Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
episode 14


__ADS_3

Shawn dan Fani sudah selesai belanja dan sekarang mereka sudah berada di dalam mobil.


"Apa yang kau lakukan, aku bisa membayarnya sendiri." Kata Fani, setelah keluar dari supermarket itu Fani terus - terusan mengomel tiada henti pada Shawn , hingga sekarang mereka sudah berada di dalam mobil pun Fani masih mengomel.


"Jangan menguji kesabaran ku, telingaku benar - benar sudah panas mendengar omelan mu sedari tadi." Kata Shawn masih sabar.


"Apa kau tidak sadar itu karena ulah mu sendiri."


"Ia baiklah, jika kau masih bicara lagi aku akan mencium mu disini."


Mendengar itu membuat Fani jadi kesal " kau itu bisanya hanya mengancam saja." Kata Fani pada Shawn.


"Aku lapar jadi kita makan dulu l." Kata Shawn.


"Tidak kau saja, aku tidak lapar. "


Mendengar itu membuat shawn langsung menatap wajah Fani tajam.


"Baiklah." Berhenti menatapku seperti itu, kau benar - benar membuatku takut." Kata Fani pelan tapi masih di dengar oleh Shawn.


Mereka sudah berada di pintu masuk restaurant, kemudian langsung di antar oleh waitres nya, Fani tampak berjalan pelan dan sesekali melihat lihat isi restaurant itu.


"Wah megah sekali." Kata Fani dalam hati, ia tidak sadar jika Shawn sudah di depannya sekita 2 meter.


Saat sedang berjalan tiba-tiba Fani bertabrakan dengan seorang pria, sontak membuat Shawn membalikkan badannya ke belakang.


"Ahw." Pekik Fani.


"Maafkan aku aku tidak sengaja menabrak mu, apa kau tidak apa apa " Kata pria itu , yang tak lain adalah tetangga apartemen fani yang bernama Eza.


"Oh iya tidak masalah, aku tidak apa apa." Jawab Fani senyum.


"Perkenalkan namaku Eza." Kata Eza yang sambil melunjurkan tangannya.


"Aku Fani." Kata Fani yang membalasnya.


"Senang bertemu denganmu, Fan."


"Oh iya , senang bertemu denganmu eza, kalau begitu aku permisi." Kata Fani.


"Ah silahkan, maafkan aku sekali lagi. " Kata Eza yang melihat ke arah Fani berjalan.


Disisi lain Shawn melihat Fani yang tersenyum pada Eza membuatnya semakin tanduk, bagaimana bisa gadis itu tersenyum pada pria lain sedangkan saat dengannya saja gadis itu tidak pernah senyum.



"Apa kau sudah memesannya." Tanya Fani.


"Hmm." Jawab Shawn.


"Baiklah, aku tidak makan kau saja yang makan." Kata Fani lagi.


"Hm.."


Melihat sikap Shawn yang berbeda dari sebelumnya pun membuat Fani merasa heran "Kenapa dia." Kata Fani dalam hati.


Setelah selesai makan, Shawn mengantarkan Fani pulang ke apartemen.


"Katamu tadi kau ingin pergi kan, kenapa malah mengikuti ku ke sini." Kata Fani yang langsung menutup pintu lift.


Shawn hanya diam, mukanya tampak sangat merah karena menahan marah sedari tadi.


Mereka sudah tiba di dalam apartemen fani, sekarang Shawn duduk di atas sofa dan memperhatikan fani yang mulai menyusun bahan makanan di kulkas. Tiba- tiba bel apartemen pun berbunyi.

__ADS_1


"Ting tong , ting tong." Mendengar itu Fani langsung menatap ke arah shawn dengan wajah penuh tanya, dan Shawn hanya menaikan satu alisnya.


Fani berjalan keluar dan membukakan pintu.


"Heh, kau pria yang tadi kan." Tanya Fani bingung.


"Kau Fani yang tadi itu kan." Tanya Eza.


"Iya."


"Astaga , dunia memang sempit yah, apa kau sekarang tinggal disini." Tanya Eza.


