Cinta Olivia

Cinta Olivia
UNDANGAN


__ADS_3

Olivia baru selesai menghapus airmatanya, saat pintu kamar menjeblak terbuka,dan Mama Audrey berdiri di depan kamar bersama Riley si tukang lapor.


"Kak Via bobok sambil nangis, Ma! Bantalnya sampai basah kuyup," lapor Riley sekali lagi pada Mama Audrey. Telunjuk bocah itu bahkan sudah menunjuk ke arah Olivia yang sedang berusaha keras menyembunyikan wajah sembabnya.


Dasar Riley ember!


"Benar itu, Via?" Tanya Mama Audrey yang sudah menghampiri Olivia yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Mana ada? Riley bohong, Ma!" bantah Olivia cepat.


"Bantal Via juga kering begini," imbuh Olivia seraya menunjukkan bantalnya yang kering tanpa bekas airmata. Bantal yang basah tadi sudah Olivia buang jauh agar mama Audrey percaya.


"Bantalnya diumpetin, Ma!" Lapor Riley yang sudah berhasil menemukan bantal Olivia di kolong ranjang.


Sial!


Mama Audrey menghela nafas, lalu duduk di samping putrinya tersebut dan merangkulnya. Olivia langsung menyamankan kepalanya di pelukan sang mama.


"Riley, kamu turun dan ambilkan minum untuk Kak Via sana!" Titah Mama Audrey pada sang putra bungsu.


"Nggak mau!"


"Riley mau makan kue!" Riley sudah ngacir pergi dari kamar Olivia seraya menutup pintu lumayan keras. Dasar Riley!


"Via tidak sedang menangisi Youbel, Ma!" Ucap Olivia cepat membuat penyangkalan sebelum mama Audrey menghakiminya. Meskipun mama Audrey tak pernah menghakimi Olivia sebelumnya.


"Lalu memikirkan siapa? Yonas?" Tebak Mama Audrey.


"Tidak juga!" Kilah Olivia cepat.


"Masih bimbang soal pertunanganmu dengan Ezra? Kau bisa memikirkannya lagi dan tak perlu memutuskannya secara terburu-buru, Via!" Nasehat Mama Audrey bijak.


"Apa Via bisa membatalkannya juga?" Tanya Olivia tiba-tiba yang langsung membuat Mama Audrey mengernyit.


"Pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan, Via!"


"Mama dan Papa tak akan ikut campur atau memaksa kau harus menikah dengan siapa. Semua keputusan ada di tanganmu dan pernikahan bukan hal main-main!" Mama Audrey menghela nafas dan menggenggam kedua tangan sang putri.

__ADS_1


"Pernikahan itu untuk selamanya, jadi jangan gegabah mengambil keputusan. Dengarkan kata hatimu," nasehat Mama Audrey seraya menatap lekat pada sang putri.


"Mama tahu kau akan membuat keputusan yang terbaik untuk dirimu sendiri!" Pungkas Mama Audrey seraya bangkit berdiri, lalu mengusap kepala Olivia dan mencium kening putrinya tersebut. Mama Audrey lanjut keluar dari kamar Olivia bersamaan dengan ponsel Olivia yang berdering di atas nakas.


"Ethan?" Gumam Olivia saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Tidak biasanya Ethan menghubungi Olivia via video call pagi-pagi begini. Ada apa?


"Halo, Ethan! Ada apa?" Tanya Olivia yang setelah mengangkat video call dari Ethan.


"Maaf mengganggu pagi-pagi, Via! Tapi apa kau kenal Ezra Diba?" Ethan mengarahkan kamera ponselnya pada seorang pria yang sedang duduk di atas brankar perawatan dan sepertinya tengah mendapat perawatan dari petugas medis.


"Ezra?"


"Iya, aku kenal!" Jawab Olivia cepat yang raut wajahnya berubah khawatir.


"Ezra kenapa?" Tanya Olivia lagi pada Ethan.


"Dia mengalami kecelakaan tunggal bersama temannya. Ezra hanya luka ringan tapi temannya patah tulang kaki."


"Mereka di rumah sakit."


"Aku kesana sekarang!" Olivia hendak menutup video call Ethan, saat tiba-tiba sepupu Olivia itu melontarkan pertanyaan kepo.


