
Olivia memeluk nisan Youbel cukup lama, lalu gadis itu mengusapnya sekali lagi sebelum bangkit berdiri.
"Aku pulang dulu. Bye!" Pamit Olivia pada makam Youbel sebelum kemudian gadis itu berlalu dan pergi. Dua orang berpakaian serba hitam mengikuti langkah Olivia dan sedikit menjaga jarak. Tapi mata mereka tetap awas menjaga Olivia dari bahaya apapun yang mungkin mengancam nona muda tersebut.
Olivia membuka pintu mobilnya dan tak langsung masuk. Gadis itu melemparkan tatapannya sejenak pada mobil hitam yang terparkir tak jauh dari mobilnya.
Yonas!
"Dia sudah disana sejak tadi?" Tanya Olivia pada salah satu pengawalnya yang juga sudah hafal akan keberadaan Yonas yang kerap mengikuti Olivia. Namun Yonas tak pernah sekalipun menghampiri atau menyapa Olivia. Pria itu hanya menatap Olivia dari kejauhan. Selalu, dan selalu begitu.
"Sejak kita baru tiba, Nona!" Lapor pengawal Olivia.
Olivia mengangguk.
"Langsung pulang saja!" Titah Olivia selanjutnya seraya masuk ke dalam mobil.
Olivia masih sempat melihat Yonas yang keluar dari mobilnya seraya membawa bunga dan berjalan masuk ke areal pemakaman, sesaat sebelum mobil Olivia melaju pergi. Mungkin pria itu juga sedang merindukan Youbel!
Sudah dua bulan berlalu sejak kejadian sore itu di rel kerta api di tengah ladang jagung namun hati Olivia masih saja bimbang.
"Setiap orang punya masa lalu entah itu baik entah itu buruk, dan tak seharusnya kita menghakimi mereka atas apa yang terjadi di masalalunya. Toh Yonas melakukan semua itu karena terpaksa, Via! Bukan atas kemauannya sendiri."
__ADS_1
"Yonas mencintaimu. Dia hanya mencintaimu. Kedua mata Yonas juga selalu berbinar setiap dia bercerita tentangmu."
"Tapi Tante juga tidak ada hak untuk memaksamu agar tetap menerima Yonas. Semua keputusan ada di tanganmu."
Kata-kata Mom Karin saat menjenguk Olivia di rumah sakit dua bulan yang lalu kembali berkelebat di benak Olivia. Bahkan hingga detik ini Olivia masih bingung dengan hatinya serta dengan perasaannya pada Yonas.
Yonas memang tak pernah lagi mendekati Olivia, tapi Olivia tahu betul kalau selama dua bulan ini Yonas intens mengawasi Olivia dari kejauhan seolah sedang menjaga Olivia.
Entah menjaga dalam hal apa Olivia juga tidak tahu. Karena selama ini sudah ada dua pengawal yang senantiasa menjaga Olivia kemanapun Olivia pergi.
Ya, sejak kejadian penculikan Olivia waktu itu, Papa Kyle memang tak pernah lagi membiarkan Olivia keluar dari rumah tanpa pengawalan dua bodyguardnya. Papa Kyle tentu tidak mau sang putri kembali menjadi korban penculikan.
"Sudah sampai, Nona!" Lapor sopir Olivia yang langsung membuat lamunan gadis itu menjadi buyar. Olivia menyeka butir bening di sudut matanya, lalu segera turun dari mobil. Lemparan bola basket dari Riley langsung menyambut Olivia dan tepat mendarat di kepala gadis itu.
"Ringnya disana! Kenapa melempar bola kemari?" Tanya Olivia pura-pura marah pada sang adik.
"Kan mau ngajakin Kak Via main!" Jaeab Riley seraya mengambil bola basket, lalu kembali melemparnya ke arah Olivia. Kali ini Olivia sigap menangkapnya.
"Mama dan Papa sudah pulang?" Tanya Olivia seraya men-dribble bola, mengabaikan dirinya yang masih mengenakan setelan blouse kerja dengan bawahan rok selutut. Olivia sedang ingin bermain basket agar semua beban berat yang menghimpit dadanya sedikit berkurang. Meskipun itu hanya sementara.
"Belum! Kenapa? Kakak udah kangen sama Mama? Dasar anak Mama!" Cibir Riley yang sedang berusaha merebut bola Olivia. Namun Olivia bergerak dengan cepat dan langsung bisa menembakkan bola ke dalam ring. Olivia tersenyum sombong ke arah Riley.
__ADS_1
"Kak Via curang!" Cetus Riley tak terima.
"Dimananya yang curang?" Sergah Olivia ikut-ikutan tak terima.
"Ya pokoknya curang! Riley nggak mau main lagi sama Kak Via!" Riley bersedekap, lalu bibirnya merengut dan bocah delapan tahun itu berlalu meninggalkan Olivia.
Dasar aneh!
Olivia kembali memainkan bola basket di tangannya dan beberapa kali melemparkan bola berwarna oranye tersebut masuk ke dalam ring. Olivia masih sempat melemparkan pandangannya sekilas ke arah jalan di depan rumah dan kembali mendapati mobil Yonas yang berhenti di sana dengan kaca jendela depan yang terbuka. Yonas tersenyum samar ke arah Olivia, lalu pria itu segera berlalu pergi seolah hanya ingin memastikan kalau Olivia sudah sampai di rumah dan baik-baik saja.
Aneh!
Olivia akhirnya meninggalkan halaman depan dan masuk ke rumah saat maid sudah menyambutnya di pintu depan.
"Nona, ada undangan yang tadi diantar oleh sekretaris anda," ujar maid seraya mengangsurkan sebuah undangan pada Olivia.
"Terima kasih!" Jawab Olivia setelah membaca sekilas undangan di tangannya. Olivia melanjutkan langkahnya menuju ke tangga lalu naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.