
Yonas membuka pintu kamar Youbel perlahan, lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar adik satu ayahnya tersebut. Baru beberapa saat yang lalu Youbel selesai dimakamkan dan Yonas masih sangat ingat pada gadis bergaun hitam yang tak berhenti terisak selama proses pemakaman Youbel.
Olivia!
Yonas mengambil foto Olivia yang berada di atas nakas di samping tempat tidur Youbel. Yonas menatap lekat wajah gadis di dalam foto tersebut, lalu mengusapnya sejenak.
"Gadis yang malang," gumam Yonas sebelum kembali meletakkan foto Olivia di tempatnya semula.
Yonas lanjut duduk di tepi tempat tidur Youbel, lalu mengambil kunci dari sakunya untuk membuka lemari kecil yang menyatu dengan nakas. Yonas juga tidak tahu, kenapa Youbel menitipkan kunci itu pada Mom Karin dan berpesan agar Mom Karin memberikannya pada Yonas.
Setelah memutar sekali kunci kecil tersebut, pintu lemari nakas terbuka. Ada sebuah buku yang sepertinya adalah buku harian.
Apa itu buku harian Youbel?
Yonas membuka halaman pertama buku tersebut. Langsung ada foto Olivia yang tersenyum lebar ke arah kamera. Sepertinya Youbel begitu memuja gadis bernama Olivia itu.
"Aku tak pernah menulis buku harian sebelum ini. Tapi setelah dokter mengatakan kalau tumor sialan itu kembali lagi dan tumbuh lebih ganas di kepalaku, aku merasa harus mulai menulis."
"Tapi aku tak akan menulis tentang diriku. Aku akan menulis tentang Olive... bu ketua OSIS galak yang bercita-cita menjadi pebisnis sukses. Benar-benar sosok wanita kuat seperti halnya Mom."
"Olive?" Yonas bergumam dan tersenyum kecil saat tahu panggilan kesayangan Youbel untuk Olivia.
Yonas membaca kata demi kata yang ditorehkan oleh Youbel di buku tersebut dan semuanya benar-benar berisi segala hal tentang Olivia. Tentang apa-apa yang disukai dan tidak disukai oleh Olivia, bahkan tentang tempat favorit yang kerap dikunjungi oleh Olivia dan Youbel. Semuanya Youbel tulis dan ceritakan dengan lengkap.
"Olivia Abraham Arthur." Yonas membaca nama lengkap Olivia di halaman paling akhir dari buku Youbel. Ada tanggal lahir Olivia juga yang tersemat di sana, dan Yonas segera membuka ponselnya untuk menandai hari ulang tahun Olivia di kalender serta pengingat.
Yonas mengembalikan buku Youbel tadi ke tempat semula, lalu menyimpan kuncinya di laci nakas. Pria itu melihat arloji di tangannya yang menunjukkan kalau hari sudah beranjak malam. Yonas keluar dari kamar Youbel dan langsung menuju ke dapur.
Baru saja Yonas menyiapkan makanan untuk Mom Karin, ponsel pria itu berdering dan nama Zack tertera di layar ponsel.
"Halo!"
"Kau dimana, Yonas? Aku pulang dan apartemen masih sepi."
"Aku baru selesai menghadiri pemakaman adikku. Mungkin aku pulang sedikit terlambat."
"Adikmu?"
"Yang tempo hari datang ke apartemen. Kau ingat, kan?"
"Oh, iya! Dia meninggal? Aku turut berduka."
"Terima kasih."
"Perlu aku susul agar kau merasa lebih baik?"
"Tidak usah! Nanti aku akan segera pulang."
__ADS_1
"Baiklah! Bye!"
"Bye!"
Yonas menyimpan kembali ponselnya, lalu keluar dari dapur seraya membawa nampan berisi makanan untuk Mom Karin. Wanita paruh baya tersebut sepertinya masih di kamar dan belum keluar sejak tadi pulang dari pemakaman Youbel.
"Mom!" Yonas mengetuk pintu pelan.
"Mom!" Panggil Yonas lagi, karena tak ada jawaban dari Mom Karin. Yonas membuka knop pintu kamat Mom Karin dan wanita paruh baya tersebut sedang duduk di sofa dan masih sesenggukan.
"Mom, Yonas membawakan makanan untuk Mom," ujar Yonas yang langsung membuat Mom Karin menoleh seraya menyeka airmatanya.
"Seharusnya kau tak perlu repot-repot, Yonas," jawab Mom Karin lirih. Suaranya terdengar serak, menandakan kalau Mom Karin belum berhenti menangis sejak tadi.
