Cinta Olivia

Cinta Olivia
RENCANA


__ADS_3

Semua orang yang kini duduk di ruang tamu rumah Opa Satria mendadak diam setelah mendengar cerita Yonas tentang siapa Zack.


"Mustahil kasus ini akan diusut tuntas jika kita lapor polisi, karena Zack punya kenalan orang dalam yang aku rasa juga menjalin hubungan dengan Zack," tutur Yonas setelah bercerita panjang lebar.


"Aku jadi penasaran tentang orang dalam yang kau maksud itu," kedua telunjuk Haezel membentuk tanda kutip.


"Kau mungkin juga harus menyelidikinya, Haezel!" Celetuk Opa Satria memberikan saran pada sang cucu.


"Lalu bagaimana menghadapi gay bernama Zack itu, Opa? Mereka cenderung bermain kejam dan akan melakukan segala hal termasuk membunuh untuk mempertahankan pasangannya," tanya Haezel meminta pendapat dari Opa Satria.


"Kau benar."


"Mungkin kita perlu memanggil seseorang yang paham tentang kehidupan para gay." Opa Satria meraih ponselnya, lalu menelepon seseorang.


"Nick, apa kau sibuk?" Sapa Opa Satria to the point yang ternyata sedang menelepon Opa Nick.


Kenapa begitu?


"Tidak! Aku sedang bersantai di rumah. Ada apa?"


"Kau bisa ke rumah sekarang? Ada sedikit masalah yang butuh bantuanmu."


"Benarkah? Masalah apa? Kau benar-benar membuatku penasaran, Sat!"


"Datang saja kemari!" Titah Opa Satria pada Opa Nick.


"Aku segera ke sana!"


Telepon terputus dan Opa Satria kembali menyimpan ponselnya saat Oma Naya keluar membawa minuman serta camilan.


"Kenapa semua tegang? Apa sedang ada masalah?" Tanya Oma Naya seraya duduk di samping Haezel.


"Masalah yang sedikit rumit, Oma!" Jawab Haezel yang wajahnya selalu terlihat santai. Siapa mengira kalau cucu Opa Satria yang sedikit bandel, ini otaknya lumayan cerdik dan dia saat ini sedang magang sebagai seorang detektif.


"Jadi, hari H pernikahan kalian sudah ditentukan, Via? Tadi Oma pikir kau kesini mau mengantar undangan," Oma Naya tertawa kecil seraya menatap pada Olivia yang sedikit salah tingkah.


Olivia bahkan tak lagi memikirkan tentang pernikahannya bersama Yonas. Olivia sudah kehilangan harapan serta perasaan pada pria ini.


Entahlah!


Olivia bimbang!


"Mama yang mengurus semuanya, Oma!" Ujar Olivia tanpa semangat, menjawab pertanyaan Oma Naya tadi.


Tak berselang lama, Opa Nick sudah datang dan tumben pria tua itu datang sendiri tanpa diekori oleh Oma Bi. Benar-benar situasi yang langka!


"Selamat siang menjelang sore!" Sapa Opa Nick yang langsung masuk dan bergabung bersama yang lain.


"Yonas! Bagaimana keadaan Mommy kamu? Sudah membaik?" Opa Nick berbasa-basi pada Yonas yang hanya diam sejak tadi.


"Sudah baikan, Opa!" Jawab Yonas cepat.


"Jadi, ada masalah apa ini? Kenapa semuanya tegang?" Tanya Opa Nick selanjutnya menatap bergantian pada semua yang duduk di ruang tamu. Opa Satria langsung menceritakan garis besar dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh Yonas dan Olivia.


"Kau kan berpengalaman, Nick! Jadi kau mungkin paham cara tepat untuk melawan Zack," celetuk Opa Satria yang langsung berhadiah tinjuan dari Opa Nick.


Semoga dua opa itu tak saling baku hantam setelah ini!


"Tunggu? Apa maksudnya pengalaman? Opa Nick mantan gay juga?" Tanya Haezel penasaran.


Ya ya ya!


Bukan Haezel namanya kalau tak penasaran!


"Iya!"


"Bukan!"


Opa Nick dan Opa Satria menjawab berbarengan namun dengan jawaban yang berbeda. Opa Satria sontak tertawa terbahak-bahak dan Opa Nick langsung menggeram pada sahabatnya tersebut.


"Sialan! Apa maksudmu iya? Aku bukan gay!" Gerutu Opa Nick bersungut-sungut pada Opa Satria.


"Lalu kenapa waktu itu kau menjalin hubungan dengan asistenmu? Siapa namanya?" Opa Satria terlihat mengingat-ingat.


"Samgay!" Sahut Opa Nick ketus.

__ADS_1


"Nah itu!" Opa Satria masih saja tergelak sementara Opa Nick sudah berdecak berulang-ulang.


"Opa pernah punya hubungan dengan seorang gay juga?" Olivia bertanya penuh selidik pada Opa Nick.


