
"Kalian siapa?" Tanya Rumi seraya menatap bergantian ke arah Olivia dan Youbel.
"Aku Youbel, teman sekolahmu dan kita sama-sama anggota tim basket sekolah," terang Youbel yang hanya membuat Rumi berekspresi datar.
"Maaf aku tak ingat!" Jawab Rumi lirih.
"Dan aku sudah tak main basket sekarang," sambung Rumi lagi.
"Ya! Aku juga sudah tak bermain basket," Youbel mengendikkan kedua bahunya.
"Kalau kau? Pacarnya?" Rumi ganti bertanya pada Olivia.
"Iya! Dia pacarku!" Bukan Olivia, melainkan Youbel lah yang menjawab pertanyaan Rumi.
"Aku juga tak ingat," ujar Rumi lagi.
"Aku kan sudah bilang!" Olivia berbisik-bisik pada Youbel, dan ekspresi wajah Rumi terlihat tak senang sekarang.
"Kalian bisa pergi sekarang! Terima kasih sudah menjengukku," ucap Rumi ketus, seraya memutar kursi rodanya dan kembali masuk ke dalam kamar. Rumi langsung membanting pintu kamar, tanpa peduli pada Youbel dan Olivia yang masih berdiri di depan kamar.
"Jadi, kalian sungguh berpacaran?" Tanya Ruby yang rupanya mendengar pengakuan Youbel pada Rumi tadi.
"Ya, sebenarnya aku ingin mengumumkan hal itu beberapa bulan lalu saat acara perpisahan," terang Youbel panjang lebar oada Ruby.
"Congrats!" Ruby hanya tersenyum tipis dan wajah gadis itu masih terlihat sendu. Olivia juga tak tahu Ruby kenapa. Mungkin masih ada hubungannya dengan Ethan yang sekarang entah dimana.
"Kami akan pulang sekarang, Ruby!" Pamit Olivia akhirnya pada Ruby yang hanya mengangguk. Ruby mengantar Olivia dan Youbel sampai ke teras kediaman Attala, dan melambaikan tangan ke arah mobil Youbel yang sudah melaju pergi.
****
"Kenapa kau berhenti bermain basket?" Tanya Olivia membuka obrolan setelah mobil Youbel melaju membelah jalanan kota. Olivia masih ingat pengakuannya pada Rumi tadi soal dirinya yang tak lagi bermain basket. Tentu saja Olivia kaget, karena dulu Youbel dan bola basket adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.
"Sudah bosan," jawab Youbel berdusta.
Yang sebenarnya terjadi, Youbel tak bisa lagi bermain basket karena keseimbangan tubuhnya menjadi kacau. Belum lagi tubuh Youbel yang jadi mudah lelah karena tumor sialan itu.
"Bisa bosan juga? Aku pikir dulu kau tak akan mungkin bosan bermain basket," Olivia terkekeh dan Youbel ikut terkekeh meskipun dalam harinya masih merasa tak rela berpisah dengan bola oranye tersebut. Youbel pernah bermimpi menjadi seirabg pemain basket profesional dan bisa bermain untuk sebuah klub basket. Tali sepertinya Youbel memang harus mengubur mimpinya tersebut dalam-dalam.
Sekarang impian Youbel hanya satu, sembuh dan lepas dari penyakit tumor sialan ini, lalu hidup bahagia bersama Olivia.
"Kita mau kemana?" Tanya Olivia selanjutnya.
__ADS_1
"Kau maunya jalan-jalan kemana? Ke mall? Nonton? Atau ke bandara melihat pesawat?" Youbel balik bertanya dan memberikan sejumlah pilihan pada Olivia.
"Ke bandara kota," jawab Olivia cepat yang tiba-tiba rundu pada moment indahnya bersama Youbel di bandara kota saat hari kelulusan beberapa bulan lalu.
