nilai penjaskesnya jeblok," Youbel terkekeh seraya meledek Olivia


"Kalahkan balik si kutu buku, Olive!" Lanjut Youbel sok-sokan memberikan semangat untuk Olivia.


"Ck!"


"Aku tak butuh saran atau masukan darimu!"


"Lagipula, kalaupun aku ingin belajar main basket yang benar, aku lebih baik belajar pada Rumi!" Sergah Olivia seraya mendelik-delik pada Youbel.


"Rumi tak akan sesabar diriku saat mengajarimu!" Sahut Youbel sombong.


"Tadi saja saat memberikanmu arahan untuk shooting, wajahnya terlihat geregetan begitu," Lanjut Youbel lagi.


"Kalau aku kan tipe-tipe sabar dan mengajari sepenuh hati," pungkas Youbel yang kembali menyombongkan dirinya sendiri.


"Cih! Dasar narsis!" Cibir Olivia pada Youbel.


"Sudah, tidak usah jual mahal lagi!" Youbel tiba-tiba sudah meraih lengan Olivia dan sedikit menariknya agar mengikutiku langkah Youbel.


"Ayo ikut ke lapangan basket!" Ajak Youbel yang terus menarik tangan Olivia tanpa peduli pada Olivia yang berontak.


"Youbel, lepas!" Sentak Olivia galak. Namun bukannya melepaskan lengan Olivia, Youbel malah terus menarik Olivia menuju ke lapangan basket.


"Kamu apa-apaan, sih?" Marah Olivia setelah akhirnya Youbel melepaskan cekalan tangannya pada lengan Olivia.


"Aku mau mengajari kau main basket!" Jawab Youbel seraya membuka seragam putihnya. Pemuda itu memang mengenakan kaus di dalam seragam sekolah.


"Youbel!!!" Geram Olivia yang kembali berbalik, lalu mengambil bola basket yang tadi dilempar Youbel dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Youbel.


"Meleset!" Ledek Youbel yang ternyata bisa menghindar dengan cepat. Youbel berlari mengejar bola lalu kembali menghampiri Olivia.


"Ayo belajar dribbling dulu!" Ajak Youbel yang sudah berdiri di belakang Olivia, lalu kedua tangannya membimbing tangan Olivia agar tidak kaku.


"Rileks dan santai!" Youbel masih memegangi tangan Olivia dari arah belakang.


"Aku bisa jika hanya men-dribble!" Sergah Olivia tiba-tiba yang merasa risih dengan keberadaan Youbel di balik punggungnya. Mereka seperti orang yang sedang pacaran saja, lalu peluk-pelukan dan mesra-mesraan.


Olivia sudah menyingkir dari lingkaran tangan Youbel, lalu mengambil bola basket dan men-dribblenya sendiri. Gadis itu lanjut melakukan shooting, dan...


Meleset!


"Hahahahaha!" Youbel langsung tergelak melihat cara shooting Olivia yang begitu payah.


"Udah! Aku mau pulang!" Rengut Olivia yang hendak mengambil tasnya di pinggir lapangan. Namun dengan cepat tangan Olivia ditahan oleh Youbel.


"Aku ajari caranya shooting yang benar!" Youbel sudah berhenti tertawa dan entah mengapa pemuda itu malah memasang wajah sok manis sekarang.


"Nggak usah! Nanti ujung-ujungnya cuma kamu ketawain!" Sungut Olivia kesal.


"Enggak! Aku janji!" Youbel mengangkat tangan kanannya dan kedua jarinya membentuk huruf V.


"Suwer!" Ujar Youbel lagi.


Olivia masih merengut dan gadis iyu menghentakkan satu kakinya karena kesal.


"Ayolah, Olive! Akan sangat sayang kalau kau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan guru olahraga." Youbel masih berusaha membujuk Olivia.

__ADS_1


"Mau, ya!" Bujuk Youbel sekali lagi.


"Ck!" Olivia berdecak pada akhirnya dan tak jadi mengambil tasnya. Gadis itu akhirnya mengiyakan bujukan Youbel, lalu kembali ke tengah lapangan untuk mengambil bola basket.


"Caranya bagaimana?" Tanya Olivia seraya men-dribble beberapa kali bola di tangannya sebagai pemanasan.


"Ambil posisi dulu!" Youbel membimbing Olivia ke posisi yang pas untuk melakukan shooting.


"Coba sekali!" Titah Youbel dan Olivia langsung menembakkan bola ke ring basket.


Meleset!


"Sial!" Umpat Olivia kesal.


Youbel tertawa kecil, lalu mengambil bola basket yang tadi dilempar Olivia dan membawanya kembali pada Olivia.


"Fokus ke target!" Ucap Youbel seraya memberikan bola di tangannya pada Olivia.


"Yang mana targetnya? Ring basket, kan?" Tanya Olivia memastikan.


"Salah!" Jawab Youbel cepat.


"Kotak putih di atas ring itu yang benar," lanjut Youbel yang langsung membuat Olive mengernyit.


"Arahkan bola ke sana, dan nanti bola akan masuk ke dalam ring dengan sangat mudah," Youbel mengambil bola dari tangan Olivia, lalu menembakkannya ke arah ring, dan...


Langsung masuk!


"Ya! Kau memang ahlinya!" Olivia sedikit kesal sekarang.


"Kau juga pasti bisa, Olive!" Youbel kembali mengambil bola dan memberikannya pada Olivia.


Olivia menarik nafas panjang dan bersiap menembak, sesuai teori dan arahan dari Youbel.


"Ayo!" Youbel memberikan semangat.


"Tangan rileks dan jangan kaku agar bolamu tak memantul lagi," ujar Youbel yang langsung membuat Olivia kembali menarik nafas. Olivia me-rilekskan jari-jarinya, lalu menembakkan bola ke arah kotak putih di atas ring.


"Masuk!" Seru Youbel saat ternyata tembakan Olivia berhasil masuk ke ring.


"Yeeeaaaayy!" Olivia ikut bersorak dan tanpa sadar ketua OSIS itu sudah merangkul Youbel demi meluapkan kegembiraannya. Youbel yang seolah tak melewatkan kesempatan, balik memeluk Olivia sampai akhirnya Olivia tersadar dan langsung mendorong Youbel agar jauh-jauh darinya.


"Apaan, sih? Peluk-peluk segala!" Sungut Olivia mendelik pada Youbel yang cengengesan.


"Kau yang duluan memelukku tadi, aku kan hanya mengikuti arus," kilah Youbel yang tentu saja semakin membuat Olivia merengut.


"Lanjut belajar shooting-nya!" Youbel sudah ganti menyodorkan bola basket pada Olivia yang masih bersungut.


"Jangan peluk-peluk lagi!" Gertak Olivia memperingatkan.


"Enggak!" Sahut Youbel cepat namun tetap cengengesan. Olivia akhirnya lanjut belajar bermain basket bersama Youbel hingga hari beranjak sore.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2