
Ana duduk disini ranjang, dimana Erlon berbaring ia juga memijat lengan Erlon yang tadi sempat ia dengar terasa ngilu. "Gimana udah mendingan?" tanya Ana. Yang entah mengapa melihat Erlon dalam keadaan begini hatinya menjadi perih. "Apa yang tadi itu benar-benar tidak sakit?" tanya Ana lagi, tapi tidak ada jawaban, tiba-tiba Ana merasa Erlon menarik tangannya sehingga ia tersentak. "Ada apa?"
Sorot mata gelap Erlon, membuat Ana merasa agak sedikit takut. "Apa yang kamu kandung itu benar-benar anakku? Bukan anak Bimo kan?"
Ana kaget bukan main, mendengar itu semua. Karena Erlon baru saja meragukan anak yang ia kandung.
"Jawab aku!" bentak Erlon yang menyentak tangan Ana hingga pegangannya terlepas.
"Akh!" rintih Ana merasakan sakit akibat sentakan tangan Erlon. Pangkal tangan Ana benar-benar terasa sangat nyeri. "Ini anakmu Hubby, bagaimana bisa ini menjadi anak kak Bimo." Lelehan air mata membanjiri pipi Ana. Ia tidak bisa menebak kenapa sifat Erlon mudah sekali berubah.
"Pembohong!!" Ekspresi wajah Erlon tidak berubah.
"Aku sama sekali tidak pernah tidur dengan siapapun selain kamu, apa Hubby masih meragukan anak kita?" tanya Ana yang merasa saat ini Erlon sedang menahan emosi. "Ini darah daging Hubby, aku sama sekali tidak pernah berbohong," bisik Ana sambil menyentuh dada Erlon pelan. Netra Ana bersitatap dengan mata biru Erlon. "Kemana Erlon yang lembut tadi, kenapa menjadi begini lagi?"
"Aku hanya ingin kejujuran," geram Erlon dengan gigi menggeletuk. "Briana! Anak siapa sebenarnya yang kau kanduang?" Erlon menatap Ana semakin tajam.
"Ini anak kamu Erlon!" teriak Ana yang berani berteriak sampai menyebut nama Erlon. "Biar bumi ini terbelah dua, anak yang kukandung tidak akan berubah menjadi anak kak Bimo." Kulit wajah Ana yang putih menjadi merah, sungguh ia tidak terima atas tuduhan Erlon yang mengatakan anak yang dikandung adalah anak Bimo.
Erlon yang menyadari berhasil termakan omongan Mila, dengan cepat bangun. "Maaf," ucap Erlon, yang menyadari kata-katanya sudah menyakiti hati Ana. Tidak ada lagi raut merah padam dipenuhi emosi di wajah Erlon. "Maafkan aku yang sudah menyakiti perasaanmu."
Ana mengangguk, hatinya terasa dingin mendengar Erlon meminta maaf. Dengan cepat ia menghapus sisa lelehan air mata di pipi dengan punggung tangannya. "Apa Hubby, mempercayaiku?" tanya Ana dengan tersenyum.
Erlon menatap Ana, ia benar-benar merasa bersalah. "Aku, telah termakan omongan Mila, makanya aku emosi."
__ADS_1
"Dimana dia sekarang?"
"Apa tanganmu terasa sakit?" tanya Erlon yang mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau kalau Ana sampai tahu bahwa Mila sudah mati.
"Sedikit, tapi rasa sakit disini sulit sekali untuk sembuh." Ana menyentuh dadanya sendiri. "Ucapanmu yang tadi, seperti belati yang menyayat-nyayat hati ini."
Hening ⦠. Erlon sedang memikirkan kesalahannya yang tadi, hingga detik berikutnya ⦠.
Erlon mencium bibir Ana, dan membaringkan tubuh Ana dengan pelan di atas kasur. "Lupakan ucapanku yang tadi, sekarang pejamkan matamu. Dan tidurlah besok pagi aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kemanapun yang kamu mau."
Erlon menciumi wajah Ana. "Aku sangat mencintaimu, maka dari itu sifatku menjadi begini aku sangat takut kehilanganmu Honey."
