
Olivia tak berhenti memainkan liontin kalung yang kini ia kenakan seraya pandangannya menatap lurus ke depan. Gadis itu masih tak percaya kalau malam ini dirinya dan Youbel baru saja....
Jadian!
Olivia dan Youbel?
Pacaran?
Sepertinya ini sebuah lelucon!
"Jadi pacar aku mau, ya!" Bujuk Youbel yang masih merangkul erat pundak Olivia.
"Kenapa?" Olivia tidak tahu kenapa bukan kata tidak yang keluar dari bibirnya melainkan malah pertanyaan kenapa.
Iya, kenapa Youbel mendadak meminta Olivia menjadi pacarnya?
Apa Youbel sedang ikut taruhan atau suatu tantangan berhadiah?
"Kenapa apanya?' Youbel balik bertanya bingung.
"Kenapa mendadak kau minta aku jadi pacarmu? Selama ini kan kau itu hobi sekali bikin aku kesal dan marah-marah!" Sergah Olivia berusaha menyentak rangkulan Youbel. Namun sepertinya pemuda itu begitu ketas kepala dan tak mau melepaskan rangkulannya.
Baiklah! Terserah!
"Ya, karena sudah lama aku tertarik sama kamu dan menyukaimu!" Jawab Youbel blak-blakan. Namun Olivia malah mengerutkan kedua alisnya sekarang karena bingung.
"Menyukaiku? Apa ini sebuah lelucon?" Cecar Olivia menatap heran pada Youbel.
"Aku sungguh-sungguh menyukaimu, Olive!" Jawab Youbel bersungguh-sungguh.
"Kau sedang ikut taruhan atau mengikuti tantangan berhadiah?" Tuduh Olivia yang langsung membuat Youbel melongo.
"Untuk apa? Uang jajan dari Mom saja sudah sisa-sisa setiap bulan hingga aku bisa mengoleksi mobil di depan itu," jawab Youbel pamer.
"Untuk kesenangan!" Olivia kekeh menuduh.
"Ck! Aku bukan pria semacam itu! Aku tak akan pernah menjadikan seorang wanita sebagai bahan taruhan!"
"Itu jelas-jelas merendahkan harga diri seorang wanita! Aku juga lahir dari rahim seorang wanita, jadi aku akan selalu menghormati kaum wanita," jawab Youbel panjang lebar yang benar-benar diluar dugaan Olivia.
Olivia sungguh tak menyangka jika pemuda urakan sejenis Youbel ternyata begitu menghormati kaum hawa. Sebenarnya kalau melihat dari sikap Youbel pada Mom Karin juga sudah terlihat.
"Lalu kenapa kau suka membuatku kesal kalau memang kau menyukaiku?" Tanya Olivia menuntut jawaban.
"Karena kau akan memperhatikan aku, jika aku membuatmu kesal. Kau akan marah-marah dan menceramahiku, mengomeliku."
"Aku menyukainya," terang Youbel yang sebenarnya terdengar aneh bagi Olivia.
Dimana-mana, orang kalau menyukai seseorang, biasanya kan memberi kejutan, hadiah, membuat tersenyum. Lha ini kenapa malah membuat kesal dan naik darah?
Dasar aneh!
"Kau satu-satunya gadis yang menuliskan namaku di buku catatan sejak halaman pertama hingga halaman terakhir," ujar Youbel lagi.
"Itu karena aku mau membuat laporan pada guru BK!" Tegas Olivia meluruskan prasangka Youbel.
__ADS_1
"Ya, tapi kau seharusnya tak perlu terus menerus menulis namaku dan cukup mengingat Youbel Van Willer. Kecuali kau memang nge-fans kepadaku," sergah Youbel penuh percaya diri.
"Cih! Geer!" Decik Olivia sinis.
"Tapi terima kasih atas segala bentuk perhatianmu, Olive!" Youbel tiba-tiba sudah meraih tangan Olivia lalu mengecupnya dengan mesra, membuat wajah Olivia memanas seketika.
Ya ampun!
Jangan bilang kalau pipi Olivia sedang bersemu merah sekarang karena sikap Youbel ini.
"Dan aku mau mulai detik ini kita menjadi sepasang kekasih," lanjut Youbel lagi.
"Tidak!" Jawab Olivia tegas.
"Tidak keberatan? Atau tidak menolak?" Tanya Youbel menyebalkan.
"Bukan itu!" Sergah Olivia mulai kesal.