Ya, ibu mana yang tidak sedih saat putra kesayangan dan satu-satunya pergi untuk selamanya.
"Mom tetap harus jaga kesehatan dan tidak boleh terlambat makan," Yonas menyodorkan sepiring makanan pada Mom Karin.
"Apa Youbel yang memintamu melakukan semua ini?" Tanya Mom Karin tiba-tiba yang langsung membuat Yonas terdiam.
"Melakukan apa?" Yonas pura-pura tak paham.
"Memberikan perhatian untuk Mom."
"Ini memang sudah menjadi tanggung jawab Yonas, Mom!"
"Kau memang putra Mom, Yonas! Mom sedih saat dulu kau memutuskan untuk keluar dari rumah ini, lalu tinggal di apartemen."
"Mom selalu bertanya apa Mom sudah bersikap tak adil hingga kau memutuskan untuk pergi. Apa Mom sudah menyakiti hatimu," Mom Karin berucap dengan nada sendu, membuat ludah Yonas mendadak terasa pahit.
"Kau akan tinggal disini lagi menemani Mom, kan?" Tanya Mom Karin penuh harap seraya meraih lengan Yonas.
"Untuk sementara ini belum bisa, Mom!" Jawab Yonas yang langsung membuat raut wajah Mom Karin berubah kecewa.
"Tapi Yonas akan sering datang kemari untuk menengok Mom," janji Yonas selanjutnya.
Mom Karin hanya mengangguk samar.
"Baiklah, kalau memang itu adalah keputusanmu. Mom juga tidak mau memaksa," tukas Mom Karin pasrah.
"Mom makan dulu, ya! Lalu istirahat!" Yonas mengambil piring berisi makanan tadi, lalu mulai menyuapi Mom Karin.
"Kau sudah bertemu Pak Kyle, Yonas?" Pertanyaan dari Mom Karin menyentak lamunan Yonas yang masih berdiri di dekat jendela ruangannya. Yonas bahkan tidak menyadari kapan Mom Karin masuk ke ruangannya.
"Sudah, Mom! Tapi tadi Uncle Kyle sedang ada keperluan. Jadi putrinya yang menjelaskan semua pada Yonas," terang Yonas pada Mom Karin.
"Olivia?" Tanya Mom Karin memastikan.
__ADS_1
"Iya," jawab Yonas singkat.
"Itulah mengapa Mom tidak mau ke Arthur Company. Setiap kali melihat wajah sendu Olivia, Mom akan langsung ingat pada Youbel." Mom Karin menghela nafas dengan berat.
"Olivia bahkan belum terlihat move on meskipun ini sudah empat tahun berlalu," lanjut Mom Karin lagi yang sudah duduk di kursi kerja Yonas.
"Semuanya butuh waktu, Mom!" Ujar Yonas bijak.
"Ya, kau benar!"
"Semoga Via bisa secepatnya bertemu pria baik yang akan membuatnya move on dari Youbel," ucap Mom Karin penuh harap.
"Ngomong-ngomong, Mom jadi pergi berlibur, kan?" Yonas mengalihkan bahan pembicaraan.
"Kau pemaksa sekali!" Mom Karin sedikit berdecak.
"Yonas akan mengurus semuanya disini dan Mom nikmati saja liburan Mom!" Yonas sudah merengkuh kedua pundak Mom Karin.
"Sekalian bawakan oleh-oleh untuk Yonas!" Sambung Yonas lagi seraya tertawa kecil.
"Oleh-oleh apa? Seorang gadis? Mom belum pernah melihatmu menggandeng seorang gadis, Yonas. Apa kau belum punya pacar?" Tanya Mom Karin penuh selidik.
"Yonas belum memikirkannya, Mom," jawab Yonas sedikit tersipu.
"Jangan hanya sibuk dengan pekerjaan kalau begitu, dan mulailah memikirkan tentang seorang gadis yang kelak akan menjadi pendampingan hidupmu," nasehat Mom Karin pada sang anak tiri.
"Iya, Mom!" Jawab Yonas bersamaan dengan pintu ruangan yang diketuk dari luar.
"Masuk!" Titah Yonas cepat.
Sedetik kemudian, pintu ruangan sudah dibuka dari luar, dan seseorang yang masuk ke dalam ruangan Yonas benar-benar membuat Yonas kaget.
"Aku membawakan makan siangmu."
.
.
.
Cetak miring adalah flashback atau kejadian masa lampau. Oke, udah banyak yang paham.
Sengaja aku buat sepotong-sepotong flashbacknya dan nggak langsung sekalian biar alurnya nggak membosankan.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1