Cinta Pertama Tak Lekang Waktu

Cinta Pertama Tak Lekang Waktu
Teryata engkau


__ADS_3

Selalu ku ingat ketika Prayogo mencoba melindungi ku, dari gigitan anjing dia memeluku  sehingga lenggannya yang di gigit. lukanya cukup dalam dia terpaksa di larikan di rumah sakit karena tanggannya robek .


Dia bilang apapun yang terrjadi aku akan melindungi mu Septia aku akan menjaga mu dan aku akan Terus berusaha di sisi mu,sampai maut mejemputku itu kata-kata Prayoga sebelum tak sadarkan diri.


"Karena kehilangan banyak darah setelah bertarung melawan anjing yang entah siapa empunya atau memang anjing liar dari hutan dan lengan tanggan kirinya mendapat 17 jahitan seperti apakah dia sekarang .kenapa iba-tiba aku merindunya


Aku menjamkan mata dan mengelengkan


kepala mencoba mengusir kenangan itu . Aku memutuskan untuk keluar rumah walau dengan tertatih mengusir suntuk aku meyusuri jalan menuju  di warung sebarang jalan untuk mrmbeli pisang goreng kesukaan ku.


Aku melihat kerumunan di pinggir jalan


aku mendekatinya melihat apakah ada


kecelakaan karena ada banyak darah yang mengalir di sana.


Setelah cukup dekat aku kaget, itu.bukan kan itu anjing yang kemarin mengejarku apakah itu karma.aku berbalik pulang dan tidak jadi ke warung pemandangan itu cukup membuat mual dan pusing  aku merinding melihat darah di mana -mana dan anjing itu tak berbentuk sepertinya terlindas mobil. sementara di kantornya Andini di marahin oleh Tuan Teja.


"Kamu kenapa masuk kantor ,Septia sama siapa "? Andini  bukankah aku meyuruh mu menjaganya !?!


 "Tapi Tuan tidak bilang kalau saya harus disana pagi ini. apalagi hari ini ada rapat jawab andini "membela diri


 " Baik lah aku terima alasan mu '!


Tuan Teja mengguk-ngguk kepala coba menerima penjelasan Andini meski pun hatinya jengkel karena terlalu kawatir dengan Septia bila dia terlalu marah dan terlihat  perhatian akan menimbulkan kecurigaan dia tak ingin peyamaranya terbongkar secepat itu.


"Lain kali kalau aku perintahkan sesuatu


kamu harus memperhatiakan dan kamu


memprioritaskan. apa yang aku tugaskan mengerti '!" teriak Tuan Teja  kemudian melangkah keluar dari ruangan Andini.


Andini hanya benggong saja lalu mecebik


"what...!!"


Memprioritaskan tugas,apakah Septia itu prioritasnya."apakah septia lebih lebih pentinnnnnnggggg, daripada rapat ini Andini mengrutu sewot bukan karena iri akan peratiannya tuan Teja tapi gesrek aja di marahi dengan alasan tak masuk akal.


 Setelah rapat usai tuan Teja kembali lagi


keruangan nya duduk di sofanya kembali


Memikirkan nya sepertinya bener dia adalah Septia yang aku cari  selaman ini. kebiasaan mengigit ujung bibir bawahnya saat takut atau cemas dan foto itu yang pernah aku berikan sebelum pisah .


"flash back "on" Tuan Teja.


Hari itu aku melihat daftar kariyawan,


melihat nama septia dwi anjani ketika Septia menabraknya dan menumpahkan kopi di dadaku.


"Maaf Tuan" katanya sambil mengelapnya dengan saputanggannya dan sapu tanggan itu aku tersentak bukan kan itu adalah saputanggan yang aku berikan saat dia menangis karena jatuh mengejar penjual cilok. dia masih meyimpannya dan aku kenal betul saputangan itu ada sulaman nama ku di sulam oleh tangan mama sendiri.


Ketika dia mengusap dada ku apakah dia tidak tau kalau mampu membangkitkan gairah seseorang terlalu lugu dan ceroboh waktu itu aku segera bagkit pergi supaya

__ADS_1


 tak lepas kendali entah mengapa saat aku mengetahui saputanggan dan wajahnya   gairah mudah bangkit mungkin bibirnya yang terlihat sensual itu dari dulu ingin ku kecup.


 Dan pagi berikutnya dia menabrak ku lagi dan menumpahkan kopinya sendiri di dadanya.bagimana bisa dia memakai bra merah dengan baju putih tipis  saat basah semakin memerlihatkan buah dadanya. padat berisi mengemaskan sekali.  saat membayangkannya aku ingin memainkan lidahku disana meremasnya perlahan hingga dia mengelincang  dan mendesah kenikmatan. menikmati setiap sentuhanku Uuuuhhh membayangkan dia ,membuat senjataku mendesak di jelana ku.


Kejadian kemarin malam itu ketika aku memijitnya dia mengigit bibirnya dan mengerang mendesah sungguh betapa ingin aku mencumbu lalu menindihnya.