"Iya, lalu?" Youbel menunjukkan raut wajah yang semakin menyebalkan.
"Kenapa aku harus menjadj pacarmu?" Tanya Olivia akhirnya mengulangi pertanyaannya di awal tadi.
"Seperti yang aku bilang tadi, kalau aku itu naksir berat ke kamu, aku menyukaimu sejak--"
"Sejak kapan?" Potong Olivia cepat.
"Sejak kau dilantik jadi ketua OSIS dan gemar melakukan sidak aku rasa." Youbel terkekeh sebelum melanjutkan kalimatnya,
"Karena sebelum kau jadi ketua OSIS, aku tak pernah tahu kalau ada siswi cantik bernama Olivua Arthur di sekolah."
Ya ampun!
"Kita pacaran mulai malam ini, menit ini, dan detik ini, kan?"
"Aku punya hadiah untukmu!" Youbel tiba-tiba sudah mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang terlihat begitu manis.
"Kau pacarku sekarang, Olive!" Bisik Youbel seraya memakaikan kalung tadi ke leher Olivia.
"Tapi aku belum mengatakan iya!" Sergah Olivia yang langsung berusaha mengelak dan hendak melepaskan kalung yang dipakaikan Youbel tadi.
"Kau baru saja mengatakannya!" Youbel mencegah tangan Olivia dengan cepat.
"Kapan?" Tanya Olivia bingung.
"Tadi, baru saja, beberapa detik yang lalu."
"Mustahil! Aku tidak mau kalungmu!"
"Kalau kau lepas kita pacaran dan aku akan mengumumkan pada satu sekolah besok!" Ancam Youbel yang langsung membuat kedua bola mata Olivia membulat sempurna.
"Jangan coba-coba!" Olivia menuding galak ke arah Youbel.
"Yaudah! Pakai kalungnya!" Perintah Youbel tegas.
"Tapi kita tidak pacaran, kan? Aku belum mengatakan iya pada tembakanmu tadi," sergah Olivia memastikan.
__ADS_1
"Kau baru saja mengatakan iya." Youbel tertawa kecil seolah sedang meledek Olivia.
"Kapan? Aku tak mengatakannya!" Olivia merasa semakin bingung.
"Tadi baru saja. Sudah dua kali malahan." Youbel masih saja terkekeh.
"Jangan mengarang, ih!" Olivia yang kesal langsung memukul punggung Youbel.
"Pokoknya kita pacaran!" Youbel tiba-tiba sudah mencekal kedua tangan Olivia dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Olivia.
"Mau apa?" Gertak Olivia galak.
"Kita pacaran," bisik Youbel yang sesaat langsung membuat wajah Olivia kembali memerah dan gadis itu kini mematung diam.
"Kenapa? Mau aku cium sebagai tanda kita jadian?" Goda Youbel usil yang langsung membuat Olivia merengut.
"Jangan coba-coba!" Gertak Olivia galak.
"Dan jangan bilang ke siapa-siapa perihal kita baru saja jadian!" Sambung Olivia lagi berpesan pada Youbel.
"Siap laksanakan! Kita pacaran!" Kawab Youbel yang terlihat girang sekali dengan status barunya sebagai pacar Olivia.
Ya ampun!
Apa Olivia sudah salah mengambil keputusan sekarang?
"Via, kita sudah sampai!" Teguran Papa Kyle langsung memhuat semua lamunan Olivia menjadi buyar. Olivia menatap linglung ke kaca depan mobil yang sydah terparkir di garasi rumah.
"Melamun apa, sih? Sejak tadi Papa ajak ngomong diam saja," kejeh Papa Kyle seraya membuka mobil.
"Siapa yang melamun?" Kilah Olivia seraya merengut. Gadis itu membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil.
"Kalung kamu bagus! Dapat dari Youbel?" Tanya Papa Kyle sedikit menggoda sang putri.
"Eng--"
"Nggak!" Jawab Olivia tergagap.
"Dari Tante Karin tadi," lanjut Olivia berdusta.
"Calon mama mertua? Tadi beberapa kali nanya ke papa, Olivia udah punya pacar belum." papa Kyle kembali terkekeh.
"Via mau fokus sekolah dan kuliah dulu, Pa!" Sergah Olivia menatap tegas pada Papa Kyle.
"Iya! Papa kan hanya memberitahu," papa Kyle merangkulkan lengannya ke pundak Olivia lalu papa dan putrinya itu melangkah beriringan dan masuk ke kediaman Arthur.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1