
"Aku serius dan tidak sedang bercanda!" Ujar Yonas dengan raut wajah serius yang mendadak langsung membuat Olivia tertawa aneh.
"Ada apa? Kenapa kau malah tertawa begitu?" Tanya Yonas heran.
"Kelakarmu lucu sekali, Yonas! Tapi maaf, aku belum berencana untuk menikah dalam waktu dekat," tukas Olivia yang masih berusaha meredam tawanya.
"Aku tidak sedang berkelakar, Olive!" Yonas masih memasang raut wajah serius. Namun tawa Olivia seketika langsung hilang dan raut wajah gadis utu berubah tak senang saat Yonas memanggilnya Olive. Hanya satu orang yang boleh memanggil Olivua dengan panggilan Olive! Dan itu bukan Yonas.
"Via! Panggil saja Via,dan jangan sekali-sekali memanggilku Olive!" Olivia memperingatkan Yonas dengan tegas.
"Kenapa?" Tanya Yonas penasaran.
"Karena aku tidak suka dipanggil Olive!" Jawab Olivia tegas.
"Tapi Youbel memanggilmu Olive dan kau sama sekali tak keberatan!" Yonas masih keras kepala.
"Itu sebuah pengecualian! Dan hanya Youbelyang boleh melakukannya!" Sergah Olivia sebelum gadis itu melangkah pergi dan meninggalkan Yonas dengan raut wajah kesal.
"Tapi Youbel adalah adikku. Apa pengecualian itu tak bisa berlaku juga untukku?" Tanya Yonas masih pantang menyerah seraya mengekori Olivia.
Olivia menghentikan langkahnya, lalu berbalik seraya bersedekap pada Yonas.
"Youbel adikku dan dia juga yang telah membuat aku mengenal seorang gadis bernama Olivia Abraham Arthur. " Yonas mengulangi pernyataannya sembari menyebut nama lengkap Olivia.
Olivia langsung mendelik penuh selidik pada Yonas.
"Tidak bisakah kau memberikan aku satu kesempatan, Via?" Tanya Yonas memohon.
"Kau mendekatiku hanya karena untuk memenuhi pesan terakhir Youbel! Lalu untuk apa aku memberikanmu kesempatan?" Sergah Olivia semakin kesal.
"Itu tidak benar! Aku tertarik padamu sejak pertama kali kita bertemu, bahkan sebelum Youbel menunjukkan foto dirimu dan memberitahu semua tentangmu," tutur Yonas berterus terang yang mendadak langsung mengingatkan Olivia pada sebuah kejadian di GOR basket.
"Heboh sekali. Ngefans sana jersey nomor tiga, ya?" Tanya pria berkemeja duduk di samping Olivia.
"Hehehe, kan tim sekolah, Bang!"
"Eh, Om," Olivia mengoreksi panggilannya dan sedikit salah tingkah.
"Yonas!" Gumam pria itu selanjutnya yang langsung membuat Olivia menganga bingung
"Hah? Apa?"
"Tidak ada! Lupakan saja!"
Olivia menatap lekat wajah Yonas sekali lagi.
"Kau, yang waktu itu menonton pertandingan basket?" Tanya Olivia memastikan yang malah membuat Yonas mengulas senyum tipis.
"Kau sudah ingat?"
__ADS_1
"Tapi kenapa waktu itu kau langsung pergi saat Youbel datang dan tak menyapanya?" Tanya Olivia penuh selidik.
"Kau sepertinya tidak akur dengan Youbel!" Sambung Olivia mulai berspekulasi.
"Tentu saja kami akur!" Kilah Yonas cepat.
"Kami hanya jarang bertemu karena aku sibuk," ujar Yonas lagi memberikan alasan.
"Lalu apa saja yang sudah diceritakan oleh Youbel tentang aku?" Suara Olivia sudah sedikit melunak dan gadis itu menuju ke salah satu kursi yang berada di dalam ballroom. Yonas menyusul Olivia seraya membawa minuman untuk mereka berdua.
"Apa saja?" Tanya Olivia sekali lagi.
"Banyak!" Yonas terlihat menerawang.
"Ada satu buku penuh dan semua tentang Olivia ada di sana," jelas Yonas.
"Satu buku penuh?" Olivia mengernyit bingung.
"Seperti sebuah buku harian tapi isinya semua tentang Olivia," jelas Yonas lagi.
"Youbel yang menulisnya?" Tanya Olivia ragu. Namun Yonas malah mengangguk yakin.
"Aku boleh melihat bukunya?" Tanya Olivia setelah gadis itu terdiam untuk beberapa saat.
"Aku tak membawanya sekarang. Tapi besok aku akan membawakannya ke kantormu," janji Yonas yang hanya membuat Olivia mengangguk.
"Bagaimana kau bisa tahu? Youbel juga menulisnya di buku?" Tanya Olivia penasaran sambil mulai menyendok cake vanilla di hadapannya. Yonas tak menjawab dan hanya mengulas senyum sembari menatap penuh ketertarikan bagaimana anggunnya Olivia saat menyantap cake di piringnya.
"Satu cake vanilla dan satu flat white seperti biasa!" Pesan Olivia pada seorang waitress yang menghampirinya.
Bukan sekali dua kali Olivia datang ke kafe ini melainkan hampir setiap hari setelah gadis itu pulang dari kampus. Olivia akan menikmati kopi serta cake vanilla-nya kadang sembari mengerjakan tugas kuliah.