"Iya aku baru kemarin pindah ke sini, oh ya ada apa kemari." Tanya Fani.


"Oh aku ingin mengantarkan puding ini, kebetulan tadi aku membelinya dan kelebihan. Dan saat di bawah tadi kata security ada orang baru di lantai enam , yah sudah aku langsung kemari mengantarkan ini dari pada di buang kasihan. " Kata pria itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Wah terimakasih banyak Eza, maaf jadi ngerepotin."


"Iya sama - sama, di makan yah kalau begitu aku pamit dulu. " Kata Eza kemudian di anggukan oleh Gani dan menutup pintu kembali.


Fani berjalan menatap puding rasa coklate itu dan menaruh nya di atas meja makan.


Shawn yang melihat itu pun tampak bertanya tanya.


Fani mulai memakan puding coklate itu, kemudian ia menawarkannya pada Shawn.


"Apa kau mau ? ini sangat enak. " Kata Fani.


"Tidak. " Jawab Shawn "Siapa yang memberikan itu ? " Lanjut Shawn lagi.


"Oh ini dari Eza, pria yang tidak sengaja bertabrakan denganku tadi , ternyata dia juga tinggal disini." Kata Fani sambil terus memakan puding itu dan tersenyum.


Shawn yang mendengar itu benar benar marah, bagaimana tidak ia sudah menahannya dari tadi saat di restaurant dan sekarang dengan senangnya gadis yang ia cintai memakan makanan yang di bawakan pria itu. Shawn langsung berdiri dan berjalan ke arah Fani.


"Kau juga ma...." Belum sempat Fani melanjutkan kata - katanya, Shawn sudah membuang puding itu.


"Mulai hari ini kau tinggalkan tempat ini dan tinggal bersamaku." Kata Shawn sambil menarik tangan Fani untuk keluar dari apartement itu.


"Aku tidak mau, apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku sakit." Teriak Fani.


Shawn tidak mempedulikan teriakan Fani, ia langsung menggendong Fani dan menaruhnya di atas pundaknya lalu keluar dari apartement dan masuk ke mobilnya.


Fani benar benar tidak mengerti yang di lakukan Shawn kepadanya, gadis itu kembali menangis dan berontak.


Shawn masuk ke mobilnya dan melajukan ke arah apartemen miliknya, saat sudah sampai ia langsung menggendong kembali Fani, tapi Fani terus terus berontak namun sia - sia. hingga sekarang ia sudah di lemparkan ke tempat tidur mewah milik Shawn.



"Apa yang kau lakukan." Teriak Fani dengan tangisnya.


Shawn tidak menjawab, ia hanya berdiri di depan Fani dan mencongkak pinggangnya, ia memperhatukan Fani yang terus terusan menangis.


"Aku tidak mau tinggal disini , ku mohon antarkan aku kembali." Ucap Fani beriringan dengan tangisnya.


"Kau tidak akan kemana-mana, mulai sekarang kau akan tinggal disini."Kata Shawn.


"Apa hakmu mengatur ku sialan, kau benar benar pria berhati iblis."


Kata kata Fani membuat Shawn yang sedari tadi menahan emosinya sekarang sudah tidak bisa lagi, ia langsung menampar kuat Fani, dan membuat Fani jatuh kembali ke tempat tidur.


"Kau tidak mau di sini, dan memilih tempat kumuh itu karena pria sialan itu kan." Tanya Shawn yang sudah mencengkram kuat rahang Fani. Fani hanya menggeleng dan terus terus menangis.


"Aku sudah katakan padamu , kau itu milikku jadi jangan coba-coba untuk dekat dengan pria manapun." Kata Shawn yang langsung melepaskan cengkramannya dari Fani

__ADS_1


"Kau memang gila, apa salahnya jika aku menyapa dia, dia pria yang baik, tidak sepertimu yang selalu menindasku, lagi pula aku juga tidak melakukan apa apa dengannya." Kata Fani dengan nada suara yang tinggi.


