Cinta Olivia

Cinta Olivia
KENAPA?


__ADS_3

"Papa dan Mama baru bisa pulang besok, Via! Kau bisa menggantikan kami malam ini, kan?"


"Begitu, ya?"


"Baiklah, Pa! Via yang akan pergi nanti." Jawab Olivia seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Olivia baru selesai berendam dan sedikit menyegarkan badan. Namun tetap saja, pikiran Olivia masih terasa kalut hingga detik ini. Semuanya karena satu pria bernama Yonas.


Olivia meraih kotak make upnya dan mulai memulaskan make up ke wajahnya. Acara malam ini adalah acara sebuah perusahaan yang menjadi partner keluarga Arthur sekaligus kekuarga Van Willer. Jadi besar kemungkinan Yonas juga akan datang nanti.


Di urusan bisnis, sebenarnya Keluarga Arthur dan Van Willer masih menjalin hubungan baik. Hanya saja, Papa Kyle dan Uncle Daniel yang kini mengambil alih semua yang berhubungan dengan keluarga Van Willer seolah papa kandung Olivia itu tak ingin Olivia bertemu Yonas lagi.


Padahal Yonas saja masih intens mengawasi Olivia dari kejauhan selama ini. Meskipun pria itu tak pernah menyapa Olivia ataupun sekedar berbasa-basi.


"Kakak mau kemana?" Tanya Riley penuh selidik saat Olivia hendak menuruni tangga. Olivia sudah memakai gaun pesta warna maroon dan siap pergi.


"Menghadiri acara perusahaan, menggantikan Mama dan Papa," jelas Olivia.


"Bersama Abang Yonas?" Tanya Riley berbisik-bisik. Kedua mata Olivia sontak melebar.


"Abang Yonas jarang ke rumah sekarang. Apa Kak Via marahan sama Abang Yonas?" Tanya Riley lagi sudah dengan nada bicara normal.


"Abang Yonas sedang sibuk,", jawab Olivia sekenanya. Olivia mendongakkan kepalanya dan sekuat tenaga menahan agar airmatanya tidak jatuh. Tak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Olivia juga rindi pada Yonas belakangan ini.


Tapi kadang bayangan tentang apa yang dilakukan Yonas di masa lalu masih saja menghantui mimpi Olivia dan membuat Olivia kembali marah pada pria itu.


"Minggu depan Riley ada pertandingan basket. Bisakah Kak Via menyampaikan pada Abang Yonas agar datang menonton?" Pinta Riley yang langsung membuat Olivia diam untuk beberapa saat.


"Please!" Riley memohon. Padahal Riley tak pernah seperti ini sebelumnya. Sepertinya Riley juga rindu pada Yonas.


"Nanti Kakak sampaikan," jawab Olivia akhirnya yang tak mau membuat sang adik kecewa.


"Yeay!" Sorak Riley senang. Bocah itu langsung kembali masuk ke kamarnya dan Olivia hanya geleng-geleng kepala.


Olivia lanjut turun ke lantai bawah saat gadis itu malah bertemu dengan Alicia yang sepertinya baru tiba bersama Dikta.


"Mama mana, Kak?" Tanya Alicia yang wajahnya terlihat pucat. Ngidamnya Alicia memang lumayan parah dan adik Olivia itu tak berhenti muntah-muntah sejak awal kehamilan.


"Mama belum pulang dan masih diluarvkota bersama papa. Kamu kenapa kesini? Kan bisa telepon dulu." Cecar Olivia seraya memijit tengkuk Alicia.


"Rindu pada mama katanya, Kak!"


"Pengen manja-manjaan sama mama," rengek Alicia seperti Riley.


"Iya trus bagaimana? Mama pulangnya masih besok pagi," Olivia hanya bisa mengendikkan bahu.


"Hoek!" Alicia langsung berlari ke kamar mandi lalu muntah-muntah. Dikta sigap menyusul sambil mengusap lembut punggung Alicia. Pemandangan yang sedikit membuat iri sebenarnya.


Entah kapan Olivia akan berada di posisi Alicia.