"Sudah dibayar oleh pria yang duduk di sana," ujar waitress, saat Olivia meminta bill pembayaran. Olivia melihat ke arah yang ditunjuk oleh waitress tadi dan seorang pria yang wajahnya tak terlalu jelas karena mengenakan topi sudah bangkit dari duduknya, lalu berjalan cepat ke arah pintu kafe.
Itu bukan kali pertama, pria asing itu membayar pesanan Olivia, melainkan sudah yang kesekian kali. Pria itu seolah sedang memata-matai Olivia atau mungkin menguntit Olivia?
"Hei! Tunggu!" Olivia setengah berlari mengejar pria bertopi tadi, namun sayangnya langkah besar pria itu membuat Olivia tak mampu mengejarnya. Untuk kesekian kali, Olivia kehilangan jejaknya.
"Siapa pria itu?" Gumam Olivia yang benar-benar penasaran. Olivia kembali masuk ke dalam kafe untuk membereskan barang-barangnya lalu bergegas pergi sambil berjanji dalam hati untuk menyelidiki tentang pria asing bertopi tadi.
Namun setiap Olivia berniat untuk menyelidikinya, pria itu tak akan datang ke kafe keesokan harinya dan seolah lenyap ditelan bumi. Lalu setelah Olivia kembali lengah, pria itu akan tiba-tiba muncul lagi.
Aneh!
Mobil Olivia baru saja melaju meninggalkan kafe, saat seorang pria muncul dari balik halte bus dan mengulas senyum tipis ke arah mobil Olivia yang sudah berbaur bersama kuda besi lain membelah jalanan kota yang padat.
"Gadis yang manis," gumam pria itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, saat sebuah suara menyapanya dan membuat pria itu terkejut.
"Yonas! Kau sedang apa disini? Menjemputku pulang bekerja?" Sapa Zack yang langsung membuat senyuman Yonas lenyap.
__ADS_1
"Ya, kebetulan aku sedang lewat disini dan aku baru saja akan menyusulmu ke restorant," jawab Yonas dengan ekspresi wajah datar.
"Kau perhatian sekali!" Zack langsung tersenyum senang.
"Ayo kita belanja bahan makanan! Aku akan memasak istimewa untuk kita berdua malam ini!" Ajak Zack selanjutnya seraya mengendikkan dagunya ke arah supermarket di seberang jalan. Yonas hanya mengangguk dan mengikuti langkah Zack untuk menyeberang jalan.
****
Olivia menjentikkan jarinya di depan wajah Yonas yang sedari tadi tak berhenti menatapnya. Lamunan Yonas tentang dirinya yang selama empat tahun terakhir mengawasi Olivia dalam diam seketika menjadi buyar.
"Kau sedang menatap apa? Mau makan cake vanilla juga?" Tanya Olivia menatap heran pada Yonas.
Yonas langsung tertawa kecil dan hendak mengambil cake vanilla sisa milik Olivia. Namun Olivia mencegahnya dengan cepat.
"Minta sendiri sana pada pelayan!" Ujar Olivia ketus sebelum gadis itu menyantap potongan terakhir cake vanilla-nya.
"Aku lebih suka cake coklat ketimbang cake vanilla," ujar Yonas berterus terang.
"Minta saja yang coklat kalau begitu!" Jawab Olivia masih ketus. Olivia hendak mengambil tisu dari dalam tasnya, saat kemudian gadis itu sadar kalau sapu tangan Yonas tadi ia masukkan ke dalam tas secara tak sengaja. Tapi mengembalikannya sekarang rasanya juga kurang sopan, karena ada sisa make up Olivia di sapu tangan putih tersebut.
"Sapu tanganmu kotor. Besok saja aku kembalikan," ujar Olivia seraya kembali menyumpalkan sapu tangan Yonas ke dalam tasnya.
"Tidak usah! Aku masih punya banyak. Yang itu untukmu saja," jawab Yonas masih sambil tersenyum hangat pada Olivia. Sesaat Yonas dan Olivia saling diam.
"Ngomong-ngomong, kau tadi sepertinya datang bersama seorang pria. Dia asistenmu?" Tanya Olivia memecah kebisuan di antara dirinya dan Yonas.
Yonas benar-benar tak menyangka, jika Olivia tadi juga memperhatikan dirinya saat baru tiba di lokasi acara. Hati Yonas sesaat terasa menghangat. Ada apa ini?
"Iya, dia asistenku," jawab Yonas berdusta.
"Aku tak melihatnya lagi," gumam Olivia lagi seraya celingukan.
"Dia sudah pergi sejak yadi karena ada urusan," jelas Yonas yang langsung membuat Olivia membulatkan bibirnya.
Olivia dan Yonas melanjutkan obrolan mereka, sementara dari kejauhan, Mama Audrey dan Papa Kyle tersenyun lega melihat keakraban Yonas dan Olivia.
"Mereka sudah akrab," gumam Mama Audrey seraya menggenggam tangan sang suami.
"Ya! Semoga Yonas bisa membuat Olivia melupakan kesedihannya karena kehilangan Youbel. Sudah waktunya Olivia mendapatkan kebahagiaan," ujar Papa Kyle penuh harap yang langsung diaminkan oleh Mama Audrey.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1