
Shawn membaca pesan itu, tiba - tiba seperti ada sengatan listrik dari dalam tubuhnya, wajahnya tampak sangat marah, napasnya naik turun dengan cepat, matanya memerah dan mengepalkan tangannya.
" Brakkkk ...
Shawn membanting benda kokoh milik fani hingga pecah berantakan. Fani sangat kaget dan tentu saja ia terbangun dari tidurnya,
"Bunyi apa ini." Pikirnya. Ia langsung berdiri dan menyalakan lampu betapa kagetnya dia ternyata ada seorang pria tampan berdiri di hadapannya dengan wajah penuh emosi dan lagi, kenapa pria ini bisa masuk ke dalam kamarnya ? Pikir Fani.
" Si..si..siapa kamu, kenapa bisa ada disini ?" Tanya Fani sambil menunjuk kearah pria itu, ia ketakutan dan berusaha mundur ke arah pintu agar bisa keluar dari sana.
"Ckk kau bahkan tidak mengingatku sama sekali padahal sejak awal kau yang sok kenal kepadaku. " Kata Shawn yang menarik tangan Fani kemudian melemparnya ke atas tempat tidur.
" Ahw. " Teriak Fani menahan sakit di pergelangan dan pinggangnya.
"Kau benar benar bermain di belakang ku hah ? berani sekali kau melakukan itu padaku." Teriaknya kencang pada Fani.
Ia menjambak rambut Fani dengan sangat keras dan menariknya turun dari tempat tidur kemudian membenturkan kepala Fani ke tembok hingga keluar darah di jidat gadis itu.
"Ahw, tolong hentikan kumohon !! " Teriak Fani.
"Aku tidak mengerti maksudmu, tolong lepaskan aku. Aku bukan orang yang kau maksud kau salah orang." Kata Fani yang beriringan dengan tangisannya ia sudah sangat lemas sekarang.
" Apa yang kau katakan jala*g, kau adalah wanitaku, kau adalah gadis milikku, hanya aku seorang yang boleh memilikimu dan tidak boleh ada orang lain yang mendekatimu apa lagi mengirim pesan yang menjijikan padamu, kau paham tidak." Kata Shawn sambil meremas dengan kuat rahang Fani dan sesekali menamparnya.
"Tolong lepaskan aku , aku tidak mengenalmu jadi tolong hentikan." Kata Fani yang sudah tidak tahan lagi, ia menangis sejadi jadinya sambil memegang kepala dan pipinya.
Shawn semakin emosi setelah mendengar perkataan Fani, ia langsung menjambak kuat rambut Fani yang duduk di lantai dan tidak menghiraukan teriakan dan tangisan dari gadis itu.
" Kau masih berani mengatakan tidak mengenalku? setelah tadi malam kau memelukku saat tidur, kemudian tadi pagi kau memperhatikan ku di kantin, dan bukan hanya itu, kau juga sebelumnya memberiku isyarat untuk tetap di atas atap untuk menunggumu lalu sekarang kau dengan percaya dirinya mengatakan kau tidak mengenalku ? astaga kau ini yang benar saja. " Kata Shawn dengan wajah marahnya.
Fani kaget, ia tidak menyangka ternyata pria ini adalah pria yang waktu itu menghilang di atap kampus , dan apa ini ? dia mengatakan jika aku tidur dan memeluknya ? pikir Fani.
Fani menggelengkan kepalanya lemas ia benar benar lemas untuk menjawab dan akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Melihat itu Shawn langsung panik, lalu dengan cepat menahan Fani agar tidak jatuh kelantai , ia mengangkat Fani kemudian membaringkan Fani di atas tempat tidur, ia benar benar meyesal telah melakukan hal keji tadi kepada Fani.
"Maaf .. maafkan aku sayang, aku benar-benar tidak bermaksud melakukan itu, aku minta maaf aku terlalu emosi." Ucapnnya penuh sesal sambil memegang tangan Fani dan sesekali menciumnya.
Ia beranjak dan mencari kotak P3k di kamar itu untuk mengobati luka dan lebam pada tubuh Fani. Setelah selesai ia langsung menelfon seseorang untuk mencari tau soal siapa yang tadi sudah mengirim pesan untuk Fani.
Setelah selesai ia kembali memperhatikan wajah manis gadis itu, ia mengingat kejadian tadi sungguh di luar dugaan ia akan melakukan hal seperti itu pada fani, hingga akhirnya ia ikut terlelap di samping Fani. Shawn tidur sambil memeluk Fani hingga pagi.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi Fani sudah terbangun, ia memegang kepalanya yang sakit ia mengingat tadi malam, dan melihat sudut kamarnya untuk memastikan sesuatu.
