Cinta Olivia

Cinta Olivia
PESAN


__ADS_3

Yonas menghela nafas sejenak, sebelum kemudian pria itu membuka pintu ruang kerjanya. Yonas tadi juga sudah mendapat laporan dari sekretarisnya, kalau saat ini Zack berada di dalam ruangannya dan sedang menunggu Yonas.


"Hai, kau sudah datang?" Sambut Zack seraya memutar kursi kerja Yonas yang kini tengah ia duduki. Yonas hanya mengulas senyum tipis, sebelum kembali menutup pintu.


"Kau tidak bekerja, Zack?" Tanya Yonas berbasa-basi pada Zack yang sudah bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah pintu dan menguncinya.


"Kebetulan aku baru saja resign dari pekerjaanku," jelas Zack yang membuat Yonas kaget. Kalau Zack resign, berarti pria ini akan punya banyak waktu luang untuk mengganggu hidup Yonas. Itu artinya, kesempatan Yonas untuk mendekati Olivia akan semakin terbatas.


"Kenapa kau resign?" Yonas akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Dan kenapa kau mengunci pintu?" Tanya Yonas lagi pada Zack yang sudah melemparkan tatapan aneh ke arahnya.


"Ngomong-ngomong, kau tidak di apartemen semalam saat aku pulang." Zack malah balik bertanya pada Yonas dan tak menjawab pertanyaan pria tersebut. Tatapan mata Yonas juga sudah berubah menjadi tatapan penuh selidik.


"Aku di rumah Mom, karena kau tak pulang beberapa hari dan aku sedikit kesepian." Jawab Yonas mencari alasan.


"Bukankah sudah kubilang untuk meneleponku kalau kau rindu atau merasa kesepian?"


"Kau bahkan tak meneleponku sama sekali beberapa hari kemarin." Zack menatap sedikit kecewa pada Yonas.


"Aku takut mengganggu urusanmu," ujar Yonas kembali beralasan.


"Ya, aku memang sedikit sibuk kemarin dengan semua urusan tak penting itu." Wajah Zack berubah geram. Entah urusan apa yang dimaksud, Yonas benar-benar tak mau tahu.


"Ayo bersenang-senang sebentar karena aku sangat merindukanmu." Zack tiba-tiba sudah menghampiri Yonas dan tangannya meraba ke dalam celana pria tersebut.


"Zack!" Yonas sedikit tergagap.


"Kau juga merindukanku, kan?" Tanya Zack dengan seringai menggoda. Dan yang selanjutnya terjadi, Yonas hanya mampu mengumpat dalam hati tanpa bisa melakukan apapun.


Kau memang bodoh Yonas!


Kau benar-benar lemah dan payah sebagai pria!


****


"Baru pulang, Via?" Sapa Mama Audrey pada Olivia yang baru tiba di rumah.


"Iya, Ma!" Jawab Olivia yang langsung menghampiri Mama Audrey dan mengecup pipi Mama Audrey, lalu merangkul manja Mama kandungnya tersebut.


Ya, meskipun Olivia sebentar lagi akan genap berusia dua puluh lima tahun, tapi jiwa manja Olivia pada Mama Audrey tak akan pernah lekang sampai kapanpun.


"Tadi kata Papa, Yonas menemuimu ke kantor," ujar Mama Audrey selanjutnya yang langsung membuat Olivia sedikitnya salah tingkah.


"Iya, Yonas ada keperluan sedikit."


"Sedikit?" Mama Audrey tertawa kecil dan cara berbicaranya terdengar menggoda Olivia.

__ADS_1


"Mama!" Wajah Olivia mendadak bersemu merah.


Ya ampun!


Olivia juga jadi ingat bagaimana Yonas tadi mencium tangannya dan wajah gadis itu semakin merah saja.


"Kami hanya berteman, Ma!" Sergah Olivia akhirnya mencoba menutupi salah tingkahnya. Meskipun sebenarnya Mama Audrey bisa melihat wajah sang putri yang kini bersemu merah.


"Iya, Mama tahu!"


"Mama dan Papa dulu juga hanya berteman," ujar Mama Audrey sedikit menahan tawa.


"Ck! Mama!" Olivia sedikit merengut.


"Apa? Mama kan hanya sedang cerita," kilah Mama Audrey yang masih tak berhenti menggoda sang putri.


"Udah, ah! Via mau masuk ke kamar!" Olivia sudah bangkit berdiri dan meninggalkan Mama Audrey yang masih tertawa kecil.


"Yonas tampan, kan, Via?" Celetuk Mama Audrey tiba-tiba saat Olivia baru menapakkan satu kakinya di anak tangga paling bawah.


"Kenapa memang? Mama naksir? Nanti Via laporin ke Papa, lho!" Olivia sok-sokan mengancam Mama Audrey yang langsung terkekeh.


"Kalau naksir sebagai calon menantu, boleh?" Goda Mama Audrey lagi yang langsung membuat pipi Olivia kembali memerah.


"Ish!" Decak Olivia sebelum kemudian gadis itu berlari menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Olivia bersandar di belakang pintu dan lagi-lagi senyuman serta sikap manis Yonas saat di kantor tadi kembali berkelebat.


Olivia menyamankan diri di sofa kamarnya, sebelum mulai membuka dan membaca tulisan demi tulisan yang ditorehkan Youbel di dalam buku di pangkuannya tersebut.