"Kak Via mau ada acara?" Tanya Dikta berbasa-basi pada Olivia yang kini berdiri di ambang pintu kamar mandi. Menyaksikan Dikta yang masih telaten mengusap punggung Alicia.


"Ya! Ada acara perusahaan dan aku harus menggantikan mama dan papa," terang Olivia.


"Cariin rujak, Dik!" Rengek Alicia pada Dikta.


"Jam segini? Mana ada yang jual?" Dikta garuk-garuk kepala.


"Iya aku mau makan rujak!" Alicia semakin merengek.


"Bikin saja! Suruh Dikta yang nguleg bumbunya," cetus Olivia memberikan ide.

__ADS_1


"Ada bahannya, Kak?" Tanya Dikta ragu.


"Ada kayaknya. Coba tanya pada maid."


"Yaudah, kamu bikinin! Aku tunggu!" Alicia ikut-ikutan memberi perintah pada Dikta.


"Iya, iya! Dasar manja!" Dikta mengacak gemas rambut Alicia dan lagi-lagi hati Olivia tetasa mencelos. Olivia menarik nafas panjang demi menguatkan hatinya.


"Aku pergi dulu! Sudah terlambat!" Pamit Olivia akhirnya pada adik dan adik iparnya yang bucin tersebut.


"Hati-hati, Kak! Dan semoga dapat calon suami nanti di sana!" Seloroh Alicia sedikit menggoda Olivia yang hanya menanggapi dengan senyum tipis.


"Bye!" Olivia melambaikan tangan sekilas lalu pergi ke arah pintu depan. Mobil dan dua bodyguard sudah menunggu Olivia di depan teras.


Setelah menyebutkan nama hotel tempat acara malam ini, mobil langsung melaju meninggalkan kediaman Arthur.


****


Olivia baru turun dari mobil, saat gadis itu sudah langsung melihat Yonas yang juga baru tiba. Yonas sedang membimbing Mom Karin untuk turun dari mobil.


"Pelan-pelan, Mom!" Titah Yonas lembut seraya memegangi lengan Mom Karin.


"Via!" Sapa Mom Karin yang langsung membuat Olivia mengulas senyum, lalu menghampiri wanita paruh baya tersebut.


"Lama tidak bertemu," ucap Mom Karin seraya memeluk erat Olivia.


"Tante sehat?" Tanya Olivia berbasa-basi.


"Ya, seperti yang kau lihat," jawab Mom Karin sumringah.


"Mama dan Papa kamu mana?" Tanya Mom Karin selanjutnya.


"Ayo masuk!" Ajak Mom Karin selanjutnya seraya merangkul Olivia. Dua wanita itu masuk bersamaan dan Yonas mengekori keduanya dari belakang sambil tak berhenti menatap pada punggung Olivia yang malam ini mengenakan gaun berwarna maroon. Olivia terlihat begitu anggun dan menawan.


Olivia dan Mom Karin menyapa beberapa tamu undangan yang datang malam ini. Sementara Yonas terap setia mengekor di belakang kedua wanita tersebut.


"Nyonya Van Willer, bisa bicara berdua saja?" Sapa seorang pria paruh baya yang sepertinya adalah rekan kerja Mom Karin.


"Tentu saja!" Jawab Mom Karin ramah.


"Mari, Pak!" Ajak Mom Karin selanjutnya setelah sedikit berpamitan pada Olivia dan Yonas.


"Mau minum?" Yonas berbasa-basi pada Olivia setelah kebisuan yang melingkupi keduanya.


"Ya " jawab Olivia singkat seraya mengambil minuman yang dibawa oleh seorang pelayan. Yonas ikut mengambil satu gelas, lalu keduanya berjalan ke salah satu kursi yang berada di sudut ruangan. Yonas dan Olivia duduk berseberangan, lalu menyesap minuman masing-masing.


"Kenapa kau selalu mengikutiku kemana-mana?" Tanya Olivia membuka obrolan.


"Aku sedang menjagamu. Seperti janjiku pada Youbel." Jawab Yonas datar.


"Lalu sampai kapan kau akan melakukannya?" Tanya Olivia lagi.