Ternyata tidak ada siapa siapa, ia bangun perlahan berniat ke kamar mandi namun ia berhenti di depan cermin dan sesaat memperhatikan dirinya yang sangat berantakan luka dan lebam di mana-mana.
Ia duduk disamping tempat tidur dan menekukkan kakinya mengingat kejadian semalam membuat dia benar-benar ketakutan. Ia kembali pun menangis.
Di dalam kamar mandi asrama itu, Shawn sudah selesai mandi dan sudah memakai pakaiannya, sebelumnya ia menyuruh orang mengantarkannya baju untuknya secara diam-diam.
Ia mendengar suara orang menangis, ia yakin pasti Fani. Ia langsung keluar secepat kilat dari kamar mandi dan benar saja Fani tampak sudah menangis sejadi jadinya.
"Diamlah jangan menangis lagi aku minta maaf. " Kata Shawn.
Fani kaget, dan bukannya diam tapi malah menangis lebih kencang lagi, Fani terus menerus memukul dada bidang Shawn agar melepaskan pelukannya.
"Lepaskan aku dasar gila, lepaskan. " Teriak Fani berontak sambil menangis.
Shawn hanya diam, dan bukannya melepaskan pelukannya shawn tambah mengeratkan pelukannya, hingga di rasanya fani sudah tenang dan tidak berontak, barulah ia merenggangkan pelukannya.
" Aku sudah meminta ijin untukmu selama 1 minggu , kau tidak perlu masuk kampus. " Kata Shawn.
Mata Fani terbuka lebar, dan langsung mendorong pria itu sekiut tenaga.
"Apa - apaan kau ini, kenapa kau melakukan itu, aku tidak mengenalmu sama sekali jadi lebih baik sekarang kau pulang karena aku tidak mau melihat wajahmu. " ucap Fani berusaha tegar.
"Tidak, aku tidak akan kemana-mana dan kau juga tidak akan kemana- mana. " Jawab Shawn.
__ADS_1
" Terserah kau mau bicara apa aku tidak peduli." Jawab Fani, ia melangkah dan ingin masuk ke kamar mandi, tapi tangannya di tahan oleh Shawn.
"Tidak bisa kha kau menurut saja, aku tidak suka jika harus berantam dan melakukan hal seperti tadi malam padamu." Kata Shawn padanya.
Fani membalikan badannya dan melepaskan genggaman dari tanganย Shawn, ia memberanikan diri untuk menatap pria di depannya.
"Ingatlah posisimu, kau bukan siapa siapaku kau hanyalah orang asing bagiku , tapi kau malah datang menemuiku lalu mengaturku, memerintahku sesukamu seakan akan aku adalah bonekamu. Apa kau gilaa hah ?
" Sebaiknya kau sadar dan bangun dari mimpimu itu tuan, jadi ku mohon hentikan aku hanya ingin hidup tenang seperti sebelumnya." Lanjut Fani dengan suara gemetarnya dan sudah berlinang air mata.
Melihat Fani seperti itu, Shawn langsung menarik Fani masuk kedalam pelukkannya.
" Maafkan aku , tapi aku tidak bisa jauh darimu, apapun akan aku lakukan asal kau tetap disisiku." Kata Shawn dalam hati.
Fani terus menangis dan sesekali berontak hingga ia benar benar lemas di pelukan Shawn. Fani mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Shawn.
" Kumohon jangan menggangguku." katanya lirih.
Shawn tidak membalas ucapan Fani sama sekali, dan langsung mencium pucuk kepala Fani.
Sudah tiga puluh menit berlalu mereka hanya diam, sekarang Fani sudah berada di atas tempat tidurnya dan membelakangi badannya karena tidak ingin melihat shawn, sedangkan Shawn duduk jauh di tepi ranjang.
"Aku akan keluar sebentar, kau tidak boleh kemana mana. Dan perlu kau ingat kau tidak boleh berhubungan lagi dengan pria brengsek itu jika kau masih ingin dia hidup, aku tidak main - main dengan ucapanku dan dengar baik baik mulai hari ini dan seterusnya kau adalah milikku seorang hanya milik dari Shawn Edward, ingat itu."
"Siapa pria yang dia maksud apa Start ? karena selama ini lelaki yang dekat denganku hanya Start." Pikir Fani.
Setelah mengucapkan kalimat tadi Shawn langsung berdiri dan keluar dari asrama Fani, saat ia melewati gadis- gadis disitu ia melihat wajah mereka yang penuh tanya, kenapa bisa ada pria di asrama wanita ? berbeda dengan yang lainnya yang tampak histeris.
Saat dirasanya Shawn sudah benar benar pergi, Fani kembali menangis.
"Kenapa begini Tuhan aku benar benar tidak menginginkan semua ini tolong jauhkan dia dariku." Katanya dalam hati.
Tbc ... ๐ต
__ADS_1