
Yonas memejamkan mata seraya menikmati angin sepoi serta suara deburan ombak yang menabrak karang. Pria itu sedang bersantai di atas hammock yang ada di dekat villa yang menjadi satu-satunya bangunan di pulau ini.
Kata Olivia, dulunya bangunan itu adalah sebuah rumah tinggal di tepi pantai. Lalu beberapa tahun belakangan, Papa Kyle dan Uncle Sean merenovasinya menjadi sebuah villa yang lebih nyaman untuk ditinggali serta dilengkapi beberapa fasilitas penunjang.
"Hai!" Sapa Olivia yang sudah ikut naik ke atas hammock dan menindih tubuh Yonas.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Yonas seraya merapikan rambut Olivia yang terbang tertiup angin. Olivia memang baru selesai mandi setelah sejak pagi Yonas mengajaknya bergelut di atas ranjang tanpa jeda. Saat ini hari sudah beranjak sore dan matahari hampir tenggelam.
"Kenapa tidak kau susul?" Olivia ganti merebahkan kepalanya di dada Yonas dan mendengarkan detak jantung suaminya tersebut.
"Aku akan menerjangmu lagi jika menyusulmu mandi," Yonas tertawa kecil dan tangannya mengusap kepala Olivia dengan lembut.
"Aku sudah seperti monster, ya?" Lanjut Yonas lagi yang membuat Olivia tertawa renyah.
"Setidaknya itu membuktikan kalau kau pria yang normal!" Ujar Olivia. Dan Yinas kembali tertawa kecil.
"Aku memang pria normal sejak dulu!" Klaim Yonas cepat.
"Aku jatuh cinta pada seorang gadis." Bukankah itu normal?" Lanjut Yonas lagi.
"Ya! Aku percaya."
"Bisa kau beritahu aku, gadis pertama yang membuatmu jatuh cinta?" Tanya Olivia kepo. Olivia sudah ganti menopang wajahnya dengan kedua tangan, dan wanita itu tetap berada di atas Yonas yang mulai mengayunkan perlahan hammock yang menahan tubuh mereka berdua.
"Olivia." Jawab Yonas yakin.
"Olivia aku?" Tanya Olivia memastikan.
"Ya!"
"Aku sudah jatuh cinta kepadamu saat pertama kali kita bertemu," ujar Yonas dengab raut wajah sungguh-sungguh.
"Saat Papa mengenalkan kita berdua itu?" Tebak Olivia lagi.
"Jauh sebelum itu," Yonas mengusap lembut wajah Olivia, lalu meraih tangan istrinya tersebut dan mengecupnya dengan mesra.
"Memang kapan pertama kali kita bertemu?" Tanya Olivia bingung.
__ADS_1
"Kau tidak ingat?"
Olivia menggeleng.
"Di GOR. Pria berkemeja yang kau tabrak," Yonas memberikan clue, dan Olivia tanpak mengingat-ingat.
"Saat pertandingan Youbel." Yonas kembali memberikan clue.
"Tadi siapa yang duduk sama kamu?"
"Aku nggak tahu! Mungkin guru SMA Permata atau pelatihnya."
"Nggak kamu ajak kenalan?"
"Kau yang duduk di sebelahku waktu itu? Si om om berkemeja?" Olivia akhirnya ingat dan Yinas sontak tergelak karena Olivia menyebutnya sebagai Om Om berkemeja.
"Iya, yang itu!"
"Aku jatuh cinta padamu sejak hari itu," uajra Yonas yang kembali harus merapikan rambut Olivia yang terbang tertiup angin dari pantai.
"Yang itu..." Yonas terlihat menerawang.
"Aku hanya ingin melindungi Youbel agar Zack tidak mengusiknya." Yonas berucap dengan lirih dan sudah kembali menatap pada Olivia.
"Semuanya sudah berlalu!" Olivia mengusap lembut wajah Yonas yang hanya mengangguk samar. Pasangan suami istri itu kembali saling mendekap sembari menikmati tiupan angin dari pantai serta matahari yang mulai terbenam di ufuk barat.
****
Satu bulan kemudian...
"Hai!" Sapa Olivia seraya mengusap batu nisan Youbel. Wanita itu juga memungut beberapa daun kering yang berserak di atas pusara Youbel.
Yonas yang datang bersama Olivia, mengangsurkan bunga pada Olivia, lalu pria itu menggantikan Olivia untuk memunguti dedaunan kering dari atas makam Youbel. Sementara Olivia sibuk menata bunga yang tadi diberikan Yonas ke atas makam Youbel yang sudah bersih.
Setelah selesai, Yonas dan Olivia bergandengan tangan, lalu bersimpuh di samping makam Youbel.
"Kami sudah bersama dan bahagia, sesuai keinginanmu," ucap Olivia seraya menunjukkan tangannya dan tangan Yonas yang saling menggenggam.
__ADS_1
"Semoga kau tidak cemburu," Olivia sedikit berkelakar dan wanita itu kembali mengusap nisan Youbel.
"Dan, kami punya satu berita lagi," ucap Olivia selanjutnya seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Kau akan segera punya keponakan," Olivia meletakkan testpack dengan dua garis merah ke atas makam Youbel. Dan genggaman tangan Yonas terasa semakin mengerat.
"Aku dan Yonas akan mulai menjalani kehidupan baru kami. Tapi percayalah, kau tetap akan menempati sudut hatiku yang paling dalam, Youbel!"
"Terima kasih karena sudah membuatku bertemu dengan pria tulus ini! Terima kasih karena pernah mencintaiku sampai di akhir nafasmu."
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Olivia panjang lebar, sebelum kemudian wanita itu memeluk nisan Youbel. Olivia melepaskan kalung yang pernah diberikan oleh Youbel, lalu melingkarkannya di nisan Youbel.
"Kami pulang dulu!"
"Nanti kami akan mengajak keponakanmu kesini saat dia lahir. Kami akan membuatnya mengenal dirimu, meskipun ia tak pernah melihatmu." Janji Olivia sebelum kemudian wanita itu bangkit berdiri. Yonas sigap membantu sang istri dan langsung merangkul serta mengusap punggung Olivia.
"Kami pulang dulu, Youbel!" Yonas ikut berpamitan pada makam Youbel, sebelum kemudian pria itu dan Olivia berbalik pergi.
Olivia menoleh sebentar ke belakang karena samar-samar mendengar sebuah suara yang memanggil namanya.
"Olive!"
Olivia tercenung saat melihat bayangan Youbel yang mengenakan baju serba putih sedang tersenyum seraya melambaikan tangan ke arah Olivia. Youbel lalu berbalik dan di kejauhan ada pasangan paruh baya yang menyambut Youbel, lalu menggandeng kedua tangan pemuda itu.
Ya,
Youbel akhirnya sudah bahagia di surga bersama Dad dan Bunda dari Yonas.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1