"Oke, siap!" Youbel langsung melajukan mobilnya ke arah bandara kota, dan tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di tempat yang dulu mereka pakai nongkrong juga.
"Aku belikan semua," lapor Youbel yang sudah menghampiri Olivia yang kini berdiri di depan mobil, seraya bersandar pada kap depan.
"Jadi, tidak ada yang tahu Ethan dimana sekarang?" Tanya Youbel membuka obrolan, dan Olivia langsung menggeleng.
"Ethan tak mengatakan apapun," ujar Ruby lirih.
"Jika nanti aku kehilangan ingatanku juga seperti Rumi, apa kau tetap akan menerimaku dengan lapang dada?" Tanya Youbel tiba-tiba yang langsung membuat Olivia menoleh dan menatap tak mengerti pada pemuda di depannya tersebut.
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Aku hanya bearandai-andai." Youbel mengendikkan kedua bahunya. Meskipin tak bisa dipungkiri kalau saat ini ada sebuah ketakutan di dalam hati Youbel jika suatu saat Youbel harus kehilangan memory otaknya akibat tumor sialan yang bersarang di kepalanya.
Dokter memang sudah menjelaskan panjang lebar pada Youbel tentang hal-hal buruk yang mungkin akan dialami Youbel ke depannya.
"Hanya berandai-andai? Seharusnya kau berandai-andai hal yang positif dan bukan malah berandai-andai hal buruk seperti tadi!" Ujar Olivia panjang lebar menasehati Youbel.
"Ucapan adalah doa!" Sambung Olivia lagi yang kali ini membuat Youbel manggut-manggut.
****
Satu tahun kemudian,
Klunting!
Sendok di tangan Youbel tiba-tiba terlepas saat pemuda itu sedang menikmati makan malam bersama Mom Karin.
"Youbel, ada apa?" Tanya Mom Karin khawatir. Wanita paruh baya itu cepat-cepat menghampiri Youbel yang diam membeku.
"Tangan Youbel mati rasa, Mom," ucap Youbel lirih yang masih berusaha untuk menggerakkan tangannya sekuat tenaga. Namun tetap tak berhasil.
"Kita ke rumah sakit-"
"Tidak!" Sela Youbel menolak ajakan Mom Karin.
"Youbel sudah sembuh! Tumor sialan itu tak mungkin tumbuh lagi!" Raut wajah Youbel mulai terlihat ketakutan.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit dulu untuk memastikan, Youbel!" Tegas Mom Karin seraya berteriak pada maid agar membantunya membawa Youbel ke dalam mobil.
Namun saat baru tiba di teras rumah, Youbel mendadak kejang, hingga akhirnya pemuda itu pingsan dan tak sadarkan diri.
"Youbel!"
****
Pyaaaar!
Olivia tersentak kaget, saat mendadak gelas kaca di tangannya lolos dan terjatuh ke lantai, lalu pecah berkeping-keping.
"Via, hati-hati!" Tegur Mama Audrey yang buru-buru menyuruh Olivia untuk menyingkir, lalu memanggil maid agar membereskan semua kekacauan.
"Kau kenapa?" Tanya Mama Audrey pada Olivia yang terlihat gusar.
"Via nggak tahu, Ma! Perasaan Olivia mendadak tak enak." Olivia mengamb ponsel dari dalam saku dan langsung menghubungi Youbel. Tersambung, tali tak diangkat.
Apa Youbel sudah tidur?
"Menelepon siapa?" Tanya Mama Audrey lagi.
"Youbel, tapi tidak diangkat."
"Mungkin sudah tidur," gumam Olivia lirih seraya menyimpan kembali ponselnya.
"Sudah kangen lagi?" Goda Mama Audrey yang sepertinya sedang berusaha untuk menghibur Olivia.
"Enggak! Cuma mau memastikan saja," sanggah Olivia mencari alasan.
"Youbel pasti baik-baik saja, Via!" Ujar Mama Audrey menenangkan Olivia.
"Iya, Ma!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.