
"Hai, aku datang membawakan makan siangmu, Yonas!" Sapa Zack seraya tersenyum lebar.
"Siapa dia, Yonas?" Tanya Mama Karin pada Yonas yang masih terlihat kaget.
"Dia Zack, Ma! Teman Yonas," jawab Yonas sedikit berbisik.
"Siang, Aunty!" Zack ganti menyapa Mom Karin yang hanya tersenyum ramah.
"Ayo makan dulu!" Ajak Zack selanjutnya seraya mengusap lengan Yonas. Mom Karin sedikit memicing curiga dengan gesture tubuh yang ditunjukkan oleh Zack pada Yonas.
"Iya," jawab Yonas singkat.
"Mom mau makan siang bersama kami?" Tawar Yonas berbasa-basi pada Mom Karin. Sementara Zack sudah menata makanan yang tadi ia bawa di atas meja.
"Tidak usah! Mom ada janji dengan seseorang," tolak Mom Karin seraya bangkit berdiri dan melangkah menuju ke pintu ruangan. Yonas mengantar Mom tirinya tersebut sampai ke ambang pintu.
"Sebaiknya kau menjaga jarak dari Zack dan jangan terlalu dekat, Yonas!" Nasehat Mom Karin yang sepertinya bisa merasakan sesuatu yang tak beres pada Zack.
"Iya, Mom!" Jawab Yonas lirih.
"Dan mulailah menjalin hubungan dengan seorang gadis! Jangan hanya sibuk bekerja!" Sambung Mom Karin lagi yang tak sengaja terdengar oleh Zack. Raut wajah pria itu langsung berubah tak senang.
"Mom menunggu kau membawa calon menantu Mom ke rumah!" Pungkas Mom Karin sebelum wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan ruangan Yonas.
Yonas hanya diam dan menatap punggung Mom Karin sampai akhirnya menghilang ke dalam lift. Yonas menghela nafas dan memasukkan tangan kanannya ke saku celana, sebelum kemudian pria itu berbalik dan jantungnya nyaris melompat keluar dari rongganya. Zack sudah berdiri di balik punggung Yonas.
"Kau membuatku kaget, Zack!" Decak Yonas sedikit kesal.
"Apa maksud Mom tirimu tadi dengan mengatakan agar kau menjalin hubungan dengan seorang gadis?" Tanya Zack dengan raut wajah tak senang.
"Tidak perlu memikirkan omongan Mom!" Sergah Yonas seraya duduk di sofa dan mencicipi makanan yang tadi dibawakan oleh Zack.
"Kau tidak ada niat untuk mengkhianatiku, kan? Kau kekasihku, Yonas!" Zack sudah menerjang Yonas dan menindih tubuh pria itu dengan agresif.
Brengsek!
"Tentu saja tidak!" Jawab Yonas dengan nada seyakin mungkin.
"Bagus! Karena aku tidak suka dikhianati apalagi diduakan!"
"Dan jangan sekali-sekali menjalin hubungan dengan makhluk bernama wanita! Mereka itu hanya hama yang merepotkan!" Zack menuding seraya memperingatkan Yonas yang hanya mengangguk.
__ADS_1
"Aku boleh makan sekarang?" Tanya Yonas selanjutnya karena Zack masih saja menindihnya. Yonas sedikit risih dan jijik pada pria ini sebenarnya. Tapi tak akan semudah itu lepas dari Zack yang kejam. Yonas harus mencari cara.
"Tentu saja! Akan aku suapi dengan senang hati!" Zack mengusap dada Yonas yang masih terbalut kemeja, sebelum kemudian pria itu bangkit berdiri dan mulai mengambilkan makanan untuk Yonas, lalu menyuapi Yonas seperti seorang istri yang sedang menyuapi suaminya.
****
Olivia masih bersandar di kap depan mobilnya seraya menatap ke arah landasan pacu, dimana sebuah pesawat penumpang baru saja lepas landas. Sesekali Olivia akan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berdiri, lalu gadis itu akan mengulas senyum tipis saat melihat muda-mudi yang sedang bercengkerama di sekitar kawasan bandara.
"Sendirian, Nona?" Sapa segerombolan pemuda yang entah darimana asalnya. Mereka tiba-tiba menghampiri Olivia dan sepertinya hendak menggoda Olivia.