*
*
Erlon yang mendengar suara Ana dengan cepat menutup telepon. "Masalah di kantor, rupanya ada yang ingin bermain-main lagi denganku."
"Tumben inget kantor, biasanya selalu menyerahkan tugas kepada bawahan."
"Honey, aku tidak bisa bekerja dengan fokus di saat musuh kita masih berkeliaran." Alasan Erlon cuma itu-itu saja, padahal dirinya tidak sekutu buku Erlan. "Apa Honey takut miskin, jika aku tidak bekerja?"
"Aku terbiasa hidup sederhana jadi, untuk apa aku harus takut miskin." Ana tahu Erlon cuma mengetesnya saja. "Sudah lah, harta kekayaan keluarga ini tidak akan habis sampai tujuh turunan, untuk apa kita membahas hal yang tidak mungkin terjadi. Seorang Erlon Almer Alvaro bangrut dan jatuh miskin. Owh, itu hanya sebuah lelucon."
__ADS_1
"Iya, aku tau itu hanya sebuah lelucon." Ternyata Erlon tidak bisa membuat Ana percaya begitu saja. "Mandi dulu, setelah itu kita sarapan. Kebetulan pelayan yang Daddy perintahkan untuk bekerja di mansion ini sudah sampai pukul tiga dini hari tadi."
"Apa? Pukul tiga dini hari?" Mulut Ana terbuka lebar.
"Itu sebagai tanda mereka patuh atas perintah Daddy, sekarang tutup mulutmu Honey, jangan sampai ada lalat yang masuk. Melihat mulutmu terbuka lebar." Erlon meledek Ana.
"Yang tadi malam itu, jadi para bodyguard lah yang telah membantu Hubby mengalahkan Firman dan juga Mila?" Ana tidak tahu kalau Bimo juga ikut, dan sekarang telah di sekap oleh Erlon di ruang bawah tanah.
"No, bukan mereka tapi aku sendiri." Erlon tidak akan pernah mengatakan kalau dirinya telah berhasil menangkap Bimo.
"Mau mandi berdua, kebetulan aku belum mandi," ajak Erlon. Yang tau Ana pasti menolak. "Aku habis, Olahraga. Supaya tubuhku ini tetap kelihatan menggoda di matamu."
"Duluan saja, aku masih mau rebahan." Ana kembali lagi menarik selimut sampai ke lehernya. "Hubby, bisa tidak jangan menatapku begitu. Tatapan matamu membuat jantungku tidak aman."
"Benarkah? Kenapa bisa begitu?" Erlon mendekati ranjang. "Sepertinya, aku ingin sarapan dengan hidangan pembuka yang itu." Erlon menunjuk tubuh Ana. "Boleh?"
"Tidak boleh, aku lagi males keramas. Dan juga kata dokter. Kita tidak bisa melakukan itu, mengingat usia kandunganku masih sangat rentan terhadap goyangan maut dengan kekuatan enam, koma lima skala liter." Ana terkekeh, ia menjadi geli sendiri setelah berkata begitu.
"Dokter yang mana? Katakan, supaya aku bisa memberitahunya. Kalau bayi kita ingin dijenguk oleh adik kecilku." Entah mengapa Erlon sangat senang, melihat rona merah di pipi Ana. "Honey, kenapa diam?"
"Aku sedang fokus rebahan, jadi jangan tanyakan aku tentang itu." Ana menjadi lebih akrab dengan Erlon, tidak ada rasa takut seperti yang dulu lagi. Kini ruang hatinya telah dipenuhi oleh Erlon, sosok laki-laki yang dulu ia benci dan kini benci itu berubah menjadi rasa cinta. "Jadikan, kita pergi jalan-jalan seperti yang tadi malam Hubby janjikan?"
"Honey, bukan aku ingkar janji, tapi hari ini dan seterusnya aku akan aktif lagi bekerja di kantor." Erlon menarik nafas dalam-dalam. "Kita tunggu waktu libur, aku janji akan mengajakmu keluar Negeri. Apa Honey tidak keberatan?"
__ADS_1
"Tidak masalah, aku akan menunggu sampai kapan pun." Wajah Ana yang ceria berubah. "Bekerja juga demi anak kita nanti, maka dari itu Hubby harus tetap semangat."