
Yonas baru tiba di kafe Analogy, saat kedua netranya langsung bisa menangkap keberadaan Olivia yang duduk diam seraya menatap lurus ke depan seolah sedang menghayati lagi yang dibawakan oleh penyanyi pria di atas panggung.
^^^Jiwaku yang telah mati bukan cintaku ^^^
^^^Janjiku slalu abadi hanya untukmu. ^^^
Yonas masih bisa mendengar penggalan lirik lagu yang dibawakan oleh penyanyi pria tersebut. Liriknya begitu dalam dan membuat sedih.
Yonas kembali mengamati Olivia yang sudah beranjak dari kursinya, lalu berjalan ke arah pintu kafe dengan raut wajah datar. Olivia sepertinya juga tak menyadari kehadiran Yonas di dekat pintu masuk kafe.
Yonas mengikuti langkah Olivia yang sudah duduk di kursi kayu di luar kafe seraya menatap pada bintang-bintang di angkasa. Yonas berdiri di balik punggung Olivia dan samar-samar bisa mendengar senandung lirih dari Olivia yang masih melanjutkan lagi di dalam kafe tadi.
Yonas tahu, kalau Olivia akan menangis sebentar lagi, pria itu mengambil sapu tangan dari dalam sakunya, lalu menyodorkan benda tersebut pada Olivia yang tengah memejamkan mata. Butir bening tampak berkilau menuruni kedua pipi Olivia.
Olivia langsung terlihat kaget saat gadis itu membuka mata dan mendapati Yonas yang sudah berdiri di dekatnya seraya menyodorkan sebuah sapu tangan.
"Yonas?" Gumam bibir gadis itu.
"Sedang merindukan seseorang?" Tebak Yonas menyodorkan sekali lagi sapu tangannya. Olivia langsung mengambil benda itu dengan cepat dan menyeka airmatanya. Sementara Yonas sudah duduk di samping Olivia, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap bintang-bintang yang memenuhi langit malam.
"Dulu Bunda pernah mengatakan, kalau orang yang sudah meninggak akan berubah menjadi bintang dan mereka bisa melihat kita dati atas sana," ucap Yonas tanpa mengalihkan tatapannya dari taburan bintang di angkasa. Olivia ikut mendongakkan kepalanya dan kembali menatap pada bintang-bintang yang terlohat gemerlap.
"Umur berapa kau kehilangan Bundamu?" Tanya Olivia yang sudah ganti menoleh dan menatap pada Yonas.
"Sepuluh tahun," jawab Yonas yang balik menatap pada Olivia.
"Bagaimana kau tiba-tiba bisa ada disini?" Tanya Olivia lagi masih menatap tajam pada Yonas.
Olivia hanya heran saja karena Yonas yang seakan ada dimana-mana.
"Tadi aku ke rumah, dan kata security kalian sedang ada acara di luar atau di kafe Analogy lebih tepatnya," jawab Yonas jujur.
"Ada keperluan apa ke rumah?" Olivia benar-benar sedang mrlakukan sesi wawancara pada Yonas sekarang.
"Ingin bertemu denganmu saja." Yonas mengendikkan kedua bahunya.
"Untuk?" Kedua alis Olivia sudah tertaut sekarang.
"Mengobrol!"
"Bukankah masih ada esok hari jika ingin membahas soal kerjasama-"
"Bukan mengobrol soal pekerjaan!" Yonas memotong dan mengoreksi dengan cepat.
"Lalu mengobrol apa?" Tanya Olivia penuh selidik.
__ADS_1
"Apa saja?" Yonas mengendikkan bahunya sekali lagi dan Olivia sudah berhenti bertanya. Gadis itu mendadak ingat pada obrolan Mama Audrey dan Papa Kyle yang tak sengaja ia dengar kemarin.
"Kita jodohkan saja mereka berdua," usul Papa Kyle yang langsung membuat Mama Audrey menggeleng.
"Biarkan mengalir saja dan kita tidak perlu memaksa. Yonas dan Via sidah terlihat nyaman satu sama lain dan mereka sudah sering mengobrol akrab juga."
"Yonas juga sepertinya perhatian sekali pada Via, dan intens mendekati gadis itu."
"Jadi biarkan semuanya mengalir, dan kita cukup mendukung dalam diam," tutur Mama Audrey panjang lebar yang langsung membuat Papa Kyle tersenyum.
"Seperti hubungan kita dulu, ya? Biarkan alam yang bekerja dan akhirnya." Papa Kyle tiba-tiba sudah merangkul Mama Audrey dan sedikit menarik tubuh istrinya tersebut ke dalam dekapannya.
"Kyle! Nanti anak-anak lihat!" Wajah Mama Audrey sontak bersemu merah.
"Mereka tidak ada!" Kilah Papa Kyle yang sudah langsung mengecup bibir Mama Audrey. Olivia yang menyaksikan semua adegan itu hanya mengulas senyum tipis, lalu pergi diam-diam agar tak mengganggu kemesraan kedua orang tuanya tersebut.
Ya, andai Olivia juga punya seorang kekasih yang romantis seperti Papa Kyle!
"Sedang memikirkan apa?" Pertanyaan dari Yonas langsung menyentak lamunan Olivia. Gadis itu terlihat salah tingkah.
"Tidak ada!" Jawab Olivia cepat.
"Kau senyum-senyum sendiri tadi," nada bicara Yonas sedikit menggoda.
"Begitu, ya?"
"Tapi akan lebih bagus jika kau tersenyum sungguhan karena senyummu begitu anggun dan menawan," puji Yonas yang sesaat langsung bisa membuat wajah Olivia terasa memanas. Olivia buru-buru memalingkan wajahnya agar Yonas tak melihat wajahnya yang mungkin kini sudah bersemu merah.
Ya ampun!
"Kau pintar sekali menggombal dan merayu. Aku merasa sangsi tentang statusmu yang katanya belum punya kekasih sampai sekarang itu," ujar Olivia masih tetap memalingkan wajahnya dari Yonas.
"Kenyataannya memang begitu! Kau bisa tanya pada Mom jika tidak percaya." Yonas masih menatap penasaran pada Olivia yang terlihat salah tingkah.
"Bisakah kau berhenti menatapku?" Pinta Olivia akhirnya yang meskipun ia memalingkan wajahnya, tapi Olivia bisa merasakan kalau Yonas tengah menatapnya dengan intens sekarang.
"Bagaimana kau bisa tahu aku sedang menatapmu, jika kau saja memalingkan wajah begitu," kekeh Yonas yang langsung membuat Olivia berdecak.
Gadis itu buru-buru memutar kepalanya untuk memastikan, dan saat itulah, jarak wajah Olivia dan Yonas sudah sangat dekat, membuat Olivia kembali salah tingkah.
Sial!
"Maaf!" Olivia menggeser bokongnya untuk menjaga jarak dari Yonas. Namun gerakan refleks dari Yonas malah membuat Olivia kaget dan kembali mendekat pada pria itu.
"Awas!"
__ADS_1
"Kau bisa jatuh, jika menggeser bokongmu kesana," kekeh Yonas yang membiay Olivia baru menyadari kalau ternyata kursi yang ia duduk tak sepanjang perkiraannya. Tadi Olivia memang nyaris terjerembab ke atas lantai semen, andai Yonas tidak menariknya dan mendekapnya sekarang.
Olivia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap pada wajah Yonas yang masih mendekapnya.
"Tapi andai aku punya kuasa untuk mengatur jodoh Olive, aku akan menjodohkan Olive dengan Abang Yonas saja, karena meskipun Abang Yonas sikapnya sedikit kaku, tapi Abang Yonas tak pernah setengah-setengah saat menyayangi dan menjaga seseorang."
Kalimat yang ditulis Youbel mendadak berkelebat di kepala Olivia. Jika Youbel ingin Olivia bersama dengan Yonas dan mulai menjalin hubungan, kenapa Olivia tak melakukannya saja sekarang? Mungkin Youbel akan bahagia jika Olivia mulai membuka hatinya untuk Yonas. Toh Mama dan Papa juga sepertinya mendukung Olivia untuk bisa dekat dengan Yonas, serta menjalin hubungan yang serius.
Ah, tapi rasanya terlalu terburu-buru juga jika Olivia dan Yonas langsung menikah. Mungkin sebaiknya Olivia membiarkan ini semua mengalir saja seperti kata Mama Audrey, dan Olivia akan berusaha untuk tak ketus lagi pada Yonas. Pria ini sepertinya juga perhatian dan sedikit romantis.
Olivia masih menatap pada wajah Yonas dan sesekali mengerjapkan kedua matanya, saat celetukan Yonas seolah membuat Olivia sadar dengan posisinya sekarang.
"Nyaman?" Suara Yonas terdengar lembut.
Hah!
Olivia buru-buru melepaskan diri dari dekapan Yonas dan kembali menjaga jarak dari pria tersebut. Jangan tanya sudah semerah apa wajah Olivia sekarang, karena gadis itu mendadak jadi malu sekali pada Yonas.
"Ciyeee! Kak Via!" Celetukan Riley seketika membuat kedua bola mata Olivia membeliak.
"Ma! Kak Via punya pacar baru!" Teriak Riley seraya berlari masuk ke dalam kafe.
"Riley! Berhenti kau!" Olivia ikut melesat dari duduknya dengan cepat, lalu mengejar sang adik yang sudah melapor pada Mama Audrey serta semua keluarga besar Audrey yang masih duduk dan mengobrol di dalam kafe.
"Ma! Kak Via punya pacar baru! Tadi peluk-pelukan di luar!" Lapor Riley yang langsung membuat semuanya menatap penuh selidik pada Olivia yang baru saja menyusul Riley.
"Pacar baru siapa maksudnya?" Tanya Mama Audrey akhirnya pada sang putra.
"Tu!" Riley mengendikkan dagunya dengan lebay ke balik punggung Olivia, bersamaan dengan sapaan Yonas pada semua keluarga Olivia.
"Selamat malam, Uncle, Aunty!"
Ya ampun!
Kenapa juga pria ini harus ikut-ikutan masuk?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1