Mendengar itu shawn langsung menampar Fani kembali "Apa kau ingin mati ? sekali lagi kau berbicara tentang pria sialan itu , aku jamin malam ini kau akan mendengar berita kematiannya."


Fani langsung diam dan tidak berontak lagi saat melihat Shawn yang tampak serius dan tidak main main dengan ucapannya.


"Berhentilah menangis, kau akan melukai dirimu nanti." Kata Shawn yang ingin memeluk Fani, tapi tangannya langsung di tepis oleh Fani.


"Kau yang melakukannya bukan aku." Jawab Fani ketus yang masih dengan tangisnya.


"Baiklah aku minta maaf, aku benar - benar tidak suka jika kau berdekatan dengan pria lain, aku mohon kau mengerti itu."


"Kau memintaku untuk mengertimu tapi kau sama sekali tidak mau mengertiku." Kata Fani lagi dan memandang ke arah luar jendela kamar Shawn.


Mendengar itu Shawn langsung menarik napasnya panjang "Kau istirahatlah aku akan keluar sebentar. "


Jika kau butuh sesuatu nanti telefon aku saja, aku sudah membelikan ponsel untukmu, ponselnya ada di laci nakas itu. Kata Shawn yang langsung pergi meninggalkan Fani.


Ā 


-


Disisi lain, tampak sudah ada Rio dan seorang gadis cantik yang tak lain adalah sepupu Shawn yang bernama Enjel.


Mereka memang sudah janjian untuk ketemu sebelummya karena kebetulan Enjel baru datang dari luar negeri, dan mereka sekarang berada di tempat biasa yaitu bar yang sering mereka kunjungi saat sedari dulu.


"Kau kenapa, apa ada masalah." Tanya Enjel pada Shawn.


"Aku tidak tau harus menjelaskannya dari mana , tapi aku benar benar pusing menghadapi dia , dia benar benar keras kepala." Kata Shawn sambil mengusap kasar wajahnya.


"Dia ? dia siapa ? apa kau sudah memiliki kekasih ?" Tanya Enjel bingung.


"Ia, dia sudah memiliki kekasih, sampai janji untuk bertemu denganku dia batalkan karena harus menemani wanitanya." Perotes Rio.


"Siapa ? " Tanya Enjel lagi.


"Kau juga akan tau sendri nanti." Jawab Shawn santai.


"Bay the way, memangnya apa yang kau lakukan hingga membuatnya marah ?" Tanya Enjel.


"Aku memaksanya untuk tinggal denganku. " Jawab Shawn santai.


" What ! " Kata Rio dan Enjel serentak.


"Jadi wanita itu sekarang tinggal di apartemen mu." Tanya Rio.


"Hmm."


"Wow kau benar - benar luar biasa , aku tidak menyangkanya hahaha seorang Shawn Edward memakasa seorang gadis untuk tinggal dengannya." Kata Rio mengejek.


"Diamlah sialan, aku datang ke sini untuk bertanya bagaimana aku bisa meredahkan amarahnya bukan untuk mendengarmu tertawa." Kata Shawn.


Belum juga Enjel menjawab tiba - tiba ponsel Shawn berdering "Halo ada apa ?" Tanyanya.


"Aku ingin mandi tapi tidak ada pakaian dalam, aku ingin keluar untuk membelinya tapi kau malah mengunci pintu, apa maksudmu ?" Teriak wanita dari seberang telefon, dia adalah Fani yang sudah sangat emosi dengan kelakuan Shawn padanya.


Shawn menjauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian "Ia tunggulah sebentar aku akan membawakan nya." Kata Shawn yang langsung menutup telefonnya.


"Huhh." Desah Shawn sambil mengelus dadanya.


"Ada apa ? siapa yang menelfon ?" Tanya Rio.


"Fani , aku harus pergi sekarang." Kata Shawn yang langsung meninggalkan dua orang itu.

__ADS_1


"Oh jadi namanya Fani." Kata Enjel pada Rio dan Rio hanya membalasnya dengan mengangkat bahunya.


Tbc ... 🌵


__ADS_2