"Siapapun yang kelak akan menjadi pendamping hidup Olive, pastilah pria itu adalah pria yang beruntung. Tapi andai aku punya kuasa untuk mengatur jodoh Olive, aku akan menjodohkan Olive dengan Abang Yonas saja, karena meskipun Abang Yonas sikapnya sedikit kaku, tapi Abang Yonas tak pernah setengah-setengah saat menyayangi dan menjaga seseorang."


"Jika Abang membaca tulisan Youbel ini, Youbel harap Abang bersedia untuk terus menjaga Olive dan membuat gadis itu bahagia. Youbel percaya Abang bisa melakukannya, karena Abang selama ini juga sangat menyayangi Youbel, sekalipun Abang jarang menunjukkannya di hadapan umum."


Olivia menelan ludahnya dengan susah payah setelah membaca paragraf terakhir yang ditulis oleh Youbel. Wajah Olivia juga sudah bersimbah airmata sekarang. Gadis itu mendekap buku Youbel yang sudah selesai ia baca, lalu memejamkan kedua matanya dan membayangkan wajah Youbel.


"Aku merindukanmu, Youbel!" gumam Olivia lirih seolah sedang berucap pada Youbel.


"Via, apa kau sedang sibuk?" Pintu kamar Olivia tiba-tiba menjeblak terbuka dan Ruby terlihat berdiri di ambang pintu seraya menatap aneh pada Olivia yang masih bersimbah airmata.


Oh, sial!


"Kau menangis?" Tanya Ruby penuh selidik yang langsung membuat Olivia dengan cepat menghapus airmatanya yang bercucuran.


"Tutup pintunya!" Perintah Olivia galak pada Ruby yang langsung menutup pintu kamar Olivia, lalu menghampiri sahabatnya tersebut dan memeluknya.


"Youbel sudah bahagia di surga, Via! Berhentilah menangisinya seperti ini!" Nasehat Ruby seraya mengusap-usap punggung Olivia.


"Iya aku tahu! Dan aku hanya menangis karena hal lain!" Sergah Olivia mencari alasan.

__ADS_1


"Hal lain apa? Kenapa airmatamu sampai banjir begini, hah?" Tanya Ruby serayacmengeluarkan tisu dari tasnya, lalu mengambil isinya dengan kasar untuk menghapus airmata Olivia yang masih saja bercucuran.


"Astaga! Kalau Riley tahu, pasti kau alan diledek habis-habisan!" Ruby sedikit berkelakar.


"Dia akan langsung melapor pada Mama! Dia itu kan si tukang lapor!" Sergah Olivia sedikit bersungut. Dulu saat Riley masih balita, padahal Olivia begitu dekat dengan bocah laki-laki tersebut dan sellau mengaku sebagai Momma-nya Riley. Tapi setelah kini Riley agak besar, Olivia selalu saja ribut dengan Riley seperti kucing dan tikus. Dasar!


"Ada apa kesini mendadak?" Tanya Olivia yang sudah sedikit tenang. Tak ada lagi airmata dan kini yang tersisa hanya wajah sembab Olivia.


"Katanya mau ada reuni. Apa itu benar?" Tanya Ruby memastikan.


"Masih rencana. Panitianya juga belum dibentuk."


"Masih ada waktu, jika kau ingin mencari pasangan untuk datang ke reuni," ujar Olivia sedikit berkelakar. Sekarang gantian Ruby yang merengut.


"Oh, sebaiknya kau memamg tak usah membawa pasangan, karena mungkin Ethan akan pulang saat reuni nanti dan melamarmu," Olivia melanjutkan kelakarannya.


"Menurutmu Ethan akan pulang? Ethan sudah berhasil meraih cita-citanya aku rasa. Terakhir aku melihatnya, dia menjadi asisten Dokter Adhy," tutur Ruby panjang lebar bercerita pada Olivia.


"Berarti kau tahu Ethan dimana sekarang?" Tanya Olivia penuh selidik. Dan Ruby hanya menggeleng samar.


"Sayang sekali! Bagaimana kita akan memberitahunya kalau ada acara reuni sekolah, jika kita tidak tahu Ethan tinggal dimana," gumam Olivia merasa bingung.


"Kau sendiri akan membawa pasangan ke acara reuni nanti?" Tanya Ruby kepo mengalihkan bahan pembicaraan.


"Maaf, aku jomblo!" Jawab Olivia cepat.


"Tapi kata Aunty Audrey kau sedang dekat dengan seorang pria," sergah Ruby penuh selidik.


"Pria yang mana? Klienku rata-rata memang pria, dan dekat bukan berarti pacaran! Sebagian besar dari mereka juga sudah menikah dan punya anak istri!" Jawab Olivia sok diplomatis.


"Baiklah, terserah! Tapi sebaiknya kau segera mencari pacar sekarang sebelum kau menjadi perawan tua! Alicia saja sudah menikah, masa iya kau masih betah menjomblo!" Ruby sedikit mencibir Olivia.


"Kau juga belum menikah!" Olivia balik mencibir Ruby.


"Aku masih menunggu seseorang!" Sergah Ruby membuat pengakuan blak-blakan.


"Oh, aku kira sudah tidak menunggunya," Olivia tertawa meledek pada Ruby yang hanya berdecak.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2