"Ya! Tapi waktu itu seingatku, kau yang membantuku menyingkirkan Sam sialan itu! Jadi kenapa bukan kau saja yang membantu Olivia dan Yonas dan kenapa harus memanggil aku?" Cerocos Opa Nick panjang lebar seraya menunjuk pada Opa Satria.


"Aku tak mau masuk penjara untuk kedua kali!" Sergah Opa Satria cepat.


"Siapa yang pernah masuk penjara?" Tanya Oma Naya yang baru saja menyajikan kue serta teh untuk Opa Nick.


Opa Nick menahan tawa dan Opa Satria langsung salah tingkah.


"Bertahun-tahun aku membantumu menyembunyikan rahasia itu dari Naya, dan sekarang mulutmu yang membocorkannya sendiri," olok Opa Nick yang langsung berhadiah keplakan dari Opa Satria.


"Kau, Mas?" Oma Naya menatap tak percaya pada Opa Satria.


"Aku bisa menjelaskannya!" Opa Satria semakin salah tingkah menghadapi delikan mata Oma Naya.


"Aku hanya membantu Nick waktu itu!" Opa Satria kembali memberikan alasan.


"Aku tak mau ikut campur! Jangan membawa-bawa aku!" Sergah Opa Nick seraya tertawa terbahak-bahak.


"Kau harus menjelaskannya nanti!" Oma Naya menjewer telinga Opa Satria sebelum kemudian Oma Haezel itu kembali masuk ke dalam.


"Jadi, apa ada rencana yang sekiranya bisa menyelamatkan Yonas dari belenggu Zack?" Tanya Olivia kembali serius pada masalah awal. Opa Nick dan Opa Satria juga sudah berhenti bergurau dan wajah kedua pria tua itu sudah berubah serius.


"Menyingkirkannya," jawab Opa Satria singkat.


"Jangan bilang menyingkirkan dalam artian harfiah." Haezel menyahut dengan cepat dan merasa tak setuju.


"Cucumu calon detektif dan kau masih saja berpikiran jahat, Sat! Tidak bisakah kita memakai cara lain? Kau mau Haezel menjebloskanmu ke penjara?" Sergah Opa Nick sedikit emosi.


"Lalu mau dengan cara apa? Bukankah tadi katanya Zack Zack itu kebal hukum dan sia-sia saja jika membawa kasus ini ke kantor polisi?"


"Jadi singkirkan saja dan kasus selesai!" Beber Opa Satria berapi-api.


"Masih ada detektif jujur disini, Opa! Haezel akan menyelidiki dulu orang yang selama ini mem-back up Zack. Lalu setelahnya kita jebloskan keduanya ke penjara!" Haezel memaparkan ide dan rencananya.


"Kira-kira butuh waktu berapa lama?" Yonas menyela masih dengan raut putus asa.


"Apa sudah ketemu pelaku pemukulan terhadap Ethan," tanya Olivia khawatir.


"Orang yang sama yang melakukan pemukulan terhadap Rumi. Tapi kami masih harus mengumpulkan barang bukti sebelum mengungkap semuanya. Semoga nanti berjalan lancar," jawab Haezel penuh harap.


"Papamu sudah tahu masalah ini, Via?" Opa Nick bertanya serius pada Olivia yang langsung menggeleng.


"Lalu kalian jadi menikah?" Tanya Opa Nick lagi tetap dengan raut serius. Olivia tak langsung menjawab dan wajah gadis itu langsung menyiratkan sebuah kebimbangan.


"Aku rasa pertanyaanmu tidak tepat, Nick!" Opa Satria berbisik pada Opa Nick.


"Aku hanya memastikan! Karena kalau mereka jadi menikah, sebaiknya Yonas melakukan tes darah lengkap dulu!" Sergah Opa Nick seraya menatap tak senang pada Yonas.


"Aku tak mau Olivia ikut tertular penyakit menular *****al yang mungkin dibawa oleh Yonas." Lanjut Opa Nick lagi sedikit sinis.


"Sebaiknya fokus saja pada masalah Yonas, Opa!" Olivia menengahi dan enggan membahas tentang kelangsungan hubungannya bersama Yonas.


"Jadi, apa rencanamu Haezel?" Tanya Opa Satria pada sang cucu.


"Menyelidiki sekaligus mengumpulkan bukti," jawab Haezel.


"Tidak bisakah langsung menjebloskannya ke penjara?" Tanya Opa Satria merasa geram.


"Atas kasus?"


"Pengancaman terhadap Yonas, lalu perencanaan pembunuhan pada Mom nya Yonas." Opa Satria mengendikkan kedua bahunya.


"Harus ada bukti, Opa! Sedangkan di kasus Bu Karina Van Willer pelakunya sudah ditetapkan dan ditahan serta tak ada bukti campur tangan dari Zack. Polisi mana percaya jika kita hanya bermodal kata-kata?" Cerocos Haezel panjang lebar.


