Cinta Olivia

Cinta Olivia
KEPO


__ADS_3

Olivia melempar sekali lagi bola basket ke dalam ring dengan sejuta perasaan kesal, dan lagi-lagi bola tidak berhasil masuk ke dalam ring.


Langsung terdengar decakan dari teman-teman sekelas Olivia terutama Ruby, Rumi, dan Ethan.


"Lempar saja seperti ini, Via!" Rumi akhirnya melangkah maju untuk mengajari Olivia yang tak kunjung bisa memasukkan bola ke dalam ring meskipun gadis itu sudah mencoba belasan kali.


"Coba sekali lagi, Via! Yang lain masuk tiga sampai empat kali, dan hanya kau yang masih nol!" Guru Olahraga yang hari ini memberikan penilaian turut memberikan arahan.


Olivia berdecak kesal dan memberikan bola basket warna oranye itu secara kasar pada Rumi.


"Saya tidak bisa, Pak! Saya menyerah!" Ucap Olivia tegas pada guru Olahraganya hari ini.


"Kau masih punya kesempatan, Via! Sayang sekali jika nilaimu dapat enam. Yang sebelum-sebelumnya juga dapat enam."


"Ya sudah, berikan saja nilai enam, Pak! Saya tidak bisa menembak, shooting, apalah!" Wajah Olivia terlihat kesal. Satu-satunya pelajaran yang Olivia benci adalah penjaskes.


Terutama basket, karena si bola oranye itu langsung bisa mengingatkan Olivia pada Dikta dan pada Youbel menyebalkan!


"Coba sekali lagi!" Perintah guru olahraga tegas.


"Pak-"


"Tidak ada alasan!"


"Rumi!" Guru olahraga memberikan lode pada Rumi agar kembali memberikan bola basket di tangannya pada Olivia. Rumi menepuk punggung sahabatnya tersebut dan Olivia mau tak mau kembali ambil posisi untuk menembak.


"Semangat, Via!" Seru Ruby memberikan semangat untuk Olivia.


Olivia menghela nafas panjang, lalu menembakkan sekali lagi bola menyebalkan itu ke arah ring. Bola tak masuk ke ring, melainkan malah memantul dan kembali ke arah Olivia, lalu mengenai kepala gadis itu, hingga Olivia jatuh terduduk.


"Via!" Pekik Ruby yang buru-buru membantu Olivia untuk bangun kembali.


"Hahahahaha! Shooting kok macam begitu!" Terdengar gelak tawa Youbel dari pinggir lapangan yang langsunh membuat semua siswa menoleh ke arah pemuda yang beda kelas dengan Olivia tersebut.


Entah apa yang sedang dilakukan Youbel di pinggir lapangan basket.


"Youbel! Kau sedang apa di luar kelas? Kenapa tidak ikut pelajaran?" Tegur guru olahraga pada kapten tim basket SMAN 5 tersebut.


"Ini baru mau ke kelas, Pak! Nonton ketua OSIS main basket sebentar boleh, dong!" Jawab Youbel seraya cengengesan seperti biasa.


"Ke kelas sana!" Usir guru olahraga selanjutnya.


"Iya, sana ke kelas! Dasar bandel!" Olivia ikut-ikutan mengusir Youbel.

__ADS_1


"Shooting itu begini, Bu Ketua!" Youbel sok-sokan mengajari Olivia cara shooting yang benar


"Bukan begini!" Youbel ganti mempraktekkan cara shooting Olivia tadi lengkap dengan adegan saat Olivia jatuh terjengkang karena terkena pantulan bola hasil lemparannya sendiri. Teman-teman satu kelas Olivia sontak tertawa melihat tingkah konyol Youbel tersebut.


"Youbel!" Tegur guru olahraga sekali lagi yang sudah mulai memasang wajah galak.


"Siap, Pak! Saya ke kelas sekarang!" Pamit Youbel seraya berbalik dan setengah berlari menuju ke kelasnya. Namun di tengah-tengah koridor sekolah, Youbel kembali mempraktekkan saat Olivia jatub terjengkang seolah sedang meledek Olivia yang kini merengut dan menghentakkan kakinya karena kesal.