"Sampai aku berhenti bernafas dan tak bisa melakukannya lagi." Jawaban Yonas langsung membuat Olivia terdiam. Olivia menatap lekat pada pria di depannya tersebut. Wajahnya terlihat sendu seolah tak punya gairah hidup.


Tatapan mata Olivia turun dan berpindah ke benda berkilau yang tergantung di leher Yonas.


Itu adalah cincin yang pernah Yonas berikanlah pada Olivia, lalu Olivia kembalikan. Lalu kenapa sekarang Yonas memakainya sebagai bandul kalung?


Pria yang aneh!

__ADS_1


"Apa sudah tidak ada kesempatan untukku, Via?" Yonas bertanya lirih dan sorot matanya menyiratkan sebuah harapan.


"Kesempatan apa maksudmu?" Sergah Olivia sedikit meninggikan bada bicaranya. Olivia meneguk sisa minuman di gelasnya hingga tandas, lalu gadis itu meletakkan gelasnya dengan kasar ke atas meja.


"Carilah gadis lain, Yonas! Dan berhentilah menjagaku! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Youbel juga pasti akan mengerti," ucap Olivia seraya menghapus kasar butir bening di sudut matanya. Olivia tidak tahu kenapa ia malah menangis sekarang.


"Tidak ada gadis lain," jawab Yonas lirih.


"Pasti ada!" Sergah Olivia emosi.


"Apa kau sudah menemukan pria lain juga?" Yonas balik bertanya pada Olivia.


"Belum! Tapi aku pasti akan menemukannya!" Jawab Olivia seolah sedang meyakinkan diri dan hatinya.


Bagaimana akan ada pria lain jika hati Olivia masih saja memikirkan Yonas, Yonas, dan Yonas?


Yonas mengangguk.


"Semoga kau segera menemukannya kalau begitu."


"Kau akan berhenti mengikutiku kemana-mana jika aku sudah bersama pria lain, kan? Kau juga harus move on dan mencari gadis lain! Lalu menikah!" Sergah Olivia lagi tanpa menatap pada Yonas.


"Ya. Tapi aku akan tetap menjagamu sampai kapanpun, Via!" Ucap Yonas yang sepertinya bebal sekali.


"Terserah kau saja!" Olivia mulai kesal sekarang. Yonas tak menjawab sepatah katapun.


"Ngomong-ngomong, Riley mencarimu dan dia ingin aku menyampaikan kepadamu kalau minggu depan Riley ada pertandingan bersama tim basket sekolahnya." Olivia kembali buka suara dan memecah kebisuan.


"Kau bisa mengatakan pada Riley kalau aku akan datang nanti," ujar Yonas bersungguh-sungguh.


"Aku akan datang menonton pertandingan Riley," ulang Yonas sekali lagi.


"Boleh aku bertanya satu hal?" Olivia menatap serius pada Yonas.


"Ya!"


"Kenapa kau memakai cincin itu sebagai bandul kalung?" Olivia mengendikkan dagunya ke arah kalung Yonas.


"Karena aku tak mau membuangnya."


"Kau pasti punya alasan lain!" Sergah Olivia merasa tak puas dengan jawaban Yonas.


"Karena aku masih berharap aku bisa kembali menyematkan cincin ini di jarimu, Via!"


"Aku masih berharap kau akan memaafkanku lalu kembali ke pelukanku meskipun itu mustahil." Suara Yonas terdengar bergetar.


Olivia menatap ke dalam kedua netra Yonas yang kini berkaca-kaca, meskipun pria itu dengan cepat menghapus airmatanya.


"Maaf karena aku bermimpi terlalu tinggi. Kau pantas mendapatkan pria lain yang lebih baik, Via!" Pungkas Yonas seraya bangkit berdiri, lalu meninggalkan Olivia begitu saja. Ekor mata Olivia masih terus menatap ke arah Yonas yang sudah menghilang ke dalam toilet pria.


Olivia mengambil tisu dari dalan tasnya, lalu menyeka airmata yang juga menggenang di kedua sudut netranya. Haruskah Olivia kembali pada Yonas?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2