"Nanti aku ceritakan di rumah sakit! Bye!" Pungkas Olivia seraya menutup telepon dari Ethan.


Olivia melempar ponselnya serampangan, lalu gadis itu melesat cepat masuk ke kamar mandi. Olivia mencuci muka serta mengganti piyamanya dengan celana jeans dan kaus longgar, sebelum kemudian gadis itu turun ke bawah dan langsung menuju ke garasi rumah untuk mengambil mobil. Panggilan mama Audrey untuk sarapan bahkan Olivia abaikan karena gadis itu buru-buru meluncur ke rumah sakit.


****


Yonas baru tiba di rumah saat pria itu melihat Mama Audrey dan Papa Kyle keluar dari rumah Mom Karin. Sejak kapan kedua orang tua Olivia itu datang?


"Sore, Uncle, Aunty!" Sapa Yonas pada Mama Audrey dan Papa Kyle.


"Yonas! Baru pulang?" Jawab Mama Audrey yang selalu tersenyum ramah pada Yonas.


"Iya, Aunty!"


"Kami kesini mengantar undangan, Yonas! Semoga kau dan Mom-mu bisa datang nanti," ujar Papa Kyle mberitahu sekaligus menepuk punggung Yonas.

__ADS_1


"Undangan?" Yonas bergumam pelan.


"Undangan Olivia?" Tanya Yonas dengan nada tergagap dan sedikit shock sebenarnya. Meskipun tempo hari Olivia sudah mengatakan kalau ia akan segera bertunangan,tapi bagi Yonas ini terlalu cepat. Dan lagi, Yonas masih berharap kalau Olivia akan berubah pikiran lalu membatalkan acara pertunangan tersebut.


"Kami pasti datang, Bu Audrey!" Ujar Mom Karin yang sejak tadi memang mengantar Mama Audrey serta Papa Kyle ke teras. Sementara Yonas masih diam dan sedang berusaha menguasai hatinya yang mendadak terasa perih.


Mungkin memang sudah saatnya Yonas meng-ikhlaskan Olivia. Tapi Yonas akan tetap menjaga gadis itu dari kejauhan nantinya. Seperti janji Yonas pada mendiang adiknya, Youbel!


"Kami langsung pamit, Bu Karin! Jangan lupa untuk datang bersama Yonas besok lusa," pamit Papa Kyle sekqli lagi pada Mom Karin dan pada Yonas yang tetap membisu.


Yonas terlalu shock!


"Tentu, Pak Kyle! Kami akan datang," jawab Mom Karin yang ternyata masih bisa mengulas senyum. Padahal Yonas juga sangatvtahu kalai Mom Kqrin madih berharap Olivia akan menjadi menanti di keluarga Van Willer.


Ah, Mom tiri Yonas itu mungkin lebih pandai menyembunyikan kesedihannya.


Mobil Mama Audrey dan Papa Kyle sudah melaju meninggalkan kediaman Van Willer. Sementara Yonas langsung masuk ke dalam rumah, dan tepat di atas meja di ruang tamu, pandangan mata Yonas tertumbuk pada undangan warna silver yang tergeletak di atas meja.


Tangan Yonas sudah terulur dan pria itu hendak mengambil undangan tersebut. Namun krmudian Yonas mengurungkan niatnya karena pria itu sepertinya terlalu pengecut untuk sejedar membaca nama Olivia yang bersanding dengan nama pria lain di undangan tersebut.


Tidak!


Yonas tidak bisa melihatnya!


Yonas takut luka di dalam hatinya akan menganga semakin lebar!


Biarlah lusa Yonas langsung melihat Olivia yang bersanding mesra bersama Ezra, lalu mereka saling bertukar cincin.


"Kau tidak mau melihat undangan Olivia, Yonas?" Tanya Mom Karin saat melihay Yonas yang tak jadi mengambil serta membuka undangan yang tadi diantarkan Mama Audrey dan Papa Kyle.


"Nanti saja, Mom!" Jawab Yonas seraya menelan ganjalan pahit di tenggorokannya. Pria itu segera berlalu menuju ke tangga, lalu naik ke lantai dua dan menutup kasar pintu kamarnya. Yonas sedang ingin sendiri sekarang!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2