"Gokil si Youbel!" Celetuk Rumi yang masih tertawa kecil. Terang saja hal itu semakin membuat Olivia menjadi merengut.


"Suka banget godain Olivia." Ruby menimpali celetukan Rumi dan ikut tertawa kecil. Benar-benar saudara kembar yang kompak!


Kompak dalam hal meledek Olivia!


"Olivia! Ayo ulangi sekali lagi!" Komando sang guru olahraga.


"Sudah, Pak! Berikan saja nilai enam!" Jawab Olivia kesal yang benar-benar tidak mau mengulangi praktek menembak bola.


Untuk apa juga diulangi kalau akhirnya hanya akan gagal!


"Nilai minimum harus tujuh, Via! Kau tidak akan bisa lulus nanti!" Ethan mengingatkan sang sepupu.


"Terserah! Orang aku nggak bisa nembak! Mau diulang sampai seratus kali juga nggak bakal masuk!" Olivia bersungut pada Ethan.


Triiiiiing!


Bel istirahat akhirnya berbunyi.


"Benar, ya! Bapak kasih nilai enam," Guru olahraga geleng-geleng kepala dan akhirnya menuliskan angka enam di belakang nama Olivia Abraham Arthur.


Olivia hanya mengangguk pasrah dan tak berucap sepatah katapun.


"Semuanya boleh istirahat dan ganti baju!" Ujar guru olahraga yang langsung membuat para siswa membubarkan diri dari lapangan basket, lalu kembali ke kekas untuk lanjut berganti baju.


"Kamu kenapa, sih, Via?" Tanya Ruby heran saat ia dan Olivia berjalan beriringan menuju ke kelas.


"Nggak apa-apa!" Jawab Olivia malas.


"Padahal sebelumnya shooting kamu udah lumayan, lho! Kok hari ini kacau banget?" Ethan ikut-ikutan menyelidik dan ikut menyamai langkah Ruby serta Olivia.


Jangan tanya kenapa!


Ethan memang begitu orangnya. Dimana ada Ruby, pasti ada Ethan di sana.

__ADS_1


Sepertinya memang sudah di setting untuk bucin sejak lahir.


"Dari dulu aku kan emang nggak suka sama basket dan pelajaran penjaskes! Nyebelin!" Jawab Olivia sedikit ketus.


"Lah, kalau nggak suka basket trus ngapain kemarin nitip majalah basket ke aku?" Tanya Ruby heran.


"Trus kemarin pas nonton pertandingan basjet SMA 5 lawan SMA Permata kamu juga semangat banget!" Sambung Ruby lagi tetap heran.


"Karena ada Youbel mungkin,' celetuk Ethan sok tahu.


"What?" Olivia langsung menghentikan langkahnya dan menatap horor ke arah Ethan.


"Kenapa jadi bawa-bawa siswa urakan yang kerap melanggar peraturan itu, sih?" Sungut Olivia pada sang sepupu.


"Nebak aja!" Kilah Ethan mencari pembenaran.


"Kali aja kau dan Youbel ada something." Kedua telunjuk Ethan sudah membentuk tanda kutip sekarang dan sepupu Olivia itu sudah menaik turunkan alisnya dengan usil.


"Nggak ada!" Jawab Olivia tegas.


"Orang gebetan Olivia anak SMA Permata!" Celetuk Ruby memberitahu Ethan.


"Udah enggak!" Sergah Olivia tegas.


"Lah! Jadi ceritanya habis patah hati?" Tanya Ruby kepo.


"Jangan-jangan Via naksir salah satu anggota tim basket SMA Permata. Makanya pas patah hati dia auto benci pada basket," terka Ethan yang langsung membuat Olivia terdiam benar-benar tepat sasaran sekali tebakan sepupu Olivia tersebut.


Sialan!


"Bener itu, Via? Yang pakai jersey nomor berapa," Tanya Ruby yang sudah mulai kepo tingkat dewa.


"Aku bilang nggak ada ya nggak ada! Kalian berdua ini kenapa, sih!" Sungut Olivia seraya mempercepat langkahnya, lalu meninggalkan Ethan dan Ruby.


Dasar tukang kepo!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2