
Masa kini....
"Bagaimana bulan madunya?" Tanya Olivia berbasa-basi pada Alicia dan Dikta yang baru tiba di kediaman Arthur.
Baru beberapa minggu yang lalu adik kandung Olivia ini melangsungkan acara pernikahannya bersama Dikta, pacar Alicia sejak jaman SMA.
Ya, andai Youbel masih ada hingga detik ini, mungkin kelakaran Alicia wajtu itu yang ingin menggelar acara pernikahan bersama Olivia sudah terwujud kemarin.
Tapi sekali lagi, rencana hanya tinggal rencana. Youbel sudah bahagia di surga dan setidaknya dia tak perlu lagi merasakan sakit. Hanya Olivia yang belum move on dan masih berusaha menata hati, sekalipun ini sudah hampir empat tahun berlalu.
"Semuanya berjalan lancar, Kak!" Jawab Alicia dengan wajah sumringah.
"Cucu Mama dan Papa sebentar lagi OTW berarti, kan?" Tanya Olivia seraya mengulas senyum dan memasang wajah ceria.
"Aamiin! Semoga di segerakan, dan Kak Via juga secepatnya bertemu jodoh," jawab Dikta yang kembali membuat Olivia mengulas senyum.
"Aamiin! Bentar lagi pasti ketemu," timpal Alicia yang sudah ganti merangkul Olivia.
"Kalian datang ke acara keluarga besok di kafe?" Tanya Olivia selanjutnya pada Alicia dan Dikta.
"Dalam rangka apa?" Tanya Alicia kepo.
"Allegra pulang," jawab Olivia cepat. Allegra adalah putra sulung dari Uncle Sean dan Aunty Rachel. Jadi pria itu juga adalah sepupu dari Olivia serta Alicia.
"Oh, sudah selesai kuliahnya di luar negeri?" Alicia bergumam sekaligus sedikit sinis karena berdasarkan desas-desus, Allegra kuliah di luar negeri tapi lebih banyak main serta menghamburkan uang Uncle Sean, hingga kuliah pria itu tak kunjung selesai.
"Iya, akhirnya selesai setelah Uncle Sean mengamuk." Olivia tertawa kecil.
"Lagipula, kenapa juga harus jauh-jauh kuliah ke luar negeri jika ujung-ujungnya hanya main dan tidak serius," gumam Alicia lagi masih sinis.
"Itu kan pilihan." Ujar Olivia mencoba berpikir bijak.
"Jadi, kalian akan datang, kan? Tanya Olivia sekali lagi.
"Besok kami akan datang, Kak!" Jawab Dikta cepat.
"Acaranya dimana? Di kafe Analog?" Gantian Alicia yang bertanya dan menebak. Sepertinya adik Olivia iti sudah hafal juga tempat keluarga besarnya biasa mengadakan acara.
__ADS_1
Selalu di kafe milik ominya Ethan tersebut.
"Ya! Dimana lagi memangnya?" Olivia melepaskan rangkulan Alicia dan sedikit menghela nafas.
"Aku masuk duluan, ya! Mama dan Papa masih ada acara di luar tadi. Riley juga belum pulang dari kegiatan pencak silatnya. Mungkin sebentar lagi," tukas Olivia panjang lebar sebelum kemudian gadis itu berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Alicia dan Dikta yang masih berada di teras.
"Wajahnya terlihat sembab. Pasti baru saja memikirkan Abang Youbel lagi," gumam Alicia merasa prihatin dengan Olivia yang seperti masih belum move on dari Youbel meskipun ini sudah hampir empat tahun berlalu.
Di depan keluarga, mungkin Olivia akan terlihat ceria seolah semuanya baik-baik saja, tapi Alicia paham betul kalau sebenarnya, kakak kandungnya itu masih menyimpan kesedihan yang teramat dalam atas kepergian Youbel empat tahun silam. Tak mudah memang melupakan semuanya begitu saja, apalagi Olivia yang dulu sudah sangat mencintai Youbel.
****
Kriing!
Suara dering telepon yang berada di atas meja kerja, membuyarkan lamunan Olivia yang sejak tadi berkutat dengan banyak berkas.