"Untuk kasus pengancaman Yonas?" Tanya Opa Satria lagi.


"Kau punya bukti perekaman saat Zack mengancam Yonas, Via?" Haezel malah ganti bertanya pada Olivia yang langsung mengetuk keningnya sendiri. Bagaimana Olivia bisa begitu bodoh dan tak kepikiran untuk merekam percakapan Yonas dan Zack di kantor tadi?


"Aku tidak kepikiran untuk merekamnya tadi," ungkap Olivia penuh sesal.


"Tidak apa-apa! Mungkin kau terlalu shock menyaksikan show time perbuatan tak senonoh," Haezel sedikit berkelakar meskipun tak ada yang tertawa.

__ADS_1


"Yonas tetap harus membuat laporan dan nanti aku akan membantu. Untuk bukti nanti kita bisa sedikit menjebak Zack dan aku juga akan membantu."


"Dan aku pastikan kalau Zack tidak akan bisa lolos kali ini. Pria itu akan mendekam di penjara!" Janji Haezel pada Olivia dan Yonas.


"Nanti kalau rencana Haezel gagal, ada Opa Satria yang siap turun tangan menyingkirkan Zack gay!" Seloroh Opa Nick yang langsung berhadiah tinjuan dari Opa Satria.


"Tidak masalah, asal kau juga siap membayar tebusan agar aku tak dipenjara," gumam Opa Satria menantang Opa Nick.


"Aku masih mau menimang cicitku," sambung Opa Satria lagi.


"Aileen sudah hamil, ya?" Tanya Olivia yang jarang bertemu dengan Aileen, kakak dari Haezel yang memang langsung ikut suaminya pindah keluar kota setelah menikah.


"Sudah hampir melahirkan malahan," jawab Haezel seraya tergelak.


"Waktu begitu cepat berlalu, Nick!" Gumam Opa Satria yang sudah merangkul Opa Nick. Padahal tadi dua pria tua itu masih saling tinju-tinjuan. Dasar opa-opa aneh!


Olivia hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Haezel. Alicia juga baru saja mengabarkan soal kehamilannya kemarin. Ruby juga mungkin akan menyusul sebentar lagi karena sahabat Olivia itu sudah menikah dengan Ethan. Sedangkan Olivia sampai sekarang bahkan masih bingung perihal siapa yang akan menjadi tambatan hatinya.


Atau mungkin seperti kata Ruby waktu itu kalau Olivia hanya akan jadi perawan tua seumur hidupnya?


"Nanti kau kabari saja soal rencana tadi. Aku pulang duluan karena ada janji dengan klien!" Tukas Olivia setelah gadis itu berbicara pada seorang klien di telepon Olivia masuk ke dalam dahulu untuk berpamitan pada Oma Naya. Tak berselang lama, gadis itu sudah kembali bersama Oma Naya.


"Saya juga pamit, Opa! Sekalian mau mengantar Via." Yonas ikut-ikutan berpamitan dan bangkit dari duduknya, lalu menyusul Olivia yang sudah terlebih dahulu keluar dari rumah Opa Satria.


"Aku antar!" Yonas meraih lengan Olivia namun dengan cepat disentak oleh gadis itu. Sepertinya Olivia masih illfeel pada Yonas, sekalipun gadis itu sudah mau bicara pada Yonas tadi.


"Maaf!" Gumam Yonas yang tak lagi berusaha untuk menyentuh Olivia.


"Supirku akan datang sebentar lagi. Aku sudah menghubunginya tadi." Tukas Olivia menolak tawaran Yonas. Tak berselang lama, mobil beserta supir Olivia sudah tiba.


"Aku duluan! Nanti Haezel akan menghubungimu perihal rencana tadi. Aku sudah memberikan kontakmu pada Haezel," ujar Olivia sebelum gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


"Ya!" Jawab Yonas lesu seraya menatap pada mobil Olivia yang sudah berlalu pergi. Yonas sempat melihat sekilas sopir Olivia yang tumben mengenakan topi dan memakai jaket. Dan entah mengapa sopir Olivia juga langsung tancap gas dari rumah Opa Satria.


Tunggu!


Tadi itu benar sopir Olivia, kan?


Tapi topi dan jaket itu...


Sial!


Yonas buru-buru mengambil ponselnya di dalam saku lalu menekan kontak Olivia.


"Halo, ada apa!" Jawab Olivia dari seberang telepon.


"Via-"


"Aduh!" Terdengar sedikit benturan dan Olivia yang mengaduh.


"Pak, kenapa berhenti mendadak?"


Yonas masih sempat mendengar kalimat protes Olivia pada sang sopir saat suara yang sedang tak ingin Yonas dengar malah terdengar dari ujung telepon


"Hai, Olivia!"


"Kau!"


"Ayo bersenang-senang, Cantik!"


"Zack! Jangan sakiti Olivia!" Yonas berteriak keras di telepon sebelum kemudian telepon terputus begitu saja.


Tidak!


Olivia!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2