Cinta Olivia

Cinta Olivia
SAKIT APA?


__ADS_3

Olivia membuka pintu mobil di sisi Youbel duduk, karena pria itu tak kunjung keluar menyusul Olivia, padahal mereka sudah tiba di tempat favorit mereka.


"Ada apa? Tanganmu masih kebas dan kau tak bisa membuka pintu mobil?" Tanya Olivia sedikit berkelakar.


Youbel memilih untuk meringis saja, lalu lanjut turun dari mobil Olivia.


"Kita duduk atau-"


"Jogging!" Sahut Olivia memotong kalimat Youbel.


"Kau pakai dress begitu. Bagaimana mau jogging?" Kekeh Youbel seraya mengendikkan dagu ke arah dress Olivia dan gadis itu langsung tergelak.


"Aku lupa."


"Kita duduk saja!" Ajak Youbel akhirnya yang sudah terlebih dahulu duduk di atas hamparan rumput hijau di dekat mobil Olivia.


"Aku carikan minum dulu, ya! Wajahmu terlihat pucat," Olivia mengusap wajah Youbel yang entah mengapa terlihat begitu pucat, seolah Youbel sedang menahan sakit.


"Tidak usah!" Youbel menarik tangan Olivia dan memaksa gadis itu untuk duduk di dekatnya.


"Duduklah disini dan jangan kemana-mana!" Pinta Youbel seraya menyandarkan kepalanya di pundak Olivia.


"Kau sebenarnya sakit apa?" Tanya Olivia khawatir. Gadis itu meraih tangan Youbel dan memeriksa luka bekas infus yang yadi dicabut Youbel dengan paksa. Olivia mengusap-usapnya dengan lembut.


"Hanya demam," jawab Youbel berdusta.


Suara deru mesin pesawat yang hendak lepas landas, membuat Olivia mengalihkan pandangannya ke arah landasan pacu.


"Kau ingin berlibur dan jalan-jalan ke luar negeri?" Tanya Youbel tiba-tiba. Youbel ongin menggenggam tangan Olivia dengan erat, sayangnya Youbel tak mampu melakukannya, karena kini tangab Youbel kembali terasa kaku dan kepaka Youbel rasanya sakit sekali. Seperti ingin meledak lalu pecah berkeping-keping.


"Bersamamu?" Olivia tertawa kecil.


"Pergilah sendiri! Nanti aku belikan tiketnya," ujar Youbel lirih pada Olivia.


"Kenapa malah menyuruhku pergi sendiri? Dasar aneh!" Gerutu Olivia sedikit kesal.


Tak ada jawaban dari Youbel, namun pemuda itu masih menyandarkan kepalanya di pundak Olivia dan entah mengapa, kepala Youbel mendadak terasa berat, seolah Youbel sedang tidur atau kehilangan kesadaran.


"Youbel." Olivia memeriksa Youbel untuk memastikan, saat tiba-tiba Youbel langsung jatuh telentang ke atas rumput lalu kejang.


"Youbel! Kamu kenapa?" Tanya Olivia yang langsung panik seraya berteriak pada orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


"Tolong!"


"Youbel! Youbel, kamu kenapa?"


Ceklek!


Suara pintu ruangan UGD yang dibuka dari dalam menyentak lamunan Olivia yang sejak tadi masih duduk cemas di depan ruang gawat darurat tersebut. Brankar Youbel terlihat didorong keluar dari dalam UGD lalu entah dibawa kemana. Mom Karin terlihat bersimbah airmata dan setengah berlari mengikuti brankar Youbel.


"Tante!" Panggil Olivia yang ikut menyusul Mom Karin.


"Tante, tunggu!" Olivia berusaha menghentikan langkah Mom Karin.


"Tante!" Olivia akhirnya berhasil neraih tangan Mom Karin,dan saat itulah, Mom Karang tiba-tiba langsung memeluk Olivia lalu menangis tergugu.


"Tante, Youbel sakit apa sebenarnya?" Tanya Olivia lirih seraya mengusap punggung Mom Karin yang masih menangis di pelukannya.


"Tante," Olivia sedikit mendesak.


"Youbel sakit-" Mom Karin masih terisak dan menjawab dengan terbata.


"Youbel sakit tumor otak dan sudah stadium akut," lanjut Mom Karin yang langsung membuat tulang-tulang Olivia serasa dilolosi dari sendinya.


"Bukan sakit parah! Hanya demam biasa."


"Bukan sakit parah!".


"Bukan sakit parah!"


Jawaban Youbel terus terngiang di benak Olivia.


Bukan sakit parah?


Bagaimana Youbel bisa mengatakan kalau sakitnya bukanlah sakit yang parah?


Youbel sakit tumor otak, dan pemuda itu menganggapnya bukan penyakit yang parah!


Apa memang yang dipikirkan Youbel?


****


Olivia masih duduk termangu di depan ruang operasi seraya merangkul Mom Karin. Sesekali Olivia juga akan menenangkan Mom Karin, meskipun sebenarnya hati Olivia juga tengah kacau dan gundah gulana sekarang.

__ADS_1


Dering ponsel yang berada di dalam tas Olivia, membuat gadis itu tersentak kaget. Olivia segera mengambil ponselnya dan mengangkat telepon dari Mama Audrey.


"Halo, Ma!"


"Via, kamu kemana? Dari pagi pergi kenapa belum pulang sampai sekarang? Kau pergi bersama Youbel?"


Langsung terdengar cecaran pertanyaan dari Mama Audrey setelah Olivia mengangkat telepon.


"Via masih di rumah sakit, Ma!" Jawab Olivia lesu.


"Siapa yang sakit? Kau tidak kenapa-kenapa, kan? Apa yang sudah terjadi, Via?"


"Youbel, Ma!"


"Youbel yang sakit," suara Olivia semakin lirih dan kedua mata gadis itu sudah berkaca-kaca mengingat tentang sakitnya Youbel.


Kenapa Youbel menutupi sakitnya selama ini dan tak jujur saja pada Olivia?


"Youbel sakit apa, Via?"


"Nanti saja Via cerita pada Mama. Via masih disini menunggu-"


Olivia belum menyelesaikan kalimatnya, saat lampu di ruang operasi padam, pertanda operasi pada Youbel sudah selesai.


"Via tutup dulu teleponnya, Ma! Nanti Via telepon Mama lagi," pungkas Olivia seraya menutup tekepon dari Mama Audrey. Olivia menyeka butir bening di sudut matanya dan bangkit berdiri, mengikuti Mom Karin yang sudah terlebih dahulu menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang operasi.


"Kita berdoa saja, semoga ada keajaiban untuk Youbel." Hanya kalimat itu yang Olivia dengar dan pikiran gadus itu mendadak jadi buntu tak tahu harus bagaimana.


Menunggu keajaiban?


Bagaimana sebenarnya kondisi Youbel sekarang?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2