Ya, inilah kesibukan Olivia sekarang. Belajar menjalankan sebuah perusahaan sekaligus membantu Papa Kyle di Arthur Company. Setidaknya ini sedikit membantu mengalihkan pikiran Olivia agar tak terus-terusan ingat pada Youbel.
"Halo!" Sapa Olivia setelah mengangkat telepon yang tadi berdering.
"Via, bisa ke ruangan Papa sebentar?"
"Iya, sekarang!"
"Baik, Pa! Via ke sana sekarang," pungkas Olivia seraya menutup telepon. Olivia segera membereskan berkas-berkas yang berada di atas mejanya, lalu kekuar dari ruangannya dan langsung menuju ke ruangan Papa Kyle yang berada satu lantai di atas ruangan Olivia.
Tok tok tok!
Olivia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Sudah ada tiga pria di dalam ruangan Papa Kyle, saat Olivia masuk.
"Via, kemarilah!" Titah Papa Kyle yang langsung menyambut kedatangan Olivia. Sementara Uncle Daniel langsung pamit keluar setelah Olivia datang.
"Ini Yonas, utusan dari perusahaan Van Willer," Papa Kyle mengenalkan Olivia pada pria yang wajahnya sedikit tak asing bagi Olivia. Tapi Olivia lupa dimana ia pernah bertemu Yonas Yonas ini.
Ah, mungkin hanya perasaan Olivia saja.
"Bukankah biasanya tante Karin yang datang kemari, Pa?" Tanya Olivia sedikit bingung. Arthur Company memang masih bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Van Willer. Dan Olivia juga masih kerap bertemu Mom Karin, saat Mom kandung Youbel itu bertandang ke kantor Arthur Company atau sebaliknya. Namun tentu saja, baik Olivia maupun Mom Karin hanya sama-sama diam dan tak banyak bicara. Mereka berdua masih sama-sama merasa kehilangan Youbel.
__ADS_1
"Iya, sekarang Yonas yang menggantikan Tante Karin," jelas Papa Kyle.
"Saya Yonas," ucap Yonas memperkenalkan dirinya sekaligus mengulirkan tangan pada Olivia dan mengajak berjabat tangan.
"Via," jawab Olivia singkat.
"Kau temani Yonas dulu dan tolong kau jelaskan semuanya. Papa ada merting penting!" Titah Papa Kyle selanjutnya pada Olivia yang langsung mengangguk.
"Iya, Pa!" Jawab Olivia lirih.
"Via akan menjelaskan semuanya, Yonas! Uncle pergi dulu," pamit Papa Kyle pada Yonas yang langsung terssnyum seraya mengangguk.
Papa Kyle sudah keluar dari ruangannya dan kini hanya ada Olivia dan Yonas.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu terlihat tak asing?" Tanya Olivia seraya duduk di kursi Papa Kyle, lalu membuka beberapa map yang ada di atas meja.
"Pernah beberapa kali aku rasa," jawab Yonas yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Benarkah?" Olivia memainkan pena di tangannya sembari menatap lekat wajah Yonas, dan mengingat-ingat. Meskipun tak banyak yang bisa Olivia ingat.
Berbeda dengan Yonas yang masih mengingat semua pertemuannya dengan Olivia, dari pertemuan kali pertama di GOR basket, hingga yang terakhir saat Yonas menatap Olivia dari kejauhan di acara perusahaan beberapa hari yang lalu. Yang terakhir itu sepertinya Olivia tidak tahu dan tidak menyadari.
"Maaf, aku tidak ingat!" Olivia tertawa canggung dan Yonas hanya mengulas senyum tipis.
"Tidak masalah, aku kesini karena ingin membahas proyek dan bukan membahas soal kapan kita pernah bertemu," ujar Yonas yang ikut-ikutan tertawa.
"Ah, iya! Kenapa kau hanya berdiri di situ? Duduklah!" Titah Olivia seraya menunjuk ke kursi di hadapannya.
"Terima kasih!" Jawab Yonas yang langsung duduk di depan Olivia dan keduanya langsung larut dalam obrolan seputar proyek baru yang rencananya akan digarap oleh Arthur Company bekerja sama dengan perusahaan Van Willer.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.