Olivia memilih untuk tidak menanggapi dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Namun baru saja Olivia akan membuka pintu mobil, tangannya sudah digenggan okeh seorang penuda berandalan tadi.
"Brengsek!" Umpat Olivia yang langsung dengan cepat menyentak tangan pemuda yang tak tahu tata krama tersebut.
"Awas!" Gertak Olivia galak.
"Mau kemana, Cantik? Kenapa buru-buru." Bukannya merasa takut para pemuda itu malah semakin berani menggoda Olivia dan bahkan tangan mereka sudah mencolek-colek Olivia.
"Minggir, atau aku teriak!" Ancam Olivia galak. Gadis itu masih berusaha mengusir seorang pemuda yang menghalangi pintu mobilnya.
"Dudududu! Galak juga ternyata." Mereka semua tertawa seolah sedang mengejek Olivia.
"To-" Olivia belum selesai berteriak, saat seorang pemuda membekap mulutnya hingga Olivia tak mampu bersuara.
"Cari kunci mobilnya, lalu kita ajak bersenang-senang!" Perintah salah satu mereka, dan yang lain langsung merebut tas Olivia dengan paksa, lalu mencari kunci mobil Olivia.
"Dapat!" Satu orang mengacungkan kunci mobil Olivia ke udara, dan saat ia akan membuka pintu mobil, tiba-tiba sebuah tinjuan membuat pemuda itu tersungkur ke atas rumput.
Bugh!
Olivia dan berandalan yang lain langsung kaget dan menatap ke arah pria bertopi yang baru saja membuat salah satu dari berandalan itu tumbang.
"Lepaskan gadis itu!" Perintah pria bertopi yang siaran terdengar tidak asing.
"Yonas?" Gumam Olivia menerka-nerka.
"Tidak akan semudah itu!"
Para berandalan balik menyerang Yonas yang langsung sigap melawan.
Bugh! Bugh! Bugh!
__ADS_1
Dalam waktu sekejap, Yonas berhasil membuat para berandalan itu tumbang, lalu lari tunggang langgang.
Yonas segera menghampiri Olivia yang masih meringkuk di samping mobilnya.
"Kau tidak apa-apa? Perlu kuantar ke rumah sakit?" Tanya Yonas seraya membantu Olivia untuk bangkit berdiri. Olivia segera menggeleng.
"Kau sedang apa disini? Membuntutiku?" Tanya Olivia seraya menatap penuh selidik pada Yonas.
"Aku biasa kesini setiap sore untuk melihat matahari terbenam," Yonas mengendikkan dagunya ke arah barat, dimana matahari hampir terbenam.
Olivia berdecak dan tak langsung percaya begitu saja dengan alasan aneh Yonas. Cara Yonas menatap Olivia sebenarnya juga sedikit membuat risih. Ada apa sebenarnya dengan pria ini.
"Ayo aku antar ke rumah sakit!" Ajak Yonas seraya menunjuk ke siku dan lutut Olivia yang memar karena tadi berusaha berontak danelawan para berandalan hingga Olivia jatuh tersungkur ke tanah.
"Hanya luka ringan. Aku bisa mengobatinya di rumah," tolak Olivia.
"Aku antar pulang kalau begitu. Aku khawatir para berandalan tadi akan kembali mencegatmu," tawar Yonas selanjutnya pada Olivia yang masih terlihat ragu.
"Bukannya kau membawa mobil sendiri?"
"Bisa aku tinggal dulu, dan nanti aku akan kesini lagi naik taksi, setelah mengantarmu." Yonas menjawab dengan solusi.
"Aku bisa mengemudi sendiri," tolak Olivia yang tetap keras kepala. Gadis itu masuk ke dalam.mobilnya dengan langkah sedikit terpincang.
"Kau yakin akan mengemudi sendiri?" Yonas terlihat khawatir.
"Ya! Aku bukan wanita lemah dan manja!" Jawab Olivia ketus, sebelum kemudian gadis itu menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi meninggalkan Yonas.
Yonas sendiri tentu saja tak tinggal diam. Pria itu ikut mengambil mobilnya dan segera membuntuti mobil Olivia dari belakangan.
"Tolong Abang jaga Olive, jika nanti Youbel tak berumur panjang!"
"Aku akan selalu menjaga Olive-mu, Youbel! Aku akan selalu menjaganya," gumam Yonas yang masih terus mengikuti laju mobil Olivia.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.