Cinta Olivia

Cinta Olivia
ANCAMAN


__ADS_3

"Mau kemana? Kau rapi dan wangi?" Zack menatap curiga pada Yonas yang sudah selesai bersiap untuk ke acara malam ini.


Sial!


"Ada acara perusahaan," jawab Yonas seraya membenarkan dasinya. Zack segera membantu dengan sigap.


"Dan kau tidak mengajakku?" Zack terlihat tidak senang.


"Zack, kau sudah berjanji untuk tak meng-ekspose tentang hubungan kita. Aku juga tak pernah berkhianat di belakangmu! Aku sering ada acara belakangan ini karena posisiku di perusahaan Van Willer!" Yonas mencoba memberikan pengertian pada Zack yang kian hari kian posesif. Yonas benar-benar tak nyaman sekarang dan sedikit menyesal karena dulu memutuskan untuk tinggal bersama pria maho ini.


Oh, apa bedanya Zack dan Yonas memang?


"Siapa yang mau meng-ekspose tentang hubungan kita, Yonas Sayang!" Zack mengusap wajah Yonas dan melemparkan tatapan nakalnya.


Brengsek!


"Sejak dulu kita sering menghadiri acara dan semua orang mengira kita adalah teman!"


"Ya, kita teman di hadapan publik!" Zack mengingatkan Yonas yang kini hanya berdecak


Dasar pria maho sialan!


"Aku akan ganti baju dan pergi bersamamu! Jadi jangan coba-coba untuk meninggalkan aku sendirian di apartemen!" Zack sudah menghilang ke arah kamar untuk berganti baju. Semebtara Yonas hanya mampu membuang nafas kasar dan sedikit mengendurkan dasinya yang mendadak terasa mencekik.


Zack selalu mengekang dan mengatur hidup Yonas!


Atau mungkin Yonas saja yang terlalu payah sebagai seorang pria?


"Ambil!" Perintah seorang siswa yang dikenal sebagai siswa paling ditakuti di sekolah pada Yonas yang hanya diam mematung.


"Ambil, Bodoh!" Siswa itu mendorong Yonas hingga jatuh tersungkur.


"Jangan mengganggunya!" Gertak seorang siswa yang tiba-tiba datang untuk membela Yonas.


"Jangan sok jadi jagoan, Zack!"


Siswa bernama Zack yang membela Yonas tersebut sontak menjadi bulan-bulanan para siswa. Namun sepertinya Zack tidak takut dan tetap berusaha melawan, meskipun ia hanya sendiri.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Zack yang sudah menghampiri Yonas yang duduk meringkuk di sudut tembok.


"Kenapa kau selalu menolongku dan rela dipukuli oleh mereka semua demi membelaku?" Tanya Yonas bingung.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menjadi temanmu!" Zack mengulurkan tangannya ke arah Yonas. Dua siswa laki-laki itu akhirnya berjabat tangan dan saling mengulas senyum.


"Kau harus berani melawan mulai sekarang jika mereka menindasmu, Yonas!" Nasehat Zack seraya merangkul Yonas


"Tapi aku tak tahu caranya berkelahi."


"Nanti aku kenalkan pada seseorang yang bisa mengajarimu cara berkelahi!" Janji Zack pada Yonas yang langsung tersenyum seraya mengangguk.


****


"Yonas!" Panggil Zack pada Yonas yang hendak pergi menghindar. Namun Zack sudah mencekal tangan Yonas dengan cepat.


"Aku tidak mau lagi berlatih bersama bos besarmu itu!" Sergah Yonas berusaha berontak dan melepaskan lengannya dari cekalan Zack.


Perlakuan yang Yonas terima selama berlatih bersama seorang pria yang dipanggil Bos besar oleh Zack itu benar-benar tidak bisa diterima akal sehat. Yonas merasa dilecehkan karena miliknya yang beberapa kali dipegang oleh pria mesum itu serta perlakuan lain yamg membuat Yonas merasa tidak nyaman.


"Kau pikir, kau bisa kabur begitu saja? Bos besar sudah sangat menyukaimu!" Ucap Zack dengan seringai liciknya. Yonas benar-benar tak menyangka, kalau Zack yang masih seusia dengan Yonas pikirannya sudah begitu jahat.


"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" Aku akan melaporkanmu ke Mom!" Ancam Yonas pada Zack.


"Aku akan mengambil adikmu kalau begitu!" Ancam Zack yang langsung membuat Yonas diam mematung.


"Adik?"


"Jangan coba-coba mengganggu adikku!" Yonas mendorong Zack dengan keras hingga tubuh pemuda itu terhuyung, lalu jatuh dan kepalanya membentur trotoar jalan. Darah segar langsung mengalir dari kepala Zack.


"Tidak!"


"Yonas! Apa yang sudah kau lakukan!" Teriak seorang pria yang sepertinya melihat semua yang baru saja terjadi diantara Yonas dan Zack.


"Bukan salahku! Ini bukan salahku!" Elak Yonas berusaha membela diri.


"Kau membunuh Zack!"


"Tidak! Zack masih hidup!"


"Zack pasti masih hidup!" Yonas sudah bersimpuh dan mengguncang tubuh Zack.


"Bangun, Zack!"


"Bangun!"

__ADS_1


"Aku sudah siap! Bagaimana penampilanku?" Suara serta pertanyaan yang dilontarkan oleh Zack langsung membuat semua lamunan Yonas menjadi buyar.


Yonas menatap datar ke arah pria yang sudah menyeretnya ke dalam lingkaran setan tersebut.


Zack!


Setelah kepala Zack terbentur trotoar hari itu, pria ini memang kehilangan beberapa ingatannya, termasuk tentang Yonas yang punya seorang adik tiri. Namun Yonas tidak tahu kenapa Zack tak lupa pada orientasi s*ksnya yang menjijikkan itu.


Yonas juga tidak tahu apa saja yang sudah dikatakan Bos besar pada Zack. Yang jelas, kelompok mereka tak berhenti mengancam Yonas. Ancaman untuk menghancurkan nama baik Van Willer yang pastinya akan membuat Mom Karin terpukul dan sedih.


Tidak!


Yonas tidak mau hal itu terjadi!


Yonas yang merasa terpojok dan ketakutan akhirnya memutuskan untuk keluar saja dari rumah Mom Karin dan seolah membenci Mom tirinya tersebut agar bos besar tak lagi mengganggu Mom Karin maupun Youbel.


Bertahun-tahun Yonas hanya bisa pasrah menghadapi semua ini karena kelompok mereka seolah tahu kelemahan Yonas. Sampai akhirnya bos besar yang tiba-tiba hilang tanpa jejak, membuat kelompok itu sedikit tercerai berai dan Yonas seolah menemukan celah untuk keluar dari lingkaran setan ini.


Tapi Zack ternyata sama kejamnya dengan Bos besar dan pria itu juga sangat posesif pada Yonas. Melepaskan diri dari Zack tanpa membahayakan nyawa orang-orang di sekitarnya sepertinya bukan hal yang mudah. Yonas harus bermain aman dan memastikan keselamatan Mom Karin dari Zack yang diam-diam menghanyutkan.


"Yonas! Kau melamun?" Zack menjentikkan jarinya di depan wajah Yonas, dan pria itu kembali tersentak kaget.


"Maaf! Kau tadi bilang apa?" Tanya Yonas tergagap.


"Kau sedang memikirkan apa, Kekasih?" Zack tergelak dan kembali merapikan dasi Yonas yang tadi sempat dikendurkan oleh Yonas sendiri karena frustasi.


"Tidak sedang memikirkan apa-apa," jawab Yonas cepat.


"Ayo pergi kalau begitu!" Zack menepuk punggung Yonas, lalu berjalan mendahului pria tersebut. Yonas terpaksa mengikuti langkah Zack meskipun hatinya tak berhenti menggerutu.


"Acaranya di hotel? Nanti kita lanjut check in saja dan menghabiskan malam berdua," usul Zack setelah dua pria itu keluar dari apartemen dan berjalan ke arah lift. Yonas tak menanggapi usulan Zack, dan pria itu mendadak merasa jijik pada dirinya sendiri.


Yeah! Kau memang menjijikkan, Yonas!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2