"Ohhh shit ! hampir saja aku tak mampu menguasai diri ku untuk ******* ketika bibir kami berbenturan.bibirnya lembut kenyal . tuan Teja meyentuh bibirnya dan tersenyum nakal.


flashback off .


 Sebaiknya aku cek keadaannya .Teja lalu bangkit berdiri  menuju ke ruang Andini. menayakan ada jadwal apa saja dia sudah memesan kalau ada pertemuan yang bisa di handelnya.


Dia meminta Andini melakukannya dan pegang kendali. kemungkinan dia tidak kembali ke kantor tapi kalau penting bisa. telfon itu pun kalau mendesk dan peting  akun tidak ingin di gangu hari ini. lalu Teja keluar dan menuju rumah Septia.


Sementara Septia telah pergi mengunkan


taxsi online menuju rumah sakit terdekat.


kepalanya agak puising dan dia memilih ke dokter untuk memeriksakan diri nya sekaligus kakinya minta obat di sana.


Di rumah sakit itu  ketika Septia berjalan  tertatih mau menuju ruangan dokter yang memeriksanya setelah mendaftarkan diri.


Tanpa sengaja melihat Anton sedang


berbicara dengan Diana mantan pacarnya


yang jadi perawat di rumah sakit ini.


Mereka sepertinya, sedang bicarakan  sesuatu yang serius tapi kadang mereka tertawa Diana memeluknya erat Anton sebelum pergi.


"Bagaimana bisa, Anton bilang sangat cintai pada ku bagaimana bisa berkata kalau dia sangat mengharapkan ku ! bagaimana bisa ngajak aku kencan ? bagai mana bisa dia mengajak ku nonton hari sabtu tapi hari ini dia sedang  bercanda bahkan tadi berpelukan dengan mantannya.


"what the hell" dia merasa di permainkan !


kenapa dia menumbuhkan rasa sayang


menumbuhkan rasa cinta pada diri ku tapi dia memeluk wanita lain dengan mesra.


padahal aku berfikir akan menerimanya.


Septia mengusap air matanya berusaha menghentikan air itu terus jatuh menahan rasa sakit didadanya dan berjalan masih dengan tangis nya menuju ruang dokter.


setelah di periksa di beri obat dia segera keluar rumah sakit dan meyetop taxsi yang kebetulan lewat .dia segera naik dan memberikan alamat rumahnya kepada dirver taxsi.


Di dalam taxsi septia kembali menangis


air matanya tak dapat di bendung lagi.


dia membiarkannya kali ini membiarkan isak tangisnya pecah karena begitulah dari dulu cara dia mengurangi rasa sakit nya.


Sampai di halaman rumah dia segera membayar taxsi nya. agak terkejut saat dia melihat Mobil Tuan Teja terpakir di halaman rumahnya.


"Kak Teja ada apa kesini ?" tanya Septia .

__ADS_1


setelah sampai di teras rumah dimana


Tuan Teja duduk .


"Dari mana kamu Septia"? tanya Kak Teja malah balik bertanya kepada ku.


"Aku dari dokter kak tadi sedikit pusing.


sekalian periksa kaki .dokter bilang tidak papa bukan cedera serius dua tiga hari pasti sudah bisa jalan normal kata ku menjelasksn sambil berusaha tersenyum .


"Kamu sendirian ke dokter "?


"iiiya kak sendiri naik taxi.


"Kenapa kamu tidak call aku dan aku bisa mengantarkan mu ?


"Ahhh, saya tidak ingin merepotkan kakak lagian sudah bisa jalan sendiri.sanggah ku.


"Kau menangis"! kenapa mata bengkak yang sakit mata kamu apa kaki kamu"? wajahnya tiba-tiba sendu seperti ikut berduka melihat keadaanku.


Aku tak menjawabnya ku buka pintu dan


mepersilahkan dia  masuk dan duduk .


aku ke dapur cuci tangga dan kembali ke rUang tamu.


"Kakak mau minum apa ?


"Septia, kamu belum jawab pertanyaan ku


Kamu menagis, kenapa ? tanya kak Teja.


 


"Aku tidak... aku tidak menangis kata ku mengelak menatap matanya memandang tempat lain.


 


"Bagimana kamu bisa bilang tidak"!!


Kak Teja mendekati ku sambil menatap ku tAjam. dia terus  saja mendekat dan hanya berjarak beberapa centi dari mukaku.


Aku menahan nafas detak jantung mulai berdebar kencang dia mendekatkan lagi menatap mata ku tanggannya mengusap pipiku memegangi dagu ku.


"Katakan kamu tidak menangis sekarang." jawablah dengan jujur.


Sialnya air mata ku menteskan dengan sendirinya. dia lalu mendekapku dan aku pun menagis di dadanya . terasa nyaman disana menumpahkan kesedihan ku .


-------------Bersambung --------------


Love me🌹🌹🌹🌹🌹


like me👍👍👍👍👍👍👍

__ADS_1


vote me.✌✌✌✌✌✌✌✌